[One Day One PPT) Menjadi “Sinden” yang Mencari Takjil

Me 390

Kenangan menjadi salah satu Para Pencari Takjil itu masih tersimpan rapi dalam diari dan memori. Sewaktu-waktu saya memanggil kenangan itu, saya akan tersenyum sendiri mengingatnya, manis. Selama dua peroide Ramadhan selama saya kuliah di Yogyakarta, saya setia menjadi bagian dari Para Pencari Ta’jil di Masjid Kampus (Maskam) UGM. Kebetulan, kampus saya persis berlokasi di belakang Maskam. Setiap hari saya lewat Maskam untuk pergi pulang kuliah dengan berjalan kaki. Kost saya terletak di Samirono, tak jauh dari Maskam. Sembari pulang dari kampus, saya bisa mampir Maskam sesuka hati, lebih-lebih ketika Ramadhan saya bisa meluangkan waktu agak lama berada di masjid. Agak lama, ya, sebab tak jarang saya sengaja menunggu buka lanjut tarawih. Di lain kesempatan, saya datang bertiga dengan teman kost.

Maskam memang menjadi tempat favorit untuk beribadah ketika Ramadhan, namun saya tak menafikan kalau saya sengaja berada di sana ketika sore menunggu takjil gratis yang di sediakan panitia Ramadhan di Kampus (RDK) Jamaah Shalahudin Masjid Kampus UGM karena perhitungan ekonomi. Bersama puluhan mahasiswa lain, tentu saya bisa lebih menghemat pengeluaran selama Ramadhan. Kadang terbesit rasa malu ketika saya harus menunggu lebih dari 1 jam waktu berbuka. Namun saya tepis jauh-jauh rasa malu itu, toh saya bisa mengisi waktu dengan tadarus di lantai atas masjid yang begitu menentramkan suasananya. Pernah saya dengar celetukan dari rekan satu organisasi, “Tuh yang udah pada nyinden di Maskam.” Dia mengumpamakan Para Pencari Takjil sebagai sinden yang rela duduk lama. Ah, padahal kami nyinden sembari mengikuti beragam acara yang diadakan oleh RDK. It’s no problem, yang penting saya bisa ngirit keuangan dengan menjadi sinden, hehe.

Jamaah Shalahudin Maskam lewat panitia RDK tak hanya berbagi takjil berupa beberapa butir kurma, segelas teh, dan nasi bungkus. Ada beragam acara yang mengisi Ramadhan, lebih-lebih di sore hari. Ada satu acara yang memberikan kesan makjleb buat saya, jadi obat penenang kegalauan saya. Galau? Jujur, masa-masa seperti itu pernah menyapa saya. Rasa galau itu mendesak-desak untuk dijawab, “Ada apa dengan saya? Teman-teman punya pengalaman merah jambu dalam hidupnya, kenapa saya tidak? Ada yang salah dengan saya?” Padahal, salah seorang mbak kost pernah bilang kalau saya cantik (bukan mau sombong loh ya…. :D), ada lagi yang bilang kalau saya awet imut? Hehehe. “Lalu kenapa saya tidak punya teman spesial? Barangkali saya tidak menarik?”

Kegalauan saya kemudian terjawab karena menjadi Para Pencari Takjil . Satu acara Lesehan Ramadhan yang bertajuk “Mencari Solusi Merebaknya Pacaran di Lingkungan Kampus UGM” menghadirkan bintang tamu spesial, Sakti eks Sheila on 7. Apa yang dipaparkan Sakti yang waktu itu sudah hijrah menetramkan dan memberikan pencerahan, meneguhkan hati yang sempat goyah saat galau menghantui. Beliau membukakan pintu hati saya untuk tetap mencari cinta-Nya, bukan mencari cinta selain cinta-Nya. Bahwa inilah jalan terbaik untuk saya dari Allah, karena Allah begitu menyayangi saya. Tidak punya pacar adalah jalan terbaik dan Insya Allah jalan paling diridhoi.

Sore itu, sembari menunggu waktu berbuka dengan menu khas takjilan Maskam, rasa bangga memenuhi dada,bahwa saya telah melampui jalan ‘jomblo’ yang bahagia,’ jomblo’ yang diridhoi Allah. Alhamduillah, berjuta syukur membuncah.

diikutkan dalam One Day One PPT dan sudah mejeng di Annida Online

30Banner ramadhan (1)

Iklan

11 pemikiran pada “[One Day One PPT) Menjadi “Sinden” yang Mencari Takjil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s