Menikmati 3 Cangkir Teh dari Korphe, Yukkkk…

[Catatan ini boleh dibilang sudah usang. Buku yang saya bicarakan pun bukan buku keluaran anyar, meskipun saya menulis catatan ini begitu selesai membacanya Agustus tahun lalu, hanya saja tersimpan tak tersentuh-daripada mubazir saya posting aja sekarang-. Nggak papalah, semoga tetap bermanfaat, syukur-syukur bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman seandainya nemu buku ini di toko buku atau perpustakaan. Selamat menikmati 3 cangkir teh…]

Judul buku : Three Cups of Tea
Penulis : Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Penerjemah : Dian Guci
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : September 2008 (cet.1)
Tebal : 630 hlm.

“Di Pakistan dan Afganistan, kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis;pada cangkir pertama engkau masih orang asing, cangkir kedua engkau teman;dan cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap berbuat apapun-bahkan untuk mati-“ ungkap Haji Ali, kepala desa Korphe, pegunungan Karakoram, Pakistan.

Greg Mortenson meskipun seorang angrezi, orang kulit putih asing, namun ia sudah termasuk yang terakhir di mata keluarga Haji Ali, bahkan di lingkungan warga desa. Pendaki gunung asal Amerika itu pada mulanya gagal ketika menaklukan puncak gunung tertinggi ke-2 sedunia di Himalaya. Setelah tersesat, mengalami keletiahan luar biasa, dan berjalan kaki tertatih-tatih turun gunung selama 7 hari, ia sampai di desa Korphe. Di rumah Haji Ali, Mortenson dirawat dengan penuh perhatian dan diperlakukan teramat istimewa.
Selama tinggal di Korphe, ia mendapati bagaimana anak-anak bersekolah. Begitu memprihatinkan. Karenanya, timbul niat di hatinya untuk mendirikan sekolah. Janjinya ia ungkapkan kepada Haji Ali. Bagaimana ‘petualangan’ Mortenson dalam memenuhi janji tersebut disajikan dengan gamblang dalam buku ini. Tak hanya di Korphe, selama dekade berikutnya Mortenson membangun puluhan sekolah, terutama untuk anak-anak perempuan di Pakistan dan Afganistan. Usahanya mengharuskan ia bolak-balik Amerika—Pakistan&Afganistan dan rela meninggalkan keluarganya.

Dalam perjalanannya, Mortenson punya alasan lebih untuk mendirikan sekolah di daerah lahirnya Taliban tersebut, terlebih setelah peristiwa 11/9: tidak saja memerangi kebodahan tapi juga terorisme. Menurutnya, terorisme tidak terjadi lantaran segelintir orang di suatu tempat seperti Pakistan dan Afganistan tahu-tahu memutuskan membenci Amerika. Hal ini terjadi karena anak-anak tidak ditawari masa depan yang cukup baik agar mereka memilki alasan untuk hidup daripada mati.
Selain alasan tersebut, Greg Mortenson merasa sangat gelisah dengan pembangunan masdrasah-madrasah Wahabi. Dalam buku berjudul Taliban yang ditulis Ahmed Rashid,wartawan yang berbasis di Lahore, dipaparkan bahwa murid-murid dari madrasah ini adalah mereka yang tidak memiliki akar dan gelisah, pengangguran, serta secara ekonomi kekurangan, dan sangat sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan umum. Mereka menyukai perang karena perang adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. (hal 455—456)

Kerja keras selama satu dekade, membuat tercengang seorang mantan editor majalah Outside, Kevin Fedarko, suatu pagi. Fedarko datang bersama Mortenson ke Korphe untuk melaporkan sebuah cerita yang ingin diterbitkannya dalam Outside berjudul “The Coldest War”. Suatu yang jauh di luar kebiasaan terjadi di desa Korphe. Seorang gadis penuh rasa percaya diri menyeruak masuk ke arena rapat desa. Dia langung bergabung,melewati sekitar 30 pria yang tengah bersila di atas bantal seraya menyerutup the, menghadap Greg Moretenson. Jehan, gadis cantik itu menginterupsi rapat tetua desa dan langsung berbicara kepada Mortenson untuk menagih sebuah janji, janji untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

Sangat beralasan bila jurnalis itu menganggap kejadian yang dilihatnya sangat luar biasa. Di sebuah kampong Islam konservatif, gadis itu telah mendobrak 16 lapis tradisi sekaligus. Dia telah lulus sekolah, merupakan wanita terdidik pertama di lembah Braldu berpenghuni tiga ribu jiwa. Ia tanpa takut-takut masuk di tengah-tengah lingkaran pria, duduk di hadapan Greg Mortenson dan memberikan hasil pelajarannya yang paling revolusioner: sebuah proposal yang ditulis dalam bahasa Inggris, untuk memperbaiki kehidupannya dan kehidupan masyarakat desanya.

Greg Mortenson dan kisahnya memberikan inspirasi bagi misi kemanusiaan. Buku ini menjadi buku terlaris New York Times. Petualangan di pekarangan Taliban itu dipaparkan dengan detail sehingga pembaca bisa memperoleh wawasan mengenai kebudayaan dua negara tersebut. Gambaran mengenai tokoh-tokoh pendukung misi Mortenson semakin nyata dengan sisipan beberapa foto. Hanya satu hal yang kadang membuat saya terganggu ketika membaca yaitu perpindahan situasi dalam ruang dan waktu yang sangat tiba-tiba sehingga seperti dipaksa meloncat begitu jauh. Namun selebihnya, Three Cup of Tea is inspiring book.

Mgl, 23 Agustus 2009. 23:00.

Iklan

6 pemikiran pada “Menikmati 3 Cangkir Teh dari Korphe, Yukkkk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s