[Diary Janitra] Jerawat Ibuk dalam Sketsa

Apakah Janitra berbakat menggambar? Entahlah. Sekarang ia sering asyik menggambar dan mewarnai.

Beberapa hari belakangan, ada jerawat mampir di atas sudut bibir kiri saya. Karena besar dan begitu mencolok, seperti bintang di langit malam (#eaa), ia kerap mengomentari jerawat saya, bahkan menggambar wajah saya di papan tulis kamar.

IMG_20170724_190451

“Ini ibuk, ada jerawatnya, trus ini minyak zaitun,” cerita Janitra soal wajah saya dalam gambar dengan sebuah botol di sampingnya. Minyak zaitun itu adalah obat jerawat untuk ibunya.

Kok mboten jilbaban ibuk?*” tanya suami saya.

Kan ting ndalem, jadi mboten jilbaban,” ** jawab Janitra polos.

 

Kami tersenyum mendengar jawaban Janitra, lebih-lebih melihat gambarnya. Saya menyukai gambar Janitra. Gambarnya mengingatkan saya pada ilustrasi novel anak yang saya sukai.

 

Sebelum menggambar di papan tulis, beberapa bulan yang lalu, Janitra yang gandrung menggambar mencoret-coret di mana saja, di sobekan kertas, bahkan di soal-soal latihan UN milik bapaknya. :D. Melihat gambarnya, rasanya puas.  Ada perkembangan gambarnya yang signifikan, meskipun yang digambar objeknya baru satu jenis yang disukainya, bunga. Setahun lalu masih mewarnai gambar dengan warna satu jenis dan coret moret, sekarang sudah mendingan rapinya.

IMG_20170315_181658 IMG_20170426_193749

 

Tentu, sebab perkembangan seni anak akan terus berjalan, gambarnya tentu lebih baik dibanding gambarnya ketika ia baru suka menggambar matahari pada periode coreng moreng

Saat ini perkembangan seni Janitra ada pada tahap prabagan.

Masa Prabagan (preschematic)  : 4-7 tahun

Kecenderungan  umum  pada    tahap  ini,  objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya.

Penempatan  dan  ukuran  objek  bersifat  subjektif,  didasarkan  kepada kepentingannya. Ini  dinamakan  dengan  “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.

 

sumber dari sini

 

Gambar apa lagi yang esok akan dicoretkannya? Lebih-lebih bulan ini sudah masuk sekolah pertama, pasti seru mengamati perkembangannya.

 

 

 

 

#DiaryJanitra_5tahun

Ket:

*”Kok nggak berjilbab?

**“Kan di rumah, jadi tidak berjilbab

Ngopi di Ketinggian Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

“Sugeng rawuh,” sambut pria berblangkon dengan wajah full senyum begitu kami turun dari motor tepat di depan rumah.

“Siapa?”  Sapanya ramah sembari menyalami suami saya.

Pria tadi kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Rohmat, menjawab pertanyaan balik saya setelah berkenalan dengan suami. Beliaulah pemilik kedai kopi menoreh yang tepatnya nylempit di ketinggian deretan Pegunungan Menoreh.

Sambutan hangat itu seketika membuat kami kerasan ngadem  di pekarangan rumah  yang kedainya berbentuk gazebo-gazebo lesehan maupun gazebo dengan meja kursi kayu ala warung.  Aroma kopi menyeruak begitu kami masuk, memilih  salah satu di antaranya.

IMG_20170704_132856[1]

IMG_20170704_120703[1]

IMG_20170704_133130[1]

IMG_20170704_133049[1]

 

Keramahannya tak hanya dalam bentuk sambutan, namun beliau berkeliling dari satu gazebo ke gazebo, melayani segala bentuk pertanyaan maupun berbincang akrab, termasuk menjelaskan daftar menu yang ada pada kami.

