Sembari Ngopi Nikmati Waduk Sermo

Ada ketika saya ingin pergi ke suatu tempat semacam telaga yang luas. Saya duduk di tepinya, memandang luasnya air yang tenang, tak bergolak seperti ombak. Saat-saat seperti itu saya tidak merindukan ombak yang bergulung-gulung dengan irama yang khas. Saya hanya ingin ketenangan, mengurai  segala yang berseliweran di kepala: pekerjaan, rutinitas, dan tetek bengek yang membuat lelah.

Sekian lama keinginan itu mengendap. Pada akhirnya, apa yang saya bayangkan di kepala itu saya temukan pada tempat bernama Waduk Sermo. Rasa penasaran pada waduk yang diresmikan pada jaman Presiden Suharto itu membawa kami melakukan perjalanan pada  liburan ini bersama keluarga. Tak dinyana, tempat itu ternyata yang saya cari selama ini.

Saya menyukai perjalanan menuju waduk. Ini perjalanan yang menjadi favorit saya, selalu suka. Ini bukan perjalanan yang dijebak macet dan disekap baliho-baliho kota. Perjalanan dari Magelang, Mendut lalu menyusuri Kalibawang dan Kulon Progo ini disuguhi landskap pedesaan, luasnya sawah yang dibentengi deretan  Pegunungan Menoreh dan langit yang berawan. Sepanjang perjalanan saya dimanjakan kehijauan di kanan kiri jalan. Tiba di tepi rel kereta api, pas kebetulan kereta api yang lewat menjadi selingan. Bukankah ini menyenangkan?

Begitu tiba di waduk, suasana asri terbentang di depan mata. Waduk Sermo terletak di kawasan suaka margasatwa. Luasnya waduk dikelilingi hutan yang mengular dan pegunungan.


IMG_20171226_115005_HDRIMG_20171226_095948_HDR

IMG_20171226_100049_HDR

 

Saya seketika menyukai tempat ini. Tidak banyak pengunjung. Mereka yang datang memang ingin menikmati waduk: piknik, memancing, dan naik kapal menyusuri waduk. Spot foto? Ada di beberapa titik. Ada 3 dermaga yang salah satunya dipakai untuk tempat pengunjung yang ingin menyusuri waduk. Untuk naik kapal, pengunjung ditarik tiket seharga Rp10.000. Sementara beberapa spot selfi dan taman di tepi waduk, ada loket yang harus dilewati pengunjung untuk membayar tiket.

 

bapak dan anak yang mesra menikmati waduk

Tenang dan damai. Itu yang saya rasakan ketika duduk-duduk di gazebo tepi waduk setelah naik kapal. Baca buku atau sekedar ngopi-ngopi, boleh banget. Tempat ini juga jadi pilihan para pecinta kemping.  Mengamati kesibukan di dermaga menjadi pun ketertarikan tersendiri buat saya.

IMG_20171226_111020_HDR

menanti keberangkatan kapal. foto-foto dulu biar nggak jenuh

 

 


IMG_20171226_101443_HDR

satu-satunya foto yang sempat saya beri watermark 🙂

IMG_20171226_103940_HDR

Karena kesengsem dengan tempat ini, kedua kalinya kami mengunjungi dengan anggota keluarga yang berbeda. Kali kedua, kami bawa bekal untuk ngopi. Mantab lah!

 

Iklan

Menepi di Mangli

Jenuh dengan hiruk pikuk dunia maya yang seringkali beringas: saling nyiyir, saling komentar  dengan tulisan paling benar, menepilah ke desa. Sering-seringlah rasakan keramahan nyata yang tak dibuat-buat. Kita akan tahu bahwa dunia ini tidak hanya dipenuhi orang-orang yang selalu merasa paling benar. Temuilah orang-orang yang tidak pernah dipusingkan dengan masalah-masalah viral.

Sejuk, itu yang rasakan saat bertemu dengan penduduk Mangli, Kaliangkrik. Di sebuah masjid dalam jamaah shalat duhur, ibu-ibu yang selesai melipat mukena  menyalami kami, saya dan Janitra.

