[ Diari Janitra] Cinta Tanpa Syarat

“Itra sayang Ummik,” ujar Janitra yang akhir-akhir ini sering memanggil saya dengan panggilan ummik, sembari memeluk saya.

“Ibuk nggih sayang Itra,” balas saya sambil memeluknya.

“Tapi Itra sering marah-marah,” lanjutnya, membuat saya tertampar.

Nggih Janitra belajar ben mboten marah-marah,” jawab saya sedikit haru.

 

Saya tertampar. Apakah ia menganggap ibunya mencintainya dengan syarat?

Sering saya bilang, ibuk lebih suka jika Janitra shalikhah. Apakah ia menganggap ibunya hanya sayang saat ia shalikhah saja? Sebab sering saya bilang ia suka marah-marah.

 

Saya banyak-banyak istighfar. Semoga saya tidak terjebak dalam labeling terhadap anak. Banyak-banyak berdoa, semoga Allah melimpahi saya dengan  Nur-Nya dalam mendidik anak, memberi tuntunan bagaimana saya bersikap terhadap anak. Aamiin

20161016_095750

 

*Diary_Janitra_5Th2bln

Sore,09092017.

Iklan

Pesona Tersembunyi, dari Mongkrong hingga Sukmojoyo

Magelang, tempat saya lahir , tumbuh, dan tinggal  punya sejuta pesona yang tak habis untuk digali. Kotanya yang bersih berkali-kali mendapatkan anugerah Adipura Kencana. Keindahannya, dari kota hingga pelosok  menarik siapa saja untuk datang. Magelang tak hanya punya Borobudur yang kondang hingga mancanegara. Ada surga-surga tersembunyi yang bisa dinikmati di waktu senggang.

Sebagai wong Magelang, rasanya kok ‘katrok’  jika sampai tidak tahu tempat-tempat yang menyimpan pesona. Liburan, adalah saat yang tepat untuk melakukan eksplorasi.  Maka, di suatu pagi yang berkabut di hari libur, saya, suami, dan anak menerjang dinginnya pagi dengan motor. Motor melaju menuju daerah Borobudur.

Punya wilayah pegunungan yang mengular menjadikan Magelang punya potensi untuk mengembangkan wisata alam di ketinggian.  Di sepanjang pegunungan Menoreh, banyak titik menarik yang menjanjikan keindahan pemandangan matahari terbit.  Kalaupun  tak punya kesempatan melihat matahari terbit, ada lanskap  yang tak henti membuat  decak kagum.

Titik-titik di sepanjang Menoreh yang menjanjikan golden sunrise itu bisa diakses dari wilayah Borobudur. Untuk sampai di puncak Bukit Mongkrong, saya  tak perlu tracking  dengan ngos-ngosan seperti ketika saya naik gunung.  Dari tempat parkir sepeda motor, saya tinggal jalan kaki sebentar saja. Pengunjung yang datang bermobil, ada ojek yang siap mengantar sebab jalan menuju bukit tak memungkinkan mobil untuk naik. Meskipun saya hanya jalan sebentar saja, namun untuk  menuju lokasi parkir,  jalan sempit  terbilang  di sana waw!  Tanjakannya luar biasa bahkan ada yang menikung curam dan terbilang tak lagi mulus. Motor matic yang kami tumpangi sampai-sampai berbau gosong.  Agaknya, naik motor trail bisa menjadi pilihan yang bagus.

Mongkorong, tempat ini membuat diri tak henti berdecak kagum.  Lukisan yang dibentangkan Allah di bukit ini membuat kami betah berlama-lama di tempat ini. Negeri di atas awan tersemat juga dari tempat ini.  Dari titik-titik yang dibangun sebagai spot foto seperti gazebo, semacam dermaga dari anyaman bambu, hingga gardu pandang pada tiang  yang menempel pada pohon memanjakan saya menikmati  deretan gunung Merapi, Merbabu, dan Andong serta Telomoyo yang terlihat kokoh sebagai latar landskap pagi.

