Di Balik Cernak untuk Majalah Adzkia

Siang itu panas. Berjalan dari sekolah tempat saya mengajar, saya menghentikan langkah di tepi jalan. Saya menunggu angkot yang lewat menuju pasar. Sebenarnya, jarak dari saya berdiri hingga pasar tidak begitu jauh, 10 hingga 15 menit bisa saya tempuh dengan berjalan kaki. Bahkan,simpang empat pasar bisa saya lihat dari tempat saya berdiri, sebab jalannya lurus. Melayangkan pandang menuju simpang 4 pasar, tak satupun angkot biru yang saya lihat. Jadi benar, ada demo gojek di kota Magelang. Demo di kota, tapi angkot pedesaan ikut korsa mogok. Saya terpaksa berjalan kaki sampai pasar. Sekembali dari pasar, malang benar, becakpun tak ada. Celingak celinguk mencari becak, seorang sopir angkot melihat saya. Dikiranya mungkin mencari angkot, sopir itu menyapa saya, “Mbae mau pulang Sambung, itu mbak, sama pak polisi saja.” Saya biasa menumpangi angkotnya sehingga tahu dimana saya pulang.

Tak jauh dari sana standy polisi dan mobil patroli yang hari itu khusus mengangkut anak-anak sekolah yang kesulitan transportasi sebab angkot mogok. Tersenyum sembari menjawab, saya belum mau pulang.  Maka saya berjalan lagi menuju sekolah. Masih panas. Jam istirahat kedua anak-anak matahari sedang berada di atas kepala.

Cling! Mendadak muncul ide ketika saya tiba di depan sebuah Sekolah Dasar Negeri tak jauh dari simpang 4 pasar. Dalam perjalanan itu, saya berangan-angan bagaimana seandainya hujan? Sambil berjalan, saya mengeksekusi ide yang mendadak muncul itu. Saya mengandaikan seorang anak yang bersekolah di SD yang saya lewati harus kecewa karena tak ada angkot. Dengan jarak yang tidak jauh, ia terpaksa berjalan pulang di bawah terik matahari. Sama seperti saya.

cerpen-1.png

 

Hasil eksekusi itu saya tuliskan dalam sebuah cerita anak berjudul “Mogok Angkot” dan dimuat dalam majalah Adzkia edisi 145 Vol.XIII No. 01 Juni 2018. “Mogok Angkot” adalah cerita anak kelima yang dimuat di majalah Adzkia. Saya ingin mengingatkan diri sendiri terutama dan anak-anak,untuk selalu bersyukur dengan cuaca yang diberi oleh Allah. Tidak mengeluh saat panas terik maupun saat hujan turun. Dengan kaki yang dimiliki, bisa pulang sekolah di hari yang terik adalah hal yang pantas disyukuri.

cerpen-2.png

 

Majalah Adzkia merupakan majalah anak muslim yang terbit sebulan sekali. Kantor redaksinya berada di Jl. DR. Muh. Hatta Kp. Madegondo RT 05 RW 04 Sukoharjo Jawa Tengah.  Dibanding majalah Bobo yang sulit sekali ditembus, majalah Adzkia lebih menjanjikan karya saya dimuat. Honornya pun lumayan. Satu pertimbangan mengirimkan karya ke majalah Adzkia adalah menulis sambil berdakwah.  Cerita anak yang dalam majalah Adzkia disebut “Kisah  Berhikmah” mengandung syiar.

