[Gado-Gado Sekolah #16] Kemana Raibnya Kartu Pos dan Surat-Surat Kami?

“Bu, suratnya kok belum sampai?” Tanya anak-anak kepada saya setiap saya masuk kelas 4.  Kalau pekan lalu mereka begitu penasaran ingin ke kantor pos mengirim surat yang mereka tulis untuk ayah bunda mereka, sekarang mereka menanti datangnya surat-surat itu. Sudah satu pekan sejak mereka melakukan kunjugan ke kantor pos, tapi surat-surat itu belum sampai juga, padahal rata-rata anak-anak tinggal di kecamatan yang sama dengan lokasi kantor pos.

Gambar

Ini diluar ekspetasi kami. Program menulis surat dan mengirimkannya langsung ke kantor pos dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi surat  sudah saya laksanakan setidaknya 3 kali—3 angkatan–. Dua angkatan yang sebelumnya, program berjalan lancar. Mereka begitu exited mendapati surat yang mereka kirim kembali lagi kepada mereka setelah sebelumnya dibaca oleh orang tua. Ah, saya membayangkan bagaimana harunya orang tua membaca ungkapan hati anandanya, ada yang meminta maaf dan berterima kasih.

Mendapati hal seperti ini, saya jadi khawatir, surat-surat itu bernasib sama dengan kartu pos saya.  Nasib sial menimpa beberapa kartu pos beralamat rumah saya tapi hingga kini tak ada kartu pos yang datang. Teman saya, mbak Ari Andari, beberapa kali bertukar kartu pos dengan saya. Hanya satu kartu pos yang datang, 2 yang lainnya tak sampai rumah. Ada juga kartu pos yang dikirim Yana dari Banjarmasin, ke mana perginya? Nasib serupa menimpa kartu-kartu pos yang saya kirim sendiri dari Jogja. Dua kartu pos yang saya kirim di rentang waktu yang ckup lama tak sampai. Anehnya, kali pertama saya mengirim kartu pos dari Bulaksumur  jumlahnya dua, satu sampai berbulan kemudian, satu raib.  Kartu pos yang raib kedua kalinya saya kirim dari kantor pos pusat tak jauh dari  Jogja 0 km, bergambar batik. Saya memang ingin membiasakan mengirim kartu pos dari temppat-tempat yang saya kunjungi. Kartupos itu akan jadi jurnal perjalanan dalam bentuk yang unik.

Untuk kartu-kartu pos yang tak sampai itu, pernah saya tanyakan di kantor pos. Kata petugas kantor pos, “kartupos kan pakai perangko, tanpa resi jadi susah ngelacaknya kalo tidak sampai.”

Nah, dari dua kasus itu, saya jadi menarik kesimpulan bahwa pelayanan kantor pos saat ini mengalami penurunan dalam hal surat-menyuarat  dan benda-benda  berperangko. Apakah era  digital yang serba instan dan cepat saat ini punya andil? Orang kini jarang berkirim kabar dengan surat berperangko sebab sudah ada handphone dan internet.  Kalau berkirim kabar bisa  dalam hitungan detik,  mengapa mesti berkirim surat  via pos?  Kirim uang pun kini sudah instan, ada wesel instan dan tentu saja transfer via ATM/bank. Barangkali, karenanya kini pelayanan kantor pos mengalami perluasan. Kalau hanya  mengalami surat-menyurat atau pelayanan benda-benda pos, barangkali kantor-kantor pos akan sepi.  Kantor pos kini ramai pengujung  yang akan membayar listrik, telepon, air,  speedy,  angsuran kendaraan bermotor, selain juga pelayanan pensiun .Nah, karena sebab itukah  kini perangko tergeser?

Karena saya merasa bertanggung jawab atas program itu, maka kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir ke kantor pos. Petugas pos senyum-senyum  melihat saya mendatanginya, di sampingnya ada seseorang yang masih asing, yang ternyata pak pos baru,“Ada apa, Bu?”

Saya utarakan maksud kedatangan saya, kenapa surat-surat saya belum datang.
“Masih lewat kelurahan,Bu”
“Siswa saya banyak yang rumahnya di sekitar sini, masak sudah seminggu belum sampai. Banyak lho Pak siswa saya yang rumahnya  banyak nggak di ‘daerah’. Jangan-jangan nasibnya sama dengan kartu pos saya dulu,”
“Wah, ya jangan,Bu. Jangan sampai kayak kartu pos itu.”
Setelah ngobrol-ngobrol sebentar,  antara kami bertiga, dan dua petugas itu sendiri, tahulah saya bahwa di kantor pos Grabag, petugas pos yang mengantar surat baru. Saya bisa menyimpulkan juga, bahwa surat-surat itu nyatanya belum sepenuhnya dikirim.  Sudah seminggu belum ada pelayanan? Ada ketidakseriusan mengirim surat anak-anak yang saya tangkap. Sepertinya surat-surat dengan perangko telah dinomerduakan pelayanannya. Entah kalo di kantor pos daerah lain.

Sedikit harapan saya dapatkan tadi pagi ketika masuk kelas 4, seorang siswa mengabarkan bahwa suratnya sudah sampai. Baru satu siswa, semoga yang lain segera menyusul, menghapus stigma saya bahwa pelayanan kantor pos mengalami kemerosotan.

Iklan

20 pemikiran pada “[Gado-Gado Sekolah #16] Kemana Raibnya Kartu Pos dan Surat-Surat Kami?

  1. Untuk pengiriman barang dan surat, sepertinya masih punya ‘kelemahan’ ya, karena kemungkinan tidak sampainya masih cukup besar. Selain itu, alamat penerima yang jauh, bukan di kota, misalnya. Terkadang membuat pengiriman jadi lebih lama.

    Mbak Sayekti di Jogja?

  2. Saya juga bbrp kali mengalami nasib kayak gini..kiriman tak sampai dan tidak bisa menuntut. kesan yg saya tangkap: “krn pake perangko itu murah, kami tidak menjaminnya..kalau sampai syukur, enggak juga di luar tanggung jawab kami”.. 😦
    Saya sangat sering ngirim2 buku dan majalah IRFAN pesanan teman2… Tadinya berharap bisa murah dengan perangko, tapi karena ‘tanpa jaminan’ itu, artinya kita terpaksa/dipaksa pakai layanan pos kilat khusus yang harganya berdasarkan timbangan (dihitung per-gram). Setelah saya bandingkan, lebih murah pakai TIKI, jadilah saya setia pakai TIKI. Kalau paket berat di atas 3 kg, baru deh, ke kantor pos.

    • iya mbak dina, saya juga nangkap kesan yang sama… trus kalo nggak sampai gitu kirim ulang lagi? merugikan sekali.
      yah, sekarang harus diakui jasa kurir semacam Tiki lebih menjanjikan meskipun saya juga pernah sekali kecewa paket hadiah dari satu penerbit tidak sampai ke rumah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s