[Prompt #43] Januari

Pram menyingkirkan kalender duduk 2013 di meja kerjanya.  Kalender baru bernuansa black and white sudah bertengger menggantikan.

Resolusi…resolusi…kata  itu yang selalu didengung-dengungkan di akhir tahun dan  awal bulan ini.

“Kalau Pram sih pasti resolusinya satu, menikah!” seru sepupunya sembari tertawa dalam pertemuan keluarga  tiga hari lalu.

“Apa sih Pram yang kau tunggu, kurang apa sih Kikan. Cantik, pinter, baik, pintar membawa diri, mapan.  Tunggu apa lagi?” tanya buliknya.

Pram hanya tersenyum. Tidak semudah itu.

Resolusi. Tekad Pram sudah kuat. Kali ini dia menuliskan di daftar teratas.  Menikah. Harus! Dia harus bergerak dari titik yang sekarang membuatnya jalan di tempat.

Ia menimbang-nimbang sebuah cincin di tangannya. Berkali-kali ia mengajak Kikan untuk membicarakan hal itu dengan kedua keluarga, namun Kikan selalu menolak. Belum siaplah, tunggu S2-nya  selesai lah, karirnya sedang menanjak lah. Sederetan alasan yang membuat hubungan mereka stag.  Dan mereka tetap bertahan. Pram tak mau kehilangan Kikan.  Kikan tahu benar akan hal itu.  Makanya Kikan tetap kukuh pada pendiriannya.

                                                                                               ***

Gambar

gambar pinjam dari sini


Malam ini Pram sudah rapi, cincin tak lupa dibawanya serta. Apapun yang terjadi, malam ini ia harus menemui kedua orang tua Kikan untuk secepatnya meresmikan hubungan mereka. Hati sudah ditata, siap menerima apapun jawaban dari Kikan.

“Pram, kenapa harus sekarang? Kita terlalu terburu-buru.”  Lagi-lagi jawaban itu. Pram menghela nafas. Kemungkinan itu sudah diperhitungkannya.

“Ya, harus sekarang. Atau… kita…” Pram sudah lelah dengan tarik-ulur itu. Ia tak mau lagi bertele-tele.  Ia sudah merasa lelah tanpa arah.

“Kenapa Pram?”

“Kita akhiri saja hubungan kita!” Beban berat itu menggelinding.

“Kita, putus? Maksud kamu? Kamu mau mutusin aku sekarang? Apa sih yang kurang dari aku buat kamu?” Kikan terlalu percaya diri untuk mengucapkannya. Ia tahu pasti, sebab Pram menganggap Kikan sudah sempurna untuknya.

“Hanya satu kekuranganmu, maaf” lirih,  terdengar seperti bisikan. Dikuatkannya hatinya.

Kikan menunggu

“Komitmen,”Ujar Pram tegas.

*meminjam judul lagu Januari Glenn Fredly

**diikutkan dalam Monday FlashFiction Prompt #43: Let’s Move On

Iklan

24 pemikiran pada “[Prompt #43] Januari

  1. aku suka cerita ini tidak dipanjang-panjangkan. langsung ke titik sasaran. kritik kecil dariku : penggunaan kata ‘stag’ rasanya cukup mengganggu. apalagi ini asalnya dari kata bahasa inggris ‘stuck’. ada baiknya diganti dengan kata dalam bahasa indonesia: mandek, atau tersendat.
    salam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s