Warna Lokal dalam Kumcer Kasih Sejuta Bunda

Judul buku       : Kasih Sejuta Bunda

Penulis             : Lisma Laurel, S. Gegge Mappangewa, d.k.k.

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Halaman         : 144 halaman

Harga              : Rp.39.000

Garis Besar Buku

Bukan kumpulan cerpen biasa, Kisah Sejuta Bunda menghadirkan 11 cerpen pemenang dan finalis Kompetisi Menulis Indiva 2019. Para penulisnya pun berpengalaman menulis cerita anak di berbagai media maupun menerbitkan buku. Bahkan, beberapa diantaranya adalah jawara kompetisi menulis nasional.

Buku ini dibuka dengan cerpen yang menjadi judul buku, Kisah Sejuta Bunda. Cerpen ini menceritakan seorang gadis kecil, Clara, yang ibunya meninggal karena sakit. Ia sempat menyalahkan ibu yang meninggalkannya dan ayah tidak bisa mengepang rambutnya sama besar sehingga ia ditertawai teman-temannya saat bermain di taman.  Clara kangen dengan ibunya melihat teman-temannya bersama ibu-ibu mereka. Tapi mendapat kebaikan ibu dari teman-temannya hati Clara terobati. Apalagi ayahnya berjanji  akan melakukan apa saja seperti yang ibunya lakukan.

Beranjak ke cerpen kedua, “Kotak Ajaib Milik Juro”, pembaca akan diajak ke Jepang, berkenalan  dengan kearifan tokoh Juro yang selalu bersemangat dan ceria bekerja di toko pak Yukio. Semangat Juro membuat Etsu  bertanya-tanya, apa yang membuat Juro tidak pernah mengeluh sekalipun pekerjaan mereka melelahkan. Rasa penasaran Etsu makin menjadi mendengar rahasia semangat Juro adalah kotak ajaib. Apa isi kotak itu membuat Etsu ingin tahu dan membukanya ketika Juro belum kembali. Isinya sungguh diluar dugaan. Juro memberi Etsu inspirasi untuk melakukan hal yang sama dengannya. Tokoh Juro memberi pesan mendalam bagi pembaca, ia mengajarkan untuk selalu bersemangat dan mengingat hal-hal yang baik ketimbang berpikir negatif.

“Hal baik yang datang pada kita perlu diingat. Hal buruk, kita lupakan dan buang jauh-jauh.” (hal. 26)

Cerpen ketiga, “Pembatas Buku Gratis” mengetengahkan cerita tentang Katrina yang berjiwa enterpreneur dengan menjual pembatas buku buatannya. Ketika dibawa ke kelas, pembatas buku buatannya membuat Pipit dan teman-temannya ingin mendapatnya secara gratis. Sepulang sekolah, Pipit diminta bantuan ibunya untuk berbelanja bahan kue. Ia bertemu dengan Katrina yang sedang berbelanja bahan-bahan untuk membuat pembatas buku. Sampai di rumah, Pipit mendengar pembicaraan ibunya dengan pelanggan yang melakukan tawar-menawar. Pembicaraan itu membuat Pipit menyadari bahwa untuk membuat sesuatu butuh pengorbanan dan biaya. Jika harga tidak sesuai, maka kerugian yang didapatnya. Kisah itu mengajarkan pentingnya menghargai karya orang lain.

Pada masa pencarian identitas, anak-anak seringkali belum mengenali potensi dan memaknai kelebihan diri. Anak-anak menganggap kelebihan dan  prestasi sebatas juara sekolah. Ada dua cerpen yang mengajarkan untuk menggali potensi dan menghargai kelebihan yang diberikan Allah. Tokoh Rossmalia dalam cerpen “Raibow Rose” ingin memiliki kelebihan seperti teman-teman di asrama yang masing-masing punya kelebihan yang menjadi ciri khasnya. Rossmalia ingin memiliki sesuatu yang istimewa. Ia diam-diam menanam bunga mawar di kebun asrama. Kemampuannya teruji ketika musyrifah sakit. Ia bisa memberikan mawar yang berbeda dan membuat musyrifah bangga. Sementara tokoh “Palai Bada untuk Ayah”, Izzati, iri kepada kakak dan adiknya yang berprestasi di sekolah.  Ia merasa ayahnya tak pernah memujinya. Izzati kemudian ingin menjadi juara di rumah dengan memasak. Ia memasak palai bada untuk ayahnya. Ayahnya memuji Izzati dan masakannya juara.

“Tapi tidak semua orang harus juara kelas, Izza. Orang yang tidak juara kelas bukan berarti bodoh. Mungkin mereka akan juara di bidang yang lainnya.” (hal.74)

Ada keunikan beberapa daerah, terutama  makanan dan minuman yang dikenalkan oleh beberapa pengarang dalam buku ini. Selain cerpen “Palai Bada untuk Ayah”, ada cerita “Sarabba Kakek Agung” karya S. Gegge Mappangewa dan “Seruit Persabatan” karya Siti Atika Azzaharah. Sarabba  menjadi jembatan bagi kakek Agung untuk dekat dengan anak-anak yang selama ini takut padanya karena ia suka tiba-tiba menangkap dan menciumi anak-anak laki-laki. Ada latar belakang mengapa kakek Agung melakukan itu. Kehilangan anak lelakinya di masa lalu membuatnya merindukan anak laki-laki. Anak-anak yang selama ini takut padanya kemudian memberanikan diri untuk datang. Mengenal kakek Agung lebih dekat setelah datang ke rumahnya, ayah si tokoh aku kemudian mencari anak kakek Agung lewat internet.

Jika sarabba menjadi minuman dalam pertemuan kembali ayah dan anak yang lama terpisah, seruit dalam cerpen “Seruit Persabahatan” menjadi jembatan persabahatan antara Andini,seorang siswa baru, dan Jasmine yang selalu mengganggu Andini lantaran iri dan ingin menarik perhatiannya. Seruit itu disajikan dalam acara syukuran di rumah Andini. Dalam acara tersebut, terungkap mengapa Jasmine selalu menganggu Andini dan mereka bisa menjadi sabahat. “Seruit menyatukan perbedaan dalam kebersamaan.”(hal.143)

 Satu lagi cerpen yang mengangat tema itu yaitu “Sahabat-Sabahat Lisa”. Lisa, yang pintar dan berhijab membuat Santi kagum. Lisa datang ke rumah Santi saat Santi bosan karena liburan di rumah. Mengapa Lisa tidak pernah bosan di rumah dan pintar terjawab saat Lisa mengajaknya datang ke rumah Lisa. Lisa menginspirasi Santi untuk melakukan hal yang sama.

