Pulang

Seringkali, dalam sebuah perjalanan ada semacam perasaan sia-sia menyergap. Pertanyaan-pertanyaan berbalut penyesalan mengusik,
“Kenapa saya harus datang ke tempat ini, jauh-jauh,tapi gak dapat apa-apa?”
“Kenapa Allah membiarkan saya melakukan perjalanan ke sini?”

Kalau sudah begini, saya akan mengais-ais hikmah dari apa yang sedang saya jalani (jeleknya saya!). Saya akan mencari-cari, bukankah tak ada yang sia-sia dan Allah selalu memberikan hikmah? Apa yang Allah berikan kali ini? (jeleknya, selalu minta imbalan!)

Bagaimanapun juga, sebuah perjalanan selalu menjadi ruang kontemplasi bagi saya. Ketika saya berjarak dengan rumah, dengan segala rutinitas di rumah dan pekerjaan sehari-hari, saya bisa memikirkan dan menguraikan banyak hal, termasuk kepenatan. Barangkali itu yang saya sukai dari sebuah perjalanan. Di bus dalam perjalanan berangkat atau pulang bepergian, ketika bertemu dengan banyak orang dengan ragamnya, ketika melewati berbagai tempat dengan segala keunikannya, banyak hal baru masuk di kepala dan hati, mengusik untuk di renungkan saat itu juga. Begitu juga dengan perjalanan kemarin dari Solo. Merasa tak dapat apa-apa dan kecewa, di bus dalam perjalanan pulang saya melamun sementara percakapan di sekitar diam-diam masuk di telinga. Penumpang di sebelah tempat duduk asyik mengobrol tentang berbagai bencana di Indonesia. Penjaja makanan wira-wiri menawarkan makanan. Seorang anak seusia siswa SD menjajakan koran. Ah, tidak asing, anak sekecil itu sudah berjuang mencari uang?

Potret di perjalanan itu menghadirkan rasa syukur. Betapa beruntungnya saya masih punya orang tua yang memiliki rumah tempat saya pulang. Betapa bersyukur saya mempunyai orang tua yang menanti kedatangan saya di rumah. Betapa beruntung saya bisa beristirahat malam dengan nikmat, di atas kasur kapuk yang memberikan kehangatan, ‘bersembunyi’ di bawah selimut lawas dengan bau khasnya, berbantal beruang biru yang sedang hibernasi, lembut. Kangen rumah, rasa itu yang kemudian menyergap. Rasa kangen semacam itu selalu saya sukai. Pulang, menjadi hal yang selalu saya rindukan ketika jauh dari rumah ( kalau kemarin, padahal cuma di bus beberapa kota dari rumah). Yah, senikmat apapun perjalanan, seindah apapun pemandangan di depan mata, seenjoy apapun jalan-jalan itu, pulang pasti menjadi hal yang dirindukan.

Malam harinya, ketika sudah berbaring mengendapkan penat, betapa rasa syukur itu berlipat adanya, dengan kilasan-kilasan perjalanan di luar rumah yang berkelebatan. Ah, inilah saya, sudah berada di tempat aman itu. Sudah pulang! Hangat.

Iklan

20 pemikiran pada “Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s