“Saking tindak pundi?” sapa salah satunya.

“Mangli,”jawab saya exited dengan keramahan tulus mereka.

“Ngaturi pinarak, nggo..”ajak mereka. Semua ibu yang menyalami saya mengajak kami mampir ke kediaman mereka. Semuanya tanpa kecuali dan saya melihat ketulusan mereka.

Ketika saya tanya rute perjalanan menuju Dlimas pun, mereka menjelaskan dengan ramah.

Mangli, kami memang baru saja turun dari gardu pandang Silancur Mangli. Kesan saya sama dengan ketika bertemu penduduk desa. Sejuk. Dengan tiket seharga Rp 5000 kami bisa mengeksplorasi keindahan sebuah punthuk kecil.

IMG_20171225_102151_HDR

IMG_20171225_102206_HDR

Gardu pandang Silancur tak berbeda dengan wisata ketinggian yang pernah saya datangi. Landskap pedesaan di bawahnya, petak-petak pertanian di lereng gunung yang miring, juga awan-awan berarak di langit tepat di atas gunung yang terlihat sejajar dengan pengunjung gardu pandang. Bedanya, kami sangat menikmati berada di tempat itu. Tak ada antri-antri di spot swafoto. Ada beberapa pengunjung yang kami temui, namun semuanya terlihat menikmati suasana, tak hanya datang untuk cekrek-cekrek foto.

IMG_20171225_111244_HDR-01 (1)

IMG_20171225_111739_HDR

Kalaupun ada spot yang banyak diminati, antriannya tak begitu membuat kami yang datang terlihat menunggu. Kami menunggu sembari menikmati atau bermain-main.

Gardu pandang itu berada di punthuk kecil. Sejuk dan ‘eyup karena ada pepohonan.   Dua hammock diantara dua pasang pohon  bisa pengunjung pakai untuk bersantai maupun foto. Dua ayunan tanpa sabuk pengaman terlihat di dua sisi punthuk.

IMG_20171225_104624_HDR-01

IMG_20171225_105637_HDR

IMG_20171225_103513_HDR

IMG_20171225_103654_HDR

IMG_20171225_104328_HDR

Sebuah menara  berdiri di atas punthuk. Pengunjung bisa bersantai, berfoto, atau mengamati Merapi dan Merbabu yang berdiri kokoh di kejauhan. Sayang, gumpalan awan menutupi pemandangan itu. Mengunjungi tempat-tempat wisata semacam itu memang direkomendasikan dilakukan pagi hari.

IMG_20171225_102903_HDR

Taman bunga dengan aneka bunga warna- warni sangat instagramable untuk berfoto. Beberapa bangku taman atau gazebo menjadi tampat rehat yang memanjakan mata. Mau ngopi di tempat tu, rasanya pasti beda. Sayang, satu warung di sana hanya menyediakan kopi dan beberapa jenis minuman sachet instan. Besok lagi kalau kesana, karena jadi tempat fav, bisa deh bawa perlengkapan piknik dan ngopi-ngopi di atas.

IMG_20171225_112225_HDR

IMG_20171225_110733_HDR

IMG_20171225_113041_HDR

saatnya keluarkan bekal. sayang tak membawa kopi dari rumah

Turun ke bawah dan bertemu penduduk dusun yang membuat saya terkesan akan keramahannya, kamu kemudian lanjut ke Dlimas. Gardu pandang yang terletak di Windusari,Magelang,  ini sangat ramai.

Kontras sekali dengan Mangli. Tempat parkir penuh dengan sepeda motor. Tempat yang diresmikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo setahun lalu ini sedang ngehits di Magelang.

IMG_20171225_134629_HDR

IMG_20171225_133455_HDR

Gardu pandang Dlimas memiliki banyak spot foto yang tersebar di banyak titik. Dibutuhkan stamina untuk jalan dari spot ke spot, lumayan buat olahraga. Tapi jangan khawatir perut kepalaparan. Banyak warung makan yang sekaligus sebagai gardu pandang.

