[Fiksi Kilat] Perjalanan

“Lha, oleh-oleh buat kamu sendiri mana?”
“Di sini dan sini,” aku menunjukkan note bututku dan kamera digital saku. Seperti biasa, pertanyaan yang sama dari ibu dan jawaban yang sama pula dariku, tiap kali saudara-saudaraku mengerubungiku membongkar tas ransel sepulang melakukan perjalanan. Antri suvenir.

Belanja selalu masuk daftar kesekian dalam rencana travellingku. Sebelum berangkat, aku sudah menolak request oleh-oleh.
“Males, ranselku tak bisa menampungnya. Maaf ya…aku mau jalan-jalan bukan mau shopping!” begitu kataku selalu.
“Kali ini, plis deh, mau ke Nusa Tenggara gitu loh, bawakan kenang-kenangan dari pulau eksotis itu,” Rani, sepupuku merayu sambil mengantarku ke terminal. Baiklah untuk kali ini.

Buat aku, cukup satu atau dua benda khas dari daerah tujuan dan tidak terlalu memenuhi isi ransel yang kubawa pulang. Ada satu lagi sebenarnya. Begitu pulang kali ini, masuk ruang tengah, aku mencari-cari benda itu, biasanya tergeletek di meja dekat TV, tempat strategis yang bisa dilihat siapa saja di rumah ini. Siapa tahu sudah datang. Nihil.

Hari-hari berikutnya pak pos menjadi laki-laki paling kunanti. Aku mengharapkan ada kejutan tergeletak di samping TV kala pulang bepergian.

Terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah, aku menghambur keluar. Temannya kak Nuno datang, aku balik lagi, cemberut.
“Yes!” aku bersorak ketika hari berikutnya laki-laki yang kutunggu itu datang, gagah dalam seragam PT.POS. Aku keluar dengan senyum dikulum.
“Bu Asiah, ” pak pos menyerahkan amplop colklat padaku. Senyumku memudar. Surat dari Taspen untuk ibu.

Aku mengharapkan pak pos datang di sisa liburanku, biar aku sendiri yang menerima kiriman itu. Kalau aku pulang dari bepergian dan pintu dalam keadaan terkunci, seharian rumah kosong karena kesibukan kami masing-masing, aku mengharapkan ada yang terselip di bawah pintu. Tapi selalu nihil.

Di akhir pekan, akhir liburanku, akhir penantianku, sudah 3 kali aku bolak-balik menyambut deru motor masuk halaman. Keempat kalinya, kubirakan saja, sampai namaku dipanggil lengkap dengan suara khas yang kurindukan.

“Rainy Senja Ramadhan,” aku bergegas keluar.
“Akhirnya.”
“Wis nunggu-nunggu?” Pak Pos bertanya dengan tawanya yang berat. Beliau sudah hafal dengan kiriman-kiriman yang datang untukku. Kali ini kiriman kesekian kali yang akan menambah koleksiku: prasasti di mana saja aku pernah singgah.
Pak pos menyerahkan sepotong senja di Pantai Kalaki, Bima. Sebuah kartu pos bernama pengirim sama: Rainy Senja Ramadhan. Kukirimkan di hari terakhirku di Bima dari sebuah kantor pos.

5kalaki

foto mengambil dari sini
tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

Iklan

2 pemikiran pada “[Fiksi Kilat] Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s