IMG_20170704_121518[1]

IMG_20170704_121806[1]

 

Penyajian yang khas dari kedai itu adalah paketan kopi di atas baki yang terdiri dari kopi, 3 jenis pemanis yang terdiri gula jawa, gula pasir, dan sari jahe plus 4 jenis camilan yaitu geblek, kacang rebus, tahu isi, dan tempe mendoan. Mantab bukan? Untuk anak kecil seperti Janitra, tak perlu khawatir, ada kok jenis minuman lain.

IMG_20170704_122821[1]

IMG_20170704_125312[1]

IMG_20170704_124711[1]

salah satu paket menu makan besar

Kedai kopi itu menawarkan kopi yang langsung di produksi di tempat dengan perkebunan yang berjarak 200 meter dari kedai. Sayangnya, ketika kami berkunjung sedang tidak ada produksi karena persediaan masih banyak. Jika persediaan kopi di kedai habis, Pak Rohmat mempersilakan pengunjung untuk menyaksikan proses produksi. Untuk pengunjung yang ingin membawa pulang kopi, tersedia beberapa pilihan kopi kemasan.

Di sela-sela menikmati pekatnya kopi Arabika dan Robusta yang pahit kami bisa berbincang dengan pemilik yang merintis kedai dari 2014. Inspirasi datang dari seorang kota yang datang ke kediaman pak Rohmat. Hanya ngopi sembari berbincang di dalam rumah, sang tamu minta pak Rohmat membuat teras di pekarangan rumahnya. Setelah teras yang dimaksud jadi, datanglah sang tamu dengan komunitas moge berjumlah 70.

“Padahal waktu itu kami hanya memiliki baki seperti ini 10,” kenang Pak Rohmat sambil menunjuk baki di depan kami.

Kunjungan itu menjadi starting point berdirinya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Beliau yang sebelumnya  hanya produsen kopi sejak 2010, meneruskan pengelolaan kebun kopi yang turun temurun diwariskan dari nenek moyang kini melayani tamu-tamu tak hanya lokal namun juga turis mancanegara.  Melayani para tamu yang menikmati kopinya di lokasi, produksi kopi juga terus berjalan untuk didistribusikan di kafe-kafe, restoran, hotel di Yogyakarta maupun luar daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi. Distribusi kopi tak hanya dari kebun miliknya dengan luas 6000 meter persegi, namun beliau juga mengumpulkan dari petani-petani kopi sekitar.

Sebagian besar penduduk di sekitar kedai adalah petani kopi. Ada asosiasi petani kopi di sana. Ya, daerah tempat tinggalnya memang di kepung perkebunan kopi, tak heran jika wangi bunga kopi yang sedang mekar Juli ini menemani perjalanan kami menuju lokasi.

IMG_20170704_140044[1]

Suasana yang menyatu dengan perkebunan itulah yang membuat kami betah berlama-lama, menikmati kopi dan menu makan siang yang kami pilih.  Tak heran jika segala yang diberikan oleh alam di sekitar kedai, juga keterbukaan pemilik kedai membuat turis mancanegara tak cukup ngopi sekali waktu saja, namun juga sepanjang hari dengan menginap di lokasi. Karena memang tidak menyediakan  kamar, home stay ya di gazebo. Berbekal sleeping bag, para turis itu bisa langsung berdekatan dengan alam Menoreh. in pelayanan dua kali ngopi, sore dan pagi, serta satu kali makan besar, para turis asing cukup mengeluarkan kocek Rp.150.000.  Murah meriah bukan? Untuk turis lokal bagaimana?

“Kalau turis lokal, sejauh ini belum ada,” ujar pria yang sudah bercucu itu.

Nah, dengan segala kekhasan kedai kopi yang terletak di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta pasti deh pengen balik lagi kesana. Tak peduli dengan rute berliku dan menanjak yang dilalui. Sebab rasa capek selama perjalanan akan terbayar dengan aroma dan keramahan. Ya, kami saja rela menempuh perjalanan selama 3 jam bolak balik dari rumah. Bagi kami, rutenya tak membosankan sebab hijau dan aroma ketinggian selalu membuat kami tak bosan melakukan perjalanan di pegunungan.

