[fiksi kilat] Balon Merah Hati

“Kamu ngapain sih beli balon? Mau buat Rani, ponakan kamu?”

Senja  menggeleng.

”Duduk yukkk… di sana.” Senja  menunjuk bangku taman.

Inilah yang ditunggu Senja beberapa hari ini, meluapkan segala beban di kepala, melelehkan  segala sesak hati dengan es krim dan Arin di sampingnya, sembari memandang lalu lalang jalanan.

Senja tak sabar ingin menjilat es krim favoritnya, tapi tunggu dulu. “Tolong pegangin bentar yak.”

Arin mengangkat alisnya. Tapi diterimanya juga cone es krim dari tangan Senja.

Sebuah notes ditariknya dari tas, Senja menyobeknya selembar. Mata Arin tak lepas dari kertas yang di atasnya dituliskan sesuatu. Selesai, diikatkannya pada balon di tangan.Mantab Senja melepaskan balon itu, tanpa memandang ke mana ia terbang. Lepas. Matanya  tak bergeser seincipun  dari jalanan di depan. Arin mengelus-elus pundaknya. Besok adalah hari pernikahan Rhe dan Dinda.  Tak akan pernah ada air mata tumpah.

 ***

                        “Om..Ommm…. liat ada balon….ada balon mau jatuh,” seru Ade dari halaman.

“Sini deh bentar. Asyik nemu balon…” Ade menarik tangan Rhe.

Hup, Ade menangkap balon  kehabisan karbit.

“Waw, ada kertas, pesan mungkin Om.” Ade nampak antusias, serasa menemukan pesan rahasia.

Mereka  berdua merubung kertas itu.

Sontak,  jantung Rhe berdebar.  Namanya tertulis rapi, Ramadhan Rhendra . Rhe begitu mengenal tulisan itu. Begitu lekat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s