Menjadi Ibu di Mata Penyair Oka Rusmini

“Bagiku kehadiran anak,mengurus,dan mendidik dari detik per detik adalah award tertinggi dari Tuhan untuk kehidupanku,” kata Oka Rusmini dalam sebuah wawancara di harian Kedaulatan Rakyat (Minggu, 23 Oktober 2005).


Award dari Tuhan itu bernama Pasha Renaisans. Bagaimana sang bunda meresapi pengalamannya memiliki Pasha, sejak ia berada di rahim tertuang dalam puisinya berjudul “Pasha”. Tak ada yang bisa dengan benar-benar menggambarkan bagaimana rasa melahirkan dan memiliki anak, kalau bukan perempuan itu sendiri.

PASHA

Tak ada lelaki memiliki mata seindah matamu. Aku mabuk,dan selalu hampir mati setiap kausentuh tubuhku dengan nyala yang meluap kaualirkan,setiap kau mencengkram tubuhku dengan aroma matamu. Kadang kulihat hujan rintik-rintik. Kadang kulihat badai topan mengamuk begitu dahsyat. Kadang kau ingin memakanku mentah-mentah.

Tak ada lelaki memiliki bau tubuh liar dan panas seperti tubuhmu. Aku hampir gila setiap satu keping keringat memotong kulit tubuhku. Tetesannya menyumbat seluruh pori-pori wujud perempuanku.Aku tak bisa bernafas, karena kau pegang nafasku. Aku masih ingat bau amis itu, ketiga tiga orang lelaki merobek perutku dan mengambi tubuhmu paksa dari tubuhku. Darah itu ikut. Cairan tubuhku terkuras. Kau mulai menjerit . kulihat air bening berenang di retina matamu. Jam berapa ini? Udara dingin. Dan tubuhku yang telanjang kaubiarkan beku. Bau tubuh siapa ini? Membuat tubuhku menjadi liar.

Tak ada lelaki memliki kulit setajam kulitmu. Tahukah kau aku sering mengiris kulitku, berharap bisa memaksukan tubuhmu kembali ke dalam tubuhku.  Aku ingin menanam kembali tubuhmu , karena aku takut kau akan lupa kulitku. Cukupkah delapan bulan sebelas hari kau mengenalku? Aku tahu diam-diam kau makan tulang-belulangku. Mungkin juga kausedot darah di kaki kecilku. Nyeri it uterus menguntitiku. Bahkan aku sempat melihat air liur menetes di mulutnya yang besar. Kulitmu yang tajam seperti keju kecil yang sering kaukunyah sore hari. Kaukah itu? Lelaki yang pernah kubenakan dalam rahimku.

 2003


Khawatir, cemas, takut, tentu tak lepas dari keseharian seorang ibu: melihat dunia dan bumi yang carut marut dengan berbagai persoalan, berbagai kasus dan berita yang menguncangkan perasaan. Oka Rusmini menyebutnya sebagai sebuah masa ketika dunia rajin membunuh anaknya sendiri (dalam “Menjelang Kata”, kata pengantar untuk PandoraI). Tak ketinggalan cuaca dan musim yang tak lagi bersahabat. Tapi tetap saja dari berbagai carut marut itu terselip sebuah harap untuk buah hatinya. Kekhawatiran seperti itu bisa dipahami, kalau kita membaca “Spora”

SPORA

Apa arti sebuah garis, Anakku? Ketika kau mengenggam pensil, aku melihat sebuah dunia perlahan tersibak di kakimu. Matamu yang bulat tak mengerjap. Menatapku dengan ratusan belati Tanya.
Di luar, cuaca sering buruk. Hujan dan angin bertikaman. Asap beracun merobek nafas, menguliti tubuh. Kecemasan merendam seluruh wujudku.
Kau mulai menejelma jadi manusia. Detak jantungmu mengeja hidup. Tapi aku kian menjelma jadi perempuan penakut. Makin pandai menelan bongakahan biji mata yang menatapku dengan asing.
Dari jalanan, orang-orang menebarkan bau anyir. Aku mual. Sanak-kerabat mencangkuli masa lalu. Mengerat otakku. Bersekutu memasukkanku ke peti mati. Mereka tanyakan kulit Tuhanku!
Negeri macam apa ini, Anankku? Orang-orang begitu pintar membangun menara. Mengurai sejarah, menguliti ilmu pengetahuan, merapal mantra. Mereka berceloteh tentang kebesaran, kejayaan, dan kemasyuran, sembari terus membakar pulau tempat leluhur mereka tenggelam hilang. Buih kata-kata mereka melukai sepotong kakiku.
Kini kau mulai jatuh –cinta pada angka dan aksara. Kauputar pensilmu, kadang kautusukkan di kulit bukumu. Negeri apakah yang kelak menyentuhmu? Siapakah yang akan menemanimu ketika aku tiada? Sepa akan mengajakmu bicara? Berbincang tentang warna kulit Tuhan, cara menyentuh dan mengenalNya? Tentang jalan bercecabang para pencari cinta ilahi?
Anakku, kelak bila telah kaukuasai angka dan aksara, belajarlah mengenal cinta. Pahamilah dengan seluruh pikiran dan detak aliran darahmu. Pahami arti duka, luka, dan derita di luar tempurungg akumu. Rasakan keindahan cinta pohon-pohon rindang yang tiada pernah lelah melindungimu dari cakar matahari. Cintai dirimu, hidupmu,sesamamu. Jaga mulutmu, tingkahmu, dan pikiranmu.
Bangunlah, Anakku,matahair mulai mengupas kuntum bunga kecombrangku. Tidakkah kaulihat daunnya membelai kaca jendela kamar tidur? Jerang tubuhmu. Jelang harimu.
Dunia baru menungggumu.
                                                          