20161226_072743

Pada pagi itu, saputan kabut di sana-sini semakin mempercantik .  Di bawahnya, landskap wilayah Borobudur yang hijau dengan kotak-kotak pedusunan membuat mata tak mau beralih. Sungguh, tempat-tempat semacam ini bisa membuat hati banyak mengingat kebesaran Allah.

20161226_074047

Satu pikiran tiba-tiba melintas, hari gini untuk menikmati keindahan ketinggian bahkan matahari terbit ternyata tak perlu tracking ala pendaki gunung.  Ada banyak keindahan pagi yang tersembunyi, yang bisa didatangi tanpa menginap semalaman.  Ini bisa jadi alternatif bagi pemburu golden sunrise yang tak sempat bermalam di ketinggian.

Mongkrong  begitu  memanjakan mata sebab viewnya  luas. Tak heran jika pengunjung tak henti berdatangan pagi itu. Pengunjung harus rela antri jika ingin berfoto di top selfi ini. Saling pengertian dengan sendirinya tercipta antar pengunjung.

 

 

Merasa ngeri dengan ketinggian tapi ingin berfoto di titik yang menjadi top selfi, jangan khawatir. Ada sabuk pengaman yang disediakan di dua sisinya. Sabuk itu di kaitkan dengan bilah kawat di masing-masing sisi. Dari tangkapan kamera, tak terlalu mencolok kok sabuk itu.

20161226_075530

20161226_075613

Kalau titik yang ini memang membutuhkan keberanian. Tapi keseruan duduk diatasnya tentu akan  terbayar.

20161226_074156

20161226_075158

Dari puncak Mongkrong ini, terlihat sebuah bukit  bertuliskan Sukmojoyo Hill di sebelah kiri bawah.  Sudah sampai sini tapi tak mencoba ke sana, rasanya kurang afdol.  Puas menikmati Mongkrong, motor kembali menderu mendatangi Sukmojoyo.

Melewati jalan yang berliku, menanjak, kadang setapak  khas pedusunan, sampailah di punthuk yang  juga merupakan tempat peziarahan.  Punthuk ini belum dikelola seperti Mongkrong. Jika di Mongkrong dikanakan tiket masuk lima ribu rupiah per kepala dewasa plus ongkos parkir sebesar dua ribu rupiah, di Sukmojoyo disediakan kotak tempat pengunjung memberikan uang masuk seikhlasnya.  Biaya parkir ditarik tiga ribu rupiah.

Pagi itu hanya kami pengunjungnya. Kontras sekali dengan Mongkrong yang pengunjungnya tak putus. Kalau untuk menyepi dan bertadabur alam, tempat ini cocok. Banyak sudut yang di bangun sebagai top selfi, lebih banyak ketimbang Mongkrong. Lihat saja spo-spot ini, sambil berfoto saya bisa menikmati pemandangan di bawah yang menyegarkan. Mamang, di banding Mongkrong, untuk  view ke bawah Mongkrong tetap lebih unggul.  Tapi, di tempat ini saya bisa menikmati alam pegunungan Menoreh lebih leluasi sembari menyadari kecil diri saya. Betapa untuk menambah rasa syukur, tempat-tempat yang memperlihatkan kebesaran Tuhan bisa menjadi pilihan untuk didatangi.

20161226_090416

20161226_090312

20161226_083841

20161226_085514

Gunung Merapi sebagai latar dengan bingkai hati

 

Sepulang dari dari sana,satu lagi pikiran melitas, bahwa saya perlu mengagendakan menggali pesona Magelang yang belum saya tahu. Kamu anak Magelang tapi merantau, sekali-kali sempatkan pulang dan mendatangi tempat-tempat yang pasti akan membuatmu semakin rindu pulang.  Kamu yang berada di luar Magelang bisa klik tiket.com untuk akomodasi datang ke Magelang. Liburan di Magelang menjanjikan sejuta eksplorasi.  Ayo ke Magelang dan segera klik tiket.com!

 

 

Wisata Petik Stroberi Ketep

Berlarian di antara tanaman stroberi, memilih buah yang memerah kemudian memetiknya sendiri, anak kecil mana yang tak suka? Keseruan itu barangkali telah lama dibayangkan Janitra sehingga Ahad lalu ia meminta jalan-jalan ke kebun stroberi.

