Tour d’ Museum: Palagan Ambarawa

Dengan atau tanpa teman, traveling must go on, begitu tekad saya Senin itu pagi itu, di penghujung tahun 2009. Hari ini harus berangkat traveling ke Ambarawa. Saya sengaja tidak sms saudara di Ambarawa dulu, tahu kalau dia pasti sibuk. Pulang jalan-jalan saja nanti mampir, pulang sore atau nginep tak masalah. Pagi, sambil berangkat, saya mampir Merbabu studio foto untuk cetak foto, memberi ruang untuk foto-foto nanti traveling, sempatnya juga baru sekarang. Mbak di Merbabu bilang kalau foto bias ditunggu, tidak terlalu lama katanya. Oke, saya menunggu sambil membaca koran SM di lobi. Coba tebak, berita apa yang menyita perhatian saya? Tewasnya pendaki gunung di Lawu! Wah, wah, baru pertama kali mau naik gunung besok tahun baru, nyali dipaksa menciut karena berita itu. Tapi, trekking must go on, tekad saya yang kedua kalinya. Semua takdir dari Allah: rejeki, kematian, musibah dating dan ditulis oleh Allah. Ya, memang jatah para pendaki itu memutus waktu hidupnya di gunung. Saya berharap emak tak tahu sehingga tidak khawatir melepas saya—harap-harap cemas, kalau-kalau sorenya berita itu muncul di TV. Bismillah, saya tetap pengen naik gunung (naik gunung yang sebenarnya, malam dan menginap, melihat sunrise dan sun –selama ini baru trekking siang dengan rute gunung-gunung kecil), belajar keberanian di luar rumah. Foto sudah selesai, ke pasar dulu beli oleh-oleh getuk–makanan khas Magelang– Alhamdulillah ada.

Keluar pasar nunggu bus… ternyata lama. Menunggu… untung nggak mati gaya karena ada barengan yang mau ke Salatiga. Kebetulan juga, saya pernah kenal dia waktu mau test masuk kerja pertama kali. Palagan Ambarawa jadi tujuan pertama. Dari terminal temapat saya turun dari bus, saya hanya perlu berjalan beberapa meter. Rasa penasaran pada tempat bersejarah itu ada sejak lewat di depannya belasan tahun lalu bersama bapak. Setelah membayar tiket masuk dan bertanya sepintas tentang museum kereta api—agenda ke-2–, saya masuk museum Isdiman yang bersebelahan dengan bilik tiket, beberapa langkah saja. Museum itu ruangannya kecil. Berhadapan dengan pintu masuk adalah sisi belakang sebuah rak besar tinggi yang memuat identifikasi museum itu, nama museum, tahun, dll. Tanpa rak atau lemari besar itu, pintu akan langsung berhadapan dengan dinding yang sepenuhnya tertutup lukisan proses pertempuran
Dari pintu, saya melangkah ke sebelah kiri. Jepret! Saya ambil foto 2 senjata yang berdiri di pojok-jenisnya tidak tertulis jadi saya tidak tahu—

Di sebelahnya rak pamer bertutupkan kaca/etalase rendah berisi berbagai pakaian , kemeja exs PETA dan HEIHO. Kemudian bergeser di bawah lukisan yang memenuhi dinding, satu tempat pajangan sebatas lutut yang bersekat-sekat berisikan berbagai senjata: klewang samurai Jepang, pistol 9mm vikers Inggris, Karabyn 6,5 mm Jepang, Karabyn 7,92 Jerman, Jarabyn 6,5 mm/95 Jerman, Senapan 6,5 ex Jepang, erbagai granat, ranjau, botol benzene dicampur karet untuk menembak tank, dan berbagai senapan seperti yang di pajang di pojok ruangan.
Di depan seberangnya, sisi depan almari yang belakangnya menghadap pintu masuk, dipajang berbagai perlengkapan tentara: pakaian, helm, tas , ada lagi botol-botol minuman. Ada satu tas exs tentara Jepang yang keren dan masih bagus:[saya langsung naksir tas itu. Di museum kereta api nanti, tas itu menginspirasi untuk membeli sebuah tas kecil…. ]
Sisi sebelah kanan ruangan juga diisi dengan senjata-senjata yang berdiri di lantai. Di sebelahnya masih ada almari pajangan.
Museum itu sepi, tanpa buku tamu, tanpa guide dan pengunjung yang bisa dihitung dengan sebelah tangan. Barengan saya hanya ada sebuah keluarga.
Keluar dari museum saya keluar berkeliling palagan, melihat beberapa koleksi alat transportasi jaman perang: sebuah kereta api dengan lokomotif tahun1902 buatan Jerman, beberapa truk seberat 4 ton merk Douge tahun 1914 buatan USA, dan tank.

Kompleks Palagan itu sempit, setelah melewati bebrapa mainan, saya sampai pada satu-satunya pesawat yang ada di Palagan: Pesawat Mustang P-51 cocor merah dengan kecepatan 735 km/jam, panjang 9,81 m, bentang sayap 7,720 m, berat 7.000 kg, dilengkapi persenjataan browning caliber 12,7, roket councher 8 buah, bom 2 buah, dan awaknya 1 orang saja.


Sisi depan Palagan, yang terlihat dari jalan raya diramaikan oleh arena bermain anak yang dilengkapi beberapa mainan seperti kereta api mini, mobil mini, ayunan, dan jungkat-jungkit. Ini adalah arena yang saya kunjungi terakhir.

Saya meninggalkan Palagan Ambarawa berbekal sedikit informasi mengenai letak museum kereta api. Siap-siap deh ke museum kereta api… hem…seperti apa ya…

*foto paling atas, halaman depan Palagan, sumber dari google, foto-foto berikutnya koleksi pribadi. Foto jauh dari kualitas cemerlang, harap maklum, masih kamera VGA HP*

Iklan

8 pemikiran pada “Tour d’ Museum: Palagan Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s