Sepasang Sepatu, Sebuah Sesal

Perbicangan teman-teman di jam makan siang mengenai sepatu yang bisa dipesan di suatu industri kecil mengiring ingatan saya pada satu episode belasan tahun silam bersama bapak.  Kepengen dan memang butuh  sepatu baru, bapak mengajak saya ke sebuah industri rumah tangga sepatu kenalannya di kampung sebelah. Di sana sepatu bisa dipesan dan dijamin awet. Saya diperbolehkan memilih sendiri sepatu sesuai keinginan. Namun karena di sana tidak banyak pilihan sebagai contoh— tidak ada katalog dan sejenisnya yang bisa dipilih, saya malah bingung. Jadilah bapak yang memilihkan spesifikasinya. Saya iya iya saja waktu itu.

Tak berapa lama, hari yang dinanti tibalah. Sepatu saya sudah jadi. Sepatu nampak kuat dan bandel. Bawahnya dari bahan karet mentah dan jahitannya kuat, bapak nampak puas. Sayangnya, tidak demikian dengan saya. Sepatu tali itu sedikit berat bila dipakai.  Satu hal yang membuat saya jarang memakainya, model sepatu itu antimainstream. Di jaman itu, belum model sepatu yang selen. Saya yang pada waktu itu masih bocah, katrok, dan tidak sadar mode, tahunya sepatu yang bagus dan happening ya sepatu seperti kebanyakan, seperti yang dipakai teman-teman saya.  Sepatu itu teramat berbeda dengan sepatu yang ada di pasaran sejauh pandangan saya kala itu.

Saya masih ingat benar rupa sepatu itu, lekat dalam ingatan. Dengan sudut pandang saat ini, sepatu itu nampak keren,beneran keren. Bahannya dari kulit dengan alas yang kuat. Sepatu kets dengan model selen tentu kalau dipakai hari ini akan nampak up to date, bukankah sekarang sepasang sandal dengan corak berbeda sedang happening di pasaran?

Coba kalau sekarang memiliki sepatu itu, pasti saya akan bangga memakainya. Rasa sesal sering kali muncul saat bayangan sepasang sepatu dan kenangan akan bapak berkelebat. Saya menyesal, kenapa dulu saya kurang begitu menghargai pemberian bapak, menyia-nyiakan sepatu bagus  pilihan bapak. Saya menyesal, saya merasa telah mengecewakan bapak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s