Dalam Rumah Kaca: Akhir Tragis Seorang Minke

Ya, saya begitu bahagia menyimak berita itu sampai-sampai segera mencatatnya di buku harian. Sayang sekali, belakangan ngubek-ubek semua buku harian catatan itu tidak saya temukan (jadi berandai-andai, coba buku harian saya dilengkapi mesin pencari semacam google,hehe). Seputar Indonesia memberikan sebuah laporan tentang tokoh pers pertama di Indonesia, seorang jurnalis yang tidak dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, kalau boleh dibilang dilupakan! Nama itu sebenarnya tak begitu asing, Tirto Adi Suryo. Nama surat kabar yang dipimpinnya, Medan Prijaji- nama belakangnya mohon maaf kalau salah karena cat ga ketemu- seketika mengingatkan saya pada Minke! Dialah pendiri Syarikat Islam dan penerbitan Medan. Cocok sekali. Feel saya mengatakan, Minke adalah Tirto Adi Suryo. Raden Mas Tirto Adi Suryo adalah Raden Mas Minke.

Mulai saat itu, saya menganggap dua orang itu adalah satu sosok. Tapi, tanpa bukti otentik, saya tak berani bilang dengan keyakinan penuh. Sampai beberapa bulan lalu, dengan teman kantor yang juga penggemar Pram, saya mengobrol tentang beliau, sekaligus waktu itu akhirnya PD pinjam Rumah Kaca,hehe. Teman saya yang memang pelahap buku itu membenarkan anggapan saya. Di Rumah Kaca ini pula, saya temukan kebenaran itu. Beliau yang tak pernah menyebut nama asli Raden Mas Minke di 3 buku sebelumya, di tetralogi terakhir ini beliau menyebutnya, hanya saja dengan inisial: T.A.S!

T.A.S yang di tiga buku sebelumnya diceritakan dengan begitu berjaya- 2 yang pertama atau tiga ya? Sudah lama dan sayang tak tercatat jadi lupa-, di Rumah Kaca ia temui segala keironisan dari bangsanya. Terbuang dan ketika kembali, ia tak lagi menemukan bangsanya sebagai ‘rumahnya’. Tangan seorang pribumi yang mengabdi pada kolonial tidak saja merumahkacan segala gerak-geriknya tetapi semua aktivis pergerakan penerusnya. Sayang, ketika kembali kesunyian yang menyergapnya.
“Tentulah pada malam seorang diri di sebuah dangau itu ia mengenangkan segala-galanya yang sudah lewat. Dan betapa kedekut Tanah Air dan bangsanya pada dirinya. Ia yang begitu terkenal lima tahun yang lalu, kini sudah terlupakan, terlempar seperti sepotong gombal di pojokan. Ia yang hidup dan bisa hidup hanya dari memimpin domba-dombanya. Sekarang tak seekor domba pun akan dipimpinnya.”(hal 576)

Ia yang merupakan tokoh pers pertama, di masa akhir hidupnya justru tak tercatat: “Bahwa kepulangannya ke Jawa tidak pernah diketahui oleh pers adalah berkat pengekanganku yang cukup ketat. Ia tak boleh menarik perhatian umum lagi. Ia harus tetap terpisah dari anak-sulungnya, dunia jurnalistik. Sungguh satu ironi, seorang pelopor pers pribumi yang tidak mendapatkan tempat dalam pers pada salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Oetosan Hindia, koran Syarikat yang terbit di Surabaya sama sekali tidak tahu menahu tentang kedatangannya.”(hal 589)

Hampir menangis saya menyimak akhir hidup R.M. Minke. Berpuluh tahun lalu R.M Minke wafat tapi rasa kehilangan itu saya rasakan begitu dalam. Tercekat dan tidak siap saya membaca bagian akhir hidupnya: “Begitulah akhir hidup guruku, meninggalkan pada dunia hanya bekas-bekas jejak dan langkahnya. Ia pergi dalam kesepian–ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah sejak hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Tak pernah terjadi yang demikian di Eropa. Mungkin bisa terjadi dan telah terjadi hanya di Hindia, di mana tulang belukang pun dengan cepatnya dihancurkan oleh kelembaban. Bagaimana pun masih baik dan masih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikut daripada seorang penipu yang jadi pemimpin yang berhasil mendapat banyak pengikut.”(hal.594)

Biar dunia melupakanmu, tapi saya telah mencatat namamu dalam hidup saya! Terima kasih kepada Pramoedya Ananta Toer yang memperkenalkan saya pada sosok luar biasa itu. Tak terlupakan juga, guru sejarah SMU 2 Magelang, bapak Herman.

Kamis, 20 Mei 2010, 22:10.

Iklan

15 pemikiran pada “Dalam Rumah Kaca: Akhir Tragis Seorang Minke

  1. biliksukma said: Mantapp deh.. jangan lupa sama tokoh Pangemanann dengan dua n.sang Algemeree Secretarie. Pemilik rumah kaca yang membuang Mingke, πŸ™‚

    nha itu dia, mau mengulas Pangemanann belum sanggup…hehehe… jadi cuma kusinggung dengan beberapa kata saja ^^ atau kau bisa bikin postingan itu… πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s