Dua cerpen yang lain adalah “Gara-Gara Kemarau”  dan “Nasi Hukuman”. Keduanya bersetting di pedesaan. “Gara-Gara Kemarau” menceritakan Motto yang tiap sore harus mengambil air 4 jeriken dan mengisi bak mandi. Suatu ketika ia ingin lari dari tugas dan makan mangga muda sambal dengan cabai 20. Ia bolak-balik ke belakang dan merasakan penderitaan karena ulahnya.  

Sementra “Nasi Hukuman” mengajarkan pada anak-anak untuk bersyukur dan menghargai hasil kerja petani dengan selalu menghabiskan makanan (nasi) yang sudah diambilnya. Dio  mendapat hukuman karena tidak menghabiskan nasi makan siangnya. Dio menyadari kesalahannya ketika Faiz mengajaknya ke sawah kakeknya dan kakek memberi gambaran mengenai hasil panen dan kerugian yang mungkin diterima petani jika gagal panen.

Penilaian dan Beberapa Catatan Kecil

Tema dan amanat

Tema-tema dalam kumcer Kisah Sejuta Bunda dekat dengan dunia anak. Seperi tema persabatan, semangat dan keihlasan dalam bekerja, bersyukur dengan apa yang berikan Allah, kedisiplinan, keikhlasan, dan tema yang sangat membangun karakter. Tema-tema tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi anak-anak yang tersurat maupun tersirat sebagai pesan (amanat). Penulis berhasil memaksukkan unsur pendidikan karater sebagai visi dari penerbit.

Alur

Kesebelas cerpen dalam buku ini disajikan dengan alur maju. Alur maju sesuai dengan pola pikir anak-anak yang masih sederhana. Anak tidak perlu berpikir njlimet untuk mengingat rangkaian kejadian yang saling berhubungan sebab akibat.

Plot yang memancing rasa penasaran dengan apik misalnya terlihat dalam “Sarabba Kakek Agung.” Pertemuan Kakek Agung dengan Basri anaknya tidak serta merta mengakhiri cerita dengan bahagia. Nyatanya Kakek Agung yang sudah pikun tidak mengakui Basri sebagai anaknya. Kakek Agung kembali ingat ketika Basri menawarkan diri untuk memetik kelapa untuk dibuat sarabba.

Anak juga dibuat bertanya-tanya pada rencana Nada dalam cerpen “Nada yang Tak Biasa” dalam usahanya membuat ibu bisa mengikhlaskan kakak Nada yang baru saja meninggal. Apakah rencana Nada? Berhasilkah?

Sudut pandang

Sebagian besar cerpen dalam buku ini dituturkan dengan sudut pandang orang ketiga pelaku utama. Para penulis dalam buku ini bercerita dari sudut pandang tokoh utama. Cerita tokoh lain diceritakan dari kejadian yang ada di sekitar tokoh utama.

Dua cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama aku yaitu “Sarabba Kakek Agung” dan “Gara-Gara Kemarau”. Kesalahan kecil terlihat dari ketidakonsitenan penyebutan sudut pandang aku dalam cerpen “Sarabba Kakek Agung”. Satu kali penulis menyebut aku dengan saya di halaman 115.

Tokoh dan penokohan

Tokoh-tokoh  dalam buku Kisah Sejuta Bunda mengalami perkembangan watak sesuai dengan perkembangan alur. Watak dari beberapa tokoh yang bertentangan dengan nilai di akhir cerita mengalami perubahan sesuai pesan yang diusung oleh penulis. Anak-anak selain mendapatkan nilai-nilai dari tokoh juga mendapatkan akhir baik yang menghibur.

Pembentukan karakter anak bisa dilakukan salah satunya dengan kisah atau cerita. Ketika anak membaca cerita, seringkali mengindentifikasi diri dengan karakter-karakter maupun peristiwa yang dialami tokoh. Proses ini akan membentuk keterikatan emosi antara anak dengan pesan moral cerita yang dibacanya. Timbul keinginan dalam diri anak untuk melakukan seperti yang tokoh yang dibacanya. Buku yang inspiratif akan mengambil peran ini. Sebelas cerpen dalam buku ini memiliki tokoh yang bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang membacanya.

Setting

Bagian ini yang paling menarik perhatian saya. Tidak semua cerpen secara spesifik menyebutkan setting cerita berupa nama daerah/kota/desa tempat peristiwa berlangsung. Patut disayangkan, ada cerita dengan warna lokal yang khas namun settingnnya tidak disebut, seperti “Palai Bada untuk Ayah”. Palai Bada merupakan makanan khas dari Padang. Setelah membaca cerpen itu, saya kemudian googling mencari makanan khas tersebut.

Palai Bada

Begitu pula dengan cerpen “Sarabba Kakek Agung”. Dalam cerpen ini, penulis satu kali menyebut daerah Sidrap dan Makassar. Cerpen-cerpen tersebut bisa digali lebih dalam warna lokal yang menjadi settingnya sehingga bisa memperkaya pengetahuan anak-anak.

Sarabba

Dalam “Seruit Persahabatan”, penulis secara gamblang menjabarkan apa itu seriut dan dari mana asal makanan itu. Wawasan anak akan bertambah membaca cerpen ini. Cerpen semacam ini memberikan nilai lebih bagi anak-anak.

Seruit

Menurut kritikus sastra Melani Budianta, keragaman budaya lokal akan menjadi kekayaan yang menarik bila penulis mampu mengubah kultur dan subkultur dalam karyanya. Cerpen anak pun, punya peluang untuk mengolah keragaman tersebut dalam cerpen.

Saya menyayangkan tidak disebutnya setting dalam cerita “Gara-Gara Kemarau”. Membaca penyebutan mamak dan nama Motto, nama yang khas,  cerpen itu punya kans untuk dikembangkan menjadi cerpen dengan kekayaan lokalitas.

