Kesaksian Anak Bosnia Tentang Tragedi Sarajevo dalam Sebuah Buku Harian

Beruntung, ketika jalan-jalan di shoping center Yogyakarta ketika kuliah dulu, di los buku-buku bekas, saya tak sengaja menemukan buku ini. Murah meriah. Begitu selesai membaca, saya tertarik membaut catatannya. Tapi lagi-lagi, hanya tersimpan. Yup, sekarang lagi seneng ngumpulin catatan-catatan lama…  Ini dia catatan yang saya tulis di suatu hari yang tak tercatat tanggalnya.
*****

Perang mampu menghancurkan, membunuh, membakar, memisahkan, dan membawa kemalangan, terlebih bagi anak-anak dan wanita. Bagaimana kekejaman perang, dapat dilukiskan oleh seorang anak Sarajevo bernama Zlata Filipovic dalam Buku Harian Zlata-Jeritan Seorang Anak Bosnia.
Zlata Filipovic dilahirkan pada tanggal 03 Desember 1980 di Sarajevo. Anak tunggal itu memiliki orang tua yang keduanya asli Sarajevo dan beragama Islam. Walaupun demikian, dlam silsilah keluarganya ada pula nenek moyannya yang berdarah Kroasia dan Serbia. Zlata sendiri kurang senang menyebut apa nama kebangsaaannya. Ia membenci perbedaan-perbedaan yang ternyata menjadi pemicu pecahnya perang.
Buku ini memuat catatan harian tertanggal 10 September 1991 hingga tanggal 19 Oktober 1993, saat perang berkecamuk di Bosnia. Sebelum perang melanda Sarajevo, tempat tinggal Zlata, ia bis menikmati kehidupan masa kecilnya dengan bahagia, bersekolah, mengikuti kegiata, bermain music, menonton pertunjukan music dan video klip MTV dan juga memliki impian khas anak kecil seperti berkeinginan memilki tanda tangan Michael Jackson. Zlata menghabiskan waktunya dengan normal.
Tanggal 5 Maret 1992, Sarajevo, seperti ditulis Zlata, berada di ambang waktu menetas. Zlata mendengar bahwa tanggal 2 Maret 1992 malam tchetniks (Nasionalis Serbia) telah tiba di Pale dan bersiap menyerbu Sarajevo dengan Bascarsija sebagai sasaran utama. Belum ada pertempuran di Sarajevo. Tidak demikian dengan daerah lain yang terletak di Bosnia-Herzegovina. Zlata menyaksikan kecamuk perang itu melalui pesawat TV. Mulai tanggal 09 April 1992, Zlata pelan-pelan kehilangan kehidupan anak-anaknya di sekolah. Tak ada satu sekolah pun yang berani membuka pintunya.
Kecamuk perang benar-benar dialami sendiri oleh Zlata dengan mortar-mortir menghujani daerah-daerah baru Sarajevo. Zlata menuliskannya mulai tanggal 12 April 1992. Penderitaaan akibat perang mulai dirasakannya. Ia kehilangan orang-orang yang dicintainya karena meninggalkan Sarajevo dan tertembak mati, kekurngan bahan makanan, aiar, listrik, dan gas. Tanpa itu, hisup pun berjalan seperti tanpa kehidupan. Perang telah merampas kebahagiaan yang dimilki Zlata. Di saat anak-anak keil lain menikmati bangku sekolah dengan penuh keriangan—saya waktu itu sedang seneng2-, Zlata harus melewatkan hari-harinya yang suram di tempat persembunyiannya di bawah tanah.
Zlata menunjukkan kepada dunia luar bagaimana perang menghancurkan segalanya. Bocah itu mengajak kita ikut mengalami kepedihan, ketegangan akibat serentetan mortar, bom yang dijatuhkan sebagai damppak tidnakan bodoh politik yang menghendaki pemisahan Serbia, Kroasia, dan Muslim. Tak ada yang menghendaki pemisaha itu. Dimana-mana pemisahan hanya rencana penguasa setempat atau elit-elit politik tanpa menanyakan pendapat penduduk. Orang-orang kecil selalu menajadi korban, tak terkecuali yang kita alami di Indonesia.
Kata-kata yang dirangkai bocah itu mampu membawa pembaca masuk ke dunianya. Kepeiawaiannya menulis didapat berkat kegemarannya membaca buku. Membaca dan meniulis adalah kegiatan paling ampuh untuk membunuh kegetiran hidup di bawah tanah. Salah satu buku yang dijadikan model bagi tulisannya adalah Catatan Harian Anne Frank. Beberapa wartawan, juru potret, juru kamera yang dating ke rumahnya untuk membuat film, membandingkannya dengan Anne. Perbandingan itu membuatnya takut nasibnya akan sama dengannya, tak sempat menikmati masa kebebasan. Anne Frank mati muda di kamp konsentrasi Jerman sast perang dunia II. Sebelum ditangkap, Anne menulis catatan hariannya di tempat persembunyian di rumahnya akibat perburuan warga Yahudi oleh Jerman di negeri Belanda.
Buku Harian Zlata menjadi alat perjuangan Zlata sebagai korban perang Sarajevo untuk menyadarkan setiap orang tentang drama yang terjadi di Bosnia. Buku ini menjadi dokumentasi sejaran mengenai sisi-sisi gelap kemanusiaan dalam perang. Beberapa foto Zlata dan keluarganya sebelum dan sesudah pecahnya konflik, lukisan di halaman tertentu, serta lagu “ Bosnia Berlaga Dalam Pilu” oleh Frank Jazic yang disalin oleh Zlata Filipovic melengkapi catatan-catatan yang ditulis oleh Zlata.

***foto hasil googling***

Iklan

8 pemikiran pada “Kesaksian Anak Bosnia Tentang Tragedi Sarajevo dalam Sebuah Buku Harian

  1. elok46 said: perang selalu meninggalkan luka

    @ hesty: iya, menulis itu menyembuhkan. Bgi qt skrg, klo lagi buneg nulis bsa sdkt cair. . . . @ ria : ehm. . .itu ngumpulin catatan lama mbak,he he.skrg lambat kalo baca,ga slese-slese. Ayo bukumu yg buanyak itu diceritain ke qt 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s