Dilema UN

Tiba-tiba Esti merasa celotehan ke-3 temannya di angkot siang ini basi di telinganya. Biasanya, ia menjadi kompor di setiap kumpul-kumpul,begitu kata teman-temannya. Gatel saja kalau tidak urun suara. Tapi kali ini, dia lebih sibuk memikirkan wejangan para guru pada pertemuan terakhir di kelas hari ini. Besok Senin hari H yang membuat dia dan semua anak kelas XII deg-degan.

Mendapati kebisuan Esti, Rini menyenggol Dani dengan sikunya,dagunya diarahkan pada Esti. Dani mengangkat kedua bahunya.

“Heh, melamun saja dari tadi?!” Lina yang juga menyimpan rasa heran menepuk bahu Esti.
“Eh. . .eh, ngagetin aja!”
“Tumben. Kenapa kamu? Setegang apapun biasanya kamu ga tahan diam.” Rini membuka rasa penasarannya.
“Kenapa? Mikirin besok Senin ta?”
“Em. . .iya. . .um,tapi aku lebih bingung dengan pesan guru-guru tadi.”
Esti menangkap pertanyaan lanjutan ke-3 temannya lewat mata mereka.
“Gimana nggak bingung coba kalau pesan mereka beda-beda,eh maksudnya ada satu guru yang beda dengan guru lain.” Esti berhenti sebentar.
“Di kelasku tadi, bu R pesan pada Bagas, Aan, dan Rizal agar mau bertanya pada temannya karena nilai UCO-nya selalu jelek. Mereka emang paling males kan buat usaha tanya sana sini. Trus bu A pesan agar kita kompak,yang pinter-pinter nggak boleh pelit,menolong teman yang gak mampu,” Esti ingat,dia termasuk siswa yang dipasang menjadi ‘master’ di ruang 3. ” Pak B ngasih trik minta jawaban pada teman. Nha, ini yang terakhir, yang tadi disambut sorak-sorai seluruh kelas itu lho, bu C pesen ‘jangan tergantung pada orang lain karena sebenarnya kalian mampu! Daripada buat lirak-lirik cari contekan, waktunya dipake buat mikir.”

Ketiga temannya memandang Esti terpaku. Tidak beda dengan kelas mereka. Rini dan Lina menggaruk-garuk kepala yang tertutup jilbab –ngusek-usek jilbab–.
“Tauk deh”. Dani membuka suara.
“Hem. . .EGP!” Lina menyambung.
“Huuh. . .emang bikin bingung.” Rini geleng-geleng kepala.”Gimana sih, gak bisa dipake panutan!”
“Itu dia.” Esti menunjukkan jarinya.

***

Esti menghabiskan makan siangnya lebih cepat dari biasanya. Suap demi suap dinikmatinya tanpa banyak cakap. Tanpa menu ‘cerita’ di sela tiap sendokannya. Ibunya yang sliwar-sliwer dicuekin. Biasanya dipaksa duduk mendengar celotehnya.

Sore. Acara TV dinikmatinya nirkomentar. Ibunya menangkap keluarbiasaan Esti kali ini.

Tak tahan dengan keanehan Esti, ibunya mulai mencairkan kebisuan Esti sejak pulang sekolah tadi. “Udah, kamu ndak usah tegang. Kalau diem terus gitu orang rumah malah bingung. Ibunya langsung menebak arah kerisauan Esti.
“Justru Esti diem karena bingung Buk.”
“Iya Ibuk tahu, tapi kamu tenanglah. Kamu sudah cukup usaha tak Nduk.”
“Bukan itu Buk. Esti bingung dengan pesan guru-guru tadi. Aneh deh, gak kompak ngasih motivasi. Masak yang satu berpesan untuk tidak tergantung teman,Bu C bilang kita semua mampu,gak usah lirak-lirik. Tapi yang lain nyaranin turun-turunan. Mana coba yang diikutin nanti di kelas?”
Sontak ibunya menarik kedua ujung bibirnya.
“Ya kalau menurutmu mereka tak bisa buat panutan, kamu buat panutan sendiri, ikuti kata kamu sendiri.” ibunya tersenyum.
“Lho?” Esti garuk-garuk kepala. Bayangan kakak-kakak kelasnya yang meraung-raung tahun lalu membuatnya bergidik. Dia tak boleh seperti mereka. Bagaimana kalau nanti soal-soalnya tak bisa ditaklukan pikirannya?
“Kamu toh sudah mau lulus SMA,Nduk,wis gedhe, bisa to milih mana yang baik buat kamu. Ya?” Ibunya tahu,Esti bukan anak yang mudah ikut-ikutan.
Esti manggut-manggut. Ucapan ibunya semakin membuatnya larut dalam bungkam hingga ia lelap.

00:05
*nyuekin setumpuk koreksian tes*

Iklan

10 pemikiran pada “Dilema UN

  1. ayanapunya said: Aku lembur ngitung rab.tp bnykan ngempinya ketimbang ngitungnya.heBtw jd guru skrg agak dilematis ya.krn g pengen siswanya gagal ujian, akhirnya kdg ngajarin yg g baik

    lembur sampe jam berapa semalam?yang dilematis malah siswanya–korban– karena diajarin gak baik itu. sebenarnya klo gurunya punya pilihan, mau ngajarin prinsip baik atau malah ngajarin nggak jujur…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s