 2005
                                                            ***
“Pasha” dan “Spora” adalah dua dari 40 sajak dalam Pandora. Ke-40 sajak itu merupakan biograri tubuh yang ditulis Oka Rusmini dalam kurun 1999—2008. Dalam “Sebuah Menu Bernama Tubuh”, catatan penutup untuk buku itu, Yos Rizal Suriaji menyebut deretan sajak itu sebaga metamorphosis tubuh. Sajak-sajak itu terurut secara sistematis, dari “Ulat”, “Kepompong”, “Kupu-Kupu”,1967. Perasaan dan pengalamnnya memiliki reward dari Tuhan ada dalam “Pasha”, “Den Haag”, “Lelakiku”,”Spora”. Dalam “11 Juli”, tanggal kelahirannya, Oka bertanya Seperti apa rasanya menjadi ibu?  . kemudian ada sajak untuk dua lelaki tercintanya, Arif Bagus Prasetya dan Pasha Renaissans: “Halimun”. “Jejak” menjadi sejak penutup untuk biografi tubuhnya.

Tulisan ini hanyalah sekelumit catatan untuk dua sajak yang sudah selesai say abaca. Pandora belum usai saya baca seutuhnya. Membaca dua kumpulan puisi selalu membutuhkan waktu yang tidak singkat buat saya. Satu puisi saja tidak selesai sekali baca. Keterbatasan kemampuan membaca puisi menjadikan  hal
ini sebagai sebuah proses. Toh meskipun banyak puisi yang belum bisa saya pahami makna keseluruhan maupun kata tiap lariknya, karya itu tetap bisa saya nikmati. Teman yang memberikan buku ini pernah bilang, Biarkan puisi itu tetep misterius. Yups, setiap kata punya misterinya sendiri-sendiri.

Terima kasih tak terkira  untuk sohib saya yang mengirimkan buku ini. Kami sama menyukai karya-karya Oka Rusmini, namun belum saling tahu ketika sohib saya mengirimkan buku itu, kami baru tahu saat ia sms mengirim buku—belum disebut judul dan pengarangnya–, dilanjutkan mengobrol sampai pad pembicaraan tentang puisi dan saya menuebut Pattiwangi karya Oka Rusmini, eh tak dinyana buku yang dikirimnya karya Oka: surprised! Tak sabar menunggu pak pos datang mengantarnya dan ketika hari itu tiba dan membuka amplop coklat, waw…bukunya so beautiful. Buku itu berkulit hard cover warna hitam dengan ilustrasi “Gravitation”, lukisan indah karya Wolfgang Widmoser*. Sebuah kiriman yang eksklusif!

*Wolfgang Widmoser: Lahir 1954 di Munich, Jerman.  Mempelajari teknik lukisan Renaissance dengan Profesor Ernst Fuchs di Wina 1973-78. . Sejak 1974 ia telah pameran di Eropa, Asia dan Australia. . Dia telah tinggal di Italia dan Indonesia sejak tahun 1980. (http://www.michellechin.net/artists/wolfgang.html)

Iklan

13 pemikiran pada “Menjadi Ibu di Mata Penyair Oka Rusmini

  1. boemisayekti said: Cintai dirimu, hidupmu,sesamamu. Jaga mulutmu, tingkahmu, dan pikiranmu.Bangunlah, Anakku,matahair mulai mengupas kuntum bunga kecombrangku.

    Nasihat tuk smua orang.Bagus skali hidanganmu ni.(Rang Bali kah Oka?).

  2. boemisayekti said: Cintai dirimu, hidupmu,sesamamu. Jaga mulutmu, tingkahmu, dan pikiranmu.Bangunlah, Anakku,matahair mulai mengupas kuntum bunga kecombrangku.

    @beautyborneo13:sama! Saya jga,selalu kngen Jogja dg nafas seninya. Pernah tinggal di sna brapa lama?

  3. boemisayekti said: Cintai dirimu, hidupmu,sesamamu. Jaga mulutmu, tingkahmu, dan pikiranmu.Bangunlah, Anakku,matahair mulai mengupas kuntum bunga kecombrangku.

    @nurinautami:yup,Pandora brhub dg mitologi Yunani, adalah perempuan yg dianggap menaburkan dosa,derita,aib,dan brgagam keburukan lain. Mitologi yg cenderung memojokkan perempuan itu,dipakai oleh Oka sbg judul,yg ingin menyuarakn kebajikan perempuan sbg perempuan dan ibu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s