Berkebun di Kebun Bibit Senopati

 

 

Salah satu cara mengembangkan kecerdasan naturalis anak adalah mengajak mengekplorasi alam dan melakukan kegiatan berkebun. Di Kebun Bibit Senopati Magelang ini anak-anak akan diajak berkebun dengan fun. Tempat ini beralamat di Jl. Panembahan Senopati, Jurangombo Utara, Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah 56123. Kebunnya indah dan banyak spot yang instagramable.

IMG_20181113_083721

 

IMG_20181113_092449.jpg

IMG_20181113_085118.jpg

IMG_20181113_083858.jpg

 

 

Kunjungan yang  dilakukan dengan kawan-kawan sekolah, pasti seru!!! Ini salah satu kunjungan belajar yang diadakan TK Janitra. Begitu datang, petugas menyambut anak-anak. Mereka dikumpulkan untuk pengarahan lalu diarahkan untuk menanam bunga. IMG_20181113_084350

Kegiatan menamam bunga dipandu oleh seorang petugas. Selanjutnya anak-anak akan diberi sebuah tanaman bunga yang dibawa pulang untuk ditanam di rumah. Selesai tugas menanam, ustadzah mengajak mereka berkeliling kebun.

IMG_20181113_090012_edit

 

Foto-foto tak ketinggalan. Apalagi emak seperti saya, sudah siap dengan gawai yang kameranya tak luput menjepret moment si anak.

IMG_20181113_085435_edit

IMG_20181113_085448

PhotoLab_20181129_161914[1]

PhotoLab_20181129_163419[1]

PhotoLab_20181129_160700[1]

 

Mau coba ke sini? Ajaklah si kecil ke sini,pasti senang. Berlarian dan mengenal aneka flora.

Iklan

Eksotisme Kali Mangu Mungkid

 

Kamis pagi itu, saya dan rombongan—dengan rekan guru dan anak-anak– menembus  dingin pagi melewati rute naik turun berkelok-kelok menuju Blabak. Tak ada kemacetan kami temui sebab dari Grabag pak sopir memilih rute Banaran—Tegalrejo—Candimulyo—Blabak. Dalam hati saya berpikir, untuk tubing, kenapa  harus jauh-jauh ke Mungkid? Toh tak jauh dari tempat tinggal kami  juga ada. Meskipun berdomisili di Secang, saya bekerja di Grabag. Teringat pula komentar suami, ”Hari gini tubing,tubing sama batu?” Maklumlah, kemarau begini sungai paling airnya sedikit.

Jawabannya baru saya dapatkan setelah nyemplung dan ngeli di kali Mangu  dengan  ban  besar.

Beberapa kru menyambut kami di base camp di Jalan Senden-Ngabean No. 10 Senden Mungkid Magelang, yang di depannya nampak ornamen dari bambu berwarna-warni. Setelah menunggu beberapa saat untuk mempersiapkan peralatan: pelampung, helm, dan ban, kami pun siap berangkat dengan  berjalan kaki.  Kru yang membersamai kami ada 10 orang.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.24.29

Start tubing berada tak jauh dari base camp.  Gemricik air sungai menyambut kami. Apa yang dikomentari oleh suami tidak terbukti. Air sungai melimpah dan gemricik diantara bebatuan sudah menggoda untuk diarungi.

Para pendamping kembali melakukan pengulangan informasi penting dari pembekalan yang sudah dilakukan di base camp.  Mantab kami memilih ban masing-masing.  Jumlah kru yang sebanding dengan jumlah rombongan dan selalu siap mendampingi menjadikan kami siap terjun.

Duduk di atas ban diombang-ambing dan hanyut mengikuti arus berbeda sensasinya ketika duduk bersama di atas perahu karet. Ini lebih seru.  Pengalaman dan keseruan tiap-tiap orang di atas ban berbeda-beda. Untuk individu yang menyukai tantangan yang memacu adrenalin secara personal tubing ini pilhan tepat.

