Book Junkies Versus The Geek Athaya

Gambar

Athaya meletakkan sepasang sepatu barunya di samping laptop sambil menulis artikel singkat untuk majalah komputer.  Setiap beberapa menit sekali, Athaya melirik sepatu yang berwarna kuning terang itu.  Warnanya membuat perasaan Athaya menjadi lebih baik. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Sepatu itu seperti memberikan harapan bahwa hidupnya akan jadi lebih baik walaupun banyak masalah yang dihadapinya. Sesekali Athaya menghirup napas dalam-dalam agar dia bisa mencium wangi sepatu barunya.

Dia menggerakkan kepalanya menengok lemari sepatu dengan pintu kaca di samping lemari bajunya. Di sana ada puluhan pasang high heels aneka bentuk dan warna. Ketika sedih melanda, Athaya akan berdiam diri di depan lemari sepatu itu, membuka pintunya dan memandangi sepatu-sepatunya cukup lama. Setelah itu, bisa dipastikan, perasaan dan mood Athaya akan menjadi lebih baik.

“Lo tau nggak, setiap kali gue nyium bau sepatu baru, gue merasa seperti memulai  hidup baru,”

“Selama sepatu sexy seperti lo itu masih diproduksi, selama itu hidup gue bakalan indah. Long life  and prosper. Chirstian Louboutine.” (Hal 37—38)

Ya, saya tahu.  Saya tahu yang kamu rasakan Athaya, sebab saya pun sering melakukan apa yang kamu lakukan.   I can’t life without book, kerap saya berpikir seperti itu sambil memandang buku yang tergeletak atau tertata  di almari kaca.  Deretan buku itu harta karun saya.  Mereka memberikan saya  harapan. Deretan buku  itu menyimpan mimpi-mimpi saya. Saya selalu punya mimpi, ada tulisan saya di antara deretan buku itu.  Saya menulis karena  ingin tulisan itu menjadikan saya ada, abadi dalam sejarah.  Ah, Athaya, kelakuan kamu yang meletakkan sepatu di samping laptop saat menulis, persiiiiss seperti saya.  Kamu yang tiap beberapa menit sekali melirik sepatu kesayangan, saya yang sekali-kali menatap koleksi buku untuk mendapatkan kekuatan.  Bau khas sepatu baru yang memberikan satu sensasi bagimu, seperti wangi kertas yang meruap dari sekujur buku.

Athaya, buku bagi saya seperti sepatu bagimu.   High heels  membuatmu  merasa seksi, buku membuat saya merasa smart. Paling tidak, buku akan membuat saya lebih  smart.  Saya bisa merasa percaya diri karena membaca. Kemana saya pergi, buku tak luput dari  tas saya.  Buku menjadi teman setia saat saya kesepian, bengong saat menunggu,  atau teman mengobrol yang asyik  di angkot.  Perjalanan  jauh dengan rute yang berulang tak lagi membosankan kalau ada buku di pangkuan. 

Saat hati galau dan  sedih, kecamuk hati ingin segera saya enyahkan dari hati dan kepala, belanja buku adalah terapi, seperti kamu yang mengiyakan  saat Manda mengajak  belanja sepatu, bahkan cenderung girang.  Lebih-lebih kalau ada pameran buku atau obral, bisa kalap. Saya tidak peduli buku-buku itu untuk sementara hanya menjadi ‘timbunan’.  Kalau saat itu saya belum bisa membaca buku-buku yang saya beli, suatu saat akan tiba giliran mereka untuk bercerita. Buku menjadi investasi untuk keluarga saya. Apa yang bisa saya wariskan untuk anak cucu saya, yang abadi, kalau bukan ilmu. Saya punya mimpi, kelak buku itu akan memberikan cahaya ilmu bagi rumah saya. Saya bermimpi memiliki satu perpustakaan keluarga.  Kelak, di sana saya akan menghabiskan masa tua bersama keluarga: diskusi buku, membacakan dongeng untuk anggota keluarga yang masih kecil, dan berkarya. Indah sekali membayangkan di perpustakaan itu orang-orang yang saya cintai tenggelam dalam dunia yang dibentangkan buku.  Manis sekali mengangakan mereka yang terkasih terhanyut dengan pekerjaan mereka di antara tumpukan buku.  Ya, seperti kamu Athaya, hidup saya akan indah selama masih ada tinta yang menetes dalam kertas, menjelma aksara, mewujud sebuah buku.

 

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Writing Contest “Me Versus The Geek Athaya” yang diselenggarakan oleh Stiletto Book

Iklan

5 pemikiran pada “Book Junkies Versus The Geek Athaya

  1. Halooo …. ^^

    Itu bukunya dikasih nomer gitu, Mbak? Rajin banget. ❤

    Pernah suatu hari saya main ke rumah anggota DPR yang anaknya temen kuliah saya. Jadi dia punya rumah besar yang ada paviliunnya untuk perpustakaan. Dan itu langit-langitnya dibuat tinggi (sekitar 7-8 meter kali ya, setinggi dua lantai gitu) dan di satu temboknya, dipasang rak jati yang bagus banget. Raknya sampe ke langit-langit tapi ada tangga dan balkonnya. Kebayang gak tuh? Heheheeee…. Di tiga dinding lainnya ada sofa dan rak yang gak terlalu tinggi plus jendela segede-gede gambreng. Saya maen ke situ sampe nginep tiga hari gak mau pulang. *malu-maluin* Itu pun–kata anaknya–masih ada buku-buku yang belum sempet dimasukkan rak karena baru dateng atau baru dikirim, Ditaroh begitu aja di atas meja.

    Pas saya tanya-tanya, perpustakaannya dibuat kayak gitu biar gak lembab. Kalau siang jendelanya dibuka dan kalau malam dipakein AC biar gak berjamur. Sebegitu sayangnya dia sama buku-bukunya. ❤

    Suatu saat saya pengen punya perpustakaan kayak gitu. ^^

    Salam kenal. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s