Museum Karmawibhangga Borobudur

Mengunjungi Borobudur tanpa bertandang di museum ini tak akan lengkap. Museum berada dalam satu komplek dengan candi, berdekatan dengan Museum Kapal Samudraraksa. Kedua museum berada di bagian depan komplek setelah pintu masuk candi. Memasuki kawasan museum, di hadapan saya terbentang batu-batu yang berjejer rapi di kanan dan kiri.
Kemudian saya disambut langgam gending Jawa , komposisi yang dibawakan beberapa laki-laki berbeskap dan berblangkon. Tembang yang dibawakan nikmat sekali masuk kuping, entah tembang apa judulnya. Duduk lama-lama di pendopo itu krasan, nglaras, dan ingin berlama-lama kalau tidak ingat saya musti masuk museum sebab hari telah beranjak sore, nyesel juga saya terlalu lama berputar-putar di atas candi. Setelah merekam penampilan mereka via video hp, saya pun masuk ke museum.Museum Karmawibhangga diambil dari relief Maha Karmawibhangga yang berada di dinding lantai paling bawah yang tertutup oleh tatanan batu di monumen candi Borobudur. Naskah Maha Karmawibangga menggambarkan “karma” atau hukum sebab akibat, baik buruk yang dialami dan surga neraka sebagai akibat imbalan akibat kehidupan dalam re-inkarnasi. Bagaimana rangkaian cerita dan karma itu bisa dilihat di relief-relief—tiruan—yang terframe di sebuah ruangan. Jumlahnya ratusan dan bernomer sehingga pengunjung bisa menelusuri secara runut. Ada keterangan di bawah frame yang menggambarkan relief-relief itu.
Di museum Karmawibhangga terdapat banyak batu-batu lepas komponen penyusun candi Borobudur. Lepas maupun kerusakan candi bisa disebabkan oleh faktor alam seperti mahapralaya letusan gunung Merapi tahun 1006 maupun karena
faktor cuaca yang menyebabkan perkembangan jamur, juga karena faktor manusia seperti pencurian. Untuk mengembalikan batu-batu lepas ke dalam konstruksi bangunan Candi Borobudur diperlukan suatu penelitian menggunakan metode anastilosis. Anastilosis diartikan sebagai metode pemasangan kembali batu-batu candi setelah berhasil diyakinkan tempat aslinya melalui pencocokan berdasarkan kecocokan sistem ukuran, sambungan, keharmonisan, atau bentuk arsitektur secara keseluruhan.

sebuah guci di antara reruntuhan

satu contoh batu yang lepas, lihat lebih jeli, ada penyambun–skrup–
berbagai penyambungan batu
replika rekonstruksi Candi Borobudhur

sistem penomeran batu

Di dalam mesum itu terdapat sistem penomeran batu yang berangka dan berumus yang tidak saya mengerti. Mau tanya guide? Sepi, museum itu terlihat sepi di dalam. Lagipula, saya kurang merasa nyaman berl
ama-lama di museum itu, rasanya kok agak takut sendirian berada di dalam ruangan yang dipenuhi deretan relief dan di ruangan sesudahnya ada arca-arca. Sedikit merinding, entah… Suasana museum itu terasa kontras dengan keramain candi, hiruk pikuk oleh pengunjung maupun perayaan Waisak.

Tidak banyak yang bisa dijepret di dalam museum, ada pelarangan mengambil foto untuk arca-arca. Hal itu bisa saya mengerti,penyebaran foto dikhawatirkan bisa memancing hal-hal yang tidak diinginkan.

Terakhir adalah pendopo, saya bisa melihat seperangkat gamelan, lengkap. Ini dia:

Iklan

4 pemikiran pada “Museum Karmawibhangga Borobudur

  1. mutitem said: Jlas membantu pengunjung Borobudur mahamisgala sesuatu yang dihidangkan Borobudur.Kapan museum ni didirikan?.Apa arti Karmawibhangga?.

    waktu ke sana aku tak sempat tanyakan karena keburu 😦 nyesel, lagi googling cari kapan museum ini didirikan…arti karmawibhangga, ada tuh, baca lagi :))

  2. bundakirana said: pengennya ngajak2 anak2 ke Borobudur..tp blm kesampaian..tiap libur selalu ke Padang dan duitnya abis deh…ga ada bujet lagi buat jalan2 ke tempta lain..:(

    ganti agenda yang sekarang mbak Dina, hehe, eksplor Jawa liburan selanjutnya… banyak yang menarik… :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s