Saya, Emak, dan Wedang Bubuk

“Kok ambune enak? Gawe kopi?” tebak emak sambil mendekat. Pasti tergoda dengan aroma khas yang meruap dari cangkir saya. Sore, saat favorit untuk menikmati wedang bubuk.
“Rada-rada semriwing?!” ujar emak suatu ketika seraya meletakkan sendok kecil di tepi cangkir. Saya pernah menfavoritkan kopi instan dengan sensasi dingin di lidah. Senang merasakannya berlama-lama. Judulnya memang ‘cooling’, rasa yang pastinya baru di lidah emak yang hanya mengenal kopi hitam tubruk.

Emak paling sering berkomentar begini,” Mesti nek nggawe kakean banyu.”
Perasaan, kopi saya sudah pas. Memang pernah sih terlalu banyak menuang air panas, tapi tak sesering komentar emak. Terang saja kalau emak kerap berujar begitu. Emak pernah menjadi pecandu kopi, dulu sekali, kopi tubruk, kental, hitam pekat, tapi manis. Waktu itu saya masih kecil dan tak sedikitpun melirik wedang bubuk ( istilah yang dipakai emak dan bapak). Saya pernah dimintai tolong membeli kopi dari tetangga kampung karena sudah sore dan pasar tempat biasa beli kopi sudah tutup. Saya heran sekaligus takjub dengan aroma yang menyeruak dari wajan saat kopi disangrai. Kebetulan sekali, kala saya datang proses pembuatan kopi sedang berlangsung (sekarang sepertinya keluarga itu tidak lagi membuat bubuk kopi). Saya menikmati aromanya. Meski begitu, saya tidak lantas suka kopi.

Toples kecil yang mulanya diisi kopi tubruk dari pasar mendadak berubah menjadi wadah lain karena vonis satu penyakit untuk bapak. Emak juga disarankan menghentikan konsumsi kopi ( yang suka kopi duluan emak atau bapak, entah, keduanya pecandu kopi). Tak sedikitpun keluarga saya mencium aroma kopi sesudah itu. Saya kemudian kenal kopi (instan) karena butuh melek untuk mengerjakan skripsi di kost. Lama-lama biasa dan suka. Sekarang, emak kadangkala pastilah tergiur mencium kepulan dari cangkir wedang bubuk yang saya aduk. Aroma yang dulu lekat di hidungnya. Satu dua sendok emak nyicip kopi instan seduhan saya. Sekali-kali saja saya ‘merebus’ kopi hitam tubruk. Saya lebih sering tak tahan dengan pahitnya sehingga secangkir pun tak sampai tandas. Menyitir “Buku Besar Peminum Kopi” ala Ikal dalam Cinta dalam Gelas, saya mungkin pantas bersyukur, itu artinya nasib saya tak sepahit kopi hitam itu, hihi.

*sekedar curcol selepas ngopi 😀
ket:
Kok ambune enak? Gawe kopi?= kok baunya enak? membuat kopi?
Mesti nek nggawe kakean banyune= tiap kali buat pasti kebanyakan air

foto minjam punya Laras dari sini

Iklan

6 pemikiran pada “Saya, Emak, dan Wedang Bubuk

  1. sy paling grogi kalo nyuguhin kopi ke tamu..jadi kalo ada yg minta kopi pake kopi instant aja biar takarannya standar..:)sy dulu ga suka ngopi..pas kuliah lg, terpaksa ngopi krn ngantuk melulu di kelas.. skrg kuliah sdh habis (tinggal tesis), berhenti juga ngopinya:)

  2. @mutitem:pasti juga suka! ^^@moestoain:yah, sama di kost juga dlu makan minum suka ‘koronan’, guyub :)@bundakirana:sama mbak Dina, saya jga gak ngrti menakar kopi, asal dipasin aja…, lbh sering minum instan. . .Berarti udah gak prnah ngopi lg ya? :)@cinderellazty:kembali ke selera 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s