Bu Yoyoh Yusroh, Ibu Inspiratif

Dalam sebuah obrolan via telepon dengan mbak kost yang mengikuti tugas suami di Lampung beberapa tahun silam, saya seperti diingatkan kembali pada satu hal yang sudah menguap dari ingatan. Mbak kost yang sewaktu kuliah itu bercerita tentang rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga muda. Memasak, kegiatan yang dahulu tak pernah dilakoninya di kost menjadi bagian dari rutinitasnya. Ketika saya ledek dia, wah rajin bener, dia menimpali dengan jawaban di luar dugaan. Katanya, dia selalu terngiang cerita saya mengenai keluarga ibu Yoyoh Yusroh. Dia ingin sekali meneladaninya. Ingatlah saya akan cerita itu.

Waktu itu saya baru saja mengikuti acara di masjid kampus dengan salah satu pembicanya Bu Yoyoh Yusroh—saya sudah tidak ingat acara apa itu, barangkali temanya keluarga— . beliau bercerita banyak tentang keluarganya. Kisah paling berkesan buat saya adalah soal makanan sehari-harinya. Keluarganya selalu dibiasakan untuk makan masakan di rumah, makanan yang tentu terjamin gizi dan kehalalannya. Jajanan di luar seperti bakso, mie ayam, siomay dan sebagainya sangat dihindari mereka.

Cerita beliau kemudian saya hubungkan dengan kebiasaan para ummahat yang disampaikan murobbi liqo saya ketika kuliah. Mereka begitu menjaga makanan yang dikonsumsi putra-putrinya. Untuk makanan balita, para ummahat yang diceritakan lebih memilih memblender sendiri berbagai buah, sayuran, dan bahan-bahan lain ketimbang memebeli makanan bayi instan yang dijual di pasaran. Itu semua demi pertumbuhan pribadi sang anak. Makanan yang diolah di rumah tentu lebih jelas gizi dan kehalalannya.

Bu Yoyoh mengaku soal makanan ini menjadi salah satu kunci keberhasilan keluarganya menjadi keluarga berkualitas, anak-anaknya berhasil dalam studinya dan ada yang menjadi penghafal AlQuran. Beliau sangat menekankan satu hal itu dalam ceritanya dan meninggalkan kesan mendalam buat saya. Kesan inilah yang kemudian saya ceritakan pada mbak kost sepulang dari maskam.

Rupanya ia juga sangat terkesan dengan cerita pelajaran dari bu Yoyoh. Akunya, ia terus terngiang dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk memulai membentuk keluarga berkualitas dari makanan. Bahwa makanan yang dikonsumsi seorang berpengaruh pada diri seorang, disampaikan pula oleh Nabi Muhammad lewat hadistnya:

Barang siapa makan makanan halal selama 40 hari, Allah menerangi hatinya dan mengalirkan sumber-sumber hikmah melalui lisannya.

Obrolan dengan di kost dan di telepon dengan mbak kost kembali melintas berkali-kali ketika pagi kemarin saya dikejutkan dengan berita kepergian bu Yoyoh Yusroh . Sungguh, perjumpaan sekali dengan beliau di masjid kampus UGM siang itu teramat lekat dalam ingatan saya.

Berita kepergian ustadzah insipitarif itu menjadi berita mengejutkan kedua setelah beberapa hari sebelumnya sms teman yang mengabarkan kepergian mbak Nurul F Huda membuat saya terpaku. Saya pembaca karya-karya beliau ketika masih SMU menjadi pelanggan majalah Annida. Wanita-wanita inspiratif itu tentu meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang mengenalnya.

Selamat jalan bu Yoyoh Yusroh…

Iklan

7 pemikiran pada “Bu Yoyoh Yusroh, Ibu Inspiratif

  1. Bu Yoyoh memang bukan wanita biasa. Indonesia kehilangan salah satu perempuan terbaiknya. Semoga generasi yang dia tinggalkan bisa mengambil banyak pelajaran dari pribadi beliau yang mempesona. Selmat jalan ustadzah ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s