[Review] Kenapa Mataku Cuma Satu (Jo Pakagula)

Gambar

Judul                     : Kenapa Mataku Cuma Satu

Penulis                 : Jo Pakagula

Penerbit              : Mitra Bocah Muslim,

Tahun terbit       : Maret 2010

Jumlah halaman: 99 halaman

Kumpulan cerpen Kenapa Mataku Cuma Satu berisi 10 cerpen yang tidak saja memberika pesan untuk pembaca anak-anak, tapi juga pembaca seperti saya.  Cerpen “Kenapa Mataku Cuma Satu” menceritakan Rara, seorang yang cacat matanya sejak kecil, sehingga ia, keluarga, dan lingkungannya tidak pernah menganggap kekurangan itu sebagai hal yang mengganjal, menganggap seakan Rara normal lahir batin. Rara bergaul secara wajar, terlebih ia dikaruniai kelebihan lari cepat, lompat jauh dan tinggi yang selalu mengalahkan anak laki-laki.  Ketenangan kehidupan Rara mendadak terusik dengan hadirnya teman baru, Widuri. Sikapnya yang suka mencemooh membuat hati Rara terluka, hal yang tak pernah dirasakannya.  Rara menumpahkan rasa sedihnya pada ibunya. Lewat  analogi gelas yang tidak terisi sepenuhnya ibunya membesarkan hati Rara.
“Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik, yang tidak kita ketahui. Kita harus yakin bisa meraih sukses meski memiliki cacat tubuh.”

“Jika yang melihat—gelas yang tidak terisi sepenuhnya—seseorang  yang tidak mau bersyukur dan bersikap pesimistis, maka akan mengeluh karena isi gelasnya tidak penuh” (hal. 16).

Pesan yang hampir sama dijumpai dalam cerpen “Susahnya Bertubuh Kecil”.  Cerpen itu memberikan pelajaran tentang syukur. Bagaimana tubuh kecil Utami yang tadinya disesalinya ternyata membawa hikmah. Tubuh ringannya membawanya pada kejuaraan lari.

“Usil  Membawa Bencana”  menceritakan kelakuan Bagyo dan Fathoni yang menimbulkan masalah  bagi temannya.  Sikap usil Bagyo dan Fathoni ketika menyembunyikan sandal Adi di atas pohon membawa bencana.  Terpeleset saat mengambil sandal  karena pohon licin, Adi mengalami patah tulang dan harus dioperasi.  Bagaimana rasa bersalah itu mendera Bagyo dan Fathoni membawa mereka untuk berbesar hati meminta maaf. Ada pelajaran berharga dari cerita itu, bagaimana seorang anak belajar mengakui kesalahan dan mereka mencarikan solusi untuk menolong Adi.

              “. . .bahwa manusia itu tempat salah dan lupa. Jadi alangkah mulianya jika seseorang mau memaafkan kesalahan orang lain dengan penuh keikhalasan. Tuhan saja mau mengampuni dosa manusia seberapa pun besar kesalahannya, asal mereka bertobat dengan sungguh-sungguh.” (hal. 28).

Kutipan itu ditemukan dalam cerpen “Dendam Itupun Sirna.”Awalnya soal buku. Buku kesayangan Nanik hadiah dari ayahnya dipinjam oleh Sisri, sahabat terbaiknya.  Awalnya ia berat meminjamkan buku kesayangan itu pada Sisri, namun karena Sisri memaksa, ia akhrinya membolehkan dengan syarat ia harus menjaga buku itu baik-baik. Ketika dikembalikan buku itu dalam keadaan amburadul. Nanik marah dan mendiamkan Sisri. Permintaan maafnya tak digubris.  Cerita dari pak ustad yang mengajarkannya mengaji, tentang bagaimana akhlak nabi Muhammad memberikan tekad kepada Nanik untuk memaafkan Sisri. Ketika di bulan Ramadhan  Sisri datang kepada Nunik untuk meminta maaf ia dengan tulus bisa memaafkannya .

Tulusnya meminta maaf ditemukan juga dalam cerpen “Fitnah Sang Juara”. Anita seorang juara kelas. Yuli teman sekelasnya kehilangan tempat pensil dan tempat pensil itu ditemukan dalam tas Anita. Karena kejadian itu ayah Anita dipanggil pihak sekolahnya. Anita pun menceritakan kronologi kejadian itu  kepada ayahnya. Selebihnya ia berusahan melupakan kejadian itu  hingga pada sebuah jam pelajaran agama, Eni, teman Anita merasa gelisah.  Saat itu  Ibu Siti berkisah tentang tobat. Ternyata Enilah yang menjebak Anita. Eni kemudian dengan tulus meinta maaf kepada Anita

Dalam  cerita  “Racun Tikus”, penulis ingin mengajak anak-anak lebih peka pada persoalan di sekiling, persoalan yang menimpa bangsa Indonesia.  Di rumah Andi banyak tikus. Untuk membasminya ayah Andi menggunakan racun tikus yang dicampur pada makanan.  Sisa makanan yang bercampur racun tikus dibuang di tempat sampah dengan membungkusnya terlebih dahulu. Konfilk dalam diri Andi muncul ketika ia mendapati pengemis yang mati di dekat pos ronda. Andi merasa bersalah, kalau-kalau pengemis itu mati karena makan makanan sisa yang dibuangnya. Dari sinilah kemudian penulis memberikan perenungan kepada pembaca

               “Bukan hanya dirinya, seharusnya seluruh bangsa ini merasa bersalah. Mengapa harus ada yang teraksa jadi pengemis, bukankah banyak orang kaya yang sebetulnya bisa menolong mereka? Mengapa banyak rakyat miskin. Mengapa banyak pengangguran, mengapa ada pejabat korupso sedangkan rakyat tetap saja menderita?” Hal 45

Selain cerpen-cerpen di atas, masih ada cerpen lain yang memberikan pesan kebaikan kepada pembaca anak-anak. Persoalan yang diangkat persoalan sehari-hari yang sering dialami anak-anak seperti menghadapi puasa pertama, kasih sayang terhadap orang tua, kesedihan ditinggalkan orang terdekat. Bahasanya lugas, sangat mudah dipahami anak-anak tanpa pengkiasan.

Jo Pakagula yang merupakan nama pena dari Joko Purwanto telah menulis  berbagai karya mulai artikel masalah-masalah aktual, tulisan ilmiah, juga tema-tema keagamaan. Di antara karya-karyanya yang telah dipublikasikan adalah Kumpulan Cerpen Penikmat Kata (UNS Press, Solo, 2007). Cerpen Panggilan dari Surga (Majalah Hai, 2006). Cerpen Lindu (tabloid Cempaka, 2006). Cerpen Kugapai Nirwana (Solopos, 2006), Cerpen Libas (Joglo, 2008). Sedangkan, esai-esainya dimuat di harian nasional maupun media-media sastra lokal. *

*mengutip dari sini

Diikutkan dalam Short Stories Reading Challenge 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s