Sebuah Perkenalan

“Kita pun saling sepakat untuk tidak pernah saling sepakat”. Bagaimana tepatnya kata-kata yang diucapkan Helvy Tiana Rosa dengan salah seorang penulis perempuan saya agak lupa, tapi kurang lebih seperti itu yang saya ingat. Saya tertawa membaca penutup sebuah artikel yang judul, edisi, dan majalahnya pun tidak saya ingat. Waktu itu mbak Helvy menjadi pembicara bersama beberapa penulis perempuan dalam sebuah diskusi sastra. Kaata-kata mbak Helvy itu begitu berkesan hingga itu saja yang sulit hilang dalam ingatan.

Tidak sepakat dalam hal apakah mereka? Hem… banyak hal barangkali. Tapi yang pasti, Helvy Tiana Rosa tidak pernah sepakat dengan penulis itu dalam hal mengekspresikan kebebasannya dalam menulis, atau bagaimana perempuan memperjuangkan dirinya untuk memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki. Saat itu dunia kepenulisan [perempuan] sedang gencar-gencarnya dengan tema perempuan menulis, sastrawangi, hingga isu-isu feminisme—bahkan hingga saat ini isu tersebut masih hangat di Indonesia–.
Di saat dunia sastra [perempuan] Indonesia sedang heboh dengan eksplorasi tubuh sebagai bentuk pendobrakan terhadap pengekangan atas krativitas perempuan Helvy punya misi tersendiri dalam karya-karyanya. Visi misinya dalam menulis yang diusung oleh karakter-karakter dalam setiap karya-karyanya menjadi nafas bagi organisasi penulis muda yang dipeloporinya: Forum Lingkar Pena. Menulis untuk dakwah, seperti itulah nafas setiap tulisannya.
Perempuan “ kuat” menurut Helvy Tiana Rosa adalah seperti Syafiyah dalam epik “Bara Syafiyah” (komik bersambung dalam Annida Tahun VIII 1998—1999) atau Cinta dalam cerpen “Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin (Annida No.7/VIII/Maret—April 1999), Nguame dalam “Mc Alliester ( komik bersambung dalam Annida Tahun ke IX). Perempuan-perempuan itu mampu bertahan, berjuang, hingga melawan di daerah konflik. Mereka bisa menunjukkan eksistensinya dalam kecamuk konflik—perang—yang berpotensi terhadap penindasan perempuan oleh laki-laki seperti di Palestina ( “Bara Syafiyah”), Ambon (“Sebab Aku Cinta Sebab Aku Ingin”), pembantaian di muslim di Provia ( “Mc Alliester), atau di Aceh ( dalam cerpen “Jaring-Jaring Merah” dimuat di Horison).
Selain satu cerpen yang saya sebut diakhir, cerita-cerita di atas saya kenal lewat majalah Annida: Sahabat Remaja Berbagi Cerita, yang dipimpinnya waktu itu. Lewat majalah itulah saya pertama kali mengenal Helvy Tiana Rosa yang lahir 2 April empat puluh tahun yang lalu. Helvy Tiana Rosa banyak menulis tema-tema perjuangan di daerah konflik. Selain beberapa cerita di atas, sebut saja cerpen “Pattimura” di Ambon—konflik di gambarkan setelah tokoh Pattimura tinggal di Ambon—( dalam Annida No.8 Th. IX 2—15 Februari 2000), “Syahid dan Syuhada” di Palestina ( komik bersambung dalam Annida No.X 2000—2001). Helvy Tiana Rosa mungkin tidak bisa terjun langsund ke daerah-daerah konflik, tapi semangatnya terasa dalam cerpen-cerpennya untuk menggugah kepedulian pembaca. Saya yang waktu itu masih SMU jadi tahu apa yang terjadi dengan saudara-saudara di belahan lain di negeri ini bahkan di dunia. Karena tahu jadi peduli, dari peduli itu minimal ada doa untuk mereka.
Helvy Tiana Rosa tak hanya menghembuskan angin dari daerah konflik saja lewat karya-karyanya, tidak hanya bara. Mas Gagah dalam dalam novelet Ketika Mas Gagah Pergi pernah menyentuh hati saya dan saya tak pernah bosan membacanya meski setiap kali membaca selalu menangis. Remaja seperti saya yang pada waktu itu sedang belajar memakai jilbab—sekarang pun masih belajar dink—tersengat membaca novelet itu. Kemudian ada sindirran terhadap praktek beribadah saya temukan dalam cerpen “Juragan Haji” (Annida No.I /X/11 Oktober 2000). Cerpen itu bertutur tentang kerinduan seorang wanita tua yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga terhadap panggilan-Nya untuk datang ke Baitullah. Kerinduannya begitu terpendam bertahun-tahun sementara majikannya sudah datang ke Baitullah berkali-kali hanya untuk gengsi.
Ironi yang ditampilkan Helvy Tiana Rosa dalam cerpen-cerpen itu seperti tingkah laku majikan dan anaknya yang juga akan segera menyusul berhaji yang jauh dari akhlakul karimah biasa ditemui dalam cerita-cerita lain—Hajjah berhenti dalam tataran status dan gelar saja. Meskipun tentu saja teknik bercerita Helvy lebih unggul dibanding cerita-cerita yang saya baca, dibanding cerpen-cerpennya yang lain “Juragan Haji” kurang meninggalkan kesan di hati saya.
Karir kepenulisan Helvy Tiana Rosa sangat cemerlang, bahkan oraganisasi kepenulisan yang dipeloporonya, Forum Lingkar Pena, berhasil menjadi organisasi penulis muda dengan jumlah anggota terbanyak di seluruh Indonesia. Lebih dari itu, FLP berhasil membuka cabang di luar negeri seperti di Hongkong dan Mesir. Ksecermelangan itu beriringan dengan kecemerlangannya sebagai seorang istri dan ibu di keluarganya. Tak jauh dari dunia tulis menulis, satu hal yang meninggalkan jejak di hati saya adalah perannya sebagai seorang bunda dari Abdurrahman Fiaz. Tulisan-tulisan dan puisi-puisi bocah itu selalu membuat saya geregetan. Faiz-nya saja begitu keren, bagaimana dengan bundanya, wanita pertama dalam hidup Faiz: bagaimana bundanya memperkenalkan Faiz cara memandang hidup dari kacamata bocahnya. Tentu begitu amazing. Saya tergetar membaca pusi Faiz yang mengambil metafora kupu-kupu itu—judulnya maaf lupa, sudah lama sekali–.