 

Bonusnya, kami juga bisa foto-foto narsis dong ya… 😀

IMG_20170704_132650[1]

IMG_20170704_132706[1]

IMG_20170704_132949[1]

IMG_20170704_133352[1]

 

Gowes #5: Melintasi Jembatan ‘Imigrasi’ Kabupaten—Kota Magelang

Sebagai referensi tempat-tempat menarik di sekitar, saya suka stalking IG yang memajang tempat-tempat wisata. Dari IG Magelang misalnya, ada jembatan gantung yang kelihatan apik di foto. Maka, kami merencanakan gowes rute ke sana.

Waktu itu senin pagi, bertetapan dengan hari Maulud Nabi, 13 Desember 2016  dari Tegalsari Jambewangi Secang sepeda kami kayuh menuju Mbugel kemudian Klontong. Dua dusun itu masih berada di desa yang sama dengan tempat tinggal kami. Sepeda mulai masuk kota ketika memasuki kawasan perumahan Depkes. Jembatan sudah dekat tatkala daerah Ngembik Kramat Selatan, Kota Magelang.

 

img-20161218-wa0003-1

img-20161218-wa0002

 

Sampailah di jembatan itu.  Jembatan yang panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar 1,5 meter itu ternyata rame dilintasi penduduk dari dua desa di sekitar.   Tinggi jembatan dari permukaan sekitar 20 meter. Kebayang kan tingginya?

Untuk menyebrang, kami harus bergantian sesuai kuota yang ditulis di ujung jembatan. Kuota itu tentu saja untuk menjaga keselamatan pelintas. Ada kejadian di bulan November 2011 yang menelan korban jiwa dan kendaraan ketika jembatan itu putus.

Ada sensasi tersendiri ketika melintasi. Ketika berpapasan, saya harus menunggu yang lain lewat duluan. Goyangannya itu… serong kanan serong kiri. Menyebrang kali Progo di atas jembatan  sepanjang itu  merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya, saya hanya pernah menyebrang jembatan kali Manggis yang panjangnya kira-kira sepertiganya.

Sampai di seberang, yang berarti saya telah sampai di Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, saya merasa terkejut mendapati ternyata ada pos. Yang terlintas di benak adalah pengalaman Agustinus Wibowo ketika melintasi batas negara.’ Kantor’ imigrasi seadanya yang dijaga oleh tentara. Hihihi…jauh banget yang ngebayanginnya.  Pos itu dijaga seorang petugas.

img-20161218-wa0008-1

img-20161218-wa0001

Para penduduk yang melintas dikenai biaya untuk kas perawatan jembatan. Mereka adalah penduduk sekitar yang melintas dari kabupaten ke kota Magelang atau sebaliknya.

 

“Satu orang lima juta rupiah,” kata lelaki necis tinggi besar itu kepada saya. Ahahaha, memang bapak lima anak itu penuh humor. Maka, saya bayarkan 1500 rupiah untuk saya, Janitra, dan bapaknya. Kami tak langsung meninggalkan tempat itu. Menyempatkan diri ngobrol dengan bapak di sela-sela membuka tutup plang , saya mendapatkan semangat pada dirinya.