Setting yang lengkap saya temukan dalam cerpen “Kotak Ajaib Milik Juro”. Penyebutan negara, toko, nama-nama tokoh, dan kearifan lokal yang tertuang dalam suasana, karakter yang kuat, dan pesan saling berkaitan sehingga menjadi cerpen yang apik. Jepang punya budaya luhur yang bisa digali dan dikenal anak-anak. Namun, bagi saya rasanya janggal dan njomplang menemukan satu cerpen bersetting negara Jepang bersanding dengan 10 cerpen bersetting lokal.  Mungkin hal itu bisa dipahami sebab dalam syarat lomba yang diadakan Indiva tidak ada syarat tema lokal.

Keterangan foto:


Palai Bada dari http://haeko.blogspot.com/2020/04/samba-palai-anduang.html?m=1

Sarabba dari https://www.makanabis.com/post/article/sarabba-minuman-khas-sulawesi-penangkal-corona

Seruit dari https://www.jalajahnusae.com/kuliner/31/12/2019/mencicipi-ikan-seruit-kuliner-lampung-penanda-kebersamaan/

Perdana, Artikel Populer di Koran

Kalau melihat artikel guru wira-wiri di media massa, rasanya mupeng pingin juga menulis. Ada ide-ide yang berkeliaran dan gelisah minta ditulis namun kurang dorongan. Bagaimana menulisnya?

Dalam acara Pemilihan Duta Baca 2019 lalu, saya berbincang dengan Pak Rahma Huda Putranto,  Duta Baca  Kab. Magelang 2019. Kebetulan beliau salah satu mentor bimtek pembelajaran tanpa batas yang saya ikuti sebelumnya. Saya bilang pada beliau, kalau guru saja dalam waktu satu pekan bisa mengerjakan tugas bimtek, kenapa tidak dengan menulis ya, Pak?
Coba ada pelatihan menulis untuk guru.

 
Alhamdulillah, cepat sekali harapan itu terealisasi. Beliau bersama rekannya, Pak Solehuddin Al Ayyubi memfasilitasi acara Pelatihan Menulis Guru bekerja sama dengan Jateng Pos dengan narasumber bapak Tukijo,S.Pd. (Duta Rumah Belajar Kemendikbud RI, Duta Literasi Jateng, Ketua Literasi Guru Jateng)

 

IMG-20190623-WA0013
Luar biasa, semua guru yang mengikuti pelatihan dijamin terbit karyanya. Buktinya, Ahad (23/6) saya ikut pelatihan di Hotel Trio Magelang, Selasa menulis (menyempurnakan tulisan saat pelatihan) dan mengirim, Kamis karya saya terbit, dan Jumat saya mendapatkan bukti terbit.

IMG-20190630-WA0001

 

IMG-20190630-WA0002

Dengan 500 kata, artikel yang diterbitkan berisi seputar permasalahan pembelajaran di kelas dan bagaimana menyiasatinya. Metode pembelajaran atau inovasi yang dilakukan guru juga bisa menjadi inspirasi.  Selain berisi opini dan solusi yang ditawarkan, artikel tentunya diperkuat dengan data berupa teori atau kutipan yang tidak lebih dari 25% isi tulisan.

Menulis ketika sudah mendapatkan pencerahan nyatanya bisa. Semoga karya perdana ini diikuti karya kedua,ketiga, dan seterusnya. Ada mimpi yang selalu tersemat, saya ingin belajar dan nulis di majalah  X.
Para guru, mari menulis mari menginspirasi!

[Gowes #6] Jelajah Museum BPK RI

Ini salah satu cara mengisi liburan di rumah, ngeblog menuliskan catatan perjalanan yang sekian waktu tertunda. Mengubek-ubek foto lama yang tersimpan. Gowes ini sudah lama sekali,sekitar setahunan silam ketika club buku Janitra masih suka ngumpul melakukan kegiatan bersama.

Dimulai dari Tegalsari, kami menyusuri sungai hingga Kebonpolo, menyebrang hingga rindam. Di rindam berhenti sejenak menikmati car free day dari atas jembatan plengkung.

IMG_20170723_083413

IMG-20170728-WA0029

Jenak mengambil jeda kami lanjutkan perjalanan menyusuri dusun Boton dan sampailah di Museum BPK RI.

Museum BPK RI yang kami kunjungi kini berbeda jauh dengan musem yang terakhir saya kunjungi sendiri bertahun-tahun silam, sekitar 2008-an. Museum yang berlokasi di Kompleks Karisidenan Kedu, Jl. Diponegoro No.1 Magelang, Jawa Tengah ini sejak 2016 memperhatikan tren museum post-modern. Punya tagline “BPK Pengawal Harta Negara” museum ini awalnya merupakan kantor BPK RI.

IMG_20170723_091051

Merunut sejarah, penempatan kantor BPK RI di Magelang bukan tanpa alasan. Pasca proklamasi, kondisi ibu kota Jakarta tidak kondusif sehingga pada awal 1946 memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta. Kantor-kantor kementrian/lembaga pun tersebar di sekitar Yogyakarta. Magelang dipilih sebagai kantor BPK RI. Awalnya, kantor bertempat di perusahaan listrik umum Hindia Belanda, kemudian berpindah ke Gedung Bea Cukai Maglang dan berlanjut di Kompleks Karisidenan Kedu terakhir pindah ke Gedung Klooster.

Museum BPK diresmikan pada 4 Desember 1997. Dari tahun ke tahun museum mengalami perluasan hingga kini berpenampilan modern. Pengelola museum adalah Unit Pekaksana Teknis (UPT) Museum BPK dengan kepala museum pejabat eselon IV. Pengelolanya berada di bawah Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK.

Ruangan-ruangan BPK RI memiliki penamaan tersendiri. Dimulai dari lobi sebagai pintu masuk lanjut ke Ruang Audio Visual, Ruang Wajah BPK, Ruang Titik Nol, Ruang BPK, Ruang Rekam Jejak serta terdapat Kids Museum, ruang perpustakaan, storage dan konservasi, ruang temporary exhibition, toko suvenir, kafetaria, dan paling ujung adalah kantor pengawai penglola museum.

Bagaimana rupa dalamnya? Pengunjung akan dibuat berdecak kagum dengan konten museum yang edukatif, tertata rapi,  dan apik. Para penggemar selfi akan menemukan spot-spot yang indah untuk berfoto. Yuk kita intip isi dalamnya…

IMG_20170723_091741

ruang lobi

IMG_20170723_092023

dwi tunggal di balik berdirinya BPK

 

IMG_20170723_091947

filosofi tugas BPK yang digambarkan dalam lukisan batik

IMG_20170723_092831

Ruang wajah BPK RI menampilkan profil BPK dengan visualisasi desain panel yang interaktif, mudah dimengerti, dan paritisipatif.

