Rindu Diari

Ada baiknya saya kira, sebuah diary  dibawa kemana-mana. Ketika kita membutuhkan sebuah ‘tempat’ sampah untuk mengungkapkan apa yang berkecamuk di dada. Ketika kita membutuhkan ruang yang begitu privat untuk menyendiri dan curhat, ruang yang tidak bisa digantikan oleh seseorang, pun sosial media apapun.

Diary lama saya, sudah kurang lebih dua tahun saya tidak menyentuhnya. Mendadak saya rindu benda satu itu. Tempat saya bisa menuliskan apapun. Apapun. Apa saja. Membutuhkan buku kesayangan itu. Sekarang.

Iklan

4 pemikiran pada “Rindu Diari

  1. Selalu kebingungan kalau buka buku bersampulkan: diari. Terkadang susah sekali menulis di sana. :p

    Jujur dengan diri sendiri, kayaknya kok susah yaaa. 😐 ini aku lho mbak

    • iya, memang karakter orang tentu akan mempengaruhi. Mas Teguh pasti orangnya sudah terbiasa terbuka dengan orang lain ya, bisa leluasa berbicara. Beda dengan saya yang tipe tertutup, nyaman kalo nulis apa saja di diari, karena belum bisa terbuka dg orang lain. sekarang sih mending ada suami tempat curhat, hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s