Lomba Menulis dan Jilbab Pertama: Kenekatan yang Meluluhkan Hati

“Mau pinjam jilbab lagi.” Kata saya pada saudara sepupu suatu kali di masa SMU.
“Buat apa?”
“Pengaian Ahad.”
Saudara saya memperlihatkan beberapa jilbab untuk saya pilih. Saya selalu memilih jilbab itu,sederhana tapi adem dipakai, sebuah jilbab dengan bordir di keempat sisinya. Sebulan sekali, SMU tempat saya belajar mengadakan pengjian Ahad. Saya selalu antusias mengikutinya. Alasannya simple: karena hanya pada kegiatan itu saya bisa berjilbab ke sekolah. Yeah, meskipun sekali-kali penutup kepalanya masih pinjam. Ya baru pinjam sebab waktu itu saya baru memiliki 2 potong kain jilbab yang saya milki sejak SD. Waktu itu saya belum berjilbab tetapi keinginan berjilbab sudah mengakar kuat dalam hati.

Keinginan berjilbab mulai muncul sejak saya mengenal majalah Annida. Majalah itu diperkenalkan seorang teman SMP yang kakaknya berlangganan dari SMUnya. Sebelumnya, saya memang belum mengetahui kewajiban menutup aurat bagi muslimah. Ah, betapa dangkal pengetahuan agama saya. Kelas 2 SMP, beberapa teman sudah mendahului berjilbab tapi saya baru menjadi “penonton”. Beberapa saudara dari bapak sudah bejilbab, ponakan laki-laki bahkan rajin kampanye jilbab. Tapi, saran saja tanpa hidayah dan niat tulus mana ada hasilnya. Baru pada kelas 3 SMP saya mulai membeli Annida lewat kakak yang duduk di SMU dan berlanjut ketika saya mengikuti jejak kakak bersekolah di sebuah SMU negeri di Magelang.

Selain ponakan laki-laki—kakak dia sudah berjilbab sejak SMEA–, beberapa yang rajin kampanye jilbab adalah kakak-kakak kelas dari ROHIS. Diantara mereka, ada mbak Arum yang paling care dengan saya. Selain memang ramah, mbak Arum sekelas dengan kakak dan kami bisa akrab. Begitu gencar mbak Arum mengajak adik-adik kelasnya berjilbab, sampai-sampai ketika saya memendekkan rambaut dia berkomentar,

“Wah dipotong rambutnya, mau pake jilbab kok ya…”

Nggak nyambung kan komentarnya? Saya balas komentarnya dengan senyum. Dalam hati saya mengamini. Keinginan itu memang sudah ada kok. Saya hanya belum siap, belum siap dengan pakaian panjang untuk sekolah. Kalau untuk di rumah tidak ada masalah karena sudah ada beberapa baju muslim pemberian sepupu dan saya sudah mulai memilih celana panjang atau baju panjang ketika dibelikan baju baru. Ketidaksiapan yang paling berarti sebenarnya adalah ijin ortu. Tiap kali saya mengutarakan keinginan, emak selalu bilang,

Ijeh kaya ngono kok nggo jilbab.” (Masih kayak gitu kok pakai jilbab)

Kayak gitu yang dimaksud emak adalah sikap saya yang dilihatnya masih semau sendiri. Tingkah sehari-hari saya barangkali dilihatnya masih jauh dari kesan alim, citra yang selau menempel pada muslimah berjilbab. Padahal, bukankan berjilbab itu sebuah proses? Kalau nunggu alim dulu, kapan berjilbabnya karena diri selalu merasa kurang? Bukankah dengan jilbab kita akan belajar menyesuaika, belajar memperbaiki diri?