IMG_20170723_092509

IMG_20170723_092906

dalam Ruang Wajah BPK pengunjung bisa belajar sembil bermain

IMG_20170723_093211

Ruang Titik Nol menampilkan perjalanan sejarah BPK dari titik awal

IMG_20170723_093414

IMG_20170723_094027

ruang BPK berisi profil badan berdasarkan periodisasi

IMG_20170723_093921

IMG_20170723_094513

IMG_20170723_094555

Ruang Rekam jejak menampilkan pengaruh hasil pemeriksaan BPK bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan. Kliping surat kabar tertata apik

IMG_20170723_094636

a bpk 2

a bpk 1

Kids Museum diusung ringan, edukatif, dan menyenangkan bagi anak. Selain konten visual ada konten audio visual lewat film animasi

IMG_20170723_095540

 

IMG_20170723_102506

 

IMG_20170723_101733

perpustakaan yang tak kalah menyenangkan

IMG_20170723_094935IMG_20170723_093037IMG_20170723_094238

Nah, menyenangkan bukan jelajah di museum BPK RI. Pengunjung mendapatkan banyak ilmu tanpa dipungut biaya sepeser pun sebab tidak ada tiket masuk menuju museum.

IMG_20170723_113124

Puas belajar sembari bermain, kami pun melanjutkan perjalanan menuju alun-alun kota kemudian pulang. Hati riang dan badan sehat.

 

 

 

 

 

 

Doesoen Kopi Sirap Tawarkan Pengalaman Ngopi Tak Biasa

Jelajah kampung kopi menjadi daya tarik wisata yang kini banyak dikembangkan oleh kelompok tani di  beberapa daerah. Sebut saja  kabupaten Semarang yang memiliki areal perkebunan kopi luas. Selain Kampung Kopi Banaran yang lebih dahulu populer, kini mulai berkembang Doesen Kopi Sirap. Terletak di Dusun  Sirap, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang,  kafe dan   wisata edukasi dusun ini kembangkan oleh kelompok tani Rahayu Empat. Berkembang sejak tahun 2014, kafe yang menawarkan pengalaman ngopi yang unik dimulai dua tahun belakangan. Ada beberapa paket wisata yang ditawarkan antara lain terlihat dalam brosur berikut20181227_175709

Paket wisata tersebut diikuti oleh jumlah peserta minimal 10. Selain paket wisata, pada bulan tertentu ada event spesial seperti panen raya di sekitar Juli- Agustus dan  festival kopi. Paket yang bisa diikuti oleh peserta terbatas antara lain berisi pengalaman menyangrai kopi secara manual tradisional oleh penduduk lokal. Tidak menutup kemungkinan penghunjung lain melihat prosesi tersebut.

 

Datang  secara mandiri, liburan kali ini kami bertiga melakukan penjelajahan di Doesoen Kopi Sirap. Dimulai dengan perjalanan menanjak, masuk dari jalur utama Magelang-Semarang, kami dimanjakan dengan hijauannya perkebunan kopi. Bukan  hanya perkebunan kopi, di sana-sini terlihat pohon nangka yang mulai berbuah. Tak heran jika di jalan masuk dari jalan raya utama terdapat warung yang menjajakan buah nangka besar-besar yang menguning menggiurkan. Komoditas lain areal perkebunan itu adalah durian dan salak.  Di tingkahi cericit burung, perjalanan menuju lokasi terasa  adem dimanjakan perkebunan beraneka ragam.

20181227_123442

pusat kegiatan wisata edukatif sekaligus kafe

20181227_120925

 

Begitu tiba, kami disambut area kafe  diantara perkebunan. Coba dulu menu khas kafe ini. Kami memilih  menu khas dari Doesoen Sirap yaitu kopi arabaika dan robusta Kelir, serta nasi jagung goreng. Pengolahan kopi sebelum menjadi bji kopi siap saji di lakukan di dusun sebelum area kafe. Sementara pembibitan dilakukan di atas, diantara perkebunan kopi.

20181227_120136

20181227_120001

Menu nasi jagung  dihasilkan oleh petani dusun tetangga. Setiap pagi, biasanya ada pedagang yang membawa dagangan nasi jagung urap khas Jawa. Sementara kafe ini hanya menawarkan nasi jagung yang diolah menjadi nasi goreng. Cobalah, dengan lauk petho goreng yang kriuk, beberapa potong telur dadar, kerupuk dan sayuran, rasanya boleh juga.  Namun, untuk lidah kami yang penyuaka makanan original, nasi jagung original lebih diterima lidah ketimbang nasi jagung yang digoreng dengan bumbu.

20181227_110022.jpg

menu utama kopi dan nasi jagung ditambah cemilan pisang dan kentang goreng membuat betah berlama-lama sembari menikmati rerimbunan kebun kopi

20181227_110118

Bagaimana dengan kopinya?  Arabika khas masamnya, sementara Robusta mantab pahitnya. Kopinya disajikan dengan botol kopi dan gelas kecil. Kadar manis bisa disesuaikan dengan selera sehingga tersedia gula di wadah kecil.

20181227_105320

20181227_111147

20181227_105221.jpg

Untuk Janitra yang belum ngopi, kami pesankan coklat panas. Coklat racikan ini terasa legit coklatnya, mantablah!

Setelah puas menikmati kopi, kami pun mulai menjelajah perkebunan.. Yang demen selfi tak usah khawatir, ada beberapa spot selfi di antara perkebunan. Tracking sampai tempat pembibitan cukup membuat kami berkeringat lho. Apa lagi kalau blusukan sampai tengah-tengah kebun.

20181227_123502

tempat ngopi di gazebo di antara perkebunan yang asri

a kopi 1

20181227_124939

20181227_124852

20181227_124834

20181227_115632

20181227_104547

20181227_104627

20181227_124457

tempat pembibitan

Sayangnya kami datang saat pohon kopi sudah dipanen bijinya. Membayangkan saat tanaman sedang berbunga, waawww… pasti indah. Menjelajah sembari menghirup wangi bunga kopi waa…sedap.

