Lelaki Bertopi

Sepulang dari pasar, sudah ada lelaki bertopi menunggu di depan pintu rumah Jinah.  Ia menyilakannya masuk sementara ia meletakkan tenggok dari  gendongannya. Di tenggok itu ada beberapa butir kelapa dan beberapa keping kelapa yang sudah terpecah-pecah.  Setiap hari sengaja membawa beberapa butir atau beberapa keping kelapa dari pasar.  seringkali  tetangganya yang enggan beranjak ke pasar membeli kelapanya di rumah.

Lelaki bertopi mengeluarkan buku batik gelatik kembar panjang  berwarana biru. Ditariknya pena yang terselip di saku kemeja.

“Hari ini ada uang kan Yu?”

“ Aku setor seperti biasa, tapi aku minta tambah lagi.”

“Yakin minta tambah lagi, cuma tinggal dua lagi lho Yu utangmu lunas.” Ia mengulum senyum.

“Sudah catat saja, aku pasti bisa mengembalikan.” Jinah mengeluarkan tiga lembar lima ribuan dari dompet yang di sana sini sudah koyak, meninggalkan selapis kain dalam.  Resetlingnya sudah berkali-kali dibetulkan oleh sebab  lepas jahitannya maupun hampir lepas pengaitnya.

“Lelaki bertopi menyematkan satu catatan di sebuah kolom. Berapa kau butuh uang?”

“Seratus lagi.”

Selembar berwarna merah diangsurkannya. Lelaki bertopi kembali menyematkan catatan di kolom-kolom. “Aku lansung saja Yu, masih belum selesai di kampung ini.”

Jinah mengantar lelaki bertopi sampai di pintu. Bersamaan dengan itu dua gadis berseragam abu-abu putih memasuki teras. Seorang mencium tangan Jinah. Disusul temannya.

“Baru pulang Bu?”

Jinah mengangguk sambil menyilakan tamu putrinya masuk.”Seperti biasa nak, masih berabtakan begini.”

“Ah, sami mawon Bu.”

“Eh, itu apa bu, di tenggok ada yang baru.” Arum putri sulungnya melihat ke dalam tenggok. “Teko baru?” Arum mengertukan keningnya.  Ia tahu ibunya tak punya uang. Uang yang dimintanya kemarin saja masih ditangguhkan.

“Ambil di mendre.”

“Ah, mendre lagi bu? Kapan selesainya?” Arum menghela nafas dalam.

“Sudah dua hari tak ada teh anget, Nduk. Oiya, jangan khawatir lagi, minggu depan kamu bisa beragkat  studi banding.,” ujar ibunya  gagap mengucapkan kata studi banding, sembari membereskan bawaannya dari pasar kemudian lekas membuatkan teh dalam teko baru. Sebentar lagi suaminya pulang.  dari dapur yang hanya tersekat selembar tripleks dengan bilik depan,masih di dengarnya pecakapan dua gadis yang ia tahu persis, sengaja direndahkan suaranya.

“Itu tadi rentenir yang diam-diam terkenal paling kejam kan?”bisik teman Arum

“He’eh”

“Ibumu utang pada rentenir Rum?”

“He’eh.”

“Kenapa harus ke rentenir? Kita tahu rentenir itu mencekik dengan bunganya. Bunga yang dibayarkan sudah bisa kalian gunakan untuk beli beras kan?  Kasihan ibumu Rum, kalau di bank pasti bebannya tak seberat di rentenir.”

“Di bank? Tahu apa ibu dengan segala tetek bengek administrasi di bank. Kami tak punya apa-apa. Kami hanya mau tahu ada uang siap pakai. Apa yang kami pakai sebagai jaminan kalau utang di bank? Tak ada surat-surat berharga ada pada kami.  Paling-paling surat perjanjian kontrak rumah, “ Arum tertawa getir.

***

“Belum ada nasi lagi, Buk?!”  Tidak beselang lama Supar, suami Jinah pulang.  Ia datangi meja dapur.

“Aku baru saja nempur. Sabar sebentar, nasi baru aku masak,“ timpal Jinah, ia melirik suaminya, apa yang akan dibantingnya kali ini karena belum tersedia makanan di  meja.

Kalau tidak  melihat sebuah teko baru yang disampingnya tersedia secangkir teh hangat,barangkali ringan tangannya akan melempar pecah belah terdekatnya.  Teko baru itu sejenak membuatnua tertegun. Namun ia segera menarik cangkir tehnya. Dalam beberapa serutupan, teh hangatnya kandas.

Ia  menyambar pancing yang tergantung di gedek dapurnya.”Nang….., ”
Anang, si bungsu yang dipanggil Supar mendekat.  “Ayo ikut Bapak. “  Tanpa banyak tanya, Anang membututi bapaknya.

Air kali di tepi kampungnya begitu tenang. Beberapa pemancing suka melewatkan waktu sore hari menunggui pancingnya bergerak-gerak. Bagi Supar, memancing adalah hiburannya sepulang ia kerja  sebagai tukang kebun di sebuah sekolah dasar di kelurahan tempat tinggalnya. Ia senang mengajak anak-anaknya. Di tepi sungai itu, ia bisa sejenak mengambil jarak dengan perguatan hidup keluarganya. Di tempat ini pula ia biasa berdialog dengan anak-anaknya. Barangkali di tempat itu ia bisa dengan kepala dingin ia mendengar keluh kesah putra putrinya. Di rumah, seringkali ia tak bisa menahan emosinya hingga beberapa benda pecah belah yang tak seberapa di dapurnya menjadi sasarannya.  Secepat sebuah piring melayang, secepat itu pula emosinya reda. Ia akan cepat-cepat meminta maaf pada perempuan yang  berani diajaknya susah, mencari kelapa dari kebun ke kebun selepas tugasnya sebagai tukang kebun.

