Dari Museum Kereta Api Ambaraawa ke Stasiun Bedono: Naik Kereta Api Tuut…Tuut…

      

    Berbekal sedikit informasi mengenai lokasi museum Kereta Api, saya meninggalkan Palagan Ambarawa, berjalan menuju museum yang selalu membuat penasaran, terlebih sejak perjalanan ke Yogyakarta bareng seorang ibu di bus. Karena menurut informasi tidak begitu jauh di jangkau dengan jalan kaki, saya tak  berminat naik angkot. Nyatanya agak jauh juga. Ditambah lagi, dari jalan utama masih masuk beberapa meter, tapi Alhamdulillah lokasi mudah ditemukan. Selain plang yang memberi petunjuk arah, di pertigaan menuju museum ada lokomotif yang menandai jalan menuju lokasi.    Masuk museum, telinga dimanjakan oleh alunan music etnik, indah, mempesona. Sambil membayar tiket, saya memandang berkeliling. Di atas rel, saya melihat kereta kecil (lori) sarat penumpang, siap berangkat. Dari petugas tiket, saya mengetahui kalau mau naik lori itu, naik saja, pembayaran dilakukan di atas kereta. Saya tertarik.
           Dari loket, saya mencari sumber suara music. Ohhh…ada  pengamen  memainkan alat music tradisional dengan suara suaranya khas: seperangkat angklung dan perkusi di tengah stasiun ( jadi inget waktu jalan-jalan ke kawah Sikidang Dieng, ada musisi local juga). Oiya, museum itu saya sebut stasiun sebab museum itu memang labih mirip stasiun, atau dulunya memang stasiun?     Kereta-kereta tua tempo dulu  terpajang di sekitar stasiun, memanjang.
          Di stasiun sendiri saya memasuki 3 ruangan: ruang tunggu kereta( berbentuk  seperti ruang tamu dengan satu set meja kursi di tengah ruangan), ruang kepala stasiun dan ruang pamer. Ruang pamernya saya lupa, ada berapa ruang ya, sepertinya dua ruang, berbentuk memanjang. Di dinding nya tertempel berbagai foto dan gambar all about  station, tempoe doloe, tidak hanya di Ambarawa saja tetapi Semarang dan Yogyakarta juga. Di tengah ruangan, ada meja kaca memanjang berisi peralatan kereta api, telepon-telepon tempoe doeloe, mesin ketik, mesin hitung (sudah pernah melihatnya di museum BPK dan Bumiputera Magelang ) dan berbagai alat yang tak saya ketahui namanya karena tak ada label, tak ada guide juga.
           Begitu pula di keempat sisi ruangan ada almari dan rak pajangan.  Di bagian luar ruangan, dinding-dinding dipenuhi dengan pajangan gambar dan informasi mengenai stasiun (museum).    Selain pengamen yang memainkan music etnik, ada lagi pengamen yang menghibur pengunjung dengan tarian diiringi music tradisional dari kaset.
            Pengamen tersebut  beraksi di sisi yang berkebalikan dengan musisi stasiun itu (entah yang depan mana, yang belakang mana, sisi yang satu menghadap rel kereta api, tempat berangkat dan pulang kereta api, sisi sebaliknya menghadapa berbagai kereta tempoe doloe yang dipajang di sela-sela taman.
          Sambil menunggu kereta datang, menurut informasi dari ibu-ibu yang menunggu juga, kereta datang setelah 1 jam berangkat, saya berkeliling stasiun. Jujur, tidak begitu tenang berkeliling karena takut tiba-tiba kereta datang, penumpang bejubel dan saya tidak dapat tempat, tak nyaman dunk  Saya masuk ke ruang kepala stasiun untuk mendapatkan informasi all about stasiun itu. Di sana banyak pengunjung yang memsan tiket. Dugaan saya, mereka pesan tiket kereta api online. Di ruangan itu memang ada informasi daftar harga tiket kereta api  dan bisa beli dengan online. Di belakang meja kepala stasiun, di white board, tertulis jadwal tour kereta api, penasaran, tertarik!
           Segala pertanyaan saya tentang tour kereta api yang membuat penasaran dijawab oleh kepalas stasiun dengan sinis dan judes. Maklum orang penting, lagi terlihat sibuk pula. Saya bingung, kok informasi yang saya dapat dari bapak di belakang bilik tiket dan bapak kepala beda. Dari pak kepala, informasinaya kalau mau ikut tour harus beli tiket dulu. Bapak kepala sadis banget waktu saya menkroscekkan informasi dari bapak di belakang bilik tiket yang katanya kalau mau naik kereta tinggal naik saja.     “Ya nggak papa kalau mbak mau  saya turunkan di jalan. Apa nggak malu nanti. Itu kalau mbak nggak punya tiket.  Dan sekarang, tempatnya udah penuh!”    Ketika saya Tanya kapan ada tour lagi, jawabnya esok jam 8. Wah… saya  Cuma bengong, tak mungkin bisa ngrasain ikut tour kereta api deh, pasrah.
           “Maaf, saya sibuk,” jawab pak kepala saat saya ingin tahu informasi lebih lanjut.
    [belakangan baru tahu, tour yang diurusi di ruang ini beda dengan tour lori—kereta api kecil–. Kalau yang ini khusus tour kereta api rombongan, bayarnya 3 juta!]    Saya mencoba ngeyem-eyemi diri, yang penting sudah samapi stasiun—museum—ini, nggak bisa ikut tour taka pa, mau gimana lagi? Ketika kemudian kereta datang, pengunjung begitu berjubel, bergerombol di sekitar kereta api. Wah…banyak sekali. Saya hanya memandang mupeng. Pantes lah kalau saya tak bisa ikut, tahu info saja tidak, baru datang pula. Mereka yang di sana sudah menunggu dari tadi mungkin.
          Kereta api hampir berangkat. Dari mikrofon saya mendengar pengumuman, untuk para pengunjung yang tidak punya tiket bisa ikut tour dengan catatan berdiri.
          Berdiri? Tak masalah buat saya.  Saya dekati kepala stasiun yang tadinaya ‘sangar’ untuk mengkorfirmasi.     “Bayar 50 ribu di kereta,” jawab pak kepala yang kesangarannya mendadak lenyap, hehehe.    Cepat-cepat  saya meloncat ke kereta. Di gerbong paling belakang, berdiri! Tak apa.    Saya sendirian di tengah para pengujung yang ‘setil-setil’, bercengkrama bersama keluarga dan rombongan masing-masing. Dipastikan, hanya saya yang datang sendirian dan jalan kaki pula. Penampilan mereka cukup memperlihatkan dari kelas mana mereka be
rasal. Kalau meraka membawa peralatan dokumentasi mentereng, handycam, kamera digital merek  prestisius, ataupun kalau HP, kamerenya beresolusi tinggi, hanya saya yang paling  ‘expired’:  bermodalkan HP dengan kamera VGA.


