[Gado-Gado Sekolah #19] Anak Tak Mandiri, Salah Nenek?

Dalam sebuah perjalanan pulang, saya berada satu angkot dengan salah seorang ibu wali murid. Kebetulan saya mengajar putra dari ibu tersebut selama satu semester dan menunggui si anak menjalani test psikologi ketika proses seleksi peserta didik baru berlangsung.

“Bagaimana mas D di kelas?” Pertanyaan dari si ibu saya jawab dengan apa adanya.
“Tidak ada masalah Bu, bisa mengkikuti pelajaran saya dan tidak ada hambatan. Mas D sangat mudah untuk dibimbing dan mandiri. Sangat berbeda sekali dengan dulu ketika mengikuti seleksi siswa baru.”

Si D yang saya kenal sekarang begitu bertolak belakang dengan ketika pertama kali saya mengenalnya. D tidak mau masuk kelas ketika seleksi siswa baru. Setelah dia masuk kelas pun. Dia bertingkah tidak seperti teman-teman yang dengan rela menuruti prosedur psikolog, mengikuti serangkaian test psikologi. D tidak mau duduk. Dia ingin terus ditunggui ibunya , bahkan mengamuk ingin keluar dari kelas, naik ke atas meja, dsb. Serangkain tesnya dikerjakan dengan asal-asalan. Lembar kerjanya dicoret- coret dan di kerjakan dengan asal coret.
“Mas D ini memang unik Bu,” cerita si ibu dulu sambil membujuk anaknya. Yang dibujuk tetap tidak mau dan memberontak. Itu sebabbya saya heran. Setelah D mengikuti proses belajar mengajar. Kejadian itu tidak terulang lagi. D justru bisa mandiri. Mengamuk atau memberontak tidak pernah lagi kami temui. Kami para gurunya pun heran.

Keheranan itu terjawab siang itu.
“Ya Bu, mas D dulu itu tidak mau ikut tes masuk. Baginya kata test itu menakutkan, makanya dia ingin lari.”

Ini pelajaran pertama buat saya. Jangan pernah mengatakan kata tes kepada anak TK, anak kecil, atau calon siswa, kepada anak kita yang mau masuk sekolah. Mungkin kita bisa mengatakan, adik mau masuk sekolah, sekarang adik berkenalan dulu dengan sekolahnya, dengan guru-gurunya, kenalan dengan nulis. Atau apalah. Kenyataanya, sekolah kami sebenarnya tidak menerapan test masuk kok. Serangkaian proses yang dilabeli ‘test’ tersebut sejatinya adalah pemetaan si anak sebagai langkah awal masuk sekolah. ‘Test’ psikologi tersebut berguna bagi kami sebagai referensi bagaimana anak tersebut sehingga kita punya ‘sedikit’ bekal atau bocoran mengenai diri anak, sebagai langkah awal tindak lanjut jika pada saat masuk anak mengalami masalah. Kemudian ‘test’ mengaji sejatinya adalah pemetaan kemampuan anak dalam mengaji dan hafalan sehingga kami mudah mengelompokkan anak tersebut dalam belajar mengaji sesuai dengan kemampuannya.

Soal kemandirian D di sekolah, si ibu punya cerita tersendiri. Si D menjadi seorang anak yang berbeda ketika di rumah dan sekolah. Kemandirian yang kami temui di sekolah konon kata si ibu tidak terjadi di rumah. Si ibu bercerita bahwa si D pernah diajak datang ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai masalah yang menimpanya, tentang dia yang mengamuk saat seleksi masuk , tentang si D yang bertolak belakang saat di rumah dan sekolah.
Kemandirian yang ditemui di sekolah namun tidak dijumpai di rumah menurut psikolog yang ditemuinya karena adanya prinsip yang berbeda di rumah. Dualisme prinsip itu terjadi antara orang tua sendiri dan nenek/kakek. Orang tua dan nenek tidak sejalan dalam prinsip mendidik anak. Orang tua menerapkan prinsip mendidik yang membentuk karakter mandiri dan tidak manja sedangkan nenek cenderung memanjakan anak karena tidak ingin membuat cucunya sedih, menangis, dan asal senang.

Contoh kasus yang diberikan si ibu adalah ketika bola D hilang. Kedua orangtuanya mengatakan kepada D bahwa bolanya tidak hilang, dicari dahulu pasti ada. Ibu dan ayah sudah satu prinsip. Malangnya, tidak demikian dengan nenek. Nenek yang penuh kasih tidak tega melihat cucunya sedih karena kehilangan bola. Menghibur sekaligus menyelesaikan masalah dengan cara instan dilakukannya dengan memberikan bola baru.

Prinsip yang tidak sejalan dalam mendidik anak dalam sebuah keluarga bisa membentuk pribadi anak yang tidak konsisten pula. Ketika ia jauh dari keluarganya, misal di sekolah ia bisa menjadi anak yang mandiri namun ketika ia berada di tengah-tengah keluarganya kemandirian itu mendadak lenyap.
Menemui akar masalah yang sudah diketahuinya, saya kemudian bertanya pada si ibu solusi apa yang sudah dijalankannya. Pelan-pelan mengkomunikasikan dengan nenek sudah dicoba dilakoni si ibu. Berangsur-angsur proses itu dilakoninya.
“Sekarang sudah mendingan Bu,” ujar si ibu.
“Mas D sebenarnya sudah saya ajak berkonsultasi lagi ke psikolog tapi nggak mau.”

Cerita si ibu menjadi sharing pengalaman yang bermanfaat buat saya yang masih tinggal bersama nenek si kecil. Tulisan ini tentu saja bukan untuk menyalahkan sosok nenek, namun sebagai sebuah peringatan bahwa kasih sayang nenek adakalanya bila menjadi bumerang bagi anak bila tidak sejalan dengan prinsip orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap si anak. Terlebih nenek yang masih berpola pikir lama dan enggan menerima masukan.

Iklan

4 pemikiran pada “[Gado-Gado Sekolah #19] Anak Tak Mandiri, Salah Nenek?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s