Sudut Pandang Baru

 

 

Malam ini, mendadak saya teringat malam yang sama lima tahun lalu. Penghujung tahun 2009 saya habiskan di Gunung Lawu. Saat itu, Gunung Lawu dipenuhi pendaki yang ingin merayakan pergantian tahun. Tapi tidak dengan saya. Saya berada di Lawu bukan ingin menghabiskan malam pergantian tahun. Saya berada di sana semata karena  memang ingin mendaki gunung. Mendaki gunung, menaklukan puncak sebuah gunung, adalah salah satu impian saya. Ketika kesempatan itu datang, ada rombongan teman dekat yang ingin mendaki di penghujung 2009, saya terima ajakannya. Tak peduli saat itu cuaca sering tak bersahabat, hujan sehari-hari, tak peduli juga dengan malam pergantian tahun yang notabene tak pernah saya rayakan. Semangat sekali.

Untuk bisa berangkat ke sana, tentu saja saya harus merayu emak. Emak seorang ibu yang overprotected. Saya yang memang ingin sekali punya pengalaman naik gunung terus meyakinkan emak saya, dengan siapa saya akan naik gunung, dsb. Akhirnya emak luluh, tentu saya sangat berterima kasih padanya, dan bersyukur campur haru…bisa-bisanya emak memberi saya ijin. Horrayyy… akhirnya saya kesampaian naik gunung…. Betapa girang hati ini. Ini kesempatan langka buat saya.  Berada di Lawu satu malam menjadi pengalaman yang berharga buat saya, bisa melihat matahari terbit dan menghirup udara pagi di puncak gunung.

 

yani_lawu3yani_lawu2

yani_lawu4yani_lawu1

 

 

 

 

 

 

Ya, emak seorang yang overprotected. Malam ini saya kembali teringat lima tahun silam. Saya yang dulu hanya tinggal berdua dengan emak, seringkali memaksa emak agar saya diijinkan melakukan sebuah perjalanan. Ehm… kalau nggak maksa tidak dapat pengalaman seru! :D. Saya sering sebal, kenapa emak terlampau overprotected sehingga saya nggak boleh ini nggak boleh itu. Iya, saya tahu, semua itu semata karena emak khawatir saya kenapa-napa. Kekhawatiran itu ada karena seorang ibu teramat menyayangi anaknya. Jelas saya tahu itu. Tapi, saya hanya sekedar tahu saja namun  tak mau mengerti rasa khawatir itu seperti apa. Saya dulu begitu sebal, kenapa emak terlalu mengkhawatirkan saya. Kenapa tak biarkannya saja saya melakukan apa saja yang saya mau, seperti teman-teman lain?

Malam ini mendadak saya teringat emak dan peristiwa  lima tahun lewat. Saya sudah menjadi seorang ibu sekarang. Posisi yang tentu sangattt…berbeda dengan lima tahun silam. Mendadak saya merasakan bagaimana emak saya waktu itu. Saya  merasa haru, betapa emak dulu sangat khawatir melepas saya melakukan perjalanan keluar dari rumah sendiri. Baru saya sadar sekarang, emak pastilah  melewatkan malam itu dengan penuh kekhawatiran. Mungkin tak bisa tidur nyenyak karena anak gadisnya berada jauh darinya, di medan yang tak dikenalnya, bisa jadi ada bahaya dan resiko mengintai. Seorang emak yang saya kenal seperti itu, pastilah melewatkan jam demi jam penuh penantian. Apakah anaknya bisa kembali segera? Pastilah waktu demi waktu dilewatkannya dengan penuh doa. Ada rasa salut menyusup, betapa emak bisa melawan rasa khawatir itu dengan melepas saya pergi. Ya, sebagai seorang ibu, saya bisa mengerti kekhawatiran itu. Saya tidak bisa mendefinisikan rasa khawatir semata karena rasa sayang dan cinta seorang ibu, tapi saya bisa merasakannya sekarang. Bisa memahami dan meresapi.

Iklan

2 pemikiran pada “Sudut Pandang Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s