 

Menjelajah kebun seperti ini buat kami lebih mengasyikan ketimbang jajan dan main di mall. Salah satu cara mengasah kecerdasan naturalis anak dan menambah bonding ortu dan anak  dengan mendekatkan dengan alam.

a kopi 2

20181227_124119

20181227_104736

Oiya, selain ngopi di tempat, pengunjung juga bisa membeli kopi dalam bentuk biji maupun bubuk untuk dinikmati di rumah. Tertarik untuk mencoba mencicipi kopinya sambil menjelajah?

20181227_120033

20181227_120151

20181227_120300

Beberapa Ide Liburan di Rumah

Libur telah tiba! Postingan liburan wira-wira di status WA, beranda Facebook, maupun Instragram. Baper melihat postingan teman-teman karena di rumah tidak kemana-mana? Mager karena cuaca, atau tidak punya sumber daya (sebutan suami untuk modal liburan :D)? Tenang, ciptakan sendiri liburanmu dari rumah. Kalau perlu,buat liburan yang antimainstream! Berikut beberapa ide liburan yang bisa dicoba dari rumah

  1. Bersepeda

Liburan dengan bersepeda tidak butuh banyak sumber daya asal punya sepeda. Pilih rute yang belum pernah dicoba. Bisa menyusuri kota atau bluskan ke pedesaan dengan pemandangan indah. Kalau sedang beruntung, di kota saya pernah menemui beberapa momen spesial seperti bertemu kirab drumbandnya Akmil dan kirab budaya kota Magelang. Eh, katanya malas keluar karena cuaca, ya sudah cukup bersepeda di pagi hari dengan rute sekitar tempat tinggal. Ambil angle yang bagus untuk ambil foto…cekrekk… upload… jadi deh foto liburan yang tidak kalah seru.

IMG-20181225-WA0006

 

baca juga: gowes 

  1. Baca buku

Baca buku sambil ngopi cantik bisa dilakukan kapan saja tanpa perlu menunggu liburan. Tapi… liburan begini saat tepat untuk membabat timbunan buku yang belum dibaca kan? Iya atau iya? Seharian di rumah saja sambil baca buku pasti mengasyikan. Mengambil foto-foto yang cantik bisa dilakukan dengan leluasa, setelahnya… upload!

IMG_20171225_103529_HDR

IMG_20181111_080612_HDR-01

  1. Memasak

Biasanya kurang waktu untuk memasak, kini saatnya mempraktikan resep-resep masakan yang hanya dishare  atau disimpan saja di linimasa saja tanpa dicoba. Coba resep sederhana atau unik, keluarga pasti senang. Ada rasa puas juga setelah masakan selesai. Mau foto juga? Tinggal ditata lalu cekrekkk…. jadi deh foto liburan.

20180622_064252-01

resep simple yang bisa dipraktikkan

 

baca juga: resep kopi hommade

 

  1. Fun creation

Berkreasi bersama anak memberikan arti tersendiri bagi anak. Beberapa ide kreasi banyak bertebaran di beranda FB atau tutorialnya bisa dilihat di youtube. Memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah bisa dicoba.

IMG-20181225-WA0008-01

tempat pensil dari botol bekas 

20170321_223124

IMG-20181225-WA0014-01

busy book buatan sendiri yang terinspirasi dari buku

  1. Belajar menggambar untuk anak

Seperti nomer 4, belajar menggambar bersama anak pasti menyenangkan bagi anak.  Banyak tutorial menggambar yang  mudah untuk dicoba.

IMG-20181225-WA0007

  1. Blogging

Nah,ini, punya blog yang jarang diisi karena sibuk, sekaranglah saatnya. Tuliskan ide-ide yang selama ini hanya bersarang di kepala. Bisa juga menuliskan pengalaman traveling yang fotonya selama ini hanya tersimpan. Setelah selesai, bagikan di media sosial, pasti liburan punya nilai tambah.

  1. Menulis

Coba buka file-file di komputer. Banyak ide yang belum selesai dituliskan atau tulisan-tulisan setengah jalan. Merapikan dan merampungkan bisa jadi ide bagus saat liburan. Kita bahkan punya waktu untuk memikirkan ide-ide baru untuk ditulis.

IMG-20181225-WA0013-01 (1)

menulis atau blogging bisa dilakukan di belakang rumah sembari hammock-an

 

  1. Merapikan foto

Memori gawai penuh karena banyak ambil foto tapi setelahnya dibiarkan saja. Atau banyak foto-foto di Whats up yang sebenarnya menjadi sampah karena hanya memenuhi memori, sekarang saat menghapus dan memindahkan foto-foto yang penting. Menata foto-foto lama dan baru akan membuat gawai lebih ‘enteng’. Siapa tahu, foto-foto liburan lama akan ditemukan dan membuat tambah bersyukur pernah mengalami pengalaman berbeda.

 

Tidak kemana-mana bukan berarti tak punya liburan seru. Ah, lagipula… masak liburan hanya memburu foto untuk diupload?

Masih baper juga? Dengan foto-foto lama yang ciamik, upload saja… hahahaha…. liburan akan terasa kemana-mana!

 

Berkebun di Kebun Bibit Senopati

 

 

Salah satu cara mengembangkan kecerdasan naturalis anak adalah mengajak mengekplorasi alam dan melakukan kegiatan berkebun. Di Kebun Bibit Senopati Magelang ini anak-anak akan diajak berkebun dengan fun. Tempat ini beralamat di Jl. Panembahan Senopati, Jurangombo Utara, Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah 56123. Kebunnya indah dan banyak spot yang instagramable.

IMG_20181113_083721

 

IMG_20181113_092449.jpg

IMG_20181113_085118.jpg

IMG_20181113_083858.jpg

 

 

Kunjungan yang  dilakukan dengan kawan-kawan sekolah, pasti seru!!! Ini salah satu kunjungan belajar yang diadakan TK Janitra. Begitu datang, petugas menyambut anak-anak. Mereka dikumpulkan untuk pengarahan lalu diarahkan untuk menanam bunga. IMG_20181113_084350

Kegiatan menamam bunga dipandu oleh seorang petugas. Selanjutnya anak-anak akan diberi sebuah tanaman bunga yang dibawa pulang untuk ditanam di rumah. Selesai tugas menanam, ustadzah mengajak mereka berkeliling kebun.

