[CerNak] Pindah Rumah

Dimuat di Majalah Adzkia Edisi 108 Volume IX No.12 Mei 2015 

Image5752

Hari kedua membereskan rumah, seluruh ruangan  menjadi terlihat lengang. Barang-barang sudah dipak ke dalam kardus-kardus besar.  Keluarga Rina sudah siap untuk pindah. Ayah Rina dipindahtugaskan ke kantor di  kota lain.

Saatnya ibu  mengecek kamar Rina.

“Lho kak, kok belum diberes-beresi?” Ibu kaget mendapati isi kamar Rina masih utuh. Benda-benda masih di tempat semula, belum ada satupun yang dimasukkan ke dalam kardus. “Ini hari terakhir kita beres-beres Nak, “lanjut ibu.

“Rina nggak mau pindah Bu. Rina mau tetap di sini,” ujar Rina sedih.

Ibu mendekati Rina.“Rina, Ibu kan sudah berkali-kali bilang.  Kita meninggalkan rumah ini karena Bapak pindah tugas, untuk menjadi lebih baik, Nak”.

“Rina mau di sini saja bu, Rina mau tinggal di rumah nenek saja kalau semua ikut pindah” sahut Rina lemas.

“Rina nggak mau ikut bapak, ibu, dan adik?” tanya ibu.

“Emm… tentu saja mau Bu, tapi kenapa sih bapak harus pindah segala? Kenapa bapak nggak kerja di sini saja, jadi kita tak perlu pindah?” sesal Rina.

Ibu mecoba menjelaskan pelan-pelan, “Rina, seperti juga kamu yang setiap tahun menerima rapor dan berprestasi bagus sehingga naik kelas, bapakpun sama. Atasan bapak  juga melakukan penilaian seperti bu guru. Nilai bapak sangat bagus dan berprestasi sehingga bapak harus naik tingkat, naik pangkat begitu.”.

Rina mulai gusar, “Kenapa harus di tempat lain, Bu? Kenapa nggak di kantor bapak sekarang saja Bapak naik tingkat?”  Rina merasa tidak terima  harus segera meninggalkan kamar kesayangannya.

“Kalau Rina naik ke kelas yang lebih tinggi, bapak naik pangkat ke kantor yang lebih besar. Nah, kantor yang besar itu adanya di kota Malang tempat kita mau pindah. Apa Rina mau, bapak tetap tinggal kelas?” tawar ibu.

Rina menggeleng. Dia mulai terisak. “Rina belum kepengen pindah bu, Rina masih senang di sini.”

“Sebenarnya, apa sih yang Rina khawatirkan?” Ibu mulai menangkap adanya kekahawatiran kenapa Rina tidak mau pindah.

“Rina nggak mau pisah sama teman-teman.  Gimana nanti kalau di sana Rina nggak punya teman?” sedu Rