SANG PENCERAH: Novelisasi Kehidupan K.H Ahmad Dahlan & Perjuangannya Mendirikan Muhamadiyah

Penerbit: Mizan, Juli, cet ke-2
Tebal : 480 hal

Kalau ada lebih banyak lagi novel sejarah semacam Sang Pencerah, maka mempelajari sejarah akan terasa lebih menyenangkan dan mengena. Belajar sejarah toh bukan hanya menghafalkan nama tokoh, peristiwa monumental yang melekat padanya beserta tanggal dan tahunnya, tapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dan inspirasi dari perjalanan tokoh tersebut. Membaca novel akan berbeda dengan membaca buku teks sejarag. Alur cerita novel mampu membawa kita larut memasuki kehidupan tokoh, menyimak pemikiran dan gagasan-gagasan besar sepanjang perjuangan dan perjalanan hidupnya. Demikian halnya dengan Sang Pencerah.

Meskipun bagi saya alur novel ini sangat sederhana dan cara bercerita Akmal biasa saja, tapi muatan sejarah serta pesan-pesan dakwah di dalamnya menjadi nilai lebih di mata saya. Mulanya, halaman demi halaman saya baca hanya karena tuntutan novel ini harus saya selesaikan, artinya bukan atas dorongan rasa penasaran karena terjebak alur yang menghanyutkan. Bukan. Namun begitu konflik demi konflik yang menjadi kerikil bagi perjuangan dakwah Ahmad Dahlan bermunculan sampai kemudian berdiri Muhamadiyah,saya mulai terhanyut. Ada hikmah dan inspirasi menyusup dalam berbagai peristiwa tersebut.

Di luar pesan dan inspirasi Sang Pencerah, ada hal yang begitu mengganggu yaitu perpindahan sudut pandang aku dari Ahmad Dahlan ke Nyai Walidah di bab 4 (“Kisah Walidah”). Hanya satu bab ketika penulis memperkenalkan sosok Walidah. Sebenarnya perpindahan semacam itu pernah saya jumpai dalam novel N.H Dini, Pada Sebuah Kapal. Bedanya, dalam novel Dini, proporsinya imbang, novel memang dibagi dua bagian, PENARI dan PELAUT, masing-masing dengan sudut pandang aku:Sri dan Michel . Pembaca akan menyelami jalan pikiran Sri maupun Michel . Nha, kalau dalam Sang Pencerah, perpindahan itu kesannya tempelan. Aneh saja bagi saya.

foto nyulik dari Penerbit Mizan

Iklan

12 pemikiran pada “SANG PENCERAH: Novelisasi Kehidupan K.H Ahmad Dahlan & Perjuangannya Mendirikan Muhamadiyah

  1. boemisayekti said: Blum ntn filmnya tp dibayangan saya lebih ‘greget’ filmnya dibanding bukunya,meski buku lebih komplet dr segi cerita krn bnyk pengembangan.. Sjak muncul iklan film itu,langsung naksir tp blm kesampean 😦

    iya di filmnya mungkin ndak selengkap buku..tp keren jg…oya belum kesampean yah…abis waktu kerjaan tugas2 ya….nunggu di vcd kayaknya klo skrg ini πŸ˜€

  2. boemisayekti said: Blum ntn filmnya tp dibayangan saya lebih ‘greget’ filmnya dibanding bukunya,meski buku lebih komplet dr segi cerita krn bnyk pengembangan.. Sjak muncul iklan film itu,langsung naksir tp blm kesampean 😦

    Nunggu pinjeman dari teman,katanya mau ngopikan :D. Kyknya Ario gak bkin review filmnya ya?

  3. boemisayekti said: Nunggu pinjeman dari teman,katanya mau ngopikan :D. Kyknya Ario gak bkin review filmnya ya?

    iya ni belum sempat…nanti mudah2an bisa reviewmasi mo nyelesein hutang postingan MeMe dulu :Dmo dikopi ya..oke ditonton2 ya πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s