Guru Killer Itu, Beliaukah?

Saya tersentak dan gelagapan ketika pak Widi menyebut nama saya.  Seketika saya menghentikan keasyikan memainkan halaman demi halaman buku Bahasa Indonesia sembari melamun. Tentu saja pertanyaan dari Pak Widi hanya membuat saya bengong. Apa yang harus saya jawab untuk pertanyaan beliau?  Ketahuan kalau saya tak memperhatikan beliau. Ah… pantaslah kalau saya mendapat malu. Tak sopan jika saya melamun dan mengabaikan beliau sementara sebuah ilmu sedang ditransfer kepada anak-anak didiknya.

Itu satu pengalaman di suatu jam pelajaran Bahasa Indonesia.

Di waktu lain, rasa malu hinggap ketika di depan kelas saya asal saja menuliskan jawaban di papan tulis atas soal yang pada waktu itu sedang dibahas.

“Wah, kalau asal menuliskan subjek, predikat, dan objek sih orang di terminal bisa.”  Saya ingat betul dengan komentarnya. Sebenarnya bukan asal saya mengurai kalimat di papan tulis itu berdasarkan kedudukannya, tapi memang saya belum mengerti. Saya mesem meski sedikit tersinggung dengan komentar beliau. Komentar pedas itu, membuat ‘dendam’: saya harus memperhatikan benar-benar materi itu sehingga saya bisa sepenuhnya mengerti. Nggak  mau malu lagi.  Bermula dari lecutan itu saya mulai paham materi fungsi sintaksis unsur-unsur kalimat. Hingga kini terus melekat dan ilmu itu saya bagikan.

                                                                           ***

Pak Widi, guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya miliki. Guru itu terkenal eksentrik.  Sebelum saya masuk SMU tempat beliau mengajar, saya telah mengenalnya dari kakak  yang terlebih dahulu belajar di sana.

“Masuk ke kelas pasti bawa tas kresek dan koran.  Teman-teman suka menebak-nebak, tas kresek warna apa yang akan dibawanya sebelum masuk kelas,” cerita  kakak saya.  Kebiasaan yang tak pernah berubah.  Buku-buku atau berkas-berkas  miliknya  tak pernah dibawanya dengan tas. Tak lupa harian Kompas edisi baru diimpitnya dengan tangan. Selalu. Beliau tak pernah absen meng-update berita terbaru melalui Kompas yang disediakan perpustakaan sekolah.

Surat kabar, perpustakaan, dan buku. Tiga hal itu yang dalam pengamatan saya begitu diakrabinya. Perpustakaan adalah ‘rumah’ baginya selama di sekolah. Ia tak pernah terlihat ngantor bersama guru-guru lain di kantor guru. Perpustakaan adalah kantor baginya.

Sebelum yang lain membaca koran terbaru, koran itu sudah berada di tangan beliau. Namun, untuk koran yang dibawanya ke kelas kadangkaala bukan koran edisi terbaru.  Selain surat kabar, edisi yang tak pernah ketinggalan dilahapnya adalah Majalah Sastra Horison. Dari majalah itulah beliau meng-update segala hal yang berkaitan dengan sastra.

Kecintaan beliau pada sastra ditularkannnya pada anak-anak didiknya. Pelajaran sastra di kelas tak berhenti pada tataran teori.  Beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Tak berhenti sampai di situ, Pak Widi kerap menugaskan kami membaca karya sastra dan mendiskusikannya, dari buku paket ataupun dari majalah Horison. Puncaknya adalah penugasan membuat resensi sebuah buku sastra. Tugas yang bagi sebagian siswa disambut dengan keluhan saya terima dengan senang hati. Saya memilih sebuah karya yang di buku paket dicuplik dan pernah sedikit disinggung oleh beliau. Penasaran dengan konflik yang ditonjolkan,  Kemarau karya A.A Navis menjadi buku yang saya ulas. Tak pernah menyangka, tugas itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Setelah semua siswa maju ke depan kelas untuk mempresentasikannya–tanpa teks–, pak Widi mengumumkan peraih nilai tertinggi. Waw, saya terkejut ketika beliau menyebut nama saya. Takjub sebab saya merasa belepotan ketika berbicara di depan kelas kendatipun saya tidak begitu mempedulikannya.

Tugas penulisan resensi berlalu. Buku-buku sastra tetap saya lahap. Dari beliaulah saya mengenal penulis-penulis angkatan Balai Pustaka dan sedikit menikmati karya-karyanya, novel-novel yang saya yakin tak banyak dikenal anak muda kalau tidak diperkenalkan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

            Tugas pada ranah sastra yang beliau berikan lebih banyak bertumpu pada kemampuan menulis. Di waktu lain beliau memberikan tugas menulis cerpen, tugas yang pada waktu itu terbilang berat. Pembuatan makalah berdasarkan pengamatan yang berujung pada presentasi di kelas pernah juga membuat kami agak frustasi. Untuk materi-materi di luar sastra, beliau selalu mengedepankan analisis. Beliau selalu membuka ruang diskusi di kelas. Jarang sekali beliau memberikan penyampaian materi yang sifatnya menghafal. Beliau tekankan itu benar-benar, bahwa tidak sepatutnya pelajaran Bahasa Indonesia ditempatkan pada pojok yang isinya hafalan melulu.

Sebagian siswa menganggap beliau guru killer. Judge semacam itu pun saya kenal sebelum saya menjadi siswa beliau. Jadi siap-siap saja lah, begitu kira-kira warning yang diberikan oleh siswa yang terlebih dahulu dididiknya.  Penilaian yang diberikan pada rapot benar-benar objektif. Tak ada istilah nilai belas kasihan. Tak heran jika pada waktu beliau mengajar, jarang sekali siswa yang nenempatkan beliau sebagai guru favorit, mereka yang menganggap segala tugas membangun dari belaiu sebagai beban.  Hanya yang benar-benar menghayati bagaimana beliau mengajarlah yang akan mennepatkan beliau di hati mereka. Terbukti, ketika kami naik kelas dan berganti guru, saya dan beberapa teman merasakan ada kekosongan, hampa. Metode yang diberikan guru pengganti terasa garing. Tak ada lagi tugas-tugas ataupun cara penyampaian materi yang menantang adrenalin maupun mengasah daya pikir kami. Kami merindukan gaya mengajar beliau. Segala judge tentang beliau seketika luntur. Tak ada yang bisa dibandingkan dengan beliau. Ketegangan-ketegangan ketika pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung memang selalu terngiang, namun bagaimana dedikasi beliau dalam mendidik siswa, memberikan pengajaran terbaik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia terus melekat dalam diri saya. Ucapan-ucapan beliau ada yang terus bergaung dalam ingatan. Lebih dari itu, beliau menjadi salah satu pribadi yang ikut menumbuhkan kecintaan pada dunia sastra, hingga kini.

 

 

 

*sebuah catatan yang tak lolos diikutkan dalam satu audisi menulis

Iklan

7 pemikiran pada “Guru Killer Itu, Beliaukah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s