IMG_20181113_090012_edit

 

Foto-foto tak ketinggalan. Apalagi emak seperti saya, sudah siap dengan gawai yang kameranya tak luput menjepret moment si anak.

IMG_20181113_085435_edit

IMG_20181113_085448

PhotoLab_20181129_161914[1]

PhotoLab_20181129_163419[1]

PhotoLab_20181129_160700[1]

 

Mau coba ke sini? Ajaklah si kecil ke sini,pasti senang. Berlarian dan mengenal aneka flora.

Eksotisme Kali Mangu Mungkid

 

Kamis pagi itu, saya dan rombongan—dengan rekan guru dan anak-anak– menembus  dingin pagi melewati rute naik turun berkelok-kelok menuju Blabak. Tak ada kemacetan kami temui sebab dari Grabag pak sopir memilih rute Banaran—Tegalrejo—Candimulyo—Blabak. Dalam hati saya berpikir, untuk tubing, kenapa  harus jauh-jauh ke Mungkid? Toh tak jauh dari tempat tinggal kami  juga ada. Meskipun berdomisili di Secang, saya bekerja di Grabag. Teringat pula komentar suami, ”Hari gini tubing,tubing sama batu?” Maklumlah, kemarau begini sungai paling airnya sedikit.

Jawabannya baru saya dapatkan setelah nyemplung dan ngeli di kali Mangu  dengan  ban  besar.

Beberapa kru menyambut kami di base camp di Jalan Senden-Ngabean No. 10 Senden Mungkid Magelang, yang di depannya nampak ornamen dari bambu berwarna-warni. Setelah menunggu beberapa saat untuk mempersiapkan peralatan: pelampung, helm, dan ban, kami pun siap berangkat dengan  berjalan kaki.  Kru yang membersamai kami ada 10 orang.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.24.29

Start tubing berada tak jauh dari base camp.  Gemricik air sungai menyambut kami. Apa yang dikomentari oleh suami tidak terbukti. Air sungai melimpah dan gemricik diantara bebatuan sudah menggoda untuk diarungi.

Para pendamping kembali melakukan pengulangan informasi penting dari pembekalan yang sudah dilakukan di base camp.  Mantab kami memilih ban masing-masing.  Jumlah kru yang sebanding dengan jumlah rombongan dan selalu siap mendampingi menjadikan kami siap terjun.

Duduk di atas ban diombang-ambing dan hanyut mengikuti arus berbeda sensasinya ketika duduk bersama di atas perahu karet. Ini lebih seru.  Pengalaman dan keseruan tiap-tiap orang di atas ban berbeda-beda. Untuk individu yang menyukai tantangan yang memacu adrenalin secara personal tubing ini pilhan tepat.

Ketika arus cenderung tenang, pemandangan tebing sungai yang dinaungi langit biru bisa dinikmati. Ada akar-akar pohon yang menjuntai di sana-sani. Sesesekali ada mini air terjun yang menambah keindahan tebing sungai.  Saya takjub, kalau tidak mengarungi sungai dengan tubing seperti ini, tidak akan pernah tahu bagaimana rupa tebing sungai yang dijuluri akar-akar pepohonan. Terlihat eksotis. Magelang pastilah punya banyak sungai yang indah untuk dijadikan tempat mengambil jeda dari aktivitas dan menyegarkan pikiran. Sayangnya, polusi berupa sampah-sampah yang dibuang penduduk tak jarang ditemui di sepanjang perjalanan.

Melewati jeram-demi jeram, keseruan demi keseruan lebih terasa. Sensasi diombang-ambing dan didorong arus membuat ekspresi kami tak bisa dibendung, teriak dan bersorak. Tidak ada kekhawatiran bagi kami yang tidak memiliki kemampuan berenang sebab ban dan pengaman berupa pelampung dan helm sangat memadai.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.20.26

Beberapa jeram ekstrim kami lewati, namun para pendamping selalu stand by di lokasi jeram, membantu para peserta bisa mengarungi dengan aman tanpa rasa khawatir. Justru di jeram-jeram yang ekstrim para peserta merasakan adrenalin terpacu.

IMG-20180628-WA0131

Penulis artikel menikmati tubing

Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, jarak tempuh yang Sungai Mangu  di arungi terbilang panjang. Pendamping mengajak beberapa kali break. Ini kesempatan bagi peserta tubing saling berbagi ekspresi dan meluruskan kaki.  Salah satu pendamping selalu siap mengambil foto. Tempat break selalu dipilih tempat dengan latar belakang pemandangan yang indah, berupa air terjun kecil ataupun batu-batu yang instragramable untuk berfoto.  Kerikil-kerikil dan bebatuan kecil terhampar di tepi sungai yang landai. Tak hanya di tempat break, fotografer juga aktif mengambil foto saat kami berayun-ayun atau terlontar oleh arus jeram.

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-16-27.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.14.54

WhatsApp Image 2018-06-28 at 11.54.36

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-15-12.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.23.08.jpeg

Tiba di garis finish,  kami bisa berpose dengan pose melingkar  sambil bermain kecipuk air. Foto-foto yang diambil oleh fotografer semua akan dibagikan kepada rombongan sehingga keseruan tubing  bisa dibawa pulang dan menjadi kenangan sepanjang waktu.

IMG-20180628-WA0114

IMG-20180628-WA0107

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.08.48

Magelang memiliki kekayaan sumber daya alam  yang bisa  diekslpore untuk pariwisata. Dari hutan pinus, hutan bambu (papringan), pegunungan, hingga sungai-sungai yang menyimpan keindahan yang seringkali tak diketahui oleh penduduk lokal. Seperti Sungai Mangu Blabak ini yang menawarkan pemandangan eksotisme dan jeram-jeram penuh tantangan.  Ayo ke Magelang. Sebagai wong Magelang  sudah saatnya kita mengenal dan mengeksplorasi daerah sendiri sebelum melalang ke tempat lain.

 

 

**Foto koleksi pribadi atas kiriman pendamping tubing

 

 

 

 

 

 

[diary Janitra] Janitra dan Kepedulian Gempa

 

Sore, televisi menanyangkan pengungisan dampak gempa dan tsunami Palu. Ada tenda-tenda yang kondisinya memprihatinkan karena sudah dua hari hujan turun dan air masuk ke tenda. Reporter mengabarkan kondisi terkini.  Janitra menikmati ‘energen’ home made buatan ibu.