          Seorang ibu yang sempat mengobrol dengan saya mengatakan saya kendel—berani–. Kendel? Ah, biasa saja, sudah biasa pergi naik kendaraan umum sendirian. Lagipula, jarak Ambarawa ke Grabag seberapa  jauh sih? Ibu dari Yogya itu bahkan mengomentari saya di depan rekannya—atau saudaranya–: mbake kendel. Barangkali mereka menganggap saya masih sekolah. Cihuyyy…penampilan yang menipu!
         Ternyata saya sangat diuntungkan dengan posisi saya.: berdiri di gerbong buntut. Saya leluasa bergerak untuk  mencatat rute perjalanan dengan segala keindahannya. Hamparan sawah dan gunung sebagai background. Sesekali kereta tenggelam di antara rimbun hutan kecil? Yang paling exited, saya bisa menyaksikan pemindahan lokomotif dari depan ke belakang. Pindah? Sebelumnya guide sudah menjelaskan di rute yang menanjak, lokomotif akan mendorong kereta api jadi harus pindah ke belakang. Heran, baru kali ini mendengar ada kereta api yang lokomotifnya mendorong, bukan menarik lagi.     Agak deg-degan kalau dibayangkan. Tapi pasti menarik. Saya leluasa melihatnya. Lokomotif bergerak mundur. Ketika sampai di cabang rel (sambungan) lokomotif bergerak maju kemudian disambungkan ke gerbong paling belakang—gerakannya lambat seperti slow motion—dengan suara gemeretak dan gludak, kereta terguncang sejenak.