Saya tak bisa melawan, belum punya kekuatan lebih. Tapi semakin saya membaca majalah Annida semakin kuat kerinduan saya akan jilbab. Boleh dibilang, kampanye dengan mulut tidak lebih mengena daripada bacaan-bacaan yang saya lahap. Saya tipe orang yang lebih suka membaca daripada mendengar. Cerpen-cerpen dalam majalah Annida banyak memberi inspirasi mengenai hidup. Kala itu, banyak penulis-penulis kondang seperti Helvy Tiana Rosa—sebagai pimred–, Asma Nadia, Sakti Wibowo tulisannya wira-wiri di Annida. Dari Annida pula saya mengenal HTR dan noveletnya yang ngeboom: Ketika Mas Gagah Pergi. Ajakan berjilbab dalam cerpen itu sangat menyentuh tanpa menggurui.

Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Kata-kata yang sering saya baca itu selalu terngiang. Siang itu, saya ngobrol dengan kakak. Saya utarakan keinginan kuat itu. Kakak meskipun belum berjilbab mendukung saya untuk terus maju, bahkan akan membantu saya saat menghadap emak lagi. Saat itu juga saya mantab, mulai besok pagi dan seterusnya saya harus mengenakan jilbab di sekolah dan di rumah. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?

Berkaca-kaca mata saya. Emak [lagi-lagi] belum berkata ya saat saya utarakan keinginan saya.
“Seragam saja belum punya.” Begitu alasannya.
“Aku bisa beli sendiri.”
Setengah hati emak memberi kebebasan pada saya dengan nada menantang:
“Terserah, tapi urusin semuanya sendiri.”
Ini hanya tantangan kecil. Saya memiliki emak yang seislam dan seiman dengan saya. Tantangan itu tak ada apa-apanya dibanding ujian nabi Ibrahim yang ayahnya berbeda keyakinan. Emak sebagai orang tua yang kadang over khawatir mungkin hanya cemas kalau saya hanya main-main, belum siap untuk istiqomah. Tekad saya makin kuat. Bukankah Allah akan menolong hamba-Nya yang juga menolong agama-Nya( melaksanakan perintahnya)? Saya selalu yakin akan hal itu.

Saya berani melangkah sebab saya menyimpan tabungan beasiswa sekolah. Itu rezeki dari Allah yang mempermudah jalan saya. Tanpa uang itu, saya tak berani bilang bisa beli sendiri sedang uang saku saja masih diberi. Dengan diantar kakak, saya berkeliling pasar untuk mencari pakaian seragam yang saya butuhkan. Baru dapat satu stel seragam putih abu-abu kami pulang. Yang lain belum cocok. Untuk jilbab saya belum membeli meskipun baru memiliki 2 jilbab putih. Sambil jalan saya akan mengumpulkan dan jilbab Pramuka sementara pinjam dahulu dari ponakan, bekas seragam SMEA-nya. Pikir saya, pasti jilbab itu masih ada.

Pulang sebentar meletakkan seragam baru, saya langsung menuju rumah sepupu untuk mengutarakan niat saya. Keluarga sepupu terkejut dan menyambut gembira rencana hijrah saya. Sepupu justru memberikan jilbab yang akan saya pinjam ditambah 2 jilbab lagi.Alhamdulillah.
Kembali lagi ke rumah, emak tidak menyangka kalau saya tidak main-main. Beliau sudah melihat sendiri kalau bocah wedok yang masih diangapnya pupuk bawang berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya. Setelah bertanya jawab mengenai seragam dan tabungan beasiswa, hati emak luluh. Siang itu juga, beliau sendiri kemudian yang mengantar saya balik ke pasar melengkapi seragam yang belum terbeli—satu pasang seragam OSIS dan Pramuka– tanpa saya minta. Subhanallah, hari itu menjadi hari yang membahagiakan buat saya. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya melangkah sendiri?