Di kepala saya muncul sebuah imaji, Janitra akan bertanya, “ mi, niku kemah napa?” lalu saya akan menjelaskan perihal tenda yang dilihatnya.

Di luar dugaan, saya terkejut, komentarnya bernada prihatin, “mesake”

Maka, saya langsung masuk memberikan umpan balik atas tanggapannya. Agar Janitra yang beruntung lebih bersyukur dan lebih shalihah, serta mendoakan mereka.

Lalu, komentar berikutnya, “Umi, Lombok pun bersih?  Nek kalih niku?” Pertanyaan membandingkan muncul.

Saya jelaskan, Palu lebih parah sebab ada tsunami.

Lagi-lagi Janitra bertanya, “Lombok pun bersih?”

“Tasih terus diperbaiki, ”

“Kurang pinggir-pinggire?” Nah, kalau ini komentar lugasnya ala bocah,

Jujur, saya exited dengan kepedualian dan pemahaman Janitra akan kondisi Lombok dan Palu. Saat terjadi tsunami, saya tidak berada di rumah (menjalani PPG  5 pekan). Dari mana kesadaran dampak bencana yang dilihatnya? Ah, ternyata, Janitra tidak hanya tahu “Upin dan Ipin” saja dari televisi di depannya.

 

#latepost

Tegalsari, 14 Oktober 2018. 17.22

#diaryJanitra_6y3m

 

 

Warga korban gempa melintas di sekitar tenda pengungsian di halaman Masjid Agung, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10)

Warga korban gempa melintas di sekitar tenda pengungsian di halaman Masjid Agung, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10).Berdasarkan data sementara posko induk penanggulangan bencana Makorem 132 Tadulako jumlah pengungsi mencapai 62.359 jiwa. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc/18.  (*foto hasil googling))

Antara Dakwah dan Komoditas

Oleh: Sayekti Ardiyani*

 

Muslimah kini semakin memiliki kebebasan untuk menunjukkan eksistensinya, baik di dunia nyata dan lebih-lebih di sosial media. Jilbab lebar yang dulu dipandang dengan tatapan kurang ramah oleh pihak-pihak tertentu kini menjadi trend  fashion. Wanita bercadar  yang dulu dipandang dengan tatapan penuh curiga kini semakin menampakkan ekistensinya di sosial media.

Lihatlah istragram. Feed IG sekarang dipenuhi dengan foto-foto wanita bercadar dengan gaya yang fasionable. Berseliwaran pula foto-foto mereka dengan pasangan halal yang membikin para jomlo baper.  Mesra dan lokasi fotonya istagramable habisss.

Luar biasa, dakwah di sosial media tak hanya marak namun terbilang efektif. Ajakan berhijab, menikah tanpa pacaran, tausiyah-tausiyah yang diletakkan sebagai caption sangat mengena di kalangan generasi milenial.  Tak hanya para artis yang berhijarah, para wanita bercadar pun kini banyak yang menjadi sosok influencer.  Tentu saja saya memandang ini sebagai hal yang sangat positif.  Dakwah toh tidak harus lewat ceramah di masjid atau pengajian. IG telah menjelma majelis taklim yang mengundang like ribuan follower

Lewat foto-foto yang bikin baper, mereka tidak hanya berdakwah namun terlihat pula menjadi endorser sebuah produk.  Bagaimana tidak fasionable jika wanita bercadar itu mengenakan produk hijab dan segala pernak-perniknya dari prodok branded. Lagi-lagi,  dakwah ini terbilang  efektif. Sekarang, para muslimah yang bercadar semakin percaya diri untuk menu jukkan eksistensinya. Semakin banyak  muslimah yang mengikuti jejak untuk berhijab syar’i dan tidak perlu ragu-ragu untuk menutup wajah mereka dengan cadar.

wallpaper-kartun-muslimah

pinjam foto dari sini

Namun, ada yang menggeletik saya ketika melihat  semakin banyak influencer  bercadar yang berfoto  ala model di sosial media, dengan produk branded  yang dikenakan.  Tidakkah disadari bahwa hal semacam itu akan menjadi sebuah komoditas.  Ada yang menganggu pikiran saya: apa beda dakwah dengan komoditas? Oke lah, lagi-lagi itu cara dakwah yang mengena buat  generasi milenial, namun ketika mereka berpose layaknya para peragawati di catwalk, saya kok merasa gelisah ya?

Saya pernah mendapati  foro seorang wanita bercadar yang meng-endorse sebuah produk sepatu. Pose duduknya aduhai,   sebelah kakinya diangkat  sehingga produk sepatu itu terlihat jelas. Nah, ini dakwah atau komoditas?  Jujur, saya lebih nyaman  melihat keteduhan sosok mereka pada postingan semacam  video “Peluk Aku” dengan lagu latar  Deen Salam yang sempat viral beberapa waktu lalu.

 

 

 

 

*tulisan ini sekedar opini pribadi yang lahir dari kegelisahan diri. Bukan maksud untuk nyiyir, mencari pembenaran, atau mengundang debat kusir.

Di Balik Cernak untuk Majalah Adzkia

Siang itu panas. Berjalan dari sekolah tempat saya mengajar, saya menghentikan langkah di tepi jalan. Saya menunggu angkot yang lewat menuju pasar. Sebenarnya, jarak dari saya berdiri hingga pasar tidak begitu jauh, 10 hingga 15 menit bisa saya tempuh dengan berjalan kaki. Bahkan,simpang empat pasar bisa saya lihat dari tempat saya berdiri, sebab jalannya lurus. Melayangkan pandang menuju simpang 4 pasar, tak satupun angkot biru yang saya lihat. Jadi benar, ada demo gojek di kota Magelang. Demo di kota, tapi angkot pedesaan ikut korsa mogok. Saya terpaksa berjalan kaki sampai pasar. Sekembali dari pasar, malang benar, becakpun tak ada. Celingak celinguk mencari becak, seorang sopir angkot melihat saya. Dikiranya mungkin mencari angkot, sopir itu menyapa saya, “Mbae mau pulang Sambung, itu mbak, sama pak polisi saja.” Saya biasa menumpangi angkotnya sehingga tahu dimana saya pulang.

Tak jauh dari sana standy polisi dan mobil patroli yang hari itu khusus mengangkut anak-anak sekolah yang kesulitan transportasi sebab angkot mogok. Tersenyum sembari menjawab, saya belum mau pulang.  Maka saya berjalan lagi menuju sekolah. Masih panas. Jam istirahat kedua anak-anak matahari sedang berada di atas kepala.