Sama seperti “Mogok Angkot”, cerita yang saya kirimkan di majalah Adzkia kesemuanya berangkat dari ide yang saya temukan dalam keseharian saya di sekolah.  Cerita “Dokter Kecil” dalam majalah Adzkia edisi 140 Vol XII No. 08 Januari 2018  adalah pengalaman yang saya hadapi ketika memilih tiga siswa saya untuk maju mengikuti pelatihan dokter kecil di Puskesmas Kecamatan Grabag. Saya tidak memilih anak yang  pandai secara akademik, juara kelas, tapi anak yang telaten dan peduli. Setahun kemudian, muncul ide untuk menuliskannya dalam cerita anak. Saya ingin menekankan kepada anak-anak, bahwa tiap anak memiiliki kelebihan, tak hanya pintar akademik namun juga kelebihan dalam akhlak dan bergaul. Semua bisa berprestasi. Cerita dengan tokoh bernama Syifa itu ingin mengambil inspirasi dari tokoh muslimah Syifa binti Abdullah. Selain berbagi hikmah, saya pun ingin memperkenalkan shahabiyah yang mungkin belum banyak dikenal anak-anak.

cerpen-3.png

Syiar itu pula yang mendorong saya mengeksekusi ide dari hadist yang dihafalkan anak-anak saya di sekolah. Terutama hadist yang berkaitan dengan adab dan diamalkan dalam keseharian.  Barangkali, tidak semua anak tahu, bahwa  meniup makanan dan minuman  tidak diperbolehkan.  Dari hadist larangan bernapas di tempat makan dan minum, saya kemudian melakukan riset. Sesuatu dilarang oleh agama, pasti ada hikmahnya. Data mengenai larangan bernapas/ meniup makanan dan mimunam saya dapatkan secara ilmiah.

cerpen 4

Data yang temukan saya eksekusi, kira-kira minuman apa yang sering dalam keadaan panas lebih enak disajikan. Maka, premis seorang anak yang terburu-buru sarapan karena bangun siang dan meniup susunya yang masih panas menjadi  sebuah cerita anak berjudul “Gara-Gara Novel” dalam majalah Adzkia  Vol X No.6, November 2015. Gara-gara membaca novel hingga larut malam, seorang anak kesiangan bangun dan sarapan dengan tergesa. Ayahnya mengingatkan untuk tidak meniup minuman sebagaimana dijarkan Nabi Muhammad lewat hadistnya. Pertanyaan mengapa dilarang meniup dijawab dengan data yang sebelumnya saya lakukan riset.

Cerita berhikmah lain berjudul “Hari Membawa Bekal” dalam Adzkia Vol XI No. 9, Februari 2017 saya gali dari hadist adab makan, yaitu larangan makan sambil bersandar.  Saya melakukan eksekusi dengan sebuah pertanyaan, momen apa yang mungkin anak bisa makan bersama sehingga guru melihat ada anak yang cara makannya belum sesuai sunah. Muncul ide, pada hari ada pelajaran olahraga, siswa diperbolehkan membawa bekal dan makan bersama di taman kota. Dari sekolah hingga taman kota, siswa berjalan kaki. Saat makan bersama itulah guru dalam cerita “Hari Membawa Bekal” mengingatkan anak-anak tentang cara makan sesuai sunah. Setelah ide muncul, saya kemudian melakukan riset, mengapa secara ilmiah makan tidak disarankan sambil bersandar?

cerpen-5.png

 

Setelah menemukan ide, eksekusi, riset, dan data komplet, alur akan terbangun. Langkah saya selanjutnya biasanya  mengetik cepat atau melakukan free writting (menulis bebas). Saya mengetik saja apa yang terlintas di kepala, tanpa aturan dan tanpa mengedit. Setelah saya lega mengeluarkan isi kepala, dan cerita sudah terbangun,barulah saya membaca ulang sembari mengedit. Ketika membaca ulang seringkali berkembang cerita. Saya juga melakukan penyesuaian jumlah kata sesuai aturan dalam media yang dituju.