Ketika arus cenderung tenang, pemandangan tebing sungai yang dinaungi langit biru bisa dinikmati. Ada akar-akar pohon yang menjuntai di sana-sani. Sesesekali ada mini air terjun yang menambah keindahan tebing sungai.  Saya takjub, kalau tidak mengarungi sungai dengan tubing seperti ini, tidak akan pernah tahu bagaimana rupa tebing sungai yang dijuluri akar-akar pepohonan. Terlihat eksotis. Magelang pastilah punya banyak sungai yang indah untuk dijadikan tempat mengambil jeda dari aktivitas dan menyegarkan pikiran. Sayangnya, polusi berupa sampah-sampah yang dibuang penduduk tak jarang ditemui di sepanjang perjalanan.

Melewati jeram-demi jeram, keseruan demi keseruan lebih terasa. Sensasi diombang-ambing dan didorong arus membuat ekspresi kami tak bisa dibendung, teriak dan bersorak. Tidak ada kekhawatiran bagi kami yang tidak memiliki kemampuan berenang sebab ban dan pengaman berupa pelampung dan helm sangat memadai.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.20.26

Beberapa jeram ekstrim kami lewati, namun para pendamping selalu stand by di lokasi jeram, membantu para peserta bisa mengarungi dengan aman tanpa rasa khawatir. Justru di jeram-jeram yang ekstrim para peserta merasakan adrenalin terpacu.

IMG-20180628-WA0131

Penulis artikel menikmati tubing

Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, jarak tempuh yang Sungai Mangu  di arungi terbilang panjang. Pendamping mengajak beberapa kali break. Ini kesempatan bagi peserta tubing saling berbagi ekspresi dan meluruskan kaki.  Salah satu pendamping selalu siap mengambil foto. Tempat break selalu dipilih tempat dengan latar belakang pemandangan yang indah, berupa air terjun kecil ataupun batu-batu yang instragramable untuk berfoto.  Kerikil-kerikil dan bebatuan kecil terhampar di tepi sungai yang landai. Tak hanya di tempat break, fotografer juga aktif mengambil foto saat kami berayun-ayun atau terlontar oleh arus jeram.

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-16-27.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.14.54

WhatsApp Image 2018-06-28 at 11.54.36

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-15-12.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.23.08.jpeg

Tiba di garis finish,  kami bisa berpose dengan pose melingkar  sambil bermain kecipuk air. Foto-foto yang diambil oleh fotografer semua akan dibagikan kepada rombongan sehingga keseruan tubing  bisa dibawa pulang dan menjadi kenangan sepanjang waktu.

IMG-20180628-WA0114

IMG-20180628-WA0107

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.08.48

Magelang memiliki kekayaan sumber daya alam  yang bisa  diekslpore untuk pariwisata. Dari hutan pinus, hutan bambu (papringan), pegunungan, hingga sungai-sungai yang menyimpan keindahan yang seringkali tak diketahui oleh penduduk lokal. Seperti Sungai Mangu Blabak ini yang menawarkan pemandangan eksotisme dan jeram-jeram penuh tantangan.  Ayo ke Magelang. Sebagai wong Magelang  sudah saatnya kita mengenal dan mengeksplorasi daerah sendiri sebelum melalang ke tempat lain.

 

 

**Foto koleksi pribadi atas kiriman pendamping tubing

 

 

 

 

 

 

[diary Janitra] Janitra dan Kepedulian Gempa

 

Sore, televisi menanyangkan pengungisan dampak gempa dan tsunami Palu. Ada tenda-tenda yang kondisinya memprihatinkan karena sudah dua hari hujan turun dan air masuk ke tenda. Reporter mengabarkan kondisi terkini.  Janitra menikmati ‘energen’ home made buatan ibu.

Di kepala saya muncul sebuah imaji, Janitra akan bertanya, “ mi, niku kemah napa?” lalu saya akan menjelaskan perihal tenda yang dilihatnya.

