Menelusuri Sejarah Riau Lewat Igauan

Kalau teman-teman main ke perpustakaan atau toko buku—tapi kayaknya di toko buku sudah jarang ditemukan—dan melihat buku berjudul Hempasan Gelombang ini, ambil dan ejalah lembar demi lembarbya. Buku ini akan mengajak teman-teman berpetualang ke tanah Riau. Saya mengikuti jejak kakak saya yang sudah terlebih dahulu membacanya. Waktu itu, perpustakaan kecamatan tempat buku itu ditemukan masih baru, jadi kami lumayan rajin ke perpus dan membawa pulang nggak cuma 1 atau 2 buku. Kakak saya bilang, ceritanya aneh, nyritake wong nglindur. Perkataan itu justru memancing rasa ingin tahu saya, jadi saya memintannya untuk tidak mengembalikan buku itu dulu.

Roman karya Taufik Ikram Jamil ini merupakan peraih juara harapan dua dalam seyembara penulisan roman Indonesia Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998. Harian Repulika kemudian memuatnya secara berasambung dari 16 Februari s.d 25 April 1999.

Ada dua cerira yang pada intinya sama yaitu perebutan tanah oleh penguasa. Cerita pertama mengenau perebutan tanah rakyat (perkebunan) oleh pemerintah untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit. Cerita yang kedua mengenai sejarah Riau yaitu penguasaan beberapa daerah di Sumatera oleh Belanda setelah Traktat London. Sejarah Riau itu dinarasikan lewat cerita dalam tidur (igauan) beberapa tokoh. Tokoh yang paling banyak menceritakan sejarah itu adalah anak dari seorang wartawan yang menjadi tokoh utama.

Sang wartawan dalam cerita itu sedang menghadapi kasus perebutan tanah rakyat di desa keluarga Kahar. Tentu saja apa yang dilakukannya membawa masalah. Keluarga Kahar yang sangat kukuh mempertahankan tanahnya dipaksa oleh penguasa dengan berbagai cara, yang paling sadis dianggap PKI yang menghambat pembangunan (pemberontak). Sebelumnya keluarga itu disuap dengan uang dan uangitu sampai pula di tangan sang wartawan namun ia tentu saja menolaknya mentah-mentah.

Karena tulisan-tulisannya, sang wartawan menjadi sasaran pembunuhan yang dilakukan oleh 5 orang suruhan saat dia berkunjung ke desa Kahar. Usaha tersebut diketahui oleh Kadir, tukang ojeg langganan sang wartawan yang selalu mengantarnya kemanapun ia pergi. Kadir didatangi oleh orang tua yang mengaku bernama Wustan Wal Qubra. Orang tua berjubah dan bersorban yang memiliki tahi lalat timbul dan berbulu menjuntai di dagunya itulah yang menyuruh Kadir mengamankan sang wartawan.

Yang menarik, orang tua tersebut adalah orang tua yang sering dilihat Sultan seperti yang diceritakan dalam tidur anak sang wartawan. Dalam kehidupan nyata, orang tua itu juga berkali0kali melintas di depan rumah wartawan. Anehnya lagi, Wustan Wal Qubra adalah nama kitab yang hilang dari almari perpustakaan dalam cerita sejarah Riau.

Saya tidak bias bercerita tentang sejarah Riau sebab begitu banyak nama disebut dan saya tidak punya cukup wawasan tentang Riau yang mendukung pembacaan sejarah Riau seperti diceritakan tokoh-tokoh saat tidur. Dalam buku ini, sejarah Riau diakhiri dengan penguasaan Belanda atas riau sepenuhnya. Keluarga Sultan harus meninggalkan Riau ke Singapura diantar oleh Kria.

Bagian cerita yang membuat terhenyak adalah cerita Kadir kepada wartawan tentang igauan anaknya. Ternyata Kria adalah leluhur wartawan. Kemudian Wustan Wal Qubra dating lagi kepada Kadir dan memberitahu bahwa sebagai kitab yang belum selesai dibuat, ia harus diselesaikan. Menurutnya, orang yang harus menyelesaikannya adalah wartawan itu.

Penyelesaian penulisan Wustan Wal Qubra merupakan amanah. Dalam sejarah Riau, Sultan berkali-kali melihat Wustan Wal Qubra. Sultanlah yang memilki amanah untuk mengembalikan hak rakyat Riau dari penjajah. Sultan punya amanah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di Riau (Wustan Wal Qubra hilang sama dengan hilangnya hak-hak rakyat, seperti juga hilangnya tanah-tanah perkebunan karena penguasa. Wartawan juga punya amanah lewat tulisan-tulisannya untuk membela dan menyuarakan aspirasi para pemilik tanah-tanah perkebunan itu.

Roman ini menarik baik dari segi cerita maupun alurnya: bertumpang tindih antara dunia nyata dan dunia yang dinarasikan dalam tidur. Jangan bayangkan roman ini njlimet, sama sekali tidak! Justru dari lembar ke lembar membuat penasaran.

Iklan

12 pemikiran pada “Menelusuri Sejarah Riau Lewat Igauan

  1. gadys89 said: tadi itu pas hesty koment belum submit , e…pak zy udah koment duluan , hehe * kirain hesty yg pertama rupanya keduluan *

    Cari dan baca aja mbak,he he he. . .provokator! Gemes siy kalo ada cerita bagus,pengennya orang lain juga ikut bca… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s