Ada kepuasan tersendiri ketika karya dimuat dan diapresasi beberapa teman, bahkan siswa sendiri. Cerita-cerita yang saya tulis adalah cerita-cerita yang terserak di sekolah tempat saya mengajar sehingga lebih mudah menuliskannya

 

 

*tulisan yang tidak lolos lomba menulis proses kreatif

Iklan

#2018GantiLaptopASUS, ASUS Vivobook Flip TP410 Pilihan Terbaik

“Semoga kamu baik-baik saja,”ujar saya sembari melipat si hitam sahabat saya, ASUS eee pc 1015p Netbook 10 inci ini. Selama lima pekan mengikuti PPGdJ (Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan) di Universitas Bangun Nusantara Veteran Sukoharjo, si hitam ini adalah keluarga yang saya bawa. Saya meminta kepada Allah agar dimudahkan, si hitam sehat.

Mengapa saya berdoa seperti itu, apakah karena saya khawatir netbook saya ngadat ketika diajak bekerja? Bukan karena itu, tapi justru sahabat saya itu sudah sekian lama menemani saya. Februari 2011  saya membeli. Suka duka bersamanya. Beragam perkerjaan  dirampungkan bersama si hitam ASUS. Sebagai bendahara BOS, laporan-laporan BOS sekolah rampung berkat bantuan ASUS. Perjalalan belajar menulis saya dari multiply hingga wordpress sekarang ini semua terekam jejaknya oleh si ASUS. Beberapa antalogi dan  lomba blog yang saya menangkan, si hitam ASUS jugalah yang menemani.

Tujuh  tahun lebih bersama, saya bangga memamakainya. Saat teman kerja sudah dua kali ganti netbook, di tengah keluhan teman-teman karena keybordnya begini begitu sehingga harus ganti, atau karena ngadat, sahabat ASUS tetap bandel. Bahkan peristiwa yang saya anggap besar adalah meluncurnya si ASUS dari meja ketinggian 1 meter  di tahun  2014. Pyaarr…. baterainya lepas dan hampir patah jadi dua. Pojok monitornya sedikit cuil. Hampir menangis saya mendapati netbook saya. Saya mengira, riwayatnya habis malam itu ketika tersenggol tangan dan meluncur. Saya ingat data-data saya, laporan BOS yang hanya saya simpan di sana, cerita-cerita dan foto-foto perjalanan. Byak… setelah dihidupkan ia baik-baik saya.


img-20180130-wa0025_15173228453561.jpg

meskipun sedikit cuil di pojok (terlihat ‘kan sedikit berongga?) tetap bandel dipakai 

Peristiwa kedua adalah ketika saya sibuk dengan pembelajaran daring sepekan sebelum saya berangkat PPGdJ bulan lalu. Mengira bahwa  charger sudah saya cabut dari netbook, saya tarik kabel untuk digulung. Byar, lagi-lagi si ASUS jatuh karena  tertarik. Kabelnya masih menancang pada netbook. Degh, saya teringat nasib pembelajaran jarak jauh saya yang hampir berakhir dan dilanjutkan kuliah tatap muka dengan si ASUS sebagai senjata utama. Alhamdulillah, saya makin bangga. Si ASUS  sudah teruji bandel dan kualitasnya. Pembelajaran saya tetap lanjut dan hari ini saya mengikuti lomba ini di sela-sela kuliah PPGdJ masih dengan si ASUS eee pc 1015p Netbook 10 inci ini.

a ppdgj

suasana kelas PPGdJ. Teman-teman di belakang juga pakai laptop ASUS

Fokus pembelajaran zaman sekarang, kurikulum 2013, adalah pembelajaran abad 21 dengan literasi digital sebagai topik utama. Dalam perkuliahan, saya membuat perangkat-perangkat pembelajaran dengan metode pembelajaran yang akan saya terapkan di kelas nanti. Pembelajaran dengan multimedia, dengan internet sebagai sumber belajar, dengan video pembelajaran adalah salah satu media,  laptop  alat utama yang  digunakan. Itu sebabnya peran pendukung netbook atau laptop sangat urgent. Lebih-lebih, dalam ujian kinerja saya nanti, diharuskan rekaman pembelajaran yang harus diunggah setiap pekan. Dosen sudah memberikan program Camtasia untuk mengedit video sesuai syarat yang diminta RISTEKDIKTI. Netbook saya yang sarat muatan masih sanggup menampung program itu. Namun bagaimana kedepannya?