Di luar dugaan, saya terkejut, komentarnya bernada prihatin, “mesake”

Maka, saya langsung masuk memberikan umpan balik atas tanggapannya. Agar Janitra yang beruntung lebih bersyukur dan lebih shalihah, serta mendoakan mereka.

Lalu, komentar berikutnya, “Umi, Lombok pun bersih?  Nek kalih niku?” Pertanyaan membandingkan muncul.

Saya jelaskan, Palu lebih parah sebab ada tsunami.

Lagi-lagi Janitra bertanya, “Lombok pun bersih?”

“Tasih terus diperbaiki, ”

“Kurang pinggir-pinggire?” Nah, kalau ini komentar lugasnya ala bocah,

Jujur, saya exited dengan kepedualian dan pemahaman Janitra akan kondisi Lombok dan Palu. Saat terjadi tsunami, saya tidak berada di rumah (menjalani PPG  5 pekan). Dari mana kesadaran dampak bencana yang dilihatnya? Ah, ternyata, Janitra tidak hanya tahu “Upin dan Ipin” saja dari televisi di depannya.

 

#latepost

Tegalsari, 14 Oktober 2018. 17.22

#diaryJanitra_6y3m

 

 

Warga korban gempa melintas di sekitar tenda pengungsian di halaman Masjid Agung, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10)

Warga korban gempa melintas di sekitar tenda pengungsian di halaman Masjid Agung, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10).Berdasarkan data sementara posko induk penanggulangan bencana Makorem 132 Tadulako jumlah pengungsi mencapai 62.359 jiwa. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc/18.  (*foto hasil googling))

Antara Dakwah dan Komoditas

Oleh: Sayekti Ardiyani*

 

Muslimah kini semakin memiliki kebebasan untuk menunjukkan eksistensinya, baik di dunia nyata dan lebih-lebih di sosial media. Jilbab lebar yang dulu dipandang dengan tatapan kurang ramah oleh pihak-pihak tertentu kini menjadi trend  fashion. Wanita bercadar  yang dulu dipandang dengan tatapan penuh curiga kini semakin menampakkan ekistensinya di sosial media.

Lihatlah istragram. Feed IG sekarang dipenuhi dengan foto-foto wanita bercadar dengan gaya yang fasionable. Berseliwaran pula foto-foto mereka dengan pasangan halal yang membikin para jomlo baper.  Mesra dan lokasi fotonya istagramable habisss.

Luar biasa, dakwah di sosial media tak hanya marak namun terbilang efektif. Ajakan berhijab, menikah tanpa pacaran, tausiyah-tausiyah yang diletakkan sebagai caption sangat mengena di kalangan generasi milenial.  Tak hanya para artis yang berhijarah, para wanita bercadar pun kini banyak yang menjadi sosok influencer.  Tentu saja saya memandang ini sebagai hal yang sangat positif.  Dakwah toh tidak harus lewat ceramah di masjid atau pengajian. IG telah menjelma majelis taklim yang mengundang like ribuan follower

Lewat foto-foto yang bikin baper, mereka tidak hanya berdakwah namun terlihat pula menjadi endorser sebuah produk.  Bagaimana tidak fasionable jika wanita bercadar itu mengenakan produk hijab dan segala pernak-perniknya dari prodok branded. Lagi-lagi,  dakwah ini terbilang  efektif. Sekarang, para muslimah yang bercadar semakin percaya diri untuk menu jukkan eksistensinya. Semakin banyak  muslimah yang mengikuti jejak untuk berhijab syar’i dan tidak perlu ragu-ragu untuk menutup wajah mereka dengan cadar.

wallpaper-kartun-muslimah

pinjam foto dari sini

Namun, ada yang menggeletik saya ketika melihat  semakin banyak influencer  bercadar yang berfoto  ala model di sosial media, dengan produk branded  yang dikenakan.  Tidakkah disadari bahwa hal semacam itu akan menjadi sebuah komoditas.  Ada yang menganggu pikiran saya: apa beda dakwah dengan komoditas? Oke lah, lagi-lagi itu cara dakwah yang mengena buat  generasi milenial, namun ketika mereka berpose layaknya para peragawati di catwalk, saya kok merasa gelisah ya?

Saya pernah mendapati  foro seorang wanita bercadar yang meng-endorse sebuah produk sepatu. Pose duduknya aduhai,   sebelah kakinya diangkat  sehingga produk sepatu itu terlihat jelas. Nah, ini dakwah atau komoditas?  Jujur, saya lebih nyaman  melihat keteduhan sosok mereka pada postingan semacam  video “Peluk Aku” dengan lagu latar  Deen Salam yang sempat viral beberapa waktu lalu.

 

 

 

 

*tulisan ini sekedar opini pribadi yang lahir dari kegelisahan diri. Bukan maksud untuk nyiyir, mencari pembenaran, atau mengundang debat kusir.

Di Balik Cernak untuk Majalah Adzkia

Siang itu panas. Berjalan dari sekolah tempat saya mengajar, saya menghentikan langkah di tepi jalan. Saya menunggu angkot yang lewat menuju pasar. Sebenarnya, jarak dari saya berdiri hingga pasar tidak begitu jauh, 10 hingga 15 menit bisa saya tempuh dengan berjalan kaki. Bahkan,simpang empat pasar bisa saya lihat dari tempat saya berdiri, sebab jalannya lurus. Melayangkan pandang menuju simpang 4 pasar, tak satupun angkot biru yang saya lihat. Jadi benar, ada demo gojek di kota Magelang. Demo di kota, tapi angkot pedesaan ikut korsa mogok. Saya terpaksa berjalan kaki sampai pasar. Sekembali dari pasar, malang benar, becakpun tak ada. Celingak celinguk mencari becak, seorang sopir angkot melihat saya. Dikiranya mungkin mencari angkot, sopir itu menyapa saya, “Mbae mau pulang Sambung, itu mbak, sama pak polisi saja.” Saya biasa menumpangi angkotnya sehingga tahu dimana saya pulang.

Tak jauh dari sana standy polisi dan mobil patroli yang hari itu khusus mengangkut anak-anak sekolah yang kesulitan transportasi sebab angkot mogok. Tersenyum sembari menjawab, saya belum mau pulang.  Maka saya berjalan lagi menuju sekolah. Masih panas. Jam istirahat kedua anak-anak matahari sedang berada di atas kepala.

Cling! Mendadak muncul ide ketika saya tiba di depan sebuah Sekolah Dasar Negeri tak jauh dari simpang 4 pasar. Dalam perjalanan itu, saya berangan-angan bagaimana seandainya hujan? Sambil berjalan, saya mengeksekusi ide yang mendadak muncul itu. Saya mengandaikan seorang anak yang bersekolah di SD yang saya lewati harus kecewa karena tak ada angkot. Dengan jarak yang tidak jauh, ia terpaksa berjalan pulang di bawah terik matahari. Sama seperti saya.

cerpen-1.png

 

Hasil eksekusi itu saya tuliskan dalam sebuah cerita anak berjudul “Mogok Angkot” dan dimuat dalam majalah Adzkia edisi 145 Vol.XIII No. 01 Juni 2018. “Mogok Angkot” adalah cerita anak kelima yang dimuat di majalah Adzkia. Saya ingin mengingatkan diri sendiri terutama dan anak-anak,untuk selalu bersyukur dengan cuaca yang diberi oleh Allah. Tidak mengeluh saat panas terik maupun saat hujan turun. Dengan kaki yang dimiliki, bisa pulang sekolah di hari yang terik adalah hal yang pantas disyukuri.

cerpen-2.png

 

Majalah Adzkia merupakan majalah anak muslim yang terbit sebulan sekali. Kantor redaksinya berada di Jl. DR. Muh. Hatta Kp. Madegondo RT 05 RW 04 Sukoharjo Jawa Tengah.  Dibanding majalah Bobo yang sulit sekali ditembus, majalah Adzkia lebih menjanjikan karya saya dimuat. Honornya pun lumayan. Satu pertimbangan mengirimkan karya ke majalah Adzkia adalah menulis sambil berdakwah.  Cerita anak yang dalam majalah Adzkia disebut “Kisah  Berhikmah” mengandung syiar.

Sama seperti “Mogok Angkot”, cerita yang saya kirimkan di majalah Adzkia kesemuanya berangkat dari ide yang saya temukan dalam keseharian saya di sekolah.  Cerita “Dokter Kecil” dalam majalah Adzkia edisi 140 Vol XII No. 08 Januari 2018  adalah pengalaman yang saya hadapi ketika memilih tiga siswa saya untuk maju mengikuti pelatihan dokter kecil di Puskesmas Kecamatan Grabag. Saya tidak memilih anak yang  pandai secara akademik, juara kelas, tapi anak yang telaten dan peduli. Setahun kemudian, muncul ide untuk menuliskannya dalam cerita anak. Saya ingin menekankan kepada anak-anak, bahwa tiap anak memiiliki kelebihan, tak hanya pintar akademik namun juga kelebihan dalam akhlak dan bergaul. Semua bisa berprestasi. Cerita dengan tokoh bernama Syifa itu ingin mengambil inspirasi dari tokoh muslimah Syifa binti Abdullah. Selain berbagi hikmah, saya pun ingin memperkenalkan shahabiyah yang mungkin belum banyak dikenal anak-anak.

cerpen-3.png

Syiar itu pula yang mendorong saya mengeksekusi ide dari hadist yang dihafalkan anak-anak saya di sekolah. Terutama hadist yang berkaitan dengan adab dan diamalkan dalam keseharian.  Barangkali, tidak semua anak tahu, bahwa  meniup makanan dan minuman  tidak diperbolehkan.  Dari hadist larangan bernapas di tempat makan dan minum, saya kemudian melakukan riset. Sesuatu dilarang oleh agama, pasti ada hikmahnya. Data mengenai larangan bernapas/ meniup makanan dan mimunam saya dapatkan secara ilmiah.

cerpen 4

Data yang temukan saya eksekusi, kira-kira minuman apa yang sering dalam keadaan panas lebih enak disajikan. Maka, premis seorang anak yang terburu-buru sarapan karena bangun siang dan meniup susunya yang masih panas menjadi  sebuah cerita anak berjudul “Gara-Gara Novel” dalam majalah Adzkia  Vol X No.6, November 2015. Gara-gara membaca novel hingga larut malam, seorang anak kesiangan bangun dan sarapan dengan tergesa. Ayahnya mengingatkan untuk tidak meniup minuman sebagaimana dijarkan Nabi Muhammad lewat hadistnya. Pertanyaan mengapa dilarang meniup dijawab dengan data yang sebelumnya saya lakukan riset.

Cerita berhikmah lain berjudul “Hari Membawa Bekal” dalam Adzkia Vol XI No. 9, Februari 2017 saya gali dari hadist adab makan, yaitu larangan makan sambil bersandar.  Saya melakukan eksekusi dengan sebuah pertanyaan, momen apa yang mungkin anak bisa makan bersama sehingga guru melihat ada anak yang cara makannya belum sesuai sunah. Muncul ide, pada hari ada pelajaran olahraga, siswa diperbolehkan membawa bekal dan makan bersama di taman kota. Dari sekolah hingga taman kota, siswa berjalan kaki. Saat makan bersama itulah guru dalam cerita “Hari Membawa Bekal” mengingatkan anak-anak tentang cara makan sesuai sunah. Setelah ide muncul, saya kemudian melakukan riset, mengapa secara ilmiah makan tidak disarankan sambil bersandar?

cerpen-5.png

 

Setelah menemukan ide, eksekusi, riset, dan data komplet, alur akan terbangun. Langkah saya selanjutnya biasanya  mengetik cepat atau melakukan free writting (menulis bebas). Saya mengetik saja apa yang terlintas di kepala, tanpa aturan dan tanpa mengedit. Setelah saya lega mengeluarkan isi kepala, dan cerita sudah terbangun,barulah saya membaca ulang sembari mengedit. Ketika membaca ulang seringkali berkembang cerita. Saya juga melakukan penyesuaian jumlah kata sesuai aturan dalam media yang dituju.

Ada kepuasan tersendiri ketika karya dimuat dan diapresasi beberapa teman, bahkan siswa sendiri. Cerita-cerita yang saya tulis adalah cerita-cerita yang terserak di sekolah tempat saya mengajar sehingga lebih mudah menuliskannya

 

 

*tulisan yang tidak lolos lomba menulis proses kreatif

#2018GantiLaptopASUS, ASUS Vivobook Flip TP410 Pilihan Terbaik

“Semoga kamu baik-baik saja,”ujar saya sembari melipat si hitam sahabat saya, ASUS eee pc 1015p Netbook 10 inci ini. Selama lima pekan mengikuti PPGdJ (Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan) di Universitas Bangun Nusantara Veteran Sukoharjo, si hitam ini adalah keluarga yang saya bawa. Saya meminta kepada Allah agar dimudahkan, si hitam sehat.

Mengapa saya berdoa seperti itu, apakah karena saya khawatir netbook saya ngadat ketika diajak bekerja? Bukan karena itu, tapi justru sahabat saya itu sudah sekian lama menemani saya. Februari 2011  saya membeli. Suka duka bersamanya. Beragam perkerjaan  dirampungkan bersama si hitam ASUS. Sebagai bendahara BOS, laporan-laporan BOS sekolah rampung berkat bantuan ASUS. Perjalalan belajar menulis saya dari multiply hingga wordpress sekarang ini semua terekam jejaknya oleh si ASUS. Beberapa antalogi dan  lomba blog yang saya menangkan, si hitam ASUS jugalah yang menemani.

Tujuh  tahun lebih bersama, saya bangga memamakainya. Saat teman kerja sudah dua kali ganti netbook, di tengah keluhan teman-teman karena keybordnya begini begitu sehingga harus ganti, atau karena ngadat, sahabat ASUS tetap bandel. Bahkan peristiwa yang saya anggap besar adalah meluncurnya si ASUS dari meja ketinggian 1 meter  di tahun  2014. Pyaarr…. baterainya lepas dan hampir patah jadi dua. Pojok monitornya sedikit cuil. Hampir menangis saya mendapati netbook saya. Saya mengira, riwayatnya habis malam itu ketika tersenggol tangan dan meluncur. Saya ingat data-data saya, laporan BOS yang hanya saya simpan di sana, cerita-cerita dan foto-foto perjalanan. Byak… setelah dihidupkan ia baik-baik saya.


img-20180130-wa0025_15173228453561.jpg

meskipun sedikit cuil di pojok (terlihat ‘kan sedikit berongga?) tetap bandel dipakai 

Peristiwa kedua adalah ketika saya sibuk dengan pembelajaran daring sepekan sebelum saya berangkat PPGdJ bulan lalu. Mengira bahwa  charger sudah saya cabut dari netbook, saya tarik kabel untuk digulung. Byar, lagi-lagi si ASUS jatuh karena  tertarik. Kabelnya masih menancang pada netbook. Degh, saya teringat nasib pembelajaran jarak jauh saya yang hampir berakhir dan dilanjutkan kuliah tatap muka dengan si ASUS sebagai senjata utama. Alhamdulillah, saya makin bangga. Si ASUS  sudah teruji bandel dan kualitasnya. Pembelajaran saya tetap lanjut dan hari ini saya mengikuti lomba ini di sela-sela kuliah PPGdJ masih dengan si ASUS eee pc 1015p Netbook 10 inci ini.

a ppdgj

suasana kelas PPGdJ. Teman-teman di belakang juga pakai laptop ASUS

Fokus pembelajaran zaman sekarang, kurikulum 2013, adalah pembelajaran abad 21 dengan literasi digital sebagai topik utama. Dalam perkuliahan, saya membuat perangkat-perangkat pembelajaran dengan metode pembelajaran yang akan saya terapkan di kelas nanti. Pembelajaran dengan multimedia, dengan internet sebagai sumber belajar, dengan video pembelajaran adalah salah satu media,  laptop  alat utama yang  digunakan. Itu sebabnya peran pendukung netbook atau laptop sangat urgent. Lebih-lebih, dalam ujian kinerja saya nanti, diharuskan rekaman pembelajaran yang harus diunggah setiap pekan. Dosen sudah memberikan program Camtasia untuk mengedit video sesuai syarat yang diminta RISTEKDIKTI. Netbook saya yang sarat muatan masih sanggup menampung program itu. Namun bagaimana kedepannya?

Tantangan zaman dan pembelajaran abad 21 yang akan saya hadapi tentu membutuhkan laptop dengan performa prima. Belum lagi dosen muda lulusan teknologi pendidikan yang masuk dengan materi media pembelajaran berbasis IT kemarin sudah mengiming-imingi pembuatan media pembelajaran interaktif yang akan menarik siswa. Tidak  hanya video pembelajaran, namun beragam inovasi media berbasis IT seperti permainan edukatif dan lain sebagainya. Tentu konten seperti itu harus dibuat dengan laptop mumpuni.

Jangan bayangkan guru zaman sekarang seperti guru zaman dulu yang hanya berdiri di depan kelas berceramah. Tidak. Guru sekarang dituntut merencakan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa kreatif, inovatif,  dan berpikir kritis.  Kurikulum 13 adalah kurikulum berbasis pembelajaran abad 21. Mengkikuti perkembangan teknologi saat ini adalah keniscayaan.  Saya harus presentasi di depan siswa, siswa pun harus berlatih presentasi dengan alat canggih sesuai kebutuhan zaman.

abad21b

pinjam gambar dari sini

Sudah saatnya saya berganti lapotop. Itu harapan utama saya. Berdoa ketika ada rejeki ( atau menang lomba ini :D)  laptop baru adalah kebutuhan. #2018ganti LaptopASUS.  Untuk pilihan laptop, tentu ASUS adalah pihan pertama dan terakhir. Harus ASUS yang sudah terbukti kualitasnya selama hampir 8 tahun menemani saya. Kalau teman-teman bilang, sudah saatnya saya ganti laptop. Untuk itu, saya ingin laptop ASUS Vivobook Flip TP410. Mengapa yang ini?

  1. Tipis dan ringan. Bobot 1,6 kg dengan layar 14 inci tentu cocok dengan saya yang seorang angkoter. Berangkat pergi kerja selama 20 menit menempuh perjalanan naik angkot, kadang naik turun berganti angkot. Ketebalan yang hanya 1,92 cm tentu sangat tipis dan tidak memakan ransel yang seperti kantong doraemon karena semua barang masuk. Maklum sebagai guru banyak bawaannya. Kelebihan itu juga menguntungkan saya ketika diajak beragam pelatihan dan bimtek seperti saat ini.Asus 2
  2. NanoEdge Display. Dengan layar yang maksimal dan body yang minimal tentu bisa memaksimalkan kinerja dan membuat segala konten akan terlihat maksimal di layar.
  3. Fingerprint sensor. Saya pernah melihat seorang teman di pelatihan yang begitu sigap dan cepat membuat perangkat karena ada vitur ini dalam laptopnya. Ini memang kebutuhan saya. Tinggal set-set sentuh layar apa yang saya cari akan cepat terakses. Laptop yang sudah sign in ke Windows 10 ini tentu akan juga akan meningkatkan keamanan. Kita tahu, bahwa anak-anak SD, terutama siswa saya, adalah siswa yang superaktif dan tipe kinestetik. Dengan rasa ingin tahunya yang tinggi dan tangannya ingin menyentuh apa yang mereka lihat tidak akan membuat saya khawatir laptop saya akan error 😀Asus
  4. Empat  mode yaitu media stand, powerful laptop, responsible tablet, dan share viewer akan menguntungkan bagi saya dalam menggunakan ini dalam segala situasi. Di kelas saat presentasi maupun di rumah untuk sekedar membaca-baca dengan tampilan tablet semua didukung oleh ASUS Vivobook Flip TP4104-mode-tampilan-vivobook-flip-tp410

 

Nah, berbagai kelebihan itu semakin membuat saya mengincar ASUS Vivobook Flip TP410 untuk #2018gantiLaptopASUS. Semoga menjadi rejeki saya sehingga kinerja saya sebagai guru semakin maksimal dengan dukungan laptop mumpuni.

vivobook-flip-TP410-blog-competition

Tulisan ini diikutkan dalam ASUS Laptop Blog Comptetition By www.uniekkaswarganti.com

Catatan Syawal

Ramadhan berlalu beberapa pekan lalu, berganti syawal. Ternyata saya belum bisa istiqomah menuliskan catatan Ramadhan di blog ini. Sebelum Syawal berlalu, ingin sedikit menorehkan sedikit catatan.

Ada kebahagiaan membuncah dengan Ramadhan, sedih ketika ditinggalkan. Kebahagiaan itu makin lengkap sebab di tahun ini Janitra sudah mulai latihan puasa. Alhamdulillah 29 hari full puasa bedhug, puasa duhur  lanjut Magrib. Saya sangat mengapresiasi, melihat begitu penuh warna dan kadang drama saat sahur. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali ia mau bangun sahur dengan keadaan seperti di bulan-bulan lain.

Bersyukur kegiatan dauroh Ramadhan membuat Janitra bertanya sekarang, kok nggak ngaji di Ya Bunayya lagi? Tanggal 2 Juni Janitra menutup kegiatan itu dengan semangat yang tidak surut. Siang itu panas, saya mengantar Janitra diiringi gumaman dendangannya. Panas yang terik tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menyanyi keras dalam perjalanan di lokasi.

20180602_141131

semangat dauroh hari terakhir

 

Meninggalkan daurah, kegiatan yang dinanti-nanti lain adalah mabit pertamanya di TK. Penuh semangat dan sampai di rumah bilang, pingin mabit lagi. Alhamdulillah Janitra bisa mengikuti mabit dengan riang gembira.

20180608_201052

moment mabit yang ditunggu ternyata Janitra nggak berani menyalakan kembang api 😀

 

Jadi ingat bahwa setahun lalu, Ramadhan lalu Janitra harus mabit di rumah sakit sebab diberi ujian sakit. Rasanya haru mengingat itu, betapa banyak nikmat, kebahagiaan, dan kesehatan yang diberikan Allah saat ini.

mabit rsj

tempat mabit rumah sakit 😀

Begitu banyak pelajaran untuk ukuran bocah yang dilakoninya, tak heran jika saat Idul Fitri Janitra menyambutnya dengan buncah. Setiap moment silaturahmi diikutnya dengan riang. “Saya selalu semangat diajak badan (silaturahmi)” ucapnya selalu. Banyak keberkahan dan banyak rejeki yang anak-anak dapatkan di bulan Syawal ini.

Semoga pembelajaran ini dibawanya serta hingga bulan-bulan berikutnya. Aamiin