Pemandangan yang terbentang tak jauh beda dengan Mangli. Dengan tiket Rp10.000 pengunjung bisa berfoto di banyak wahana tanpa dipungut biaya lagi.

Oiya, mau olahraga yang lebih lagi, pengunjung bisa mengunjungi curug. Kami cukup menikmati perjalanan menuju curug, berjalan di antara petak-petak pertanian, namun kami urung menuju lokasi karena kaki kami sudah minta berisitirahat. 🙂

IMG_20171225_132636_HDR

[Review] Kritik Pendidikan dari Novel Bapangku Bapunkku

Judul       : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
Cetakan:  pertama, 2015

IMG_20171225_221808_552[1]

Bapangku Bapunkku diceritakan dari sudut pandang seorang anak.    Ia memiliki bapak berjiwa punk, penganut kebebasan.  Tapi jangan dibayangkan punk yang dianut gaya bebas seperti  remaja di jalan. Bapan memiliki  4 anak . Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Anak pertama,Alap, berjiwa seni. Hobinya desain baju . Anak kedua, Harnum,  suka mengarang. Anak ketiga, Tuah, suka dan pandai matematika. Anak keempat, Anjam, berjiwa seni dan mahir melukis.

Bapang  punya prinsip belajar di sekolah terdekat. Ia juga  ingin semua  anaknya berprestasi di kelas. Namun, mindsetnya berubah ketika ia berdiskusi dengan mas Greta, seorang istimewa , anak dari tukang bakso yang pernah ditolong bapang . Ia tak lagi berprinsip anak harus berprestasi di kelas. Mereka membicarakan tentang  11  macam kecerdasan. Sebelas itu adalah kecerdasa angka-angka/numeric, kecerdasan bahasa/linguistic, kecerdasan gambar/visual, kecerdasan pendengaran/audiomusical, kecerdasan olah tubuh, kecerdasan suara/vocal, kecerdasan pengecapan, kecerdasan agama/spiritual, kecerdasan pribadi diri/personal, kekecerdasan berhubungan dengan orang lain/antarpersonal, dan kecerdasan mengelola keuangan/finansial.

Diskusi dengan mas Greta membuat bapang tidak terlalu menuntut kecerdasan akademik di sekolah. Akibatnya prestasi akademik mereka menurun, sebaliknya kebebasan mengembangkan bakat membuat mereka benar-benar berkembang di kemahiran masing-masing. Alap bahkan pernah menjadi finalis lomba desain baju di salah satu majalah wanita.

 

Akhir tahun pelajaran, bapang  mendadak ingin mengeluarkan anak-anaknya nya dari sekolah karena Anjam tidak naik kelas. Anjam menderita disleksia yang membuatnya mengalami hambatan membaca dan menulis. Tidak naik kelas sebenarnya bukan menjadi masalah. Pemicu utama  adalah guru anjam menganggap Ajam bodoh. Ironisnya, foto Anjam dengan sederet piala tertampang di spanduk promosi sekolah.

Masalah ini sempat membuat bapang  bersitegang dengan istrinya dan hampir ada kata cerai.  Mereka berdebat soal prinsip pendidikan untuk anak-anak mereka. Untung saja, ada jalan tengah yang diambil. Kekecewaan terhadap sekolah membuat bapang menggodog konsep sekolah ala bapang dan mas Greta. Selama sekolah mereka belum terwujud, anak-anak tetap diijinkan sekolah.

Sekolah yang akan didirikan bapang memiliki jurusan yang unik, namun jurusan itu sejatinya adalah wadah bagi anak-anak dengan beragam kecerdasan yang tidak bisa disama ratakan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Banyak pelajaran yang belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh anak-anak .

Jurusan pendidikan yang dirancang bapang dan mas Greta ada jurusan pengecapan, jurusan pendengaran, jurusan penglihatan, jurusan suara, jurusan gerak tubuh, jurusan perhitungan, dan jurusan pengucapan. Masing-masing jurusan punya spesifikasi khusus. Sekolah itu terwujud meski tidak semua jurusan bisa diadakan.