Tantangan zaman dan pembelajaran abad 21 yang akan saya hadapi tentu membutuhkan laptop dengan performa prima. Belum lagi dosen muda lulusan teknologi pendidikan yang masuk dengan materi media pembelajaran berbasis IT kemarin sudah mengiming-imingi pembuatan media pembelajaran interaktif yang akan menarik siswa. Tidak  hanya video pembelajaran, namun beragam inovasi media berbasis IT seperti permainan edukatif dan lain sebagainya. Tentu konten seperti itu harus dibuat dengan laptop mumpuni.

Jangan bayangkan guru zaman sekarang seperti guru zaman dulu yang hanya berdiri di depan kelas berceramah. Tidak. Guru sekarang dituntut merencakan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa kreatif, inovatif,  dan berpikir kritis.  Kurikulum 13 adalah kurikulum berbasis pembelajaran abad 21. Mengkikuti perkembangan teknologi saat ini adalah keniscayaan.  Saya harus presentasi di depan siswa, siswa pun harus berlatih presentasi dengan alat canggih sesuai kebutuhan zaman.

abad21b

pinjam gambar dari sini

Sudah saatnya saya berganti lapotop. Itu harapan utama saya. Berdoa ketika ada rejeki ( atau menang lomba ini :D)  laptop baru adalah kebutuhan. #2018ganti LaptopASUS.  Untuk pilihan laptop, tentu ASUS adalah pihan pertama dan terakhir. Harus ASUS yang sudah terbukti kualitasnya selama hampir 8 tahun menemani saya. Kalau teman-teman bilang, sudah saatnya saya ganti laptop. Untuk itu, saya ingin laptop ASUS Vivobook Flip TP410. Mengapa yang ini?

  1. Tipis dan ringan. Bobot 1,6 kg dengan layar 14 inci tentu cocok dengan saya yang seorang angkoter. Berangkat pergi kerja selama 20 menit menempuh perjalanan naik angkot, kadang naik turun berganti angkot. Ketebalan yang hanya 1,92 cm tentu sangat tipis dan tidak memakan ransel yang seperti kantong doraemon karena semua barang masuk. Maklum sebagai guru banyak bawaannya. Kelebihan itu juga menguntungkan saya ketika diajak beragam pelatihan dan bimtek seperti saat ini.Asus 2
  2. NanoEdge Display. Dengan layar yang maksimal dan body yang minimal tentu bisa memaksimalkan kinerja dan membuat segala konten akan terlihat maksimal di layar.
  3. Fingerprint sensor. Saya pernah melihat seorang teman di pelatihan yang begitu sigap dan cepat membuat perangkat karena ada vitur ini dalam laptopnya. Ini memang kebutuhan saya. Tinggal set-set sentuh layar apa yang saya cari akan cepat terakses. Laptop yang sudah sign in ke Windows 10 ini tentu akan juga akan meningkatkan keamanan. Kita tahu, bahwa anak-anak SD, terutama siswa saya, adalah siswa yang superaktif dan tipe kinestetik. Dengan rasa ingin tahunya yang tinggi dan tangannya ingin menyentuh apa yang mereka lihat tidak akan membuat saya khawatir laptop saya akan error 😀Asus
  4. Empat  mode yaitu media stand, powerful laptop, responsible tablet, dan share viewer akan menguntungkan bagi saya dalam menggunakan ini dalam segala situasi. Di kelas saat presentasi maupun di rumah untuk sekedar membaca-baca dengan tampilan tablet semua didukung oleh ASUS Vivobook Flip TP4104-mode-tampilan-vivobook-flip-tp410

