[fiksi kilat] Serpihan Hati

“Masa sih sudah nggak ada serpihan-serpihan emosi itu?”
Pertanyaan yang diucapkan temannya itu terus terngiang. Ia tak begitu mengerti arah pembicaraan temannya yang berseliweran dan selalu pindah dari satu topik ke topik lain. Mereka biasa ngobrol ala gado-gado. Kok bisa sampai pada pertanyaan itu,ia lupa tadi mereka membicarakan apa.
Satu pertanyaan itu meninggalkan jejak di kepala,nyantol terus tak mau pergi. Ah,seolah-olah temannya baru saja melongok ke kedalaman hatinya.

Serpihan-serpihan emosi.., serpihan hati?
Sadar atau tidak-sadar setelah diingatkan temannya?- ia memang punya serpihan-serpihan emosi yang sengaja dibiarkan berserak. Ia punya rentetan alasan kenapa ia membiarkan saja serpihan itu. Toh,meski berupa serpihan ia tetap menjaganya.

Tidakkah berusaha menyatukannya? Pertanyaan memberontak tentu seringkali hinggap.
Tidak! Sekali lagi karena iat punya bergerbong-gerbong alasan untuk itu. Ia hanya lakon di dunia. Ia lebih percaya pada Sang Sutradara yang memiliki skenario yang Maha Sempurna. Waktu mungkin saja tidak berpihak padanya sehingga serpihan-serpihan itu tak berusaha disatukannya. Apa boleh buat,kalau itu yang terbaik,ia akan mohon berlapis-lapis keikhlasan dan kesabaran untuk tetap menjaganya. Jika sebaliknya, Sang Sutradara meminta waktu untuk membentuk serpihan-serpihan itu sempurna,tentu ia akan sangat bersyukur. Dan…semoga syukurnya tak pernah aus. Ia akan mohon pada-Nya agar CINTA membentuknya menjadi keabadiaan.

[Repost from myfb]

Iklan

18 pemikiran pada “[fiksi kilat] Serpihan Hati

  1. Iya, knp dg mini cerpen? Cerpen sudah berarti cerita pendek ya? Jd pendeknya seberapa tetep aj namanya cerpen,ga da batasan pendeknya kan?asal slese dibca skali duduk. Tpi boleh dunk saya buat kriteria sndiri utk tulisan2 saya….Terima kasih,pertanyaan itu muncul juga,ternyata. . .-sudah menduganya- He he. . .ato pertanyaannya bukan kesitu? 😀

  2. Tentu saja setiap orang berhak menamai apapun itu “tulisan sendiri”. Hanya saja, bayangkan kalau ada seorang yang baru belajar, dan memaknai definisi ini sebagai definisi umum? Menyesatkan, bukan? cerita pendek itu ada yang membatasi minimal 1000 kata , maksimal bisa sampai 20000 kata. Sedangkan untuk yang kurang dari 1000 kata, sering disebut flash fiction. Untuk flash fiction, ada juga komunitas yang sepakat membagi tulisan mereka, menjadi cerita 100 kata, 200 kata, 300 kata (tergantung kesepakatan). Saya pernah melihat catatan seorang prosais Agus Noor, membuat istilah baru lagi yakni: Fiksi Mini yang dimana dalam 2 baris sebuah cerita mesti klimaks. (apakah ukuran ini diterima secara umum, saya kurang tahu. Karena ada yang menganggap itu termasuk puisi bebas juga)Ada juga yang tak mau ribet soal panjang pendek tulisannya, dan tetap menamai tulisannya, sebagai prosa (karangan bebas) saja. Tentu saja saya tadinya mengharapkan penjelasan logis, ketimbang sebuah kalimat bahwa “penulis berhak membuat kriteria untuk tulisannya sendiri”. Kalau memang suka-suka, lalu kenapa diposting ?(kenapa tidak dibaca sendiri)?

  3. Penjelasannya sudah kronologis, nha sudah dibantu utk menjelaskan. . . :p. . .yg mau belajar,sudah cukup jelas?boleh dunk suka-suka,ini rumah saya,bebas menyajikan apasaja,yg suka silakan enggak juga gpp, tak ada ‘seleksi’ spt di media massa ato penerbit, ini tempatnya berekspresi tnp saringan. . .Kalo ad yg mau belajar,smga mereka cukup cerdas utk menggali bnyk info,ga berhenti percaya pada satu info-tulisan- saja. . .tulisan ini misalnya. Saya juga bru belajar. . .Tengs,bareng2 blow up our brain! :DTeruskanlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s