“Pak …pak.. pancingku gerak… !” seru Anang.  Dengan sekali hentak, pancing di tariknya. Seekor tawes menggelepar-gelepar di ujung kail.

“Bagus, sore ini kita makan enak,” Supar terkekeh.

Ia sendiri berkali-kali menarik pancing dengan beberapa ekor tawes dan ikan emas menggantung di kailnya.

Kira –kira ikan di ember bekas labur yang mereka bawa sudah mencukupi untuk makan seisi rumah, mereka beranjak meninggalkan sungai.

***

Lelaki bertopi itu berdiri di depan pintu. Anang ada di sana menjelaskan kalau ibu bapaknya belum pulang. Jinah hampir akan berbalik ke pasar, sudah tiga kali ia  nunggak. Berbalik ke pasar lagi lalu mencari pinjaman untuk menutupi  satu lubang yang sudah digalinya bertahun-tahun? Percuma. Seperti yang sudah-sudah, bukankah ia tahu kalau laki-laki itu akan berdiri di depan pintu rumahnya kali ini lalu akan di hadapinya seperti biasa?  Kalaupun mencari pinjaman di pasar, harusnyan sudah dilakukannya sejak tadi pagi.  Bagaimana dengan kang Supar, adakah hari ini ia memabawa uang lebih?

Langkah kaki dimantapkannya, menghadapi laki-laki bertopi yang sudah memaksanya bekerja lebih keras, alasan  bagi ia dan suaminya untuk setiap pagi keluar rumah dengan harapan ada uang yang akan disetorkan.

“Gimana Yu, sudah ada kan? Atau radio itu kubawa? Yah… walaupun radio seperti itu tidak ada ajinya, tapi itu benda berharga yang kalian miliki kan?”  Begitu Jinah sampai rumah ia mendekati radio di  meja pojokan bilik depan.

“Jangan, hanya dari sana anak-anakku dapat hiburan, “ Jinah berkata tegas. Ia juga ingat, beberapa kali, Arum dan Anang mengerjakan tugas dengan radio itu.

“Tolonglah, apa aku pernah ingkar? Hanya kali ini aku tak bisa memenuhi setoran.  Tolong, tunggu sebentar, suamiku akan pulang. “

“Aku masih banyak urusan, sudah ini aku bawa.” Lelaki bertopi itu mencabut paksa radio yang masih tercolok pada stop kontak

“Nah… nah… itu suamiku pulang.”

Jinah menyongsong suaminya. “Kau bawa uang ‘kan Kang?”

“Tidak bisa menutup setorannya penuh. Aku sudah usahakan minta bayaran ngecat yang harusnya kuterima besok ketika pekerjaanku selesai,” bisik suaminya.

“Ini aku bayar setengahnya, sisanya aku cukupi besok, aku janji.”

Lelaki bertopi itu menerima uang lalu mencatat pada buku batik birunya.

“Ingat, aku besok akan panggil kawanku kalau kalian ingkar!”

Jinah dan suaminya tercekat.  Ia tahu siapa kawan yang dimaksud oleh lelaki bertopi itu.  Suami istri itu sudah sepakat, anak-anaknya tak akan dibiarkannya melihat ada lelaki-lelaki berperawakan kekar memasuki halaman tempat tinggal mereka.

Supar menyambar pancingnya. “Jinah kau ikut. Kita jalan ke kali gede.  Semoga tetangga kita sedang ingin makan ikan.”

***

Lelaki itu duduk di kursi roda di teras rumahnya.  Ada teh yang tinggal setengah dalam gelas di meja sampingnya.  Beberapa kerat roti nampak  dalam piring kecil.  Pandangannya kosong menatap  halaman rumah yang di sana-sini ditumbuhi rumput  liar.  Tak ada lagi tanaman-tanaman berdaun lebar yang pernah menjadi buruan, juga bunga-bunga bulat yang batangnya berduri runcing panjang.

Sepasang suami istri mendekati dengan sedikit rikuh.

“Masih ingat kami Bang?” Jinah memulai  membuka percakapan.

Lelaki itu memandang dengan mata memicing.
“Yu Nah, ngapain kalian kemari?”  Suaranya terdengar sedikit  membentak.

“Kami  bawakan oleh-oleh dari Arum. Kalau bukan karena Abang, mungkin Arum sekarang  tak jadi sarjana dan sampai ke luar negeri. “  Supar memberikan sebuah bungkusan dengan kerendahan hatinya.

“ Anak kau itu sudah jadi orang rupanya?!”Lelaki yang botaknya dulu selalu disembunyikan dengan topi itu memandang  bungkusan dengan mata kosong.

Ket:

Tenggok: wadah dari anyaman bambu yang biasa digendong di belakang

Aji: berharga

Yu: mbak

Labur: cat tembok dari kapur

Nempur: beli beras

mendre: penjual keliling dengan sistem kredit berbunga

belajar nulis cerpen untuk ikutan Giveaway #IwritetoInspire

V

Iklan

14 pemikiran pada “Lelaki Bertopi

  1. Ping balik: Peserta Giveaway #IWritetoInspire | Culture Therapy

  2. Ping balik: Pemenang Giveaway #IWritetoInspire | Culture Therapy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s