Sial?

Terus-menerus memikirkan kesialan akan memanggil kesialan lain. Aura negatif memenuhi seluruh energi saya, yang hanya cemberut dan terus memikirkan nasib buruk yang baru terjadi. Aura negatif yang terpancar disambut oleh lingkungan yang membalasnya dengan negatif.

Saya manggut-manggut membaca bagian tulisan Agustinus Wibowo dalam catatan perjalanannya sebagai backpacker, Selimut Debu (hal 116). Tak kurang tak lebih, yang seperti itu sering kita alami, sehingga tak jarang kita bilang ‘hari sia”l. Kalau merujuk catatan di atas, sekali bilang sial, bisa-bisa sial terus,dan sebabnya karena kita sendiri yang mengkondisikannya. Pengalaman sendiri seperti itu, kalau ga beruntung cemberut mulu. Nha, sebenarnya mungkin masalah sial dan tidak itu tergantung sudut pandang kita. Hal yang tidak mengenakan kalau coba dihadapi dengan dinikmati, pasti hikmahnya ketemu cepet, ga da lagi gerutuan lagi sial. Ada lagu yang sangat akrab seketika melintas, hadapi dengan senyuman. . .semua yang terjadi. . .
Yupz, tersenyumlah pada dunia maka dunia akan tersenyum padamu. . .

Iklan

22 pemikiran pada “Sial?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s