Bulan Maret 2000. Tanggal tepatnya saya lupa. Yang saya ingat, kakak-kakak kelas 3 sedang melaksanakan ujian Pra-EBTA ketika untuk pertama kalinya saya mengen
akan jilbab. Terutama mbak Arum, kakak-kakak dari ROHIS tentu terkejut senang. Mereka semua mengucapkan selamat dan mendoakan. Allah begitu mudah membukakan jalan saya. Rezeki bertubi-tubi datang. Sepupu saya yang lain memberikan 3 jilbab dan mbak Fatim, sohib kakak di kelas, memberikan satu jilbab cantik. Saya tak pernah khawatir dengan langkah saya selanjutnya. Emak menjadi pendukung saya. Beliau bahkan meminta kakak mengikuti jejak saya. Hidayah itu barangkali belum menyapa sehingga keinginan emak belum tercapai.

Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi berjilbab bagi saya masih menjadi proses belajar. Keimanan masih pasang surut tapi saya mensyukuri hidayah yang terus teraga. Jujur saya masih suka terpengaruh, ada model baju tertentu kadang kepengen memakai. Namun, apapun jenis pakaian saya, rok, celana, atau gamis, apapun jenis penutup kepala saya: model dan gaya apapun, saya tetap ingat rambu-rambu dari Allah: menutup dada dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Berjilbab toh bukan berarti tak bisa berekspresi dalam berpakaian—nyeni.

Alhamdulillah, emak yang dulu jadi penentang dan kini pendukung selalu memahami selera berjilbab putrinya. Beliau yang meskipun belum bisa kaffah berkerudung tak mau lagi memilih dan membeli jilbab ukuran kecil untuk dipakainya. Lumayan, kami bisa bertukar jilbab oblong. Malah saya yang lebih sering meminjam jilbab oblongnya untuk acara santai.

Magelang, 10-10-2010
Dedicated to my beloved emak

**tulisan ini ikut memeriahkan Lomba Jilbab Pertamaku di rumah bu Dian

***foto novel dari googling

Iklan

42 pemikiran pada “Lomba Menulis dan Jilbab Pertama: Kenekatan yang Meluluhkan Hati

  1. boemisayekti said: “Mau pinjam jilbab lagi.” Kata saya pada saudara sepupu suatu kali di masa SMU.“Buat apa?”“Pengaian Ahad.”Saudara saya memperlihatkan beberapa jilbab untuk saya pilih. Saya selalu memilih jilbab itu,sederhana tapi adem dipakai, sebuah jilbab dengan bordir di keempat sisinya. Sebulan sekali, SMU tempat saya belajar mengadakan pengjian Ahad. Saya selalu antusias mengikutinya. Alasannya simple: karena hanya pada kegiatan itu saya bisa berjilbab ke sekolah. Yeah, meskipun sekali-kali penutup kepalanya masih pinjam. Ya baru pinjam sebab waktu itu saya baru memiliki 2 potong kain jilbab yang saya milki sejak SD. Waktu itu saya belum berjilbab tetapi keinginan berjilbab sudah mengakar kuat dalam hati.Keinginan berjilbab mulai muncul sejak saya mengenal majalah Annida. Majalah itu diperkenalkan seorang teman SMP yang kakaknya berlangganan dari SMUnya. Sebelumnya, saya memang belum mengetahui kewajiban menutup aurat bagi muslimah. Ah, betapa dangkal pengetahuan agama saya. Kelas 2 SMP, beberapa teman sudah mendahului berjilbab tapi saya baru menjadi “penonton”. Beberapa saudara dari bapak sudah bejilbab, ponakan laki-laki bahkan rajin kampanye jilbab. Tapi, saran saja tanpa hidayah dan niat tulus mana ada hasilnya. Baru pada kelas 3 SMP saya mulai membeli Annida lewat kakak yang duduk di SMU dan berlanjut ketika saya mengikuti jejak kakak bersekolah di sebuah SMU negeri di Magelang. Selain ponakan laki-laki—kakak dia sudah berjilbab sejak SMEA–, beberapa yang rajin kampanye jilbab adalah kakak-kakak kelas dari ROHIS. Diantara mereka, ada mbak Arum yang paling care dengan saya. Selain memang ramah, mbak Arum sekelas dengan kakak dan kami bisa akrab. Begitu gencar mbak Arum mengajak adik-adik kelasnya berjilbab, sampai-sampai ketika saya memendekkan rambaut dia berkomentar,“Wah dipotong rambutnya, mau pake jilbab kok ya…”Nggak nyambung kan komentarnya? Saya balas komentarnya dengan senyum. Dalam hati saya mengamini. Keinginan itu memang sudah ada kok. Saya hanya belum siap, belum siap dengan pakaian panjang untuk sekolah. Kalau untuk di rumah tidak ada masalah karena sudah ada beberapa baju muslim pemberian sepupu dan saya sudah mulai memilih celana panjang atau baju panjang ketika dibelikan baju baru. Ketidaksiapan yang paling berarti sebenarnya adalah ijin ortu. Tiap kali saya mengutarakan keinginan, emak selalu bilang,“Ijeh kaya ngono kok nggo jilbab.” (Masih kayak gitu kok pakai jilbab)Kayak gitu yang dimaksud emak adalah sikap saya yang dilihatnya masih semau sendiri. Tingkah sehari-hari saya barangkali dilihatnya masih jauh dari kesan alim, citra yang selau menempel pada muslimah berjilbab. Padahal, bukankan berjilbab itu sebuah proses? Kalau nunggu alim dulu, kapan berjilbabnya karena diri selalu merasa kurang? Bukankah dengan jilbab kita akan belajar menyesuaika, belajar memperbaiki diri?Saya tak bisa melawan, belum punya kekuatan lebih. Tapi semakin saya membaca majalah Annida semakin kuat kerinduan saya akan jilbab. Boleh dibilang, kampanye dengan mulut tidak lebih mengena daripada bacaan-bacaan yang saya lahap. Saya tipe orang yang lebih suka membaca daripada mendengar. Cerpen-cerpen dalam majalah Annida banyak memberi inspirasi mengenai hidup. Kala itu, banyak penulis-penulis kondang seperti Helvy Tiana Rosa—sebagai pimred–, Asma Nadia, Sakti Wibowo tulisannya wira-wiri di Annida. Dari Annida pula saya mengenal HTR dan noveletnya yang ngeboom: Ketika Mas Gagah Pergi. Ajakan berjilbab dalam cerpen itu sangat menyentuh tanpa menggurui. Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Kata-kata yang sering saya baca itu selalu terngiang. Siang itu, saya ngobrol dengan kakak. Saya utarakan keinginan kuat itu. Kakak meskipun belum berjilbab mendukung saya untuk terus maju, bahkan akan membantu saya saat menghadap emak lagi. Saat itu juga saya mantab, mulai besok pagi dan seterusnya saya harus mengenakan jilbab di sekolah dan di rumah. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?Berkaca-kaca mata saya. Emak [lagi-lagi] belum berkata ya saat saya utarakan keinginan saya. “Seragam saja belum punya.” Begitu alasannya.“Aku bisa beli sendiri.”Setengah hati emak memberi kebebasan pada saya dengan nada menantang:“Terserah, tapi urusin semuanya sendiri.”Ini hanya tantangan kecil. Saya memiliki emak yang seislam dan seiman dengan saya. Tantangan itu tak ada apa-apanya dibanding ujian nabi Ibrahim yang ayahnya berbeda keyakinan. Emak sebagai orang tua yang kadang over khawatir mungkin hanya cemas kalau saya hanya main-main, belum siap untuk istiqomah. Tekad saya makin kuat. Bukankah Allah akan menolong hamba-Nya yang juga menolong agama-Nya( melaksanakan perintahnya)? Saya selalu yakin akan hal itu. Saya berani melangkah sebab saya menyimpan tabungan beasiswa sekolah. Itu rezeki dari Allah yang mempermudah jalan saya. Tanpa uang itu, saya tak berani bilang bisa beli sendiri sedang uang saku saja masih diberi. Dengan diantar kakak, saya berkeliling pasar untuk mencari pakaian seragam yang saya butuhkan. Baru dapat satu stel seragam putih abu-abu kami pulang. Yang lain belum cocok. Untuk jilbab saya belum membeli meskipun baru memiliki 2 jilbab putih. Sambil jalan saya akan mengumpulkan dan jilbab Pramuka sementara pinjam dahulu dari ponakan, bekas seragam SMEA-nya. Pikir saya, pasti jilbab itu masih ada.Pulang sebentar meletakkan seragam baru, saya langsung menuju rumah sepupu untuk mengutarakan niat saya. Keluarga sepupu terkejut dan menyambut gembira rencana hijrah saya. Sepupu justru memberikan jilbab yang akan saya pinjam ditambah 2 jilbab lagi.Alhamdulillah.Kembali lagi ke rumah, emak tidak menyangka kalau saya tidak main-main. Beliau sudah melihat sendiri kalau bocah wedok yang masih diangapnya pupuk bawang berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya. Setelah bertanya jawab mengenai seragam dan tabungan beasiswa, hati emak luluh. Siang itu juga, beliau sendiri kemudian yang mengantar saya
    balik ke pasar melengkapi seragam yang belum terbeli—satu pasang seragam OSIS dan Pramuka– tanpa saya minta. Subhanallah, hari itu menjadi hari yang membahagiakan buat saya. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya melangkah sendiri?Bulan Maret 2000. Tanggal tepatnya saya lupa. Yang saya ingat, kakak-kakak kelas 3 sedang melaksanakan ujian Pra-EBTA ketika untuk pertama kalinya saya mengenakan jilbab. Terutama mbak Arum, kakak-kakak dari ROHIS tentu terkejut senang. Mereka semua mengucapkan selamat dan mendoakan. Allah begitu mudah membukakan jalan saya. Rezeki bertubi-tubi datang. Sepupu saya yang lain memberikan 3 jilbab dan mbak Fatim, sohib kakak di kelas, memberikan satu jilbab cantik. Saya tak pernah khawatir dengan langkah saya selanjutnya. Emak menjadi pendukung saya. Beliau bahkan meminta kakak mengikuti jejak saya. Hidayah itu barangkali belum menyapa sehingga keinginan emak belum tercapai.Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi berjilbab bagi saya masih menjadi proses belajar. Keimanan masih pasang surut tapi saya mensyukuri hidayah yang terus teraga. Jujur saya masih suka terpengaruh, ada model baju tertentu kadang kepengen memakai. Namun, apapun jenis pakaian saya, rok, celana, atau gamis, apapun jenis penutup kepala saya: model dan gaya apapun, saya tetap ingat rambu-rambu dari Allah: menutup dada dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Berjilbab toh bukan berarti tak bisa berekspresi dalam berpakaian—nyeni. Alhamdulillah, emak yang dulu jadi penentang dan kini pendukung selalu memahami selera berjilbab putrinya. Beliau yang meskipun belum bisa kaffah berkerudung tak mau lagi memilih dan membeli jilbab ukuran kecil untuk dipakainya. Lumayan, kami bisa bertukar jilbab oblong. Malah saya yang lebih sering meminjam jilbab oblongnya untuk acara santai. Magelang, 10-10-2010Dedicated to my beloved emak **tulisan ini ikut memeriahkan Lomba Jilbab Pertamaku di rumah bu Dian***foto novel dari googling