Tidak ada salahnya memenuhi keinginannya, sebab jalan-jalan yang dimintanya bisa jadi ajang belajar, eksplore alam, dan tentu saja bapak ibuknya juga pengen dolan 😀

Berangkat dari rumah pukul 13.30, perjalanan terbilang lancar. Dari Secang, kami memilih menuju kota Magelang kemudian lanjut Sawangan. Perjalanan menuju Ketep Pass dengan jalur Sawangan terbilang lebih mudah dicapai dan lancar, tidak seperti jalur Pakis yang rutenya ekstrim (belokan, tanjakan, sempit, plus jalan bopeng sana-sini). Jalur Sawangan lebih lebar, jalan yang mulus dari cor-coran, dan minim jalan ekstrim.

Dari Ketep Pass kami turun menuju arah Pakis. Di sepanjang jalan, sudah terlihat beberapa kebun stroberi. Kebun pertama yang kami kunjungi hanya menyediakan buah stroberi petik. Stroberi di kebun telah habis. Begitu pula kebun kedua. Stok di kebun habis. Kami tidak menyerah. Masih banyak kebun stroberi yang menyediakan wisata petik.

Kebun Stroberi Inggit terlihat berpengunjung melihat penampakan tempat parkir. Sebelum memutuskan turun, suami bertanya kepada tukang parkir. Beruntung.  Masih ada tapi sedikit, begitu info yang kami dapat. Lumayanlah.

Ada dua petak kebun stroberi atas bawah. Sebelum masuk, ada tarif yang ditarik sebesar Rp5.000/orang. Kami mendapatkan keranjang kecil dan gunting sebagai alat petik.

“Dilarang makan di tempat ya. Satu ons stroberi dihargai Rp.15.000,” pesan ibu penjaga. Kami setuju.

Mulailah kami berburu stroberi. Berjalan di antara tanaman stroberi, memilih stroberi yang layak petik, nyatanya memang pengalaman yang seru. Selain kami, ada beberapa rombongan yang asyik dengan aktivitas mereka. Memetik dan berfoto-foto di sela-sela memetik. Stoberi yang ranum dan bunga yang imut juga bisa menjadi objek foto yang menarik.

 

 

 

 

IMG_20170820_151654

IMG_20170820_151508

 

 

 

 

 

 

IMG_20170820_152457

IMG_20170820_152015

IMG_20170820_154232

IMG_20170820_153916

Kalau dikalkulasi, tentu saja mendapatkan stroberi dengan petik langsung lebih mahal daripada membeli buah di dalam mika, di pasar maupun di lokasi. Tapi, pengalaman dan buah yang kami dapatkan tentu berbeda. Kalau kami sudah mengidentikan stroberi dengan buah yang kecut, tidak demikian dengan buah yang dipetik langsung. Kami bisa memilih buah yang terbaik dan tentu saja  rasanya lebih segar dan manis. Berbeda dengan stroberi yang selama ini kami dapatkan di pasar tradisional.  Jempol deh. Tambahan lagi, stroberi tergolong buah organik, jadi lebih aman dikonsumsi dan sehat.

IMG_20170820_153245

Ingin pulang membawa oleh-oleh olahan buah stroberi maupun suvenir berbentuk stroberi? Tempat itu menyediakan. Buah stoberi telah diolah menjadi aneka snack maupun selai yang variatif.  Pengunjung tinggal pilih. Menikmati makanan dan minuman hangat sembari menikmati panorama sekitar juga bisa menjadi pilihan di kebun itu.  Ada gazebo di tengah-tengah kebun maupun di depan lokasi.

[FF] Gelegar Pertama

 

Buku sains pertama yang kudapatkan dari ibu adalah buku bergambar kilatan cahaya  membelah langit yang kelabu. Nyalanya terang.

“Ini apa bu?” Tanyaku waktu itu.

Ibu menyebut satu kata yang menimbulkan rasa ingin tahu sepanjang waktu.