            Momen special ke-2 yang tak biasa di jaman sekarang, yang bisa dilihat dengan jelas karena diuntungkan oleh posisi saya adalah kereta berhenti di pinggir sawah untuk mengisi air dari parit sebeleh sawah. Air itu diperlukan untuk  proses penguapan.

           
   Asal tahu saja, kereta yang saya tumpangi adalah kereta jadoel yang masih manual, kereta uap yang pembakarannaya memerlikan kayu—konon kayi jati khusus–. Kereta berhenti agak lama pada proses ini. Saya bisa menyaksikan asap yang berangsur-angsur menebal hitam saat tempo pembakaran cepat dan asap yang berangsur menipis.


           Saya menjadi satu-satunya perempuan yang nggak ‘anteng’. Ikut turun dengan para bapak-bapak dan mas-mas yang menyaksikan pengisian air. Mbak-mbak lebih suka menunggu atau melihat dengan tak jelas dari jendela kereta. Dengan alat seadanya saya bisa mendokumentasikan moment itu. Ah, yang lain gambarnya pasti kinclong-kinclong dengan alat-alat canggih.
          Selesai mengisi, kereta bergerak lagi sampai Bedono. [Ada yang pernah dengar Bedono–kabupaten Semarang–? Pasti sering saat Syeh Puji menjadi selebriti di beberapa berita soal poligami beberapa waktu lalu. Bedono adalah tempat di mana istana Syeh Puji berada]. Perjalanan ke Bedono melewati rel yang pada waktu PP Grabag—Ambarawa selalu saya lihat dari dalam bus. Kalau biasanya saya hanya ‘mbatin’ melihat rel yang saya pikir hanya rongsokan melintang saja, kali itu saya menyusuri kereta api dang anti melihat bus-bus dan berbagai kendaraan yang melintasi jalan antarpropinsi itu—Yogyakarta-Semarang–. Pengalaman yang luar biasa bagi saya,melewati rel-rel yang saya pikir hanya menjadi rongsokan saja. Di stasiun lama Bedono kereta rehat sebentar.

           Para penumpang turun dengan aktivitas yang khas di stasiun: jajan, makan, ngopi, dan ngobrol—saya mendengar beberapa kali nama Syeh Puji disebut-sebut. Si pembicara menunjuk-nun juk arah kediaman Syeh Puji–.
           Pulangnya, dari Bedono menuju Museum Kereta Api, posisi saya menjadi didepan, masih di gerbong yang sama. Saya tak lagi menikmati perjalanan dengan berdiri namun duduk di bangku panjang yang dilintangkan ditengah, diantara deretan tempat duduk.  Dengan begitu, saya punya kesempatan mencatat fakta-fakta kereta jadoel itu. Data itu tertulis didinding belakang gerbong.
    Kereta CR 56 I ( 3rd class rack track coach)
    First date in service: 14-09-1907
    Operasi: 60 tahun
    Rebuilt : 30-06-1973
    Next overhaul: 30-06-1976
    Panjang bodi: 9 m
    Weight coach: 7,6 tons
    Load: 2,5 tons
    Tempat duduk: 40
    Kecepatan: 45 km/jam (max)
    Diameter of oxle: 110m/m
    Brake system: hand brake
    Deflextion: blade spring
   
