Sebuah Buku, Sebuah Inspirasi, Sebuah Batu Loncatan

Dulu sekali… saya pernah punya cita-cita kerja kantoran, jadi bankir atau akuntan  [hmmm… sebatas mimpi kerja begituan], pokoknya kerja kantoran. Duduk  di bangku SMU, saya begitu menyenangi pelajaran akuntansi dan berharap kelak saya akan menekuninya. Harapan itu mendadak luntur karena satu novel NH Dini berjudul Pertemuan Dua Hati.

Bermula  di kelas dua SMU,  ketika guru bahasa Indonesia begitu gencar memperkenalkan sastra, saya menggemari  karya-karya NH Dini, kemudian  berlanjut sampai masa-masa awal kuliah. Bapak Widi, beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Perpustakaan, kendati kecil dan seadanya, telah saya kenal sebelum masuk TK. Keluarga sepupu yang memiliki beberapa koleksi buku membuka perpustakaan atau istilah yang dipakai waktu itu persewaan buku untuk anak-anak sekitar rumah. Ada satu buku yang selalu saya pegang dan membuka-bukanya selalu. Buku tentang cita-cita itu jadi favorit. Gambarnya lucu, bocah imut dan ipel-ipel. Ada yang berpakaian dokter, guru, dan beragam profesi lain. Lekat dalam  ingatan, saya selalu nembung untuk pinjam, tapi setiap kali itu pula selalu dijawab, “Dibaca di sini aja Dek.” Mungkin kalau saya bawa pulangpun, saya toh hanya melihat-lihat saja seperti di rumah sepupu karena belum bisa membaca dan masih terlalu kecil untuk menjadi member persewaan itu. Barangkali itu alasan kenapa saya tak pernah diijinkan meminjam dibawa pulang.

Perpustakaan sepupu tak berumur panjang. Sebabnya, banyak penyewa yang tak bertanggung jawab mengembalikan lagi buku yang dipinjamnya. Setelah tutup, saudara-saudara saya beralih menjadi peminjam di persewaan buku yang terkenal di daerah saya kala itu, Era namanya. Hingga duduk dibangku SD bahkan SMP kalau tidak salah ingat, persewaan buku itu masih hidup. Novel Wiro Sableng menjadi favorit kakak, saudara, dan teman-teman kecil saya. Anehnya, saya sama sekali tak tertarik untuk ikut membacanya.

Meskipun di rumah tidak ada akses buku sama sekali, namun lingkungan yang kental dengan budaya baca terus melingkupi saya. Keluarga kerabat yang anak-anaknya sepantaran dengan saya memiliki beberapa majalah remaja yang bisa menjadi alternatif bacaan kala itu. Yang paling menggembirakan adalah kedatangan seorang siswi baru di kelas 5 SD, seorang putri camat baru di kecamatan saya. Ia  memiilki koleksi buku yang raknya menempel di kamar tidurnya. Beruntung sekali, saya bisa menjadi anggota kelompok belajar siswa yang terbilang pejabat di desa itu. Saya turut menikmati koleksi-koleksi bukunya, komik berseri Pansy, majalah Donal Bebek dan Paman Gober, serial Trio Detektif, Lima Sekawan, dan STOP.  Novel petualangan dan detekif-detektif itu begitu saya gemari sampai-sampai waktu itu saya dan satu teman dekat  memiliki obsesi menjadi penulis cerita detektif semacam itu. Iseng-iseng, jadilah satu judul cerita sederhana, tertulis rapi dengan pena ketika saya duduk di kelas 6 SD dan  masih saya simpan hingga kini.

Di kelas 2 SMP, teman saya pindah lagi ke Muntilan mengikuti tugas ayahnya. Satu akses buku terputus. Tinggal satu teman yang juga memiliki koleksi komik disamping perpustakaan sekolah dengan koleksi buku diluar buku paket pelajaran yang begitu minim. Hasrat membaca itu terpuaskan kembali setelah masuk dunia SMU, mengenal perpustakaan yang sedikit lebih banyak koleksinya dan memiliki seorang guru yang yang membukakan kaki langit dunia sastra.

***

Pak Widi kerap menugaskan kami membaca karya sastra dan mendiskusikannya, dari buku paket ataupun dari majalah Horison. Kecintaan beliau pada sastra ingin ditularkan kepada anak didiknya. Puncaknya adalah penugasan membuat resensi sebuah buku sastra. Tugas yang bagi sebagian siswa disambut dengan keluhan saya terima dengan senang hati. Saya memilih sebuah karya yang di buku paket dicuplik dan pernah sedikit disinggung oleh beliau. Penasaran dengan konflik yang ditonjolkan,  Kemarau karya A.A Navis menjadi buku yang saya ulas. Tak pernah menyangka, tugas itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Setelah semua siswa maju ke depan kelas untuk mempresentasikannya–tanpa teks–, pak Widi mengumumkan peraih nilai tertinggi. Waw, saya terkejut ketika beliau menyebut nama saya. Takjub sebab saya merasa belepotan ketika berbicara di depan kelas kendatipun saya tidak begitu mempedulikannya.

Tugas penulisan resensi berlalu. Buku-buku sastra tetap saya lahap. Selain A.A Navis, satu pengarang yang mencuri hati saya adalah NH. Dini. Perkenalan saya dengan perempuan penulis itu terjadi ketika SMP. Kakak saya membawa pulang satu novel dari perpustakaan sekolah yang nantinya juga menjadi tempat belajar saya. Saya terpesona dengan eksplorasi bahasa yang ditulis NH Dini dalam novel tentang seorang indo keturunan Belanda yang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia lantaran kegagalannya menjalin asmara dengan laki-laki Jawa. Keberangkatan, tak hanya detail cerita dan  konfliknya, masalah-masalah kecil yang dekat keseharian justru meninggalkan kesan tersendiri bagi saya.

Satu novel kemudian disusul novel-novel lain setelah saya mengukuti jejak kakak melanjutkan belajar di SMU 2 Magelang. Keberangkatan disusul dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami, Sekayu, Kuncup Berseri, Tanah Baru Tanah Air Kedua, La Barka, Hati yang Damai, dan Pada Sebuah Kapal.                         Hampir semua karya NH Dini yang dimiliki perpustakaan sudah saya tuntaskan, rasanya ada yang kurang kalau tidak membaca buku Pertemuan Dua Hati. Novel  bersampul hijau yang pernah diulas  teman sekelas dalam tugas penulisan resensi itu pun segera berpindah dari rak perpus ke tangan. Sebenarnya, saya tidak begitu respek ketika  teman saya mengupas karya itu. Presentasinya saya ikuti tanpa antusias. Apanya yang menarik, pikir saya.  Tentang guru dan siswa SD?  Saya belum melihat permasalahan yang membangkitkan rasa ingin tahu.

Gambar

Siapa sangka, Pertemuan Dua Hati,  berhasil mengubah mindset saya setelah saya membacanya sendiri. Sebuah titik tertoreh, mempengaruhi diri saya untuk menjadi apa kelak. Pertemuan Dua Hati mengetengahkan tema pendidikan, khususnya di sekolah dasar. Seorang guru bernama Bu Suci  harus menghadapi seorang siswa dengan segala problematika di rumah yang berimbas pada belajarnya di sekolah. Tanpa mendapat dukungan dari guru-guru lain, ia berjuang merebut hati Waskito. Lika-liku perjuangan bu Suci nyatanya begitu menarik saya ikuti. Lebih dari itu, sosok bu Suci rasanya juga begitu dekat.

             Bu guru Suci mengubah opini saya bahwa kerja di kantor itu enak. Apa yang dirasakan bu Suci mempengaruhi saya, bahwa  ia tak pernah betah terjebak  kerja di sebuah ruangan dan bertemu beberapa orang saja setiap harinya, betapa bosan setiap hari menghadapi pekerjaan yang itu-itu saja. Saya kemudian berefleksi dari bu Suci. Tak jauh beda dengan bu Suci, saya pun tipe orang yang mudah bosan. Benar kata bu Suci, saya tidak akan suka kerja di ‘kantor’, rasanya akan lebih dinamis kerja di lapangan. Bu Suci yang mengajar di SD  menghadapi berbagai tingkah anak-anak yang tak tertebak  setiap harinya, terlebih ia menghadapi siswa bermasalah, Waskito, yang selalu berubah perangainya,  menguras pikiran dan tenaganya. Pengalaman menghadapi satu siswa itu begitu mendebarkan namun dinamis. Novel itu menjadi awal mula ketertarikan saya pada dunia pendidikan, meskipun belum sedikitpun terbesit keinginan menjadi seeorang guru. Belum, karena saya waktu itu punya cita-cita baru yang kemudian berubah karena satu alasan ketika kuliah. Namun begitu, sosok bu Suci sebagai guru yang berhasil menaklukan hati Waskito, terus membekas dalam diri saya. Pendekatan-pendekatan psikologis yang dilakukan bu Suci sebagai seorang guru sangat inspiratif. Sosok bu Suci dengan kelembutan di balik ketegasannya dan pengabdiannya sebagai pendidik telah mengendap dalam memori saya. Kisahnya terus bergaung, betapa mulia bisa berbagi menjadi seperti sosok bu Suci.

Ajakan sastra yang mempertemukan pengalaman kita dengan pengalaman yang ada dalam teks itu sendiri rupanya saya alami sungguh-sungguh. Bisa saya pahami bahwa perjumpaan saya dengan karya sastra memang melibatkan harapan, gambaran, dan fantasi.[1] Pengalaman-pengalaman bu Suci yang saya temui kemudian saya refleksikan dengan keadaan diri saya sendiri, dengan apa yang ada pada diri saya sehingga dari sana kemudian tumbuh harapan baru, gambaran yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan inilah saya sekarang, menjadi seorang tenaga pengajar di sekolah memang bukan impian saya. Profesi ini masuk dalam plan B yang saya tulis di diary ketika lulus kuliah, meskipun saya tidak menulisnya sebagai GURU namun saya tulis dekat dengan dunia anak-anak–seperti bu Suci kan? Bu Suci menjadi referensi bagi saya ketika saya memilah-milah bidang pekerjaan apa yang akan saya masukkan dalam plan A maupun B.  N.H Dini, disamping telah merekomendasikan satu bidang pekerjaan,  agaknya juga telah berhasil memperkenalkan saya pada dunia pendidikan yang sebenarnya lewat bu Suci. Ia memberikan satu pengalaman batin, menapaki satu-satu harapan demi harapan dalam hidup, menjadi jalan untuk mewujudkan harapan di plan A.

 

 

 


[1] Sindhunata, “Ambil dan Bacalah” dalam Bukuku Kakiku, Gramedia, Jakarta, 2004, hal. 348

*foto hasil googling

**tulisan yang diikutkan dalam satu event beberapa tahun silam tapi tak ada kabar

 

Iklan

9 pemikiran pada “Sebuah Buku, Sebuah Inspirasi, Sebuah Batu Loncatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s