[Review] First Time in Beijing

Gambar

Judul buku: First Time in Beijing: Nostalgia Kisah Cinta Semusim Lalu

Penulis      : Riawani Elyta

Penerbit    : Bukune, 2013

Jml. hal.     : 352

Saat pahitnya kenyataan itu mengitariku dari segenap arah, aku hanyapunya satu pilihan,menjalaninya (hal. 31)

Itu yang dirasakan Lisa setelah kehilangan ibunya, keluarga satu-satunya yang dimilikinya selepas perceraian dengan ayahnya. Sepeninggal ibu, ia harus menyusul ayahnya ke Beijing, pemilik Shan Restaurant, Asian Food&Beverage.

Menjadi satu-satunya pewaris Shan Restaurant, Asian Food&Beverage, Lisa kerap menerima ultimatum dari ayahnya, tuntutan bahwa ia tidak saja harus piawai memasak namun juga mengelola restoran. Mulanya, ia hanya menggantikan posisi koki yang terampil mengolah sup namun keluar dari restoran itu. Usahaya membuat sup membuat membawa Lisa pada pengalaman yang menguras emosinya. Menerima kritik secara frontal dari pelanggan, ayahnya mengajarkan satu hal tentang kesetiaan.

Bagaiamanapun, kesetiaan tetap  membutuhkan kerikil, bukan? Agar kita tahu apakah hanya karena satu kerikil itu, bisa menghancurkan kesetiaan yang sudah dipupuk bertahun-tahun (hal. 55). Kesetiaan, hal yang bagi Lisa justru paradoks. Ayahnya berbicara tentang kesetiaan, namun justru ia tak bisa mempertahankannya dengan ibunya.

Usaha kerasnya, dengan bimbingan Daniel berangsur-angsur membuahkan hasil. “Kesulitan seharusnya mendorong kita untuk menaklukannya, bukannya malah membuat kita menyerah, begitu kata Daniel. (hal. 43).  Lisa berhasil membuktikan dirinya bisa memasak beragam sup.

Nyatanya, Daniel tak hanya menjadi pembimbingannya dalam memasak. Kedekatannya memunculkan getar-getar halus dalam hati Lisa, juga Daniel.  Bagi Daniel, mengucapkan wo ai ni itu tidak semudah perempuan ketika menyatakan ya atau tidak. Untuk mengungapkan perasaannya, Daniel mewakilkannya pada sebentuk cincin putih bermata tiga safir biru, cantik.  Sekian lama memendam perasaan untuk Daniel nyatanya Lisa justru memungkirinya ketika Daniel  mendeklarasikan perasaannya lewat cincin itu.

Peristiwa itu merubah segalanya. Daniel menghilang. Tak hanya rasa hampa yang tersisa, Lisa lagi-lagi mendapat ultimatum dari ayahnya. Ia harus bisa menggantikan posisi Daniel.  Rasa kehilangan itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi Lisa untuk belajar banyak hal: penerimaan, kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, dan pelajaran berharga lain yang membuat ayahnya puas dengan sosok Lisa yang bisa dipercaya sebagai pewaris restaurannya.

Lalu apakah hubungan dengan Daniel kandas begitu saja, ataukah sosok Alex, tour guide yang dekat dengan Lisa bisa menggantikan posisi Daniel, Riawani Elyta meracik alurnya sedemikian berliku namun tetap terasa plausibel. Saya menikmati jalinan alur yang dirangkainya. Dimulai dengan satu episode ketika Lisa memutuskan untuk membatalkan cooking competition yang diikutinya, pembaca  kemudian diajak mundur ke belakang, masuk ke dalam episode-episode yang membawa Lisa ke panggung yang diimpikannya itu. Dengan sudut pandang orang pertama yang berpusat pada Lisa, alurnya membuat saya terhanyut.

Saya paling suka dengan setting restaurannya. Satu tempat ini  lebih menyita perhatian saya dibanding setting Beijing berserta tempat-tempat menarik yang diperkenalkan oleh tokoh Alex.  Tuturan Riawani menyeret imaji saya ke dalam segala dinamika dapur.  Membayangkan bagaimana kesibukan di sana, ikut menikmati beragam aroma yang membenuhi sudut-sudut dapur, saya merasa terpancing, jadi pengen bisa memasak seperti Lisa :D. Oiya, satu lagi yang oke dari novel ini, di setiap pergantian bab ada kutipan inspiratif yang mengawalinya.

diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014

Iklan

10 pemikiran pada “[Review] First Time in Beijing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s