“Saya ini, nggak bisa ngaji. Nggak mau anak-anak saya seperti saya makanya saya saya masukan anak saya ke pesantren.”

img-20161218-wa0010

Sambil istirahat, kami melihat-lihat susanan berkeliling. Sungai Progo di bawah jembatan nyatanya memang apik. Beberapa anak terlihat bermain di tepi sungai yang berbatu kecil-kecil,semacam pantai yang berkerikil berpasir hitam.  Matahari pagi menimbulkan kilau pada air sungai.

img-20161218-wa0006

Puas menikmati Progo, kami lanjutkan perjalanan.    Karena memang pengalaman pertama menyusuri daerah itu, kami main blusukan saja. Mengandalkan plang  petunjuk atau bertanya penduduk sekitar adakalanya kami kesasar.  Tapi, pengalaman blusukan dan kesasar itu menjadi seni tersendiri ketika gowes. Kalau nggak paknda Janitra, bukan blusukan namanya, kata suami suatu ketika saat saya protes karena melintasi gang yang sempit.

img-20161213-wa0035

Ada pengalaman mentok ketika kami mencari penyebrangan Progo menuju   Mbugel, Kec. Secang Kab Magelang   . Menyusuri kebun sawah, ternyata kami bertemu jalan buntu di sawah. Untunglah ada seorang kakek  baik hati yang mengantar kami dan menunjukkan jalan. Berbalik dari sawah kami kemudian memasuki dusun.

Kakek mengajak kami melintasi rumah-rumah penduduk dan menuju papringan lanjut ke sawah di belakang kampung.  Kakek itu menunjukkan agar kami melintasi sawah  lalu menyusuri kali. Blusukan kebun lagi, kami akhirnya sampai di tepi kali Progo. Terus saja kami melintasi kali sesuai petunjuk, akhirnya kami sampai di anak Sungai Progo yang kecil.

img-20161213-wa0029

img-20161213-wa0032

img-20161213-wa0031

Tak ada jembatan di kali itu. My trip my adventure. Kami harus turun kali dan menyebrang bersama sepeda kami. Terlebih dahulu saya dan Janitra yang menyebrang. Secara bergantian paknda Janitra menyebrangkan sepeda kami. Wah…seru….

img-20161213-wa0017

img-20161213-wa0026

img-20161213-wa0021

img-20161213-wa0024

Sejenak Janitra bermain di kali. Anak-anak ketika bertemu air tidak afdol kalau tidak bermain. Mentas dari kali, saya melihat beberapa tumbuhan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Belajar di alam, saya perkenalkan tumbuhan putri malu yang di mata anak-anak pasti mengasyikan ketika menyentuhnya.

Menyusuri sawah lagi, sampailah kami di jalan bercor. Sepeda kami kayuh, akhirnya tiba di jembatan gantung lagi.  Goyang lagi, kali ini tidak seseru di  Jembatan Kramat. Tak ada petugas di sana. Pos penjagaan tanpa penghuni. Dari jembatan, sudah terlihat kawasan pemecah batu.

img-20161213-wa0018

img-20161213-wa0019

Masuk ke Kelurahan Jambewangi lagi, dusun yang kami lewat adalah Mbugel kemudian masuk komplek Armed lanjut Sambung. Menyebrang jalan raya Yogya-Semarang, melewati perumahan sampailah kami di rumah lagi.

Pengalaman yang seru. Moment Maulud Nabi membuat trip gowes kami tambah berkesan. Perjalanan kami diringi syair syair khas Maulud Nabi yang bergema dari desa ke desa.

Malam Berpelangi di Monjali

Sejak    Desember  2011  halaman sekitar Monumen Jogja Kembali bertabur warna-warni pelangi saat malam. Ada puluhan lampion aneka warna dengan lampu di dalamnya sehingga memancarkan cahaya warna-warni. Sejak masuk lokasi, pengunjung sudah disambut dengan gerbang dari lampion. Sepanjang halaman di sekeliling monumen beragam tema lampion berselang-seling memancarkan keindahan.

img_20170215_193229

Karena kami datang sesaat setelah jam buka, yaitu pukul 17.0,   jadi kami bisa menikmati senja di taman pelangi. Lembayung langit di kejauhan indah berpadu dengan lampion yang mulai memancarkan cahaya lampu.