“Suaranya menggelegar memekakkan telinga. Meskipun kau sudah menutup telinga, suara itu akan tetap  membuat jantungmu berdetak kencang karena gelegarnya. Kau akan mendapatinya ketika langit berwarna kelabu, atau hujan deras.” Ibu menceritakannya padaku sembari menunjukkan gambar demi gambar dalam buku itu. Waktu itu aku belum bisa membaca.

“Clap..clap… kilat cahaya itu lebih dahsyat dari blitz kamera ayah. Setelah kilat cahaya menyambar langit, keluarlah gelegar suara itu.”

Aku  penasaran. Saat  hujan, aku tak pernah menjumpai cahaya dahsyat yang disebut dalam buku itu.

Hingga suatu ketika, hujan menyapa sore tanpa henti. Ayah belum pulang. Aku menanti ayah di tepi jendela. Hujan seperti ini, biasanya kami berkumpul di ruang tengah. Ibu akan membuatkan cemilan favorit kami, pisang keju atau pisang goreng.  Ayah yang akan membuatkan minuman hangat, coklat panas untukku dan kopi spesial untuk ibu. Kata ibu, ayah pria romantis yang tahu bagaimana membuat bahagia anak istri.  Ah, tapi sepertinya sudah lama ayah tak melakukannya. Aku merindukan kebiasaan itu.

Malam menyapa. Ibu menyuruhku untuk tidur tetapi aku bersikeras menunggu.

Ayah tiba hampir tengah malam. Wajahnya kusut.

“Dari mana saja?” Ibu bertanya. Pertanyaan ibu berbuntut panjang.

“Duar!” Detak jantungku memburu.  Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. Tapi benar kata ibu, aku masih saja mendengar gelegar itu. Inilah pertama kalinya aku mendapatinya.  Kilat cahaya dari mata ayah. Memar di pipi dan isak tangis ibu yang membekas di kepalaku.

 

#foto pinjam dari sini

 

[Diary Janitra] Jerawat Ibuk dalam Sketsa

Apakah Janitra berbakat menggambar? Entahlah. Sekarang ia sering asyik menggambar dan mewarnai.

Beberapa hari belakangan, ada jerawat mampir di atas sudut bibir kiri saya. Karena besar dan begitu mencolok, seperti bintang di langit malam (#eaa), ia kerap mengomentari jerawat saya, bahkan menggambar wajah saya di papan tulis kamar.

IMG_20170724_190451

“Ini ibuk, ada jerawatnya, trus ini minyak zaitun,” cerita Janitra soal wajah saya dalam gambar dengan sebuah botol di sampingnya. Minyak zaitun itu adalah obat jerawat untuk ibunya.

Kok mboten jilbaban ibuk?*” tanya suami saya.

Kan ting ndalem, jadi mboten jilbaban,” ** jawab Janitra polos.

 

Kami tersenyum mendengar jawaban Janitra, lebih-lebih melihat gambarnya. Saya menyukai gambar Janitra. Gambarnya mengingatkan saya pada ilustrasi novel anak yang saya sukai.

 

Sebelum menggambar di papan tulis, beberapa bulan yang lalu, Janitra yang gandrung menggambar mencoret-coret di mana saja, di sobekan kertas, bahkan di soal-soal latihan UN milik bapaknya. :D. Melihat gambarnya, rasanya puas.  Ada perkembangan gambarnya yang signifikan, meskipun yang digambar objeknya baru satu jenis yang disukainya, bunga. Setahun lalu masih mewarnai gambar dengan warna satu jenis dan coret moret, sekarang sudah mendingan rapinya.

IMG_20170315_181658 IMG_20170426_193749

 

Tentu, sebab perkembangan seni anak akan terus berjalan, gambarnya tentu lebih baik dibanding gambarnya ketika ia baru suka menggambar matahari pada periode coreng moreng

Saat ini perkembangan seni Janitra ada pada tahap prabagan.

Masa Prabagan (preschematic)  : 4-7 tahun

Kecenderungan  umum  pada    tahap  ini,  objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya.

Penempatan  dan  ukuran  objek  bersifat  subjektif,  didasarkan  kepada kepentingannya. Ini  dinamakan  dengan  “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.