Novel ini dituturkan dengan gaya kocak dan santai. Meski begitu,gaya khas bapang itu tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan penulis.  Novel ini pastilah berangkat dari kegelisan penulis terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang terlampau banyak beban dan mencetak anak-anak Indonesia menjadi pegawai.  Tak hanya soal pendidikan, bapang juga kerap mengkritisi masalah-masalah sosial.
Sistem pembelajaran di sekolah formal negara ini seakan-akan membuat murid-muridnya jadi mesin penghafal! Mending kalau yang dihafal itu pelajaran penting. “(hal. 165)

Kalau kekayaan negara kita Indonesia tercinta ini tidak dikoropsi oleh pejabatnya maka kekayaan itu lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyat. Jadi, kesejahteraan rakyat itu bisa dimulai dengan kampanye untuk jadi pejabat yang jujur, bukan dimulai dengan kampanye kondom atau alat-alat KB lainnya.” (hal. 95)

Kualitas kepintaran anak itu hanya sedikit sekali ditentukan oleh sekolah. Yang paling menentukan adalah didikan di rumah. Walaupun sekolahnya berkualitas dan mahal, kalau orangtuanya tidak menyempatkan waktu secara disiplin untuk mendidik anak di rumah, hasilnya tidak akan terlalu menggembirakan. Paling-paling hanya dapat gengsi doing kerena anaknya sekolah di SD terkenal.” (hal. 60)

Seusai membaca novel ini mustahil pembaca akan begitu saja melupakan novel ini. Ada perenungan mengenai sistem pendidikan di negeri ini. Saya sendiri jadi baper, andai konsep pendidikan seperti yang penulis jeberkan dalam buku ini diterapkan di sekolah formal di Indonesia.  Sekolah formal ya, bukan seperti  home schooling di kota-kota besar yang sudah  menerapkan sistem semacam itu.

Ringan tapi mengena, Inspiratif, itu kesan saya selanjutnya terhadap novel peraih juara II Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva 2014 ini. Penasaran?

Akhir kata, kutipan inspiratif ini jadi penutup review saya
Dunia ini hanya akan dikuasai oleh orang-orang yang gigih. Orang yang suka mengeluh hanya akan berakhir sebagai pecundang.” (hal. 44)

[ Diari Janitra] Cinta Tanpa Syarat

“Itra sayang Ummik,” ujar Janitra yang akhir-akhir ini sering memanggil saya dengan panggilan ummik, sembari memeluk saya.

“Ibuk nggih sayang Itra,” balas saya sambil memeluknya.

“Tapi Itra sering marah-marah,” lanjutnya, membuat saya tertampar.

Nggih Janitra belajar ben mboten marah-marah,” jawab saya sedikit haru.

 

Saya tertampar. Apakah ia menganggap ibunya mencintainya dengan syarat?

Sering saya bilang, ibuk lebih suka jika Janitra shalikhah. Apakah ia menganggap ibunya hanya sayang saat ia shalikhah saja? Sebab sering saya bilang ia suka marah-marah.

 

Saya banyak-banyak istighfar. Semoga saya tidak terjebak dalam labeling terhadap anak. Banyak-banyak berdoa, semoga Allah melimpahi saya dengan  Nur-Nya dalam mendidik anak, memberi tuntunan bagaimana saya bersikap terhadap anak. Aamiin

20161016_095750

 

*Diary_Janitra_5Th2bln

Sore,09092017.

Pesona Tersembunyi, dari Mongkrong hingga Sukmojoyo

Magelang, tempat saya lahir , tumbuh, dan tinggal  punya sejuta pesona yang tak habis untuk digali. Kotanya yang bersih berkali-kali mendapatkan anugerah Adipura Kencana. Keindahannya, dari kota hingga pelosok  menarik siapa saja untuk datang. Magelang tak hanya punya Borobudur yang kondang hingga mancanegara. Ada surga-surga tersembunyi yang bisa dinikmati di waktu senggang.

Sebagai wong Magelang, rasanya kok ‘katrok’  jika sampai tidak tahu tempat-tempat yang menyimpan pesona. Liburan, adalah saat yang tepat untuk melakukan eksplorasi.  Maka, di suatu pagi yang berkabut di hari libur, saya, suami, dan anak menerjang dinginnya pagi dengan motor. Motor melaju menuju daerah Borobudur.

