Berkenalan dengan Kakek di Tepi Danau

Naik kelas, siapa tak mau naik kelas? Kenaikan tingkat bukan milik para pelajar atau mahasiswa saja. Kita,baik masih dalam masa ‘study’ atau bukan, sejatinya masih terus belajar dalam sebuah universitas bernama kehidupan. Masalah, salah satunya menjadi penentu kenaikan kelas sebagai seorang pribadi yang berkualitas. Sama halnya seorang pelajar/mahasiswa yang semakin tinggi tingkatannya akan semakin sulit ujiannya,begitupun kita dalam universitas kehidupan ini. Satu masalah selesai masalah lain sudah menunggu. Adaaa sajaaa masalah, nggak selesai-selesai, begitu keluh kita kadangkala, tanpa sadar bahwa saat itu sedang menjalani ujian kenaikan kelas maupun ujian tingkat keimanan. Satu masalah lolos, masalah yang datang kemudian bisa jadi akan lebih berat.

Bagaimana kita menghadapi masalah itu sebenarnya tergantung pada sudut pandang. Ada sesosok penyuka sepeda yang baru saja saya kenal lewat blognya, namanya bang Aswi. Sosok itu mencontohkan ketika memandang masalah sama halnya ketika memandang uang Rp 1.000 dan Rp 100.000. Uang Rp 100.000 bisa jadi sangat kecil sekali, terlebih Rp 1000, misal bagi jutawan. Namun bagi orang yang hidupnya susah Rp 100.000 terasa besar sekali,sulit sekali untuk mendapatkannya. Seribu rupiahpun sangat berarti ketika kita membutuhkan, untuk membayar parkir misalnya.

Selain sudut pandang, tak kalah pentingnya kelapangan dada dalam menghadapi masalah. Cerita kakek di tepi danau yang disampaikan sosok itu dalam tulisan yang berjudul Masalah:Tembok yang Harus Dihadapi meninggalkan kesan yang terus saya bawa.

Seorang kakek yang tinggal di tepi danau. Sang kakek hanya memberikan semangkuk air pada seseorang yang berkeluh kesah. Segenggam garam dimasukkan pada mangkuk itu dan orang itu diminta meminumnya. Asin, tentu saja. Sang kakek kemudian melempar segenggam garam ke danau, lalu orang itu diminta untuk meminum air danau. Tidak asin, jelas sekali. Sang kakek pun berujar, β€œJika hatimu seluas mangkuk, wajar saja jika permasalahanmu begitu berat sekali. Akan tetapi jika hatimu seluas danau ini, permasalahanmu itu tidak ada apa-apanya.” Orang itu pun tertegun mendengar petuah bijak dari sang kakek

Kebetulan sekali, ketika saya mengunjungi blognya,masalah di sekolah bertubi-tubi datang, menghadpi siswa-siswa bermasalah. Pundak seperti diberati beban yang kian hari kian bertambah. Bisakah saya menyelesaikannya? Berkali-kali pertanyaan itu menganggu. Saya tepis rasa pesimis dengan menghadirkan kakek di tepi danau. Kakek bijak itu tak hanya memberikan pencerahan untuk laki-laki yang datang ke danau, namun melalui cerita dari sosok itu, saya turut merasakan inspirasinya. Sungguh. Saya tekankan pada diri sendiri bahwa saya ingin menjadi danau, bukan mangkuk yang sempit. Begitupun ketika seorang teman curhat via sms. Saya bagikan cerita yang sama.

Sosok itu mengingatkan juga bahwa ketika teman-teman datang curhat berkeluh kesah, sebenarnya kita sedang diberi kepercayaan untuk belajar memandang berbagai masalah. Menjadi gentong seperti sosok itu? Justru pada saat itu kesempatan terbuka lebar untuk menampung berbagai hikmah dari persoalan-persoalan itu. Saat itu kita akan tahu, ada orang lain yang kesulitannya lebih besar dari kita. Dengan begitu, sudah sepantasnya kita banyak bersyukur.

*Mencoba mengikuti kuis bang Aswi lewat tulisan ini.

Iklan

11 pemikiran pada “Berkenalan dengan Kakek di Tepi Danau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s