  2. boemisayekti said: “Mau pinjam jilbab lagi.” Kata saya pada saudara sepupu suatu kali di masa SMU.“Buat apa?”“Pengaian Ahad.”Saudara saya memperlihatkan beberapa jilbab untuk saya pilih. Saya selalu memilih jilbab itu,sederhana tapi adem dipakai, sebuah jilbab dengan bordir di keempat sisinya. Sebulan sekali, SMU tempat saya belajar mengadakan pengjian Ahad. Saya selalu antusias mengikutinya. Alasannya simple: karena hanya pada kegiatan itu saya bisa berjilbab ke sekolah. Yeah, meskipun sekali-kali penutup kepalanya masih pinjam. Ya baru pinjam sebab waktu itu saya baru memiliki 2 potong kain jilbab yang saya milki sejak SD. Waktu itu saya belum berjilbab tetapi keinginan berjilbab sudah mengakar kuat dalam hati.Keinginan berjilbab mulai muncul sejak saya mengenal majalah Annida. Majalah itu diperkenalkan seorang teman SMP yang kakaknya berlangganan dari SMUnya. Sebelumnya, saya memang belum mengetahui kewajiban menutup aurat bagi muslimah. Ah, betapa dangkal pengetahuan agama saya. Kelas 2 SMP, beberapa teman sudah mendahului berjilbab tapi saya baru menjadi “penonton”. Beberapa saudara dari bapak sudah bejilbab, ponakan laki-laki bahkan rajin kampanye jilbab. Tapi, saran saja tanpa hidayah dan niat tulus mana ada hasilnya. Baru pada kelas 3 SMP saya mulai membeli Annida lewat kakak yang duduk di SMU dan berlanjut ketika saya mengikuti jejak kakak bersekolah di sebuah SMU negeri di Magelang. Selain ponakan laki-laki—kakak dia sudah berjilbab sejak SMEA–, beberapa yang rajin kampanye jilbab adalah kakak-kakak kelas dari ROHIS. Diantara mereka, ada mbak Arum yang paling care dengan saya. Selain memang ramah, mbak Arum sekelas dengan kakak dan kami bisa akrab. Begitu gencar mbak Arum mengajak adik-adik kelasnya berjilbab, sampai-sampai ketika saya memendekkan rambaut dia berkomentar,“Wah dipotong rambutnya, mau pake jilbab kok ya…”Nggak nyambung kan komentarnya? Saya balas komentarnya dengan senyum. Dalam hati saya mengamini. Keinginan itu memang sudah ada kok. Saya hanya belum siap, belum siap dengan pakaian panjang untuk sekolah. Kalau untuk di rumah tidak ada masalah karena sudah ada beberapa baju muslim pemberian sepupu dan saya sudah mulai memilih celana panjang atau baju panjang ketika dibelikan baju baru. Ketidaksiapan yang paling berarti sebenarnya adalah ijin ortu. Tiap kali saya mengutarakan keinginan, emak selalu bilang,“Ijeh kaya ngono kok nggo jilbab.” (Masih kayak gitu kok pakai jilbab)Kayak gitu yang dimaksud emak adalah sikap saya yang dilihatnya masih semau sendiri. Tingkah sehari-hari saya barangkali dilihatnya masih jauh dari kesan alim, citra yang selau menempel pada muslimah berjilbab. Padahal, bukankan berjilbab itu sebuah proses? Kalau nunggu alim dulu, kapan berjilbabnya karena diri selalu merasa kurang? Bukankah dengan jilbab kita akan belajar menyesuaika, belajar memperbaiki diri?Saya tak bisa melawan, belum punya kekuatan lebih. Tapi semakin saya membaca majalah Annida semakin kuat kerinduan saya akan jilbab. Boleh dibilang, kampanye dengan mulut tidak lebih mengena daripada bacaan-bacaan yang saya lahap. Saya tipe orang yang lebih suka membaca daripada mendengar. Cerpen-cerpen dalam majalah Annida banyak memberi inspirasi mengenai hidup. Kala itu, banyak penulis-penulis kondang seperti Helvy Tiana Rosa—sebagai pimred–, Asma Nadia, Sakti Wibowo tulisannya wira-wiri di Annida. Dari Annida pula saya mengenal HTR dan noveletnya yang ngeboom: Ketika Mas Gagah Pergi. Ajakan berjilbab dalam cerpen itu sangat menyentuh tanpa menggurui. Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Kata-kata yang sering saya baca itu selalu terngiang. Siang itu, saya ngobrol dengan kakak. Saya utarakan keinginan kuat itu. Kakak meskipun belum berjilbab mendukung saya untuk terus maju, bahkan akan membantu saya saat menghadap emak lagi. Saat itu juga saya mantab, mulai besok pagi dan seterusnya saya harus mengenakan jilbab di sekolah dan di rumah. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?Berkaca-kaca mata saya. Emak [lagi-lagi] belum berkata ya saat saya utarakan keinginan saya. “Seragam saja belum punya.” Begitu alasannya.“Aku bisa beli sendiri.”Setengah hati emak memberi kebebasan pada saya dengan nada menantang:“Terserah, tapi urusin semuanya sendiri.”Ini hanya tantangan kecil. Saya memiliki emak yang seislam dan seiman dengan saya. Tantangan itu tak ada apa-apanya dibanding ujian nabi Ibrahim yang ayahnya berbeda keyakinan. Emak sebagai orang tua yang kadang over khawatir mungkin hanya cemas kalau saya hanya main-main, belum siap untuk istiqomah. Tekad saya makin kuat. Bukankah Allah akan menolong hamba-Nya yang juga menolong agama-Nya( melaksanakan perintahnya)? Saya selalu yakin akan hal itu. Saya berani melangkah sebab saya menyimpan tabungan beasiswa sekolah. Itu rezeki dari Allah yang mempermudah jalan saya. Tanpa uang itu, saya tak berani bilang bisa beli sendiri sedang uang saku saja masih diberi. Dengan diantar kakak, saya berkeliling pasar untuk mencari pakaian seragam yang saya butuhkan. Baru dapat satu stel seragam putih abu-abu kami pulang. Yang lain belum cocok. Untuk jilbab saya belum membeli meskipun baru memiliki 2 jilbab putih. Sambil jalan saya akan mengumpulkan dan jilbab Pramuka sementara pinjam dahulu dari ponakan, bekas seragam SMEA-nya. Pikir saya, pasti jilbab itu masih ada.Pulang sebentar meletakkan seragam baru, saya langsung menuju rumah sepupu untuk mengutarakan niat saya. Keluarga sepupu terkejut dan menyambut gembira rencana hijrah saya. Sepupu justru memberikan jilbab yang akan saya pinjam ditambah 2 jilbab lagi.Alhamdulillah.Kembali lagi ke rumah, emak tidak menyangka kalau saya tidak main-main. Beliau sudah melihat sendiri kalau bocah wedok yang masih diangapnya pupuk bawang berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya. Setelah bertanya jawab mengenai seragam dan tabungan beasiswa, hati emak luluh. Siang itu juga, beliau sendiri kemudian yang mengantar saya
    balik ke pasar melengkapi seragam yang belum terbeli—satu pasang seragam OSIS dan Pramuka– tanpa saya minta. Subhanallah, hari itu menjadi hari yang membahagiakan buat saya. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya melangkah sendiri?Bulan Maret 2000. Tanggal tepatnya saya lupa. Yang saya ingat, kakak-kakak kelas 3 sedang melaksanakan ujian Pra-EBTA ketika untuk pertama kalinya saya mengenakan jilbab. Terutama mbak Arum, kakak-kakak dari ROHIS tentu terkejut senang. Mereka semua mengucapkan selamat dan mendoakan. Allah begitu mudah membukakan jalan saya. Rezeki bertubi-tubi datang. Sepupu saya yang lain memberikan 3 jilbab dan mbak Fatim, sohib kakak di kelas, memberikan satu jilbab cantik. Saya tak pernah khawatir dengan langkah saya selanjutnya. Emak menjadi pendukung saya. Beliau bahkan meminta kakak mengikuti jejak saya. Hidayah itu barangkali belum menyapa sehingga keinginan emak belum tercapai.Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi berjilbab bagi saya masih menjadi proses belajar. Keimanan masih pasang surut tapi saya mensyukuri hidayah yang terus teraga. Jujur saya masih suka terpengaruh, ada model baju tertentu kadang kepengen memakai. Namun, apapun jenis pakaian saya, rok, celana, atau gamis, apapun jenis penutup kepala saya: model dan gaya apapun, saya tetap ingat rambu-rambu dari Allah: menutup dada dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Berjilbab toh bukan berarti tak bisa berekspresi dalam berpakaian—nyeni. Alhamdulillah, emak yang dulu jadi penentang dan kini pendukung selalu memahami selera berjilbab putrinya. Beliau yang meskipun belum bisa kaffah berkerudung tak mau lagi memilih dan membeli jilbab ukuran kecil untuk dipakainya. Lumayan, kami bisa bertukar jilbab oblong. Malah saya yang lebih sering meminjam jilbab oblongnya untuk acara santai. Magelang, 10-10-2010Dedicated to my beloved emak **tulisan ini ikut memeriahkan Lomba Jilbab Pertamaku di rumah bu Dian***foto novel dari googling

