Hujan Sore Ini

Sebuah status di jejaring sosial sebelah begitu menggelitik:

Salah satu cara terbaik menikmati hujan adalah dengan menuliskannya.[NulisBuku.com]

Begitu menggelitik, aku pun ingin menuliskannya, tapi apa yang bisa kutulis? Hujan kali ini mestinya kunikmati bersamamu… ini hujan favoritku, hujan yang liris, bulirannya jatuh menyelinap di tanah, tenang, denting di genting bukan lagi suara berisik gaduh yang membuatku gelisah. Ini hujan favoritku, tapi katamu hujan seperti ini membekukan. Kau tak menyukainya. Kau lebih suka hujan yang menderas. Hujan yang kubilang gaduh. Buliran yang jatuh seperti berkejaran untuk menjadi yang paling tajam menusuk aspal. Kau yang suka mengejar hujan, entah kenapa lebih suka hujan yang membuatmu selalu kuyup tiap kali menjemputku.

Hujan kali ini, hujan yang mengingatkanku pada secangkir kopi yang selalu kunikmati sendiri sebelum aku menemukanmu. Hujan kali ini mestinya kunikmati bersamamu, sebab tak ada secangkir kopi di sampingku yang menemani. Sebab mauku ada kamu.

Di sini irama itu masih saja mengalun. Bagaimana di sana? Masihkah menirai pekat dan menghalangi pandang matamu, menahanmu untuk segera datang? Atau telah menjelma rinai? Ataukah malah sama seperti di sini, hingga kau menjadi beku dalam laju?

Apapun itu, aku masih menunggumu di sini… bersama hujan yang menyisakan kecipak pada kerikil-kerikil di depan pintu….



# 030212, 17.12
catatan iseng nunggu suami datang ^__^
gambar dari sini

Iklan

8 pemikiran pada “Hujan Sore Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s