Cling! Mendadak muncul ide ketika saya tiba di depan sebuah Sekolah Dasar Negeri tak jauh dari simpang 4 pasar. Dalam perjalanan itu, saya berangan-angan bagaimana seandainya hujan? Sambil berjalan, saya mengeksekusi ide yang mendadak muncul itu. Saya mengandaikan seorang anak yang bersekolah di SD yang saya lewati harus kecewa karena tak ada angkot. Dengan jarak yang tidak jauh, ia terpaksa berjalan pulang di bawah terik matahari. Sama seperti saya.

cerpen-1.png

 

Hasil eksekusi itu saya tuliskan dalam sebuah cerita anak berjudul “Mogok Angkot” dan dimuat dalam majalah Adzkia edisi 145 Vol.XIII No. 01 Juni 2018. “Mogok Angkot” adalah cerita anak kelima yang dimuat di majalah Adzkia. Saya ingin mengingatkan diri sendiri terutama dan anak-anak,untuk selalu bersyukur dengan cuaca yang diberi oleh Allah. Tidak mengeluh saat panas terik maupun saat hujan turun. Dengan kaki yang dimiliki, bisa pulang sekolah di hari yang terik adalah hal yang pantas disyukuri.

cerpen-2.png

 

Majalah Adzkia merupakan majalah anak muslim yang terbit sebulan sekali. Kantor redaksinya berada di Jl. DR. Muh. Hatta Kp. Madegondo RT 05 RW 04 Sukoharjo Jawa Tengah.  Dibanding majalah Bobo yang sulit sekali ditembus, majalah Adzkia lebih menjanjikan karya saya dimuat. Honornya pun lumayan. Satu pertimbangan mengirimkan karya ke majalah Adzkia adalah menulis sambil berdakwah.  Cerita anak yang dalam majalah Adzkia disebut “Kisah  Berhikmah” mengandung syiar.

Sama seperti “Mogok Angkot”, cerita yang saya kirimkan di majalah Adzkia kesemuanya berangkat dari ide yang saya temukan dalam keseharian saya di sekolah.  Cerita “Dokter Kecil” dalam majalah Adzkia edisi 140 Vol XII No. 08 Januari 2018  adalah pengalaman yang saya hadapi ketika memilih tiga siswa saya untuk maju mengikuti pelatihan dokter kecil di Puskesmas Kecamatan Grabag. Saya tidak memilih anak yang  pandai secara akademik, juara kelas, tapi anak yang telaten dan peduli. Setahun kemudian, muncul ide untuk menuliskannya dalam cerita anak. Saya ingin menekankan kepada anak-anak, bahwa tiap anak memiiliki kelebihan, tak hanya pintar akademik namun juga kelebihan dalam akhlak dan bergaul. Semua bisa berprestasi. Cerita dengan tokoh bernama Syifa itu ingin mengambil inspirasi dari tokoh muslimah Syifa binti Abdullah. Selain berbagi hikmah, saya pun ingin memperkenalkan shahabiyah yang mungkin belum banyak dikenal anak-anak.

cerpen-3.png

Syiar itu pula yang mendorong saya mengeksekusi ide dari hadist yang dihafalkan anak-anak saya di sekolah. Terutama hadist yang berkaitan dengan adab dan diamalkan dalam keseharian.  Barangkali, tidak semua anak tahu, bahwa  meniup makanan dan minuman  tidak diperbolehkan.  Dari hadist larangan bernapas di tempat makan dan minum, saya kemudian melakukan riset. Sesuatu dilarang oleh agama, pasti ada hikmahnya. Data mengenai larangan bernapas/ meniup makanan dan mimunam saya dapatkan secara ilmiah.

cerpen 4

Data yang temukan saya eksekusi, kira-kira minuman apa yang sering dalam keadaan panas lebih enak disajikan. Maka, premis seorang anak yang terburu-buru sarapan karena bangun siang dan meniup susunya yang masih panas menjadi  sebuah cerita anak berjudul “Gara-Gara Novel” dalam majalah Adzkia  Vol X No.6, November 2015. Gara-gara membaca novel hingga larut malam, seorang anak kesiangan bangun dan sarapan dengan tergesa. Ayahnya mengingatkan untuk tidak meniup minuman sebagaimana dijarkan Nabi Muhammad lewat hadistnya. Pertanyaan mengapa dilarang meniup dijawab dengan data yang sebelumnya saya lakukan riset.

Cerita berhikmah lain berjudul “Hari Membawa Bekal” dalam Adzkia Vol XI No. 9, Februari 2017 saya gali dari hadist adab makan, yaitu larangan makan sambil bersandar.  Saya melakukan eksekusi dengan sebuah pertanyaan, momen apa yang mungkin anak bisa makan bersama sehingga guru melihat ada anak yang cara makannya belum sesuai sunah. Muncul ide, pada hari ada pelajaran olahraga, siswa diperbolehkan membawa bekal dan makan bersama di taman kota. Dari sekolah hingga taman kota, siswa berjalan kaki. Saat makan bersama itulah guru dalam cerita “Hari Membawa Bekal” mengingatkan anak-anak tentang cara makan sesuai sunah. Setelah ide muncul, saya kemudian melakukan riset, mengapa secara ilmiah makan tidak disarankan sambil bersandar?

cerpen-5.png

 

Setelah menemukan ide, eksekusi, riset, dan data komplet, alur akan terbangun. Langkah saya selanjutnya biasanya  mengetik cepat atau melakukan free writting (menulis bebas). Saya mengetik saja apa yang terlintas di kepala, tanpa aturan dan tanpa mengedit. Setelah saya lega mengeluarkan isi kepala, dan cerita sudah terbangun,barulah saya membaca ulang sembari mengedit. Ketika membaca ulang seringkali berkembang cerita. Saya juga melakukan penyesuaian jumlah kata sesuai aturan dalam media yang dituju.

Ada kepuasan tersendiri ketika karya dimuat dan diapresasi beberapa teman, bahkan siswa sendiri. Cerita-cerita yang saya tulis adalah cerita-cerita yang terserak di sekolah tempat saya mengajar sehingga lebih mudah menuliskannya

 

 

*tulisan yang tidak lolos lomba menulis proses kreatif