Kangen Enid Blyton

Siapa tak kenal Enid Blyton, penulis wanita kelahiran Dulwich, London, 11 Agustus 1897? Enid Blyton merupakan pengarang yang namanya tercatat dalam daftar UNESCO 1975 sebagai penulis wanita kedua di dunia yang buku-bukunya paling banyak diterjemahkan–yang pertama siapa ya?–. Berkat kegemarannya membaca sejak kecil, ia berhasil menulis sekitar 700 buku dan beberapa diantaranya telah diterjemahkan dalam 3400 bahasa. Buku pertamanya, Child Whisper, terbit di tahun 1922. Usia 18 tahun ia telah menerbitkan puisi dan cerpen, namun karya-karya berupa cerita anak baru lahir setelah ia menjadi guru. Ia meninggal pada usia 81 namun namanya tetap bersemayam di hati anak-anak seluruh dunia.

Tiba-tiba malam ini saya kangen Enid Blyton. Saya mengenalnya ketika SD. Semua buku Lima Sekawan di rak buku teman saya sudah saya libas, selain semua serial STOP dan Trio Detektif. Untuk ukuran anak-anak waktu itu dan masyarakat di sekitar saya, koleksi teman saya di perpustakaan keluarganya termasuk lengkap, maklum di putri seorang camat, terbilang pejabat lah di desa. Banyak seri yang saya baca, kalau disuruh nyebutin judulnya, ah sudah hilang dari ingatan, cuma ingat Kereta Hantu-kalau tak salah-. Waktu itu saya sedang gandrung-gandrungnya dengan serial petualangan dan detektif. Ada satu lagi yang saya kenal selain Lima Sekawan yaitu Pasukan Mau Tahu. Semua buku itu benar-benar membuat bahagia, petualangan mereka mengajak imajinasi bocah saya mengembara bersama mereka. Meskipun semua buku tersebut bercerita tentang penyelidikan sebuah kasus yang menantang segala rasa ingin tahu, tapi Lima Sekawan berbeda dengan TD, STOP. Trio Detektif lebih kental dengan strategi penyelidikan yang menonjolkan kejeniusan otak, terutama Jupiter Jones, sedangkan Lima Sekawan mengedepankan petualangan di alam. Saya seperti terlibat dalam perkemahan atau jalan-jalan yang mereka lakukan.

Satu lagi karya Enid Blyton yang terekam dalam memori saya, Si Badung. Dulu, saya dibuat kagum dengan segala tingkah laki-laki kecil itu. Kenakalannya menggemaskan dan menghibur jiwa kanak-kanak saya. Si Badung saya temukan di rumah saudara sepupu yang pernah memiliki perpustakaan kecil.

Malam ini tiba-tiba kangen mereka tapi tak ada obatnya. Tak ada satupun karyanya yang saya miliki, sayang sekali. Entah, Si Badung sekarang berada di mana, mengingat buku-buku di tempat saudara tak ketahuan lagi jejaknya, sayang seribu sayang.

*sedikit info tentang Enid Blyton dan foto saya dapatkan dari wikipedia dan sini

Iklan

37 pemikiran pada “Kangen Enid Blyton

  1. Iya, buku yang saya baca jaman SD juga kebanyakan karya Enid Blyton.Tulisan2nya bener-bener nyangkut di memori saya …Sampai hari ini beberapa buku karya Enid Blyton (sebagian hilang ketika kami harus pindah rumah) masih tersimpan rapi di rumah Semarang (Papa Mama) dan Bandung (rumah saya) …

  2. @revinaoctavianitadr:koleksi karya2nya jga rupanya, msh buku2 yg lama dong punya mbak Vina. Kisah2nya khas anak bgt ya mbak. Btw, nulis namanya ternyata saya salah, jadi malu! Blm bs ngedit 😦

  3. boemisayekti said: @mfanies:iyak,lbh suka buku fisik, lbh asyik dikoleksi. Ario bener2 penggemar buku klasik deh, koleksinya pasti banyak πŸ™‚

    tp uda bny tercecer…hilang bagai asap…..lenyap…ndak ketauan rimbanya….:Ddonlot dulu aj deh

  4. boemisayekti said: @mfanies:iyak,lbh suka buku fisik, lbh asyik dikoleksi. Ario bener2 penggemar buku klasik deh, koleksinya pasti banyak πŸ™‚

