Kepada Lelaki Senja

Perempuan itu ingin berterima kasih padanya. Pada lelaki yang memberinya sepotong keindahan:senja,dan sepotong sunyi: malam. Seperti juga keindahan senja, yang teduh dalam remang jingga,syahdu dalam temaram dan semilir bayu. Hanya sekejap kemudian lenyap. Begitupun senyum di wajahnya tak kekal. Belum puas ia menikmati keindahan senja, lelaki itu begitu saja menghilang bersama jingga yang memudar dalam hitam, dan memberinya sepotong malam, membiaskan kelam dan sedih. Untuk itu pun, ia ingin berterima kasih padanya. Karena dalam gelap ia rindu Cahaya. Dalam gelap ia akan bertanya dan meraba. Mencari Cahaya atas kerlip-kerlip yang berkedip. Di bawah gemintang ia tak tergamang, mencari jawaban sendirian. Sunyi yang dulu ia rutuki kini ia syukuri, sebab dalam sunyi tersembunyi arti dan hikmah.Hingga ia temukan bintang fajar. Pemberi harapan akan keluasan cahaya. Dan ia pun sampai pada keheningan pagi yang akan mengantarnya melayari keteduhan melebihi kesyahduan senja, pada kebeningan langit yang selalu dirindukan jiwanya. Pada akhirnya ia syukuri pertemuannya dengan pagi yang telah menunggunya.

Sekali lagi,ia ingin berterima kasih pada lelaki itu: yang hilang bersama keindahan senja untuk sekedar mengantarnya menapaki malam.

melayari sunyi, medio januari’08

Iklan

3 pemikiran pada “Kepada Lelaki Senja

  1. boemisayekti said: Perempuan itu ingin berterima kasih padanya. Pada lelaki yang memberinya sepotong keindahan:senja,dan sepotong sunyi: malam. Seperti juga keindahan senja, yang teduh dalam remang jingga,syahdu dalam temaram dan semilir bayu. Hanya sekejap kemudian lenyap. Begitupun senyum di wajahnya tak kekal. Belum puas ia menikmati keindahan senja, lelaki itu begitu saja menghilang bersama jingga yang memudar dalam hitam, dan memberinya sepotong malam, membiaskan kelam dan sedih. Untuk itu pun, ia ingin berterima kasih padanya. Karena dalam gelap ia rindu Cahaya. Dalam gelap ia akan bertanya dan meraba. Mencari Cahaya atas kerlip-kerlip yang berkedip. Di bawah gemintang ia tak tergamang, mencari jawaban sendirian. Sunyi yang dulu ia rutuki kini ia syukuri, sebab dalam sunyi tersembunyi arti dan hikmah.Hingga ia temukan bintang fajar. Pemberi harapan akan keluasan cahaya. Dan ia pun sampai pada keheningan pagi yang akan mengantarnya melayari keteduhan melebihi kesyahduan senja, pada kebeningan langit yang selalu dirindukan jiwanya. Pada akhirnya ia syukuri pertemuannya dengan pagi yang telah menunggunya. Sekali lagi,ia ingin berterima kasih pada lelaki itu: yang hilang bersama keindahan senja untuk sekedar mengantarnya menapaki malam. melayari sunyi, medio januari’08

    Ngkali nia tlah tak-lupa katakanAlhamdulillah.

  2. boemisayekti said: Perempuan itu ingin berterima kasih padanya. Pada lelaki yang memberinya sepotong keindahan:senja,dan sepotong sunyi: malam. Seperti juga keindahan senja, yang teduh dalam remang jingga,syahdu dalam temaram dan semilir bayu. Hanya sekejap kemudian lenyap. Begitupun senyum di wajahnya tak kekal. Belum puas ia menikmati keindahan senja, lelaki itu begitu saja menghilang bersama jingga yang memudar dalam hitam, dan memberinya sepotong malam, membiaskan kelam dan sedih. Untuk itu pun, ia ingin berterima kasih padanya. Karena dalam gelap ia rindu Cahaya. Dalam gelap ia akan bertanya dan meraba. Mencari Cahaya atas kerlip-kerlip yang berkedip. Di bawah gemintang ia tak tergamang, mencari jawaban sendirian. Sunyi yang dulu ia rutuki kini ia syukuri, sebab dalam sunyi tersembunyi arti dan hikmah.Hingga ia temukan bintang fajar. Pemberi harapan akan keluasan cahaya. Dan ia pun sampai pada keheningan pagi yang akan mengantarnya melayari keteduhan melebihi kesyahduan senja, pada kebeningan langit yang selalu dirindukan jiwanya. Pada akhirnya ia syukuri pertemuannya dengan pagi yang telah menunggunya. Sekali lagi,ia ingin berterima kasih pada lelaki itu: yang hilang bersama keindahan senja untuk sekedar mengantarnya menapaki malam. melayari sunyi, medio januari’08

    semoga …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s