Perjalanan

“Mbaknya muslim yang baik,” komentar teman adik kost saya,ketika saya mampir ke kost dan menceritakan kedatangan saya ke Yogya.

Muslim yang baik mau menenuhi undangan,begitu?

Sebenarnya, bukan karena itu saya datang ke Yogya,mau jauh-jauh datang kondangan nikahan teman lama. Saya sendiri ‘heran’ terhadap diri sendiri. Biasanya paling malez kondangan ke luar kota ,mencoba mendata berbagai alasan:yang jauhlah, besoknya kerja jadi waktu mepetlah, males datang sendirilah,dll. Tapi kali itu,saya justru mendata banyak alasan agar bisa traveling ke kota gudeg.
Pertama,teman saya itu baik banget. Saya masih punya janji yang belum terpenuhi:main ke rumahnya. Saya pengen melunasi janji itu di hari nikahnya-meski undangan walimahan nggak di rumahnya-
Kedua,ini alasan tiba-tiba melintas meski agak out of conteks. Saya ingat bapak saya yang selalu berusaha baik dengan sesama. Saya pun percaya hubungan sebab akibat-nanam baik Insya Allah dapat baik-,seperti juga dikisahkan dalam Einstein Dream. Ada karma. Saya ingin apa yang saya lakukan SAAT ITU berdampak baik buat saya (ga Lillahita’ala-kah kalo seperti ini). Saya bukannya ngarep perbuatan ini ada balasannya misal kalo nikah teman saya itu terus datang,bukan lho ya. Sama sekali tidak yang seperti itu!
Namun yang pasti,alasan pokoknya adalah… karena pengen jalan-jalan! Pengen main ke toko buku dan beli buku. Itu alasannya. 😀

Melakukan perjalanan,saya tahu pasti itu yang sangat saya butuhkan. Saya menyadari betul ketika dalam perjalanan. “Ya,inilah sebenarnya kuinginkan.”

Banyak hal saya dapatkan selama berjalan. Dari mulai berangkat,di bus jurusan Mgl-Yk,saya punya teman duduk yang mengesankan. Seorang ibu,secara penampilan masih muda,namun dia seorang nenek yang melakukan perjalanan demi sebuah visi membahagiakan cucu.

Ibu itu mau jauh-jauh melakukan perjalanan dari Temanggung ke Yogyakarta hanya untuk menanyakan jadwal kereta api di stasiun Tugu.
Beliau berencana mengajak cucunya naik kereta api liburan besok kalau cucunya yang baru belajar di playgroup itu libur. Hari itu hanya nanya jadwal terus pulang, balik lagi besok bareng cucunya! Luar biasa ibu itu, mau bolak-balik sendirian demi cucunya. Cucu yang baru berumur 3 tahun itu ingin sekali merasakan naik kereta api. Dia tidak puas hanya melihat kereta api yang dipajang di museum kereta api di Ambarawa liburan lalu-kali itu juga nenek yang ngajak-. “ Ah, nggak bisa jalan, aku mau yang bisa jalan,” ujar ibu di sebelah saya menirukan perkataan cucunya yang kritis.

“Betapa beruntungnya bocah itu memiliki nenek yang selalu membarikan fasilitas untuk belajar. Betapa beruntungnya bocah itu memiliki nenek yang pintar dan super perhatian serta menyanyaginya.”

Saya merasa iri sekaligus bersyukur, beruntung sekali mengenal ibu itu.” Betapa beruntungnya aku saat ini duduk di bus ini,s atu bangku dengan seorang ibu dan mendapatkan banyak hal,” pikir saya diam-diam di sampingnya.

Inilah yang saya cari dalam perjalanan. Pengalaman. Membuka pikiran, hati, dan jiwa. Bersyukur. Di perjalanan saya punya ruang untuk memikirkan banyak hal yang saya temui, merenungkan banyak hal yang saya pikirkan dan saya alami, juga merenungkan diri sendiri dengan segala yang terjadi pada diri saya belakangan. Beda kalau saya tetap diam di rumah. Stagnan. Yang saya temui hanya rutinitas dan kebosanana sehingga pikiran ruwet, sempit, seperti terkotak-kotak pada kebosanan dan rutinitas. Yah, perjalanan menjadi ruang untuk bermuhasabah. Saya menyadari, memikirkan, dan bersyukur. Menyadari betapa banyak yang ‘kurang’. Bersyukur bisa beristighfar sepanjang perjalanan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s