[Diary Janitra] p a y u n g

Gambar

 

Payung, menempati ruang tersendiri dalam keseharian Janitra. Ia menjadi salah satu benda favoritnya barangkali. Bagi Janitra, payung identik dengan jalan-jalan,  melihat dunia luar. Sejak  Janitra berumur tiga bulan, ia sudah terbisa pergi ke luar rumah. Tentu saja payung adalah benda wajib untuk melindungi dari terik matahari.

Itu sebabnya, setiap kali melihat payung, Janitra selalu exited. Ketika ia belum bisa berbicara, ia hanya akan menunjuk payung dengan bahasa yang belum terdengar jelas. Ia juga akan menunjuk ke luar rumah. Seiring waktu, pelan-pelan Janitra semakin bisa mengeja payung meski dengan suara yang lucu sembari heboh meminta dikembangkan atau minta ke luar.

Kalau di rumah neneknya, di Grabag, setiap kali melihat Payung Janitra akan menyebut juga pasar, sebab neneknya seringkali mengajaknya berbelanja membawa Payung. Mengetahui kakak sepupunya, Salma, memiliki payung kecil yang bisa dipakainya untuk bermain, Janitra semakin exited. Payung itu pun begitu cocok dengan Janitra, berwarna kuning—warna yang begitu klik dengan Janitra—dan bergambar Momon, sebutan kami untuk Monyet, karakter yang sudah diakrabinya dari buku cerita yang sering kami bacakan.

Payung kecil Momon pun menemaninya bermain di suatu siang yang terik di belakang rumah. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s