 

sumber dari sini

 

Gambar apa lagi yang esok akan dicoretkannya? Lebih-lebih bulan ini sudah masuk sekolah pertama, pasti seru mengamati perkembangannya.

 

 

 

 

#DiaryJanitra_5tahun

Ket:

*”Kok nggak berjilbab?

**“Kan di rumah, jadi tidak berjilbab

Ngopi di Ketinggian Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

“Sugeng rawuh,” sambut pria berblangkon dengan wajah full senyum begitu kami turun dari motor tepat di depan rumah.

“Siapa?”  Sapanya ramah sembari menyalami suami saya.

Pria tadi kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Rohmat, menjawab pertanyaan balik saya setelah berkenalan dengan suami. Beliaulah pemilik kedai kopi menoreh yang tepatnya nylempit di ketinggian deretan Pegunungan Menoreh.

Sambutan hangat itu seketika membuat kami kerasan ngadem  di pekarangan rumah  yang kedainya berbentuk gazebo-gazebo lesehan maupun gazebo dengan meja kursi kayu ala warung.  Aroma kopi menyeruak begitu kami masuk, memilih  salah satu di antaranya.

IMG_20170704_132856[1]

IMG_20170704_120703[1]

IMG_20170704_133130[1]

IMG_20170704_133049[1]

 

Keramahannya tak hanya dalam bentuk sambutan, namun beliau berkeliling dari satu gazebo ke gazebo, melayani segala bentuk pertanyaan maupun berbincang akrab, termasuk menjelaskan daftar menu yang ada pada kami.

IMG_20170704_121518[1]

IMG_20170704_121806[1]

 

Penyajian yang khas dari kedai itu adalah paketan kopi di atas baki yang terdiri dari kopi, 3 jenis pemanis yang terdiri gula jawa, gula pasir, dan sari jahe plus 4 jenis camilan yaitu geblek, kacang rebus, tahu isi, dan tempe mendoan. Mantab bukan? Untuk anak kecil seperti Janitra, tak perlu khawatir, ada kok jenis minuman lain.

IMG_20170704_122821[1]

IMG_20170704_125312[1]

IMG_20170704_124711[1]

salah satu paket menu makan besar

Kedai kopi itu menawarkan kopi yang langsung di produksi di tempat dengan perkebunan yang berjarak 200 meter dari kedai. Sayangnya, ketika kami berkunjung sedang tidak ada produksi karena persediaan masih banyak. Jika persediaan kopi di kedai habis, Pak Rohmat mempersilakan pengunjung untuk menyaksikan proses produksi. Untuk pengunjung yang ingin membawa pulang kopi, tersedia beberapa pilihan kopi kemasan.

Di sela-sela menikmati pekatnya kopi Arabika dan Robusta yang pahit kami bisa berbincang dengan pemilik yang merintis kedai dari 2014. Inspirasi datang dari seorang kota yang datang ke kediaman pak Rohmat. Hanya ngopi sembari berbincang di dalam rumah, sang tamu minta pak Rohmat membuat teras di pekarangan rumahnya. Setelah teras yang dimaksud jadi, datanglah sang tamu dengan komunitas moge berjumlah 70.

“Padahal waktu itu kami hanya memiliki baki seperti ini 10,” kenang Pak Rohmat sambil menunjuk baki di depan kami.

Kunjungan itu menjadi starting point berdirinya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Beliau yang sebelumnya  hanya produsen kopi sejak 2010, meneruskan pengelolaan kebun kopi yang turun temurun diwariskan dari nenek moyang kini melayani tamu-tamu tak hanya lokal namun juga turis mancanegara.  Melayani para tamu yang menikmati kopinya di lokasi, produksi kopi juga terus berjalan untuk didistribusikan di kafe-kafe, restoran, hotel di Yogyakarta maupun luar daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi. Distribusi kopi tak hanya dari kebun miliknya dengan luas 6000 meter persegi, namun beliau juga mengumpulkan dari petani-petani kopi sekitar.

Sebagian besar penduduk di sekitar kedai adalah petani kopi. Ada asosiasi petani kopi di sana. Ya, daerah tempat tinggalnya memang di kepung perkebunan kopi, tak heran jika wangi bunga kopi yang sedang mekar Juli ini menemani perjalanan kami menuju lokasi.