            Kereta sampai di museum lagi. Alunan music etnik masih menjadi iringan penyambutan, memanjakan telinga. Saya urung melanjutkan keliling-keliling karena hari sudah sore. Setelah membeli satu tas kecil di kios seberang stasiun, saya berjalan meninggalkan museum dengan hati bersyukur puas. Alhamdulillah…


Repost dari diary, Rabu pagi, 30 Desember 2009    

Iklan

32 pemikiran pada “Dari Museum Kereta Api Ambaraawa ke Stasiun Bedono: Naik Kereta Api Tuut…Tuut…

  1. Wah, perjalanan tahun lalu yah? napa gak diikutkan Facebooker traveller aja nih? tahun kemarin, saya ke Sumatera, alhamdulilah, tulisannya lolos ama temen2 FB untuk dibukukan :)Duh, jadi ngiler jalan2 lagi 🙂

  2. boemisayekti said: akhir tahun lalu,,,, udah jarang fesbukan, ga tahu kabar-kabar dari fesbukan. boleh jga kalo ada infonya.. trims…:)

    Wah…seru . pingin…T_Thee…Bu Guru disinisin ama tuh petugas , kasian…Hesty juga bakal geleng deh denger * 3 jeti * ^_~

  3. gadys89 said: Wah…seru . pingin…T_Thee…Bu Guru disinisin ama tuh petugas , kasian…Hesty juga bakal geleng deh denger * 3 jeti * ^_~

    sangat seru… hehehe… tapi gak malu kok, biasa aja.. udah biasa kayak gitu… , akhirnya tapi dapat tour murah.. 🙂

  4. gadys89 said: Wah…seru . pingin…T_Thee…Bu Guru disinisin ama tuh petugas , kasian…Hesty juga bakal geleng deh denger * 3 jeti * ^_~

    iyach..orang begituan mah , gax perlu dimaluin , yang pentingkan hasil akhir kita , hee…*tetep tour* ^_~

  5. gadys89 said: Wah…seru . pingin…T_Thee…Bu Guru disinisin ama tuh petugas , kasian…Hesty juga bakal geleng deh denger * 3 jeti * ^_~

    Betul! Emang klo mau pny pglaman hrz berani malu jga siy,hehe, Yg penting endingnya,enjoy ^_^

  6. gadys89 said: Wah…seru . pingin…T_Thee…Bu Guru disinisin ama tuh petugas , kasian…Hesty juga bakal geleng deh denger * 3 jeti * ^_~

    Duh..jadi pengen ikut tur! Pernah lama tinggal di semarang tapi belum pernah nyobain. Nyesel deh. Salam kenal

  7. gadys89 said: Wah…seru . pingin…T_Thee…Bu Guru disinisin ama tuh petugas , kasian…Hesty juga bakal geleng deh denger * 3 jeti * ^_~

    Salam kenal jga. . .^^iya,Ambarawa Semarang dkt tuh,mg2 bsok bsa blek lgi dan nyobain,amin 🙂

  8. nitacandra said: selamat ya mbak, tulisannya memang okey dan asyik 🙂

    Selamat ya Mbak :).Sudah lama penasaran sama museum ini, tepatnya sejak alm eyang putri dengan rekan-rekannya berwisata ke sana, hehehe (udah belasan tahun yang lalu tuh). Semoga kapan-kapan bisa main ke sana…

  9. niwanda said: Selamat ya Mbak :).Sudah lama penasaran sama museum ini, tepatnya sejak alm eyang putri dengan rekan-rekannya berwisata ke sana, hehehe (udah belasan tahun yang lalu tuh). Semoga kapan-kapan bisa main ke sana…

    terima kasih… :)amin..asyik kok ikut turnya… 🙂

  10. niwanda said: Selamat ya Mbak :).Sudah lama penasaran sama museum ini, tepatnya sejak alm eyang putri dengan rekan-rekannya berwisata ke sana, hehehe (udah belasan tahun yang lalu tuh). Semoga kapan-kapan bisa main ke sana…

    kapan ya…aku bisa ke Ambarawa, kota sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s