20170215_181114

20170215_180957

Ada aneka satwa purba, darat, udara, laut bersanding dengan taman dan pepohonan berwarna warni.  Tema ikon wisata dalam negeri seperti tugu Jogja, hinga ikon luar negeri seperti menara eifel, bangunan khas Cina dan Korea juga tersaji indah.  Presiden  Indonesia juga hadir dalam bentuk karikatur wajah yang apik, berjejaran dari presiden pertama hingga terakhir sekarang.

img_20170215_190342

img_20170215_190749

img_20170215_194503

img_20170215_190630

img_20170215_190204

img_20170215_185456

Merasa lapar saat jalan-jalan, jangan khawatir. Ada banyak food court di halaman belakang maupun depan yang terpusat.  Bangku-bangku dan meja kayu bersanding dengan lampion menambah kesan makan malam yang tidak biasa.

img_20170215_185609-1

makan malam di depan menara eifel?

Aneka wahana bermain anak terpusat di depan. Ada trampolin, kora-kora, bom-bom car, kereta mini,  mobil kayuh, becak mini, dunia balon, komidi putar, wahana air, bahkan rumah hantu pun ada bagi yang ingin uji nyali. Semua wahana permainan dikenai tiket sekitar 10 ribu hingga 20 ribu.

img_20170215_194107

Jalan-jalan ke taman pelangi bisa menjadi alternatif jalan-jalan malam yang lengkap bersama keluarga. Dengan htm sebesar Rp.15.000 kebersamaan dengan keluarga akan terasa semarak di taman ini.

img_20170215_190004

dijepret mas @argo_prasetyo

img_20170215_184555

img_20170215_184820

img_20170215_185021

 

Lampion di Monjali menambah semarak Yogyakarta. Yogyakarta punya seribu alasan untuk kembali. Ya… Jogja memang never ending Asia!

img_20170215_190946-1

Debur Ombak Pecah Tawa di Pantai Sadranan

“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” -St. Agustine*

Pantai selanjutnya  yang harus dikunjungi ketika eksplore Gunung Kidul adalah Sadranan. Agaknya setiap pantai di Gunung Kidul menawarkan kekhasan dan pesonanya sendiri-sendiri. Pantai ini menjadi pilihan bagi pecinta snorkeling.

Dari Pok Tunggal, kami sempatkan untuk mampir Sadranan karena penasaran dengan keindahan bawah lautnya. Begitu tiba di lokasi…waw…komentarnya satu… rameeenyaaa….!!!

img-20170101-wa0047

Suasana ini sangat kontras dengan Pok Tunggal yang baru kami tinggalkan.  Pengunjung memenuhi bibir pantai. Sementara di sepanjang pantai, lapak-lapak yang menyewakan peralatan snorkeling senilai sewa Rp50.000 berjajar. Jasa pendampingan tentu saja tersedia bagi yang belum terbiasa nyemplung dengan peralatan menyelam.

Sempat ingin segera meninggalkan tempat itu sesegara mungkin karena ramenya. Tak tahu kalau ada pengalaman seru yang membuat kami enggan beranjak dari sana.  Karena kami belum ingin mencoba snorkeling di sana, maka kami duduk bersama pengunjung lain di bibir pantai.

img-20170101-wa0037

Inilah  sensasi yang belum pernah saya dapatkan di pantai lain.  Seiring pecah ombak yang datang menerpa kami, pecah pula tawa kami. Jerit bahagia terdengar di sana-sini bersamaan dengan ombak yang menerjang. Ombaknya seruuuu….  komentar kami. Anak-anak tak kalah girang. Saya tak perlu khawatir terseret ombak meski ombaknya kenceng. Iya…berbeda dengan di Pantai Parangtritis yang pernah saya rasakan, tahu-tahu bergeser  seirama ombak. Di pantai ini, dengan saling berpengangan erat-erat, kami cukup terpental namun tak terseret ombak.  Kami selalu penasaran ketika ombak datang.  Tawa pecah bahagia beriringan dengan debur  ombak yang datang dan pergi.