IMG_20170704_140044[1]

Suasana yang menyatu dengan perkebunan itulah yang membuat kami betah berlama-lama, menikmati kopi dan menu makan siang yang kami pilih.  Tak heran jika segala yang diberikan oleh alam di sekitar kedai, juga keterbukaan pemilik kedai membuat turis mancanegara tak cukup ngopi sekali waktu saja, namun juga sepanjang hari dengan menginap di lokasi. Karena memang tidak menyediakan  kamar, home stay ya di gazebo. Berbekal sleeping bag, para turis itu bisa langsung berdekatan dengan alam Menoreh. in pelayanan dua kali ngopi, sore dan pagi, serta satu kali makan besar, para turis asing cukup mengeluarkan kocek Rp.150.000.  Murah meriah bukan? Untuk turis lokal bagaimana?

“Kalau turis lokal, sejauh ini belum ada,” ujar pria yang sudah bercucu itu.

Nah, dengan segala kekhasan kedai kopi yang terletak di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta pasti deh pengen balik lagi kesana. Tak peduli dengan rute berliku dan menanjak yang dilalui. Sebab rasa capek selama perjalanan akan terbayar dengan aroma dan keramahan. Ya, kami saja rela menempuh perjalanan selama 3 jam bolak balik dari rumah. Bagi kami, rutenya tak membosankan sebab hijau dan aroma ketinggian selalu membuat kami tak bosan melakukan perjalanan di pegunungan.

 

Bonusnya, kami juga bisa foto-foto narsis dong ya… 😀

IMG_20170704_132650[1]

IMG_20170704_132706[1]

IMG_20170704_132949[1]

IMG_20170704_133352[1]

 

Gowes #5: Melintasi Jembatan ‘Imigrasi’ Kabupaten—Kota Magelang

Sebagai referensi tempat-tempat menarik di sekitar, saya suka stalking IG yang memajang tempat-tempat wisata. Dari IG Magelang misalnya, ada jembatan gantung yang kelihatan apik di foto. Maka, kami merencanakan gowes rute ke sana.

Waktu itu senin pagi, bertetapan dengan hari Maulud Nabi, 13 Desember 2016  dari Tegalsari Jambewangi Secang sepeda kami kayuh menuju Mbugel kemudian Klontong. Dua dusun itu masih berada di desa yang sama dengan tempat tinggal kami. Sepeda mulai masuk kota ketika memasuki kawasan perumahan Depkes. Jembatan sudah dekat tatkala daerah Ngembik Kramat Selatan, Kota Magelang.

 

img-20161218-wa0003-1

img-20161218-wa0002

 

Sampailah di jembatan itu.  Jembatan yang panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar 1,5 meter itu ternyata rame dilintasi penduduk dari dua desa di sekitar.   Tinggi jembatan dari permukaan sekitar 20 meter. Kebayang kan tingginya?

Untuk menyebrang, kami harus bergantian sesuai kuota yang ditulis di ujung jembatan. Kuota itu tentu saja untuk menjaga keselamatan pelintas. Ada kejadian di bulan November 2011 yang menelan korban jiwa dan kendaraan ketika jembatan itu putus.

Ada sensasi tersendiri ketika melintasi. Ketika berpapasan, saya harus menunggu yang lain lewat duluan. Goyangannya itu… serong kanan serong kiri. Menyebrang kali Progo di atas jembatan  sepanjang itu  merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya, saya hanya pernah menyebrang jembatan kali Manggis yang panjangnya kira-kira sepertiganya.

Sampai di seberang, yang berarti saya telah sampai di Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, saya merasa terkejut mendapati ternyata ada pos. Yang terlintas di benak adalah pengalaman Agustinus Wibowo ketika melintasi batas negara.’ Kantor’ imigrasi seadanya yang dijaga oleh tentara. Hihihi…jauh banget yang ngebayanginnya.  Pos itu dijaga seorang petugas.

img-20161218-wa0008-1

img-20161218-wa0001

Para penduduk yang melintas dikenai biaya untuk kas perawatan jembatan. Mereka adalah penduduk sekitar yang melintas dari kabupaten ke kota Magelang atau sebaliknya.

