[Ultah Cambai : Flash Fiction] Rasa Sesal

Dhe Mari meninggal barusan, emak mau ke sana,” emak tergesa bersiap. Aku yang baru pulang dibuatnya melongo.

Dhe Mari, sepupu terdekat bapak kini telah menyusul pergi saudara-saudaranya, dhe Yo dan dhe Asiah. Dhe Mari teramat dekat dengan bapak sehingga beliau pun begitu gemati dengan anak-anak bapak.

Aku tergugu tiba-tiba, dadaku sesak. Aku ingin meledakkan tangis yang sudah kutahan sejak semalam, saat aku melihat album foto keluarga, mengelus-elus gambarku di pangkuan bapak. Sebenarnya tadi malam aku berencana menengok dhe Mari. Keasyikan menikmati album membuatku melupakan rencana itu. Lagipula aku sibuk dengan perasaanku.

“Aku nyesel, kenapa semalam nggak jadi nengok dhe Mari, nyesel… kalau saja semalam aku sempat nengok….”
Emak mengelus-elus pundakku yang turun naik oleh sedu sedan.
“Sudahlah, doakan saja dhe Mari.Ingat kamu yang selalu bilang agar kita sabar menghadapi kematian.”
“Bukan itu Mak …, kalau saja semalam aku tahu…aku pasti… nitip salam …dan rindu buat bapak.”
Elusan tangan emak terhenti.

Keterangan:
Dhe= dari kata budhe (bahasa Jawa)
Gemati= setia

*tepat 150 di luar judul dan keterangan
Diikutsertakan dalam lomba Ultah Cambai:Flash Fiction yang diadakan uni Dian Onasis

Iklan

32 pemikiran pada “[Ultah Cambai : Flash Fiction] Rasa Sesal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s