Punya wilayah pegunungan yang mengular menjadikan Magelang punya potensi untuk mengembangkan wisata alam di ketinggian.  Di sepanjang pegunungan Menoreh, banyak titik menarik yang menjanjikan keindahan pemandangan matahari terbit.  Kalaupun  tak punya kesempatan melihat matahari terbit, ada lanskap  yang tak henti membuat  decak kagum.

Titik-titik di sepanjang Menoreh yang menjanjikan golden sunrise itu bisa diakses dari wilayah Borobudur. Untuk sampai di puncak Bukit Mongkrong, saya  tak perlu tracking  dengan ngos-ngosan seperti ketika saya naik gunung.  Dari tempat parkir sepeda motor, saya tinggal jalan kaki sebentar saja. Pengunjung yang datang bermobil, ada ojek yang siap mengantar sebab jalan menuju bukit tak memungkinkan mobil untuk naik. Meskipun saya hanya jalan sebentar saja, namun untuk  menuju lokasi parkir,  jalan sempit  terbilang  di sana waw!  Tanjakannya luar biasa bahkan ada yang menikung curam dan terbilang tak lagi mulus. Motor matic yang kami tumpangi sampai-sampai berbau gosong.  Agaknya, naik motor trail bisa menjadi pilihan yang bagus.

Mongkorong, tempat ini membuat diri tak henti berdecak kagum.  Lukisan yang dibentangkan Allah di bukit ini membuat kami betah berlama-lama di tempat ini. Negeri di atas awan tersemat juga dari tempat ini.  Dari titik-titik yang dibangun sebagai spot foto seperti gazebo, semacam dermaga dari anyaman bambu, hingga gardu pandang pada tiang  yang menempel pada pohon memanjakan saya menikmati  deretan gunung Merapi, Merbabu, dan Andong serta Telomoyo yang terlihat kokoh sebagai latar landskap pagi.

20161226_072743

Pada pagi itu, saputan kabut di sana-sini semakin mempercantik .  Di bawahnya, landskap wilayah Borobudur yang hijau dengan kotak-kotak pedusunan membuat mata tak mau beralih. Sungguh, tempat-tempat semacam ini bisa membuat hati banyak mengingat kebesaran Allah.

20161226_074047

Satu pikiran tiba-tiba melintas, hari gini untuk menikmati keindahan ketinggian bahkan matahari terbit ternyata tak perlu tracking ala pendaki gunung.  Ada banyak keindahan pagi yang tersembunyi, yang bisa didatangi tanpa menginap semalaman.  Ini bisa jadi alternatif bagi pemburu golden sunrise yang tak sempat bermalam di ketinggian.

Mongkrong  begitu  memanjakan mata sebab viewnya  luas. Tak heran jika pengunjung tak henti berdatangan pagi itu. Pengunjung harus rela antri jika ingin berfoto di top selfi ini. Saling pengertian dengan sendirinya tercipta antar pengunjung.

 

 

Merasa ngeri dengan ketinggian tapi ingin berfoto di titik yang menjadi top selfi, jangan khawatir. Ada sabuk pengaman yang disediakan di dua sisinya. Sabuk itu di kaitkan dengan bilah kawat di masing-masing sisi. Dari tangkapan kamera, tak terlalu mencolok kok sabuk itu.

20161226_075530

20161226_075613

Kalau titik yang ini memang membutuhkan keberanian. Tapi keseruan duduk diatasnya tentu akan  terbayar.

20161226_074156

20161226_075158

Dari puncak Mongkrong ini, terlihat sebuah bukit  bertuliskan Sukmojoyo Hill di sebelah kiri bawah.  Sudah sampai sini tapi tak mencoba ke sana, rasanya kurang afdol.  Puas menikmati Mongkrong, motor kembali menderu mendatangi Sukmojoyo.

