Believe or Not: Be A Mother

Ketika pagi disibukkan dengan aktivitas domestik: bangun tidur dini hari nyuci baju,pakaian-pakaian Janitra beraroma ompol sembari menyiapkan makan buat Janitra, menyeteril botol susunya, lalu menghadapi tumpukan piring kotor,berasa sibuk. Di sela-sela itu sering terlintas pikiran,beginilah seorang ibu, inilah aku,sudah menjadi seorang ibu. Rasanya antara percaya nggak percaya, saya sudah menjadi ibu?!

Ada satu sisi yang berbeda dari diri saya dengan peran itu tapi di sisi lain,kok rasanya tak ada yang berbeda dengan ketika masih lajang. Rasane kok yo mung ngene. Apa itu, pola pikirkah dalam hal-hal tertentu? Entah, sukar untuk mendefinisikan. Ketika pagi seperti bergelut dengan waktu, masih ngantuk, pekerjaan belum beres, anak sudah bangun dan butuh ditangani, sementara hari semakin pagi dan harus segera bersiap ke tempat kerja, hem…inilah menjadi seorang ibu. Bukan hanya saya yang mengalami hal demikian, ibu-ibu di luar sana pun tak berbeda, merelakan sebagian waktu istirahatnya demi keluarga tercinta.

#angkot, 06.27 [repost dari FB, belum bisa ngeblog WP dari HP]

Iklan

6 pemikiran pada “Believe or Not: Be A Mother

  1. nggak berbagi tugas suaminya?
    kalo aku yang bagian nyuci pakaian-pakaiannya Enju di pagi hari, sedang Ivon yang mandiin n masak. suka hectic kalau dah mepet jam masuk kerja n seringnya telat 😀
    tapi semua aku syukuri cos kehadiran Enju membawa warna baru dalam hidup kami n Alllah telah mempercayakan Enju pada kami.
    semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita.

    • tentu berbagi, dulu sehabis melahirkan, suami yang nyuci baju, setelah saya masuk kerja, saya yang mengerjakan tugas2 domestik sementara suami yang jagain Janitra selama saya beraktivitas. Janitra bangunnya pagi banget, jam setengah empat sampai jam 4an sudah bangun…langung e’ek, tugas suami yang jagain Janitra 🙂 Kami juga merasakan hal yang sama, hadirnya Janitra sesuatu yng amazing buat kami… ^^

      btw, nama lengkap enju siapa nih?

  2. Dulu waktu anak saya msh bayi, sy blm tau teknik bersyukur dan reframing, jadi yg terkenang capek dan repotnya.. makanya nggak mau nambah anak lagi..soalnya yg kebayang kalau punya anak ya repotnya itu. Meski skrg sudah menyadari cara2 berpikir positif dan reframing, tapi udah telat, di alam bawah sadar yang tertanam hanya rasa lelah saat ngurus bayi. Jadi.. selagi masih bisa, dinikmati, disyukuri, jangan dikenang yg repot2nya..:)

    • sama juga mbak Dina… belum bisa sabar… masih sering ngomel-ngomel sama suami, hehehe, suami yang jadi sasaran. boleh tahu gimana cara2 reframing yang diketahui mbak Dina sekarang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s