Bagaimana dengan para pengunjung yang mencoba snorkeling? Menurut seorang adik yang duduk di sebelah kami, ada aneka satwa laut yang indah di bawah. Ikan aneka warna berseliweran. Biota laut yang lain juga turut memanjakan mata para pecinta snorkeling.  Tak hanya itu dari tempat saya duduk, saya melihat seorang yang asyik dengan papan seluncurnya.

Jadi, mau pilih mencoba yang mana?

 

 

 

*kutipan dari tulisan Sarra Risman

Geliat Pagi di Pantai Pok Tunggal

Pagi di Pok Tunggal dimulai dari kelap-kelip yang bertebaran di laut. Ombak sudah surut. Banyak penduduk yang menjemput rejeki mencari keong laut dan binatang lain yang bernilai ekonomi. Para penghuni tenda pun mulai keluar. Selepas subuh, ketika langit berangsur terang, kami mulai turun ke bibir pantai. Berjalan di atas karang-karang, anak-anak yang paling senang. Mereka berburu binatang laut. Orang dewasa sibuk mengabadikan moment. Berfoto, selfi, dan merekam suasana sekitar.

20161231_052013

img_20161231_051633

20161231_052710-1

20161231_055429

img_20161231_055645

Semakin pagi, kami semakin seru bermain air. Bercanda dengan ombak menjadi aktivitas wajib yang anak-anak lakukan. Saya sendiri lebih suka menikmati suasana pagi.

img_20161231_060747

img_20161231_060608

20161231_055415

img_20161231_060814

20161231_054739-2

img_20161231_055413

20161231_055231

20161231_055334

Berdua dengan suami karena Janitra asyik bermain dengan kakak-kakaknya, saya mulai mengeksplor lokasi. Berjalan-jalan di sekitar karang sayang untuk dilewatkan. Naik tebing menjadi pilihan kami selanjutnya.  Dari ketinggian, kami bisa menikmati pantai dengan sudut pandang yang berbeda. Banyak gazebo yang disewakan di tebing-tebing dengan biaya Rp20.000.

img_20161231_070111img_20161231_070047

img_20161231_070811

img_20161231_070709

Semakin tinggi matahari, pantai semakin ramai. Payung-payung  mulai berdiri.Ijin pendirian tenda hanya sampai pagi hari.  Kami pun segera merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan.

img_20161231_071623

img_20161231_082915

Senja di Pantai Pok Tunggal

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (QS. 71:19—20)

 

Liburan akhir 2016 lalu, tapi baru disempetin nulis catatanya sekarang. Karena perjalalan ini sayang untuk dilewatkan tanpa catatan, maka saya kumpulkan segala ingatan satu setengah bulan silam.

 

Berkemah di pantai, sudah masuk dalam rencana liburan berbulan-bulan sebelumnya. Rencana awal kami akan pergi bertiga saja dengan motor, nginep semalam di pantai kemudian eksplore sekitar. Ternyata, keluarga kakak menginginkan piknik bareng. Mereka setuju kami ajak bermalam di hotel seribu bintang, langsung di depan debur ombak di atas pasir.

 

Menghindari kemacetan, kami sengaja berangkat sebelum pergantian tahun. Di hantar hujan pada Jumat, 30 Desember 2016, berangkatlah kami pelan-pelan. Dalam perjalanan terus merapal doa sampai di sana semesta mendukung kami berkemah di pantai.

Selama perjalanan hujan berselang-seling membingkai  kami. Semakin jauh masuk Yogyakarta, hujan semakin merenggang. Satu kali istirahat shalat Jumat di masjid kampus UGM, kami lanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul melewati daerah Panggang yang lebih lancar lalu lintasnya.

 

Sempat terterpa hujan begitu tiba di daerah Gunung Kidul, begitu memasuki jalur pantai cuaca mendukung. Alhamdulillah. Melewati beberapa pantai, terlihat keramaian. Lebih-lebih di Indrayanti. Penuh.

