Tuhan dan Hal-Hal Yang Tak Selesai

Sering saya bertanya-tanya tentang puisi, takjub pada permainan kata-kata dan metaphor yang menghanyutkan, seperti dituntun untuk menikmati. Seringkali pula tak mengerti, apa maksud puisi itu. Kenapa bisa begitu? Atau, menurutku begini. Meski demikian, saya tak menyerah, tetap baca. Nggak ngerti nggak papa, asal bisa menikmati, toh sebuah karya ketika sudah dilempar ke pembaca, sudah menjadi menjadi milik pembaca juga. Jawaban seperti itu saya temukan pula di buku Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai.

Dalam tatal ke-5, GM mengibaratkan puisi seperti tari Serimpi, yang memperoleh pemaknaan dari pergantian, beda, pertautan, kontras, dan pelbagi geraknya sendiri. Ia tak mendapatkan makna yang disahkan sebuah konsepyang sudah siap. Tak ada dasar cerita. Para penari dan penonton tak kunjung bias menceritakan apa persisinya yang hendak di sampaikan sebuah Serimpi. Seperti Serimpi, puisi, juga bahasa pada umumnya, adalah sebuah percakapan yang tak kunjung habis. Ada janji yang tersirat dari makna yang tertunda-tunda-bahkan tak hadir.

Tatal ke-5 dari buku ini sebenarnya bukan ingin membicarakan soal puisi saja melainkan kematian pula. Puisi dan kematian: dalam keduanya keterbatasan diundang janju. Dalam hal kematian janji itu kehidupan yang baka. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna ( hal 14).

Buku yang diterbitkan Kata Kita (2007) ini pun tak melulu berbicara soal puisi, meskipun memang banyak kutipan puisi tersohor semisal dari Subagio Sastrowardoyo, AmirHamzah, Chairil Anwar, Tagore, hingga Haiku. Pembaca diajak berjalan-jalan ke berbagai kota dari berbagai belahan dunia,dengan segala yang terkemuka darinya,berkenalan dengan berbagai tokoh dari abad silam beserta pikiran-pikirannya, hingga menjelajahi agama-agama besar, untuk sampai pada percikan gagasan penulis. Dalam tatal ke-8 misanya, GM memulai esainya dengan pertanyaa “ Tuhanku apatah kekal?” dari puisi Amir Hamzah. Pertanyaan itu coba dijwabnya denegan menhadirkan Ibnu Sina, al-Ghazali, dan Ibnu Rushd dan ‘memperdebatkan’ pemikiran tokoh-tokoh itu dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Pembaca yang terbiasa mengikuti Catatan Pinggir GM tidak akan merasa asing dengan beberapa tatal dalam buku ini. Beberapa tatal memang versi lain dari tema caping. Kesemua tatal,menurut GM dalam prakatanya,ditulis di masa yang kita alami sekarang,ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak,memberi kekuatan,menerangi jalan,tapi juga membingungkan dan menakutkan.

Baca ke-99 “tatal” di dalamnya dengan hati-hati dan resapi… Ada yang puitis,ada yang bergaya khas catatan pinggir.

Iklan

6 pemikiran pada “Tuhan dan Hal-Hal Yang Tak Selesai

  1. huehehe….aku pernah mau membeli buku ini tapi gak jadi (soalnya waktu itu dah kebanyakan bli nya hehehe) hmm, keknya perlu di tambh lagi daftar selantujnya buku ini tertarik di bagian “seperti Serimpi, puisi, juga bahasa pada umumnya, adalah sebuah percakapan yang tak kunjung habis. Ada janji yang tersirat dari makna yang tertunda-tunda-bahkan tak hadir”welll, temanku….thanks udah share review buku ini ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s