Melewati jalan yang berliku, menanjak, kadang setapak  khas pedusunan, sampailah di punthuk yang  juga merupakan tempat peziarahan.  Punthuk ini belum dikelola seperti Mongkrong. Jika di Mongkrong dikanakan tiket masuk lima ribu rupiah per kepala dewasa plus ongkos parkir sebesar dua ribu rupiah, di Sukmojoyo disediakan kotak tempat pengunjung memberikan uang masuk seikhlasnya.  Biaya parkir ditarik tiga ribu rupiah.

Pagi itu hanya kami pengunjungnya. Kontras sekali dengan Mongkrong yang pengunjungnya tak putus. Kalau untuk menyepi dan bertadabur alam, tempat ini cocok. Banyak sudut yang di bangun sebagai top selfi, lebih banyak ketimbang Mongkrong. Lihat saja spo-spot ini, sambil berfoto saya bisa menikmati pemandangan di bawah yang menyegarkan. Mamang, di banding Mongkrong, untuk  view ke bawah Mongkrong tetap lebih unggul.  Tapi, di tempat ini saya bisa menikmati alam pegunungan Menoreh lebih leluasi sembari menyadari kecil diri saya. Betapa untuk menambah rasa syukur, tempat-tempat yang memperlihatkan kebesaran Tuhan bisa menjadi pilihan untuk didatangi.

20161226_090416

20161226_090312

20161226_083841

20161226_085514

Gunung Merapi sebagai latar dengan bingkai hati

 

Sepulang dari dari sana,satu lagi pikiran melitas, bahwa saya perlu mengagendakan menggali pesona Magelang yang belum saya tahu. Kamu anak Magelang tapi merantau, sekali-kali sempatkan pulang dan mendatangi tempat-tempat yang pasti akan membuatmu semakin rindu pulang.  Kamu yang berada di luar Magelang bisa klik tiket.com untuk akomodasi datang ke Magelang. Liburan di Magelang menjanjikan sejuta eksplorasi.  Ayo ke Magelang dan segera klik tiket.com!

 

 

Wisata Petik Stroberi Ketep

Berlarian di antara tanaman stroberi, memilih buah yang memerah kemudian memetiknya sendiri, anak kecil mana yang tak suka? Keseruan itu barangkali telah lama dibayangkan Janitra sehingga Ahad lalu ia meminta jalan-jalan ke kebun stroberi.

Tidak ada salahnya memenuhi keinginannya, sebab jalan-jalan yang dimintanya bisa jadi ajang belajar, eksplore alam, dan tentu saja bapak ibuknya juga pengen dolan 😀

Berangkat dari rumah pukul 13.30, perjalanan terbilang lancar. Dari Secang, kami memilih menuju kota Magelang kemudian lanjut Sawangan. Perjalanan menuju Ketep Pass dengan jalur Sawangan terbilang lebih mudah dicapai dan lancar, tidak seperti jalur Pakis yang rutenya ekstrim (belokan, tanjakan, sempit, plus jalan bopeng sana-sini). Jalur Sawangan lebih lebar, jalan yang mulus dari cor-coran, dan minim jalan ekstrim.

Dari Ketep Pass kami turun menuju arah Pakis. Di sepanjang jalan, sudah terlihat beberapa kebun stroberi. Kebun pertama yang kami kunjungi hanya menyediakan buah stroberi petik. Stroberi di kebun telah habis. Begitu pula kebun kedua. Stok di kebun habis. Kami tidak menyerah. Masih banyak kebun stroberi yang menyediakan wisata petik.

Kebun Stroberi Inggit terlihat berpengunjung melihat penampakan tempat parkir. Sebelum memutuskan turun, suami bertanya kepada tukang parkir. Beruntung.  Masih ada tapi sedikit, begitu info yang kami dapat. Lumayanlah.

Ada dua petak kebun stroberi atas bawah. Sebelum masuk, ada tarif yang ditarik sebesar Rp5.000/orang. Kami mendapatkan keranjang kecil dan gunting sebagai alat petik.

“Dilarang makan di tempat ya. Satu ons stroberi dihargai Rp.15.000,” pesan ibu penjaga. Kami setuju.