    @mfanies:yani paling gemes denger ada buku2 lezat sampe ilang, kyk di tempat saudara,dulu bsa ikutan baca skrg ga tau rimbanya 😦 Ayo dong buku2 dirawat baek2 ^^V

  5. boemisayekti said: @mfanies:iyak,lbh suka buku fisik, lbh asyik dikoleksi. Ario bener2 penggemar buku klasik deh, koleksinya pasti banyak πŸ™‚

    @mfanies:yani paling gemes denger ada buku2 lezat sampe ilang, kyk di tempat saudara,dulu bsa ikutan baca skrg ga tau rimbanya 😦 Ayo dong buku2 dirawat baek2 ^^V

  6. boemisayekti said: Siapa tak kenal Enid Blyton, penulis wanita kelahiran Dulwich, London, 11 Agustus 1897? Enid Blyton merupakan pengarang yang namanya tercatat dalam daftar UNESCO 1975 sebagai penulis wanita kedua di dunia yang buku-bukunya paling banyak diterjemahkan–yang pertama siapa ya?–. Berkat kegemarannya membaca sejak kecil, ia berhasil menulis sekitar 700 buku dan beberapa diantaranya telah diterjemahkan dalam 3400 bahasa. Buku pertamanya, Child Whisper, terbit di tahun 1922. Usia 18 tahun ia telah menerbitkan puisi dan cerpen, namun karya-karya berupa cerita anak baru lahir setelah ia menjadi guru. Ia meninggal pada usia 81 namun namanya tetap bersemayam di hati anak-anak seluruh dunia.Tiba-tiba malam ini saya kangen Enid Blyton. Saya mengenalnya ketika SD. Semua buku Lima Sekawan di rak buku teman saya sudah saya libas, selain semua serial STOP dan Trio Detektif. Untuk ukuran anak-anak waktu itu dan masyarakat di sekitar saya, koleksi teman saya di perpustakaan keluarganya termasuk lengkap, maklum di putri seorang camat, terbilang pejabat lah di desa. Banyak seri yang saya baca, kalau disuruh nyebutin judulnya, ah sudah hilang dari ingatan, cuma ingat Kereta Hantu-kalau tak salah-. Waktu itu saya sedang gandrung-gandrungnya dengan serial petualangan dan detektif. Ada satu lagi yang saya kenal selain Lima Sekawan yaitu Pasukan Mau Tahu. Semua buku itu benar-benar membuat bahagia, petualangan mereka mengajak imajinasi bocah saya mengembara bersama mereka. Meskipun semua buku tersebut bercerita tentang penyelidikan sebuah kasus yang menantang segala rasa ingin tahu, tapi Lima Sekawan berbeda dengan TD, STOP. Trio Detektif lebih kental dengan strategi penyelidikan yang menonjolkan kejeniusan otak, terutama Jupiter Jones, sedangkan Lima Sekawan mengedepankan petualangan di alam. Saya seperti terlibat dalam perkemahan atau jalan-jalan yang mereka lakukan. Satu lagi karya Enid Blyton yang terekam dalam memori saya, Si Badung. Dulu, saya dibuat kagum dengan segala tingkah laki-laki kecil itu. Kenakalannya menggemaskan dan menghibur jiwa kanak-kanak saya. Si Badung saya temukan di rumah saudara sepupu yang pernah memiliki perpustakaan kecil.Malam ini tiba-tiba kangen mereka tapi tak ada obatnya. Tak ada satupun karyanya yang saya miliki, sayang sekali. Entah, Si Badung sekarang berada di mana, mengingat buku-buku di tempat saudara tak ketahuan lagi jejaknya, sayang seribu sayang.*sedikit info tentang Enid Blyton dan foto saya dapatkan dari wikipedia dan sini

    He .. hee.

  7. mutitem said: Ha … haa ….Tapi Yan, ku jadi mikir apa kini put-putri yang seusia to-tokoh Enid tumasih sperti bu-buku Enid dulu tu perhatian dan kgiatannya.Brapa ya umur a-anak di buku tu?.

    seusia SD… anak sekarang kalo di tempatku sepertinya jarang, pada nggak kenal, entah di kota…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s