Nikmat yang Manakah yang Kau Dustakan?

Seperti demam yang datang di masa pancaroba,ada ngilu menyergap setiap kali bulan ke tujuh menjelang.

Begitulah,setiap mendekati Juli, ada perasaan sedih membayangi, semakin mendekati tanggal 1 semakin murung rasanya. Tak ada kebahagiaan membuncah seperti bocah menantikan perayaan ultahnya. Seperti tak rela menghadapi pergantian usia, tak rela karena bilangan tahun umur bertambah dan jatah hidup berkurang sementara perbaikan kualitas diri belum terlihat signifikan. Saya merasa belum memdapatkan apa-apa di usia yang terus merambat ke kepala tiga. Itu sebabnya saya paling tidak suka merayakan hari lahir. Apanya yang dirayakan? Pencapaian apa yang pantas saya banggakan? Mungkin belum ada. Oleh karenanya, saya lebih suka bersunyi diri mengingat hari lahir, mensyukuri segala yang ada pada diri atas pemberian Allah, mengingat titik-titik yang saling terhubung menjadi garis hidup hingga detik ini. Emm. . .lagipula saya memang tak mengenal pesta perayaan ‘kurang tahun’ dalam hidup, belum pernah seumur-umur.

Bukan berupa pesta, tapi ada beberapa Juli, beberapa titik yang meninggalkan jejak dalam pada garis hidup saya. Juli 2008, saya menyebutnya sebagai ironi. Bulan itu gerimis tak henti membasahi hati. Ah, tapi saya tak mau membahasnya panjang lebar. Takut ada yang ngintip dari luar sana ( hayyah sopo. . .GR wae). Malu ah.

Mundur kebelakang beberapa tahun, Juli 2002. Titik itu begitu punya peran besar hingga saya menjadi seperti sekarang. Malam itu adalah malam yang esok paginya saya harus bertempur bersama ribuan peserta lain demi merebutkan bangku kuliah di universitas negeri. Tak tahan menahan kantuk di sela-sela mengulang soal-soal dalam kumpulan soal UMPTN,saya jatuh tertidur. Berdua saja saya dengan teman SMU yang kebetulan masih saudara, berada di kost kakak di Yogyakarta. Belum sepenuhnya saya membuka gerbang mimpi ketika kakak membangunkan saya. Setengah melek saya melihat kakak membawa kotak kecil. Surpriseee. . .! Dibukanya kotak itu, ada kue ultah mungil berbentuk hati. Itu kali pertama dalam hidup-dan baru sekali-saya meniup lilin ulang tahun. Kakak memberikan selamat disertai doa kesuksesan ujian esok hari. Teman-teman kosnya menghambur masuk kamar dan mengikuti jejak kakak. Tak ketinggalan teman seperjuangan saya. Doanya sama, sukses yaaa…. Deu haru, teman saya sampai iri, mau ujian banyak yang doain, pas hari lahir pula! Sebulan kemudian, ketika saya membeli koran bareng dan menemukan nama kami ada di lembar pengumuman, teman saya nyeletuk, wah doa-doa itu makbul. Alhamdulillah, ada selaksa syukur.

Tak kurang indahnya Juli sebelumya, 2001. Justru tahun itu saya mendapatkan hadiah terindah sepanjang usia, tempatnya pun istimewa: di puncak gunung Telomoyo. Meski Telomoyo hanya gunung kecil di belakang rumah dengan jarak tempuh beberapa jam saja, tapi yang namanya naik gunung tetap saja jadi unforgetable moment.

Setelah menempuh perjalanan dengan jeda sebentar-se
bentar saja, mengagumi goresan tangan-NYA,mengirup udara segar di antara hutan pinus,sampailah saya dan rombongan kecil pemuda kampung di stasiun transmiter puncak gunung Telomoyo.