Mulailah kami berburu stroberi. Berjalan di antara tanaman stroberi, memilih stroberi yang layak petik, nyatanya memang pengalaman yang seru. Selain kami, ada beberapa rombongan yang asyik dengan aktivitas mereka. Memetik dan berfoto-foto di sela-sela memetik. Stoberi yang ranum dan bunga yang imut juga bisa menjadi objek foto yang menarik.

 

 

 

 

IMG_20170820_151654

IMG_20170820_151508

 

 

 

 

 

 

IMG_20170820_152457

IMG_20170820_152015

IMG_20170820_154232

IMG_20170820_153916

Kalau dikalkulasi, tentu saja mendapatkan stroberi dengan petik langsung lebih mahal daripada membeli buah di dalam mika, di pasar maupun di lokasi. Tapi, pengalaman dan buah yang kami dapatkan tentu berbeda. Kalau kami sudah mengidentikan stroberi dengan buah yang kecut, tidak demikian dengan buah yang dipetik langsung. Kami bisa memilih buah yang terbaik dan tentu saja  rasanya lebih segar dan manis. Berbeda dengan stroberi yang selama ini kami dapatkan di pasar tradisional.  Jempol deh. Tambahan lagi, stroberi tergolong buah organik, jadi lebih aman dikonsumsi dan sehat.

IMG_20170820_153245

Ingin pulang membawa oleh-oleh olahan buah stroberi maupun suvenir berbentuk stroberi? Tempat itu menyediakan. Buah stoberi telah diolah menjadi aneka snack maupun selai yang variatif.  Pengunjung tinggal pilih. Menikmati makanan dan minuman hangat sembari menikmati panorama sekitar juga bisa menjadi pilihan di kebun itu.  Ada gazebo di tengah-tengah kebun maupun di depan lokasi.

[FF] Gelegar Pertama

 

Buku sains pertama yang kudapatkan dari ibu adalah buku bergambar kilatan cahaya  membelah langit yang kelabu. Nyalanya terang.

“Ini apa bu?” Tanyaku waktu itu.

Ibu menyebut satu kata yang menimbulkan rasa ingin tahu sepanjang waktu.

“Suaranya menggelegar memekakkan telinga. Meskipun kau sudah menutup telinga, suara itu akan tetap  membuat jantungmu berdetak kencang karena gelegarnya. Kau akan mendapatinya ketika langit berwarna kelabu, atau hujan deras.” Ibu menceritakannya padaku sembari menunjukkan gambar demi gambar dalam buku itu. Waktu itu aku belum bisa membaca.

“Clap..clap… kilat cahaya itu lebih dahsyat dari blitz kamera ayah. Setelah kilat cahaya menyambar langit, keluarlah gelegar suara itu.”

Aku  penasaran. Saat  hujan, aku tak pernah menjumpai cahaya dahsyat yang disebut dalam buku itu.

Hingga suatu ketika, hujan menyapa sore tanpa henti. Ayah belum pulang. Aku menanti ayah di tepi jendela. Hujan seperti ini, biasanya kami berkumpul di ruang tengah. Ibu akan membuatkan cemilan favorit kami, pisang keju atau pisang goreng.  Ayah yang akan membuatkan minuman hangat, coklat panas untukku dan kopi spesial untuk ibu. Kata ibu, ayah pria romantis yang tahu bagaimana membuat bahagia anak istri.  Ah, tapi sepertinya sudah lama ayah tak melakukannya. Aku merindukan kebiasaan itu.

Malam menyapa. Ibu menyuruhku untuk tidur tetapi aku bersikeras menunggu.

Ayah tiba hampir tengah malam. Wajahnya kusut.

“Dari mana saja?” Ibu bertanya. Pertanyaan ibu berbuntut panjang.

“Duar!” Detak jantungku memburu.  Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. Tapi benar kata ibu, aku masih saja mendengar gelegar itu. Inilah pertama kalinya aku mendapatinya.  Kilat cahaya dari mata ayah. Memar di pipi dan isak tangis ibu yang membekas di kepalaku.

 

#foto pinjam dari sini