Dari Indrayanti, kendaraan terus melaju. Pantai Pok Tunggal tujuan kami. Pantai yang bersih dengan camping ground di tepi pantai. Beberapa menit dari Indrayanti, sampailah kami di simpang jalan menuju Pok Tunggal. Kalau terus, pantai  selanjutnya adalah  Siung.

Rute menuju lokasi ternyata waw… Jalan yang sempit dengan bopeng di sana-sini, dengan selingan naik turun menjadi tantangan tersendiri. Seru malahan. Pemandangan yang khas di tepi jalan adalah perkebunan srikaya. Ada bebarapa lapak yang menjual buah itu.

Sekitar pukul setengah lima, sampailah kami di hadapan pantai yang sepi dan bersih. Suasananya sangat kontras dengan Indrayanti yang baru saja kami lewati. Pok Tunggal, dengan pohon Durasnya yang khas kini mulai meranggas, menyambut kami dengan pesonanya. Pasir putih, ombak yang tenang, tebing-tebing yang memagari, dan deretan payung warna-warni di atas pasir.

 

img_20161230_170000_hdr

 

 

Sudah ada tenda yang berdiri tepat beberapa meter dari bibir pantai. Maka kami mulai mendirikan dua tenda. Satu tenda dari rumah, satu lagi tenda sewa dari Magelang. Di pantai tersedia juga persewaan tenda dengan biaya Rp.60.000 per malam. Kalau hanya semalam saja jalan-jalannya, lebih irit sewa tenda dari persewaan outdoor adventure. Kalau di Magelang biayanya 30ribu per 24 jam. Tapi jika ingin berhari-hari di sana, sama saja kan jatuhnya, pinjam tenda di lokasi bisa jadi pilihan.

 

img_20161230_175059_hdr

img_20161230_180113_hdr

img_20161230_180004_hdr

Senja yang menakjubkan adalah rejeki dari Allah yang kami nikmati. Cuaca begitu mendukung sehingga kami bisa puas memandang lukisan Allah.  Inilah yang kami cari. Bersama para pemburu senja lain, kami tak melewatkan setiap detik perubahan warna langit.

img_20161230_175432_hdr

 

img_20161230_175819_hdr

img_20161230_175844_hdr

 

img_20161230_180022_hdr

img_20161230_180142_hdrimg_20161230_180318

Semakin petang, semakin banyak tenda berdiri. Pantai ini memang cocok untuk menyepi dan menikmati ombak tanpa keramaian.  Selepas magrib, ada petugas berkeliling dari tenda ke tenda. Ada iuran lima ribu per tenda yang dipungut untuk kebersihan. Murah kan?

Menikmati waktu bersama keluarga adalah moment berarti yang kami lewatkan di depan tenda Semakin malam, langit semakin terang. Ketika berangkat tidur langit begitu gelap, di tengah malam gemintang sudah  memayungi tenda kami. Saya terbangun oleh tawa dan semangat ponakan-ponakan yang menikmati bintang. Janitra, sengaja tidak saya bangunkan karena tidurnya begitu pulas.

 

Apa yang saya nikmati bawah langit adalah hal yang meninggalkan kesan mendalam. Tidur ditemani debur ombak yang semakin malam semakin pasang, riuh rendah suara ponakan, dan tenda tetangga yang menikmati kebersamaan seperti kami.  Kami tak perlu khawatir kelaparan atau kesusahan mencari toilet. Di belakang tenda kami, banyak warung 24 jam dan toilet yang bersih. Sarana ibadah juga tersedia di sana. Cukup lapang dengan tempat wudhu yang memadai. Betapa nyaman melewatkan malam di sana.

 

Menjelang dini hari, terlihat kelap-kelip dari kejauhan. Merekalah penduduk sekitar yang menjemput rejeki dengan mencari keong pantai dan aneka binatang laut lain yang terlihat ketika ombak mulai surut.