Tentang Alice in Wonderland

Ternyata hanya butuh waktu sesore untuk menyelesaikan buku tipis itu. Separuh rasa penasaran terjawab.

Ketika ada kabar bahwa Alice in Wonderland mau dibuat film,saya penasaran. Saya sudah lupa bagaimana cerita Alice. Yang saya ingat hanya seorang gadis kecil dengan roknya yang khas dan kelinci yang berlari-lari. Selang berbulan-bulan, ngobrol dengan mbak kalau waktu kecil dulu sering dengerin Alice dari kaset di rumah budhe. Berangsur-angsur gambar jaman doeloe it berkelebat. Sampai kemudian, saya membaca review filmnya dari rumah tetangga. Konon Alice dijodohkan dengan seorang bernama Hamish. Di pesta yang diadakan keluarga Hamish itulah Alice melihat kelinci berompi dan menggunakan jam. Dari situlah Alice kemudian-melarikan diri?- masuk ke lubang mengikuti kelinci dan sampai di Wonderland. Saya heran, perasaan Alice itu cerita anak, kok dijodohkan segala? Saya tambah penasaran dengan ceritanya. Beruntung, saya menemukan buku itu di Social Agency waktu main ke Yogya. Langsung saya ambil tanpa pikir panjang. Tapi. . .bacanya tertunda-tunda terus.

Saya ingin segera tahu cerita Alice, jadi sore itu saya prioritaskan membacanya. Karena tipis-175 hal- pasti cepat selesai cepat lega dan mengurangi utang membaca buku.

Selama membaca,pelan-pelan gambar-gambar dari TV yang saya lihat dulu sekali melintas, seperti kereta api lewat. Keping-keping mozaik Alice itu berjatuhan, meski tidak utuh. Dalam kerjapan mata, saya paling ingat adegan ratu dan raja kartu-kerajaan yang penghuni/karakternya kartu-kartu– yang bermain kriket (ga ngerti dengan permainan ini).

Yeah, cerita itu murni tentang khayalan kanak-kanak, dari awal hingga akhir seperti kartun yang saya tonton waktu bocah. Alice khas anak-anak: penuh ingin tahu, suka berbicara sendiri dalam hati atau bergumam sambil berkhayal, suka menyela cerita, dan banyak bertanya!

Alice sampai ke Wonderland karena mengikuti seekor kelinci berjas yang mengeluarkan jam dari kantong jas panjangnya. Ia mengikuti kelinci itu ke lubangnya,turun menyusul hingga jatuh ke sumur yang sangat dalam. Ketika ia sampai di sebuah lorong dengan banyak pintu terkunci, ia menemukan sebuah kunci emas mungil. Ia menemukan pintu yang cocok dengan kunci itu, sebuah jalan menuju taman terindah yang pernah ada,tapi jalan itu tak lebih besar dari lubang tikus. Berhasilkah Alice masuk? Alice minum sesuatu dari botol yang betuliskan MINUM AKU. Tubuhnya menyusut kecil tapi sialnya dia tidak bisa masuk karena hal-hal yang dilalaikannya. Cerita kemudian bergulir pada petualangan mengembalikan tubuhnya menjadi normal. Banyak hal menarik dijumpainya, bahkan setelah tubuhnya kembali normalpun penjelajahan di Wonderland semakin menarik rasa ingin tahunya. Beberapa kali saya terkikik membaca polah Alice dan karakter-karakter di dalam mimpinya. Saya paling geli dengan bagian Kisah si Kura-Kura Tiruan. Bagian ini yang paling berkesan, ketika Alice mengobrol soal pelajaran yang dipelajari oleh Kura-kura Tiruan dan si Gryphon.
“Dan berapa jam dalam satu hari kalian belajar?” tanya Alice cepat-cepat untuk mengubah topik pembicaraan.
“Di hari pertama selama 10 jam,” sahut si Kura-kura Tiruan. “Berikutnya, sembilan jam, dan seterusnya.”
“Wow, menarik sekali!” seru Alice.
“Itulah mengapa mereka menyebunya pelajaran (lesson),” kata si Gryphon. “Sebab, jumlahnya semakin berkurang (lessen) dari hari ke hari.”
Ini hal yang baru bagi Alice. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata,” Jadi, hari kesebas sudah pasti libur?”
“Tentu saja,”jawab si Kura-kura Tiruan.
“Lalu bagaimana dengan hari kedua belas?” Alice terus bertanya penuh rasa ingin tahu.

Jadi benar kan kalau Alice itu cerita anak, pikir saya ketika khatam membaca. Lalu soal film? Hem. . .namanya juga adaptasi, boleh dong. Lagipula, film itu bukan untuk bocah ya? Sekarang, saya tambah penasaran dengan filmnya. Pengen membandingkan: seneng aja mengamati untuk diri sendiri detil film dengan novelnya.

foto dari : http://id.penerbitatria.com

Iklan

5 pemikiran pada “Tentang Alice in Wonderland

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s