 

Nah, berbagai kelebihan itu semakin membuat saya mengincar ASUS Vivobook Flip TP410 untuk #2018gantiLaptopASUS. Semoga menjadi rejeki saya sehingga kinerja saya sebagai guru semakin maksimal dengan dukungan laptop mumpuni.

vivobook-flip-TP410-blog-competition

Tulisan ini diikutkan dalam ASUS Laptop Blog Comptetition By www.uniekkaswarganti.com

Catatan Syawal

Ramadhan berlalu beberapa pekan lalu, berganti syawal. Ternyata saya belum bisa istiqomah menuliskan catatan Ramadhan di blog ini. Sebelum Syawal berlalu, ingin sedikit menorehkan sedikit catatan.

Ada kebahagiaan membuncah dengan Ramadhan, sedih ketika ditinggalkan. Kebahagiaan itu makin lengkap sebab di tahun ini Janitra sudah mulai latihan puasa. Alhamdulillah 29 hari full puasa bedhug, puasa duhur  lanjut Magrib. Saya sangat mengapresiasi, melihat begitu penuh warna dan kadang drama saat sahur. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali ia mau bangun sahur dengan keadaan seperti di bulan-bulan lain.

Bersyukur kegiatan dauroh Ramadhan membuat Janitra bertanya sekarang, kok nggak ngaji di Ya Bunayya lagi? Tanggal 2 Juni Janitra menutup kegiatan itu dengan semangat yang tidak surut. Siang itu panas, saya mengantar Janitra diiringi gumaman dendangannya. Panas yang terik tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menyanyi keras dalam perjalanan di lokasi.

20180602_141131

semangat dauroh hari terakhir

 

Meninggalkan daurah, kegiatan yang dinanti-nanti lain adalah mabit pertamanya di TK. Penuh semangat dan sampai di rumah bilang, pingin mabit lagi. Alhamdulillah Janitra bisa mengikuti mabit dengan riang gembira.

20180608_201052

moment mabit yang ditunggu ternyata Janitra nggak berani menyalakan kembang api 😀

 

Jadi ingat bahwa setahun lalu, Ramadhan lalu Janitra harus mabit di rumah sakit sebab diberi ujian sakit. Rasanya haru mengingat itu, betapa banyak nikmat, kebahagiaan, dan kesehatan yang diberikan Allah saat ini.

mabit rsj

tempat mabit rumah sakit 😀

Begitu banyak pelajaran untuk ukuran bocah yang dilakoninya, tak heran jika saat Idul Fitri Janitra menyambutnya dengan buncah. Setiap moment silaturahmi diikutnya dengan riang. “Saya selalu semangat diajak badan (silaturahmi)” ucapnya selalu. Banyak keberkahan dan banyak rejeki yang anak-anak dapatkan di bulan Syawal ini.

Semoga pembelajaran ini dibawanya serta hingga bulan-bulan berikutnya. Aamiin


 

[resep] Tahu Krispi

20180622_064252-01

Untuk makan di rumah yang homemade, Alhamdulillah kami sudah bisa move on dari tepung bumbu sekarang (lain jika jajan di luar). Semenjak ibu mertua divonis kanker dan harus operasi, makanan di rumah resmi bebas MSG, meski secara pribadi saya tidak pernah menggunakan MSG untuk memasak. Namun untuk bahan-bahan dari pabrik seperti tepung bumbu baru saya hentikan sejak ada rambu-rambu dari dokter ibu untuk lebih sehat dalam pola makan.

Beruntung, ada banyak inspirasi dari para food blogger dan foodstagramer yang berbagi foto makanan kece plus resepnya. Rajin stalking akun para suhu seperti Ayudiahrespatih, Mak Frida, dan Isna Sutanto bisa mendapatkan resep makanan sehat dan gampang. Salah satunya resep tahu krispi ini yang saya adopsi dari resep udang krispi dari akun Ayudiahrespatih.