  3. indriatahir1207 said: waaahhh KMGP, buku kumpulan cerpen pertama yang mulai saya punya dan bikin suka baca buku2 sejenis. toss bu guruuuu…pinjam dong jilbabnya lama g pulang indo cuma punya tarha sama cadar.hehehe…

    toss!! ^__^gak bosen baca buku itu…lha di sana harus pake cadar juga ta mbak?

  4. boemisayekti said: toss!! ^__^gak bosen baca buku itu…lha di sana harus pake cadar juga ta mbak?

    “Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?”Beberapa kalimat dari cerita pengalaman berjilbabmu ini yg membuat saya juga memutuskan berjilbab, 18 tahun lalu.^_^

  5. cupcakemaiden said: “Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?”Beberapa kalimat dari cerita pengalaman berjilbabmu ini yg membuat saya juga memutuskan berjilbab, 18 tahun lalu.^_^

    pengalaman yang sama… tapi lebih lama ya … 18 tahun…semoga kita istiqomah, amin,,,terima kasih kunjungannya, salam kenal 🙂

  6. boemisayekti said: belum siap dengan pakaian panjang untuk sekolah.

    Penjilbab harus tetap dapat bergerak-bebas dalam pakainnya, dapat lari cepat dan kalau perlu nendang-mlambung ke bawah-perut ca-calon pmerkosa.Buatlah jilbab di mana ada tro-trowongan-kecil udara dari pinggir-kain ke arah rambut. Iih … sekitar prayaan kmerdekaanmu y.l. , ada ce Indonesia nerima salamku sambil mbungkuk dan perlihatkan dua-gunung kembarnya. Mata-jantanku mau-ngga mau nempel juga ke gu-gunung tu sejenak. Tapi, ya tapi … Jlas si ce tu ngga penjilbab!.Pokoknya kalau kau bjilbab , ada rasa-segan (tuk ma-macam) co padamu. Ada rasa ngga-perlu terganggu oleh daya-tarik kebetinaanmu.

  7. mutitem said: Penjilbab harus tetap dapat bergerak-bebas dalam pakainnya, dapat lari cepat dan kalau perlu nendang-mlambung ke bawah-perut ca-calon pmerkosa.Buatlah jilbab di mana ada tro-trowongan-kecil udara dari pinggir-kain ke arah rambut. Iih … sekitar prayaan kmerdekaanmu y.l. , ada ce Indonesia nerima salamku sambil mbungkuk dan perlihatkan dua-gunung kembarnya. Mata-jantanku mau-ngga mau nempel juga ke gu-gunung tu sejenak. Tapi, ya tapi … Jlas si ce tu ngga penjilbab!.Pokoknya kalau kau bjilbab , ada rasa-segan (tuk ma-macam) co padamu. Ada rasa ngga-perlu terganggu oleh daya-tarik kebetinaanmu.

    yups, insya Allah terlindungi, tergantung niat kita berjilbab buat apa…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s