Sambil melepas lelah, makan minum dengan berbagi, mas Agung (ponakan tapi secara umur lebih tua) mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Bukan haya mas Agung, ada mbak Lani, Anah, Edwin, dan Abib. Ucapan ulang tahun itu diikuti oleh ucapan selamat dari mas Agung atas keberhasilan saya di sekolah. Kebetulan hari sebelumnya adalah penerimaan rapot SMU dan sebuah peringkat di kelas sekaligus peringkat paralel berhasil saya sabet. Benar-benar komplet momentnya. Masa remaja yang indah.

Tak disangka, mas Agung mengeluarkan al-Quran kecilnya dari dalam tas,
“Mas Agung nggak bisa ngasih apa-apa, hanya bisa ngasih ini,”
Subhanallah, luar biasa istimewa. Mas Agung membacakan surat Ar-Rahman sebagai hadiah. Haru mendengar surat cinta-Nya dibacakan di puncak gunung di pergantian usia saya sebagai hadiah.
…fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban

*foto gunung Telomoyo diambil dari belakang rumah dengan hp.
**tulisan ini diikutkan dalamLomba Ulang Tahun

Iklan

21 pemikiran pada “Nikmat yang Manakah yang Kau Dustakan?

  1. saturindu said: kadang juga terlintas, utk membacakan Ar-Rahman buat orang yang saya cintai:)tulisan yang inspiratif, menggugah pembaca utk memaknai tiap detik kehidupan, yang bergelimang syukur

    ayo mulai dibacakan Mas… luar biasa pasti rasanya…terima kasih, harapannya itu…semoga…. πŸ™‚

  2. nawhi said: Surat Ar-Rahman emang sering dibuat kado ya, bahkan ada yg dipake sebagai mas kawin.Btw maaf saya kira tadi cowok, ternyata cewek. Saya locked ya Mbak.

    iya,ponakan saya yang lain–yang saya sebut di atas juga– maharnya juga itu, pengen juga besok dapat itu…gpp, udah banyak yang ngira gitu… :Dmakasih ya.. πŸ™‚

  3. nawhi said: Surat Ar-Rahman emang sering dibuat kado ya, bahkan ada yg dipake sebagai mas kawin.Btw maaf saya kira tadi cowok, ternyata cewek. Saya locked ya Mbak.

    alhamdulillah…banyak peristiwa baik yang diperoleh yah…syukurlah banyak nikmat yg tak terkira…..amin2 moga berkah…Gnung Telomoyo bagus yaDan surah arrahman memang keren πŸ˜€

  4. nawhi said: Surat Ar-Rahman emang sering dibuat kado ya, bahkan ada yg dipake sebagai mas kawin.Btw maaf saya kira tadi cowok, ternyata cewek. Saya locked ya Mbak.

    @mfanies:alhamdulillah iyaa,amin. . .trims :)indah, jd tempat wisata jga krn jalan udah aspal sampai ke atas. Tp sya tetep jalan lho naiknya,hehe…@tiarrahman:terima kasih. . . πŸ™‚

  5. boemisayekti said: surat Ar-Rahman sebagai hadiah. Haru mendengar surat cinta-Nya dibacakan di puncak gunung di pergantian usia saya

    Kalau saja satu per satu kata di Surah tu mampu kita cerna dengan il-ilmu dan pengalaman kita, tentu hati kita dapat nggapai jauh, menukik dan membubung tuk mrasakan keindahanNya.Masalah kita:— sudah sberapakah ilmu dan pengalaman kita tu untuk mencerna a-ayatNya?.

  6. mutitem said: Kalau saja satu per satu kata di Surah tu mampu kita cerna dengan il-ilmu dan pengalaman kita, tentu hati kita dapat nggapai jauh, menukik dan membubung tuk mrasakan keindahanNya.Masalah kita:— sudah sberapakah ilmu dan pengalaman kita tu untuk mencerna a-ayatNya?.

    yup, pemahaman saya mungkin masih dangkal, tapi surat itu akan selalu mengingatkan kita untuk mensyukuri semua nikmat, keindahan, dan kasih sayang dari Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s