Geek in High Heels

 

 Image

Judul     : Geek in High Heels

Penulis   : Octa NH

Penerbit : Stiletto

Cetakan  : I, Desember 2013Jml. hal    : 208

Geek in High Heels bercerita tentang Athaya, seorang geek, web designer, yang diusia ke-27  mengalami kegaulauan soal pasangan hidup.  Desakan untuk menikah bukan datang dari orang tuanya sendiri  melainkan dari keluarga besar, terutama tante yang begitu sering mempertanyakan kelajangannya. Cerita dimulai dari peristiwa kaburnya Athaya dari acara makan malam perkenalan keluarga besar Silvi—sepupunya—dengan sang pacar. Merasa disudutkan dengan topik pernikahan yang akhirnya menjurus pada desakan menikah, Atthaya menghilang dan melewatkan makan malam di restoran sendirian. Di restoran itulah,  suatu kebetulan berebut meja mempertemukannya dengan Kelana, seseoang yang di kemudian hari di kenalnya sebagai seorang penulis novel best seller.  Tanpa percakapan panjang, perkenalan kilat berlangsung, Athaya memberikan kartu namanya pada Kelana.

Ide aneh mendadak muncul. Di blognya, ia kemudian membuat postingan iklan diri.  Apa yang terjadi selanjutnya nyatanya membuat ia melupakan postingan itu karena berbagai kesibukan dan hadirnya dua orang laki-laki dalam kehidupannya.  Selain Kelana yang kemudian ia kenal—lagi— dalam acara book signing di sebuah toko buku tanpa sengaja, ada Ibra, sosok workaholic yang perusahaannya membutuhkan jasa Athaya.

Pertemuan demi pertemuan dengan Ibra karena urusan pekerjaan menggiring kedekatan mereka. Pun dengan Kelana, beberapa kali bertemu di toko buku berakhir dengan kencan.  Alur bergulir dengan kebimbangan-kebimbangan Athaya soal siapa yang akan dipilihnya. Ibra yang menawarkan komitmen namun hubungannya berjalan datar dan semua serba terjadwal  ataukah Kelana, sosok penulis karismatik yang datang dan menghilang sesuka hati karena ritme menulisnya.

Kebimbangan itu semakin meruncing justru ketika Ibra melamarnya.  Dia baru saja mengalami mimpi buruk. Perasaannya tidak enak dan pikirannya jadi kusut.  Beberapa bulan lalu yang lalu, dia sangat ingin dilamar cowok. Dia ingin merasakan deg-degan dan antusias ketika seorang cowok mengatakan ingin menikahinya. Tapi ketika saat itu benar-benar datang, dia malah merasa hampa dan aneh. Hampa karena dia sendiri tidak paham dengan perasaannya sendiri (hal. 148).  Athaya juga merasa bahwa di mata Ibra, ia hanyalah ‘pengganti’  tunangan yang meninggalkannya. Apa yang dilakukan Ibra padanya, seperti mengajak ke toko kue, mengirimi kue adalah seperti apa yang dilakukan Ibra terhadap mantan tunangannya.

Mengahadapi kegalauan semacam itu, Manda sahabatnya mengingatkan bahwa kadang ada yang lebih penting dijadikan bahan pertimbangan selain cinta, komitmen. (hal. 153)

Cerita tidak selesai dengan lamaran Ibra kepada Athaya. Masih ada lika-liku yang digambarkan penulis untuk membuat rasa penasaran pembaca, emm… walaupun ending bisa ditebak (kalau saya penasaran apa dengan motif Athaya saat menjatuhkan pilihan)  Hanya saja, sayang sekali, konflik yang mewarnai alur cerita masih terasa kurang tajam. Konflik yang   digarap hanyalah konflik batin yang dialami Athaya.  Belum optimalnya konflik mungkin juga karena penulis kurang memaksimalkan penokohan dan perannya dalam memunculkan konflik.

Meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, namun pusat penceritaan lebih banyak tertuju pada karakter Athaya . Dari sisi karakter, ada yang menarik dari diri Athya, seorang geek namun modis dan mengoleksi high heels.  Passionnya pada sepatu tidak sekedar mengoleksi, namun sepatu-sepatu   adalah pelariannya saat galau, bahkan saat menulis artikelpun, sepatu itu diletakkannya di samping laptop.  Setiap beberapa menit sekali, Athaya melirik sepatu yang berwarna kuning terang itu. Warnanya membuat perasaan Athaya menjadi lebih baik. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Sepatu itu seperti memberikan harapan bahwa hidupnya akan jadi lebih baik walaupun banyak masalah yang dihadapinya. (hal. 37).  Emm… agaknya, karakter Athaya ini mewakili penerbit bukunya, Stiletto.

Karena dibawakan dengan bahasa yang lugas, buku  ini bisa dengan cepat saya lahap. Hanya saja, efeknya buat saya, bacanya berasa datar-datar saja.  Pada akhirnya, buku ini memberikan satu ruang perenungan untuk perempuan, bagaimana menentukan pilihan hati.

Berterima kasih sekali kepada Stiletto yang memberikan buku ini secara gratis lewat satu kuisnya di FB.

Postingan ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014

 Image

Iklan

11 pemikiran pada “Geek in High Heels

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s