 

“Satu orang lima juta rupiah,” kata lelaki necis tinggi besar itu kepada saya. Ahahaha, memang bapak lima anak itu penuh humor. Maka, saya bayarkan 1500 rupiah untuk saya, Janitra, dan bapaknya. Kami tak langsung meninggalkan tempat itu. Menyempatkan diri ngobrol dengan bapak di sela-sela membuka tutup plang , saya mendapatkan semangat pada dirinya.

“Saya ini, nggak bisa ngaji. Nggak mau anak-anak saya seperti saya makanya saya saya masukan anak saya ke pesantren.”

img-20161218-wa0010

Sambil istirahat, kami melihat-lihat susanan berkeliling. Sungai Progo di bawah jembatan nyatanya memang apik. Beberapa anak terlihat bermain di tepi sungai yang berbatu kecil-kecil,semacam pantai yang berkerikil berpasir hitam.  Matahari pagi menimbulkan kilau pada air sungai.

img-20161218-wa0006

Puas menikmati Progo, kami lanjutkan perjalanan.    Karena memang pengalaman pertama menyusuri daerah itu, kami main blusukan saja. Mengandalkan plang  petunjuk atau bertanya penduduk sekitar adakalanya kami kesasar.  Tapi, pengalaman blusukan dan kesasar itu menjadi seni tersendiri ketika gowes. Kalau nggak paknda Janitra, bukan blusukan namanya, kata suami suatu ketika saat saya protes karena melintasi gang yang sempit.

img-20161213-wa0035

Ada pengalaman mentok ketika kami mencari penyebrangan Progo menuju   Mbugel, Kec. Secang Kab Magelang   . Menyusuri kebun sawah, ternyata kami bertemu jalan buntu di sawah. Untunglah ada seorang kakek  baik hati yang mengantar kami dan menunjukkan jalan. Berbalik dari sawah kami kemudian memasuki dusun.

Kakek mengajak kami melintasi rumah-rumah penduduk dan menuju papringan lanjut ke sawah di belakang kampung.  Kakek itu menunjukkan agar kami melintasi sawah  lalu menyusuri kali. Blusukan kebun lagi, kami akhirnya sampai di tepi kali Progo. Terus saja kami melintasi kali sesuai petunjuk, akhirnya kami sampai di anak Sungai Progo yang kecil.

img-20161213-wa0029

img-20161213-wa0032

img-20161213-wa0031

Tak ada jembatan di kali itu. My trip my adventure. Kami harus turun kali dan menyebrang bersama sepeda kami. Terlebih dahulu saya dan Janitra yang menyebrang. Secara bergantian paknda Janitra menyebrangkan sepeda kami. Wah…seru….

img-20161213-wa0017

img-20161213-wa0026

img-20161213-wa0021

img-20161213-wa0024

Sejenak Janitra bermain di kali. Anak-anak ketika bertemu air tidak afdol kalau tidak bermain. Mentas dari kali, saya melihat beberapa tumbuhan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Belajar di alam, saya perkenalkan tumbuhan putri malu yang di mata anak-anak pasti mengasyikan ketika menyentuhnya.

Menyusuri sawah lagi, sampailah kami di jalan bercor. Sepeda kami kayuh, akhirnya tiba di jembatan gantung lagi.  Goyang lagi, kali ini tidak seseru di  Jembatan Kramat. Tak ada petugas di sana. Pos penjagaan tanpa penghuni. Dari jembatan, sudah terlihat kawasan pemecah batu.

img-20161213-wa0018

img-20161213-wa0019

Masuk ke Kelurahan Jambewangi lagi, dusun yang kami lewat adalah Mbugel kemudian masuk komplek Armed lanjut Sambung. Menyebrang jalan raya Yogya-Semarang, melewati perumahan sampailah kami di rumah lagi.

Pengalaman yang seru. Moment Maulud Nabi membuat trip gowes kami tambah berkesan. Perjalanan kami diringi syair syair khas Maulud Nabi yang bergema dari desa ke desa.