[Mozaik Blog Competition 2014] Ada dan Abadi dalam Sejarah

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id.

 

Passion menulis sudah ada sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Novel-novel detektif dan petualangan semacam Trio Detektif, Lima Sekawan, STOP, dan Pasukan Mau Tahu yang menhidupakannya.  Beruntung saya memiliki satu teman sekolah, anak seorang pejabat desa—anak camat—yang memiliki koleksi buku anak.  Semua kisah-kisah mereka saya kenal dari teman saya. Mengikuti kisah mereka saya diajak ikut serta berpetualang. Seru. Seringkali saya berkhayal, betapa menyenangkan andai saya bisa menjadi bagian dari kelompok meraka.  Merasa gemas dengan petualagan mereka namun semua itu hanya angan-angan, saya kemudian berandai-andai  lain.  Saya ingin menjadi  seperti penulis novel petualangan, menciptakan kisah penyelidikan yang hebat. Maka, bersama satu teman yang memiliki mimpi senada, mulailah saya menulis.  Saya tak mau kalah, menciptakan tokoh rekaan seperti dalam novel-novel favorit saya.  Persahabatan. Petualagan. Penyelidikan. Inilah kisah pertama yang saya tulis. Sayangnya, kisah berikutnya  dan beberapa kisah lainnya hilang.

 Gambar

Memasuki SMP,kecintaan terhadap buku kurang terakomodasi karena perpustakaan sekolah teramat miskin bacaan menarik—dari mata saya—sementara koleksi teaman saya sudah habis saya baca, terkecuali satu jenis bacaan yang tidak diperbolehkan keluar rumah.  Baru di bangku SMU intensitas baca kembali meningkat. Ada majalah Annida, Horison, dan buku-buku perpustakaan yang rutin saya baca. Diary menjadi media penyaluran hobi menulis yang sekian waktu mati suri.  Segala yang saya alami, rasakan, kecamuk di hati dan kepala tumpah dalam diary. Dalam diary hidup saya akan abadi, harap saya. Saya tak  mau, jejak hidup saya, pikiran dan pendapat saya terhapus oleh waktu. Apa yang saya tulis, suatu saat akan berguna.  Menjadi sejarah akan keberadaan saya.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pramoedya Ananta Toer

Perkenalan dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer semakin melecut semangat untuk menulis.  Dunia blog, mulai saya kenal semasa Friendster jaya raya.  Dari Friendster seorang sohib memperkenalkan saya dengan Multiply. Di MP inilah, saya pernah menitipkan mimpi-mimpi. Catatan perjalanan selama belajar bersama anak-anak di sekolah tempat saya bekerja someday bisa menjadi sebuah buku. Kampung MP juga menjadi tempat saya berlatih menulis, berkompetisi, dan berkontribusi pada beberapa buku antologi.  Hampir bersamaan dengan MP, saya berkenalan dengan Facebook.  Jauh setelahnya dunia Twitter  menggugah saya untuk menjadi bagian di dalamnya.   Saya tenggelam dalam hiruk pikuk audisi kepenulisan. Begitu dinamis bagi saya yang baru belajar menulis.  Dunia maya ini menawarkan sebuah jalan menuju dunia kepenulisan yang lebih serius.  Dewasa ini menjadi penulis tidak lagi sekedar mimpi asal ada kemauan mewujudkannya. Kini beragam penerbit dengan tangan terbuka menerima tulisan dari para penulis pemula.  

Dari berbagai  audisi saya ikuti, alhamdulillah tulisan saya nyantol di beberapa buku antologi, sebut saja Put Your Heart into Teaching (April, 2011),Dear Love: 111 Tulisan tentang Cinta (Hasfa Publisher, Juni 2011), Dear Love for Kids #6 (Hasfa Publisher, 2011), My Home Town #1 (Nulisbuku, 2011), Kepadamu Pahlawanku (Bergerak Sastra, 2011), Book Junkies (Mozaik Indie Publisher, 2013), Maharkarya Kumpulan Flash Fiction Ninelights Vol #1 (Ninelights Production, Januari 2014), serta satu E-Book Anugerah di Bulan Kelahiran (Mozaik Indie Publisher). Tentu saja,  rasa membuncah ketika tulisan lolos audisi bergantian dengan serunya patah hati. Pengalaman kalah audisi sudah belasan kali. Begitu pula dengan penolakan dari berbagai media  tempat saya mencoba mengirim naskah.

Writing is about freedom and not money.(NulisBuku)

Saya sepakat dengan kutipan di atas. Dorongan menulis itu ada karena menginginkan kebebasan berekspresi, bukan soal uang. Hampir semua antologi yang memuat karya saya nilainya tidak terukur dengan royalti.  Royalti dari beberapa buku di antaranya semuanya didonasikan untuk kemanusiaan. Ada yang dialihkan untuk pendirian sekolah, donasi ke panti asuhan atau lembaga kemanusiaan lain.  Sesuatu bernama amal itu lebih besar nilainya dari sekedar uang.  Lebih dari pada itu, apa yang saya tulis harapannya bisa menjadi inspirasi  bagi orang lain, sekalipun hanya satu orang yang tergugah setelah membaca tulisan saya.

Maka, saya akan terus menulis.  Tulisan menjadikan saya ada.

 

Gambar

Iklan

8 pemikiran pada “[Mozaik Blog Competition 2014] Ada dan Abadi dalam Sejarah

    • baru mulai suka… tapi ya asal nulis hehe… sekarang saya malah iri dengan saya waktu itu, kok bisa semangat nulis tangan, bisa selesai, bisa berimajinasi. sekarang semangat itu malah tidak sepenuh dulu…

      hehe, kebanyakan pada ngeluh ya… yaa… ngarang satu lembar folio…. nggak nyangka ya dulu nggak suka sekarang malah sudah punya buku…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s