Pada akhirnya, selamat milad kepada Mbak Helvy Tiana Rosa yang ke-40…Semoga segala berkah dari ALLAH di tahun ini ada pada mbak Helvy, sebagai seorang bunda, istri, dan penulis inspiratif, amin…

Foto dari: FB Helvy Tiana Rosa

Iklan

17 pemikiran pada “Sebuah Perkenalan

  1. mbak, ini buat lomba kah? kalau buat lomba ga boleh di publikasikan mbak.. :)Sepakat untuk tidak sepakat ketika terjadi debat antara mbak Helvy dengan Djenar, dua penulis wanita yang sangat berbeda. mereka dua kutub yang berbeda tapi menguraikan ketidaksetujuan tanpa emosi dalam forum. Sy suka banget tulisan mbak Helvy tentang itu.. 😀

  2. Wah, kalo saya paling suka cerpen “Sebab Aku CInta Sebab Aku Angin”. Tiap kali baca saya selalu nangis. Pokoknya beliau keren banget deh. Saya juga pernah nonton forum diskusi antara mbak Helvy dan Djenar yang keren abis (Mbak Helvy nya) Met milad ya Mbak Helvy 🙂

  3. bknpenulis said: hm, manggut-manggut. Aku belum pernah baca karyanya bu helvy sih.

    Kalo saya sering baca cerpennya mbak Helvy tapi kalo bukunya susah ketemu. Yang pernah saya baca “Risalah Cinta” sama Watashi… (judulnya lupa)”. Ada yang tau judul buku lain yang pernah di tulis Mbak Helvy?

  4. bknpenulis said: hm, manggut-manggut. Aku belum pernah baca karyanya bu helvy sih.

    @yant165:iya,pgn iktan lomba, blm pernah ikt lomba kepenulisan,pgn nyoba.um. . .kok syarat yg kubca lebih suka klo ditlis di blog ato fan pagenya HTR ya,jd saya tlis dsni trz sy link di fbnya mb HTR, :)Iya sy ingat, sma Djenar beliau bicara tp kok sy lupa dg artikelnya di mana itu? Bhsnya tetep santun ya dlm ketidaksetujuannya. . .^^

  5. bknpenulis said: hm, manggut-manggut. Aku belum pernah baca karyanya bu helvy sih.

    @azkaria91:met kenal,trims dah singgah. . .Saya jg suka cerpen itu terutama dr sudut pandangnya. Bku2 HTR yg lain ada Lelaki Kabut dan Boneka, Akira Muslim Watashi Wa, emang susah dicri, sy dlu nyari 2 buku it ga dpt. Iya, Risalah Cinta udah bc juga. Yg lain itu bku kumpulan kisah inspiratif brsma penulis lain, ad yg breng Asma Nadia. .. Pernh dngr juga buku drama tp lupa judulnya. . . 🙂 cma itu yg saya tahu,mgkn bisa googling aja ^^

  6. bknpenulis said: hm, manggut-manggut. Aku belum pernah baca karyanya bu helvy sih.

    TFS juga :)Iya nih sayang banget kalo buku2 mbak HTR ga di baca. Bagus banget soalnya…Iya, kangen juga baca Annida, ga bisa baca di angkot lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s