Resep Tahu Krispi

Bahan:
Tahu diiris dadu  (satu iris atau 1/8 blabak tahu kalau di pasar Grabag)
2 siung bawang putih
Garam
1 butir telur, ambil putihnya
3–4 sendok munjung tepung terigu

Cara:
1.haluskan bawang putih dan garam. Sisihkan sedikit untuk adonan basah. Rendam tahu dalam bumbu agar meresap
2. Buat adonan basah dengan mengocok putih telur,1 sendok tepung terigu dan bumbu.
3. Masukkan tahu pada adonan basah
4. Gulingkan tahu pada 2 sendok  tepung terigu kering

Untuk ukuran tepung terigu sesuaikan dengan tahunya, jika suka bisa bumbu bisa ditambah merica 😄
Alhamdulillah langsung ludes.

 

Resep yang sama bisa digunakan untuk jamur krispi. Langsung ludes pula!

20180623_062835-01

 

Piala Dunia vs Deadline!

Di kelas, saya seringkali menemui masalah siswa yang gagal fokus. Harusnya belajar malah mengobrol, menggambar, membaca komik atau novel, atau melakukan kegiatan lain yang mengalihkan konsentrasinya dalam belajar. Bagaimana mengatasi masalah itu, jujur saya sendiri belum menemukan ramuan jitu untuk mengembalikan fokus siswa ke belajar 😀 Mengajak belajar lagi sih iya, tapi saya tidak menjamin seratus persen mereka fokus pada pelajaran.  Motivasi terbesar dan terbaik bukankah dari diri sendiri, sekalipun guru telah berusaha keras mengajak mereka kembali belajar dan memotivasi.

Jangankan siswa, saya sendiri termasuk dalam golongan yang susah fokus bahkan gagal fokus. Blog ini dan foto di bawah ini satu contoh kegagalan saya dalam fokus belajar.

20180623_191229-01 (1)

Suami sudah menyiapkan kopi. Jendela netbook sudah terbuka. Besok siang pukul 12.00 WIB tugas kuliah daring PPGDJ 2018 pertama harus sudah selesai. Tapi apa yang terjadi, saya malah sibuk mainan  foto, bahkan mendadak ngeblog. Sudah dua hari yang lalu niat nyicil tugas sudah ada, namun setiap buka komputer malah membuka file-file naskah, ide menyerang dan rasanya ingin menulis. Oh godaan emak! Dibanding tugas, saya malah asyik ikut lomba: menulis essay dan menyelesaikannya segera lalu sore tadi submit naskah. Setelah upload, maunya bisa lebih fokus.  Tapi sama saja.

Jadiii… jangankan salahkan siswa ya kalau sering gagal fokus!

Ah, tapi yang penting tanggung jawab itu ada kan, ya… tugas pasti selesai, belajar tetap meski disambi-sambi #pembelaan

Di ruangan yang sama,  kegiatan lain yang menggambarkan situsasi malam ini adalah foto ini

20180623_202532-01
Demam piala dunia mewabah. Tak bisa mengakses lewat tivi, gawai pun jadi. Malangnya, netbook suami rusak di speaker jadi video streamingnya bisu. Gawai jadi andalan. Menariknya pemandangan malam ini, gawai disulap jadi tivi flat dengan double tip di rak buku 😀 Sama dengan saya, suami pun sebenarnya juga punya tugas menumpuk yang harus segera diselesaikan sebelum ujian semester ini. Nah, kan!

Ah, guru juga manusia! #pembelaanlagi

Belajar pada usia emak-emak dan bapak-bapak memang banyak godaannya yaa… 😀

[Diary Ramadhan #4] Menu Takjil dari Dapoer Ibu Mertua

Ramadhan ke 4,5,6 dan 7 hari ini Alhamdulillah Janitra masih istiqomah belajar puasa bedhug. Lolos dengan tantangan yang sama: bangun sahur. Masih susah makan. Pada hari ke -4 Ahad lalu terbilang mudah, setelah sahur ceria banget. Hanya hari ini, pada hari ke-7 nangis dibangunin. Lama banget bangunnya. Jadi saya beri toleransi adzan subuh berkumandang masih makan. Pelan-pelan saja, untuk pembelajaran, bagi saya perlu menurunkan ekspektasi terhadap anak.

Setiap dibangunin sahur ditanya, mau puasa tidak, sambil merem pasti jawab puasa. Harus puasa sepertinya jadi prinsipnya, hanya untuk sahur perlu perjuangan.  Semangat ketika puasa siangnya selalu full.

Mulai Ahad lalu, Ramadhan ke-4, Janitra mulai mengikuti dauroh menghafal Alquran juz ke-30 di Yayasan Hidayatullah tempat ia sekolah TK. Kami antusias mendaftarkan Janitra untuk mendekatkannya pada Alquran sejak dini, mulai mengenalkan hafalan Alquran. Janitra antusias juga menyambut, ngaji di sekolah. Di hari-hari biasa ia mengaji TPQ di kampung, Ramadhan pun ia masih semangat. Ia bilang, ngaji dua kali. Asal anak semangat, kami tak mau menarget yang muluk-muluk. Asal mau belajar, capaian sesuai kemampuannya.

Ramadhan bulan mulia, bulan penuh pahala. Saatnya kita memberi kesan dan kegiatan positif untuk mendekatkan pada Allah, memperkenalkan keutamaannya.

Mulai Senin sekolah sudah masuk, kegiatannya jadi full. Awalnya saya agak khawatir, melatih puasa sementara saya tidak seharian di rumah karena kerja. Nyatanya, puasanya tanpa hambatan di siang hari karena waktunya terisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Di rumah pun ia punya teman bermain kakak-kakak sepupunya yang tinggal serumah.

Karena kegiatannya full, saya wanti-wanti Janitra untuk terus terang jika merasa capek. Kami tidak mau memaksakan Janitra belajar. Ia harus riang melakukannya. Asal siang pulang sekolah mau tidur, pukul 4 pulang dauroh ia semangat sekali masuk TPQ. Hanya hari ini, Ramadhan ke-7 ia mengaku ngantuk karena tidak mau tidur siang. Kami tak memaksa ketika selesai dauroh ia minta pulang.

Setiap pulang dauroh, pasti ada takjil spesial yang dibawanya. Dengan biaya pendaftaran Rp.130.000 ia akan mendapatkan sertifikat, juz amma kecil full color di hari pertama,  dan free takjil setiap sore. Di TPQ juga ada takjil yang dibawa pulang.  Ibuk tak perlu mencari-cari takjil untuk Janitra, jadi menambah semangatnya berbuka. Seperti Selasa lalu, Ramadhan ke-6, ada menu spesial dari Dapoer Ibu Mertua: cocktail dan siomay.

IMG-20180522-WA0030

Coctailnya seger… cess di waktu berbuka. Sementara siomay selalu jadi makanan favorit kami. Siomay Dapoer Ibu Mertua terasa banget udangnya. Sambalnya juga enyaakk..

Teman-teman punya menu spesial apa?

[DiaryRamadhan #3] Buka Bersama Hajj Chicken

Tantangan terbesar mengajak anak berpuasa di hari ketiga ini masih sama: sahur. Hari ini masih mending, Janitra masih mau makan meski sedikit, tapi rewelnya sama. Gerakan tutup mulut untuk madu dan buah masih. Alhamdulillah semangat puasa bedhug-nya masih full.

Aktivitas pagi dimulai dengan mainan lego, bermain peran dengan kakak-kakak sepupunya (guru murid di sekolah), kemudian bermain pasaran.  Tanpa pengawasan  dari saya langsung karena ada acara pengajian di UPT, Janitra tetap istiqomah sampai duhur. Alhmdulillah.

Iming-iming ikut buka puasa di sekolah ibuk mau nggak mau membuat Janita tidur siang. Nah, tantangan kedua dimulai ketika bangun tidur hujan masih deras turun menjelang ashar. Hingga saya berangkat ke sekolah hujan semakin deras. Sifat manusiawi saya, mengeluh dengan datangnya hujan, sekalipun saya terus membesarkan hati, hujan adalah berkah, jangan mengeluh, tetap jalan meski hujan, ayo nikmati saja jangan menyerah.

Kadung janji mengajak anak, saya berinisiatif mencari becak. Becak tak ada karena sudah sore.  Alternatif  membeli ayam goreng crispi mendadak muncul sebagai pengganti buka puasa di sekolah agar ia mau tinggal di rumah. Ternyata, Janitra kukuh pada pendirian.

Ujian kesabaran dan keteguhan datang. Saya bisa saja pencet gawai  dan izin tidak bisa datang menghadapi cuaca yang begitu tak mendukung untuk keluar rumah. Kalau saya datang, sampai di sekolah pasti basah kuyup dan tidak nyaman berseliweran di pikiran. Syukur, pikiran ‘bijaksini’ itu masih terpinggirkan dengan amanah dipundak sebagai guru.

Jika pikiran bijaksini yang bermain, maka menyerah pada hujan akan membawa saya meminta izin tidak datang buka bersama. Bayangkan seandainya semua guru di sekolah saya berpikiran semacam itu: karena hujan deras tidak bisa datang ke sekolah. Apa yang terjadi di sekolah? Anak-anak yang orang tuanya rela menerjang hujan untuk mengantar anaknya ke  sekolah akan berada di sekolah tanpa bapak ibu gurunya. Beruntungnya, para guru selalu dituntun Allah untuk bijaksana bukan bijaksini.

Begitu tiba di sekolah dengan ojek, saya exited melihat anak-anak yang sudah duduk rapi dalam shaf-shaf di masjid. Melihat anak-anak yang ceria datang sekalipun banyak diantara mereka datang  dari rumah yang jauh, dari gunung, dari pelosok desa,  saya merasa beruntung datang ke sekolah berada di tengah-tengah mereka. Di belakang mereka, saya henti merapal istighfar pada Allah, atas keluh saya, atas pikiran-pikiran buruk di kepala, meminta agar Allah menerima puasa saya yang kotor oleh berbagai pikiran buruk.

Selalu ada hikmah di setiap harinya kan ya?

Screenshot_2018-05-20-08-19-58

pinjam foto bu Annida Latifah

Lapar dan dahaga anak-anak terbayar ketika buka tiba. Menu kali ini pasti disukai anak-anak: Hajj Chicken!  Beruntung, di desa saya yang mulai menjamur aneka ayam goreng cripsi dari berbagai merk,  ada outlet Hajj Chicken yang bisa dijadikan pilihan pertama. Outlet yang pusatnya ada di Jl.Sorogenen 11 B Yogyakarta ini membuka cabang di Jl.K.H Shiraj Grabag.  Dijiwai oleh semangat 212, produk ini punya tagline Nikmatnya Berbagi Spirit 212. Sudah pasti dijamin halal, outlet ini tak hanya menawarkan menu ayam crispi dan geprek yang pedasnya mantab. Aneka menu favorit keluarga seperti steak, mie, nasi goreng, spageti, dan aneka minuman bahkan es krim menjadi menu pilihan yang bisa dinikmati bersama keluarga.  Halaman parkir yang luas membuat tempat makan ini nyaman digunakan sebagai tempat berkumpul bersama orang-orang terdekat.

20180519_214849-01

Untuk buka puasa kali ini, anak-anak senang, bapak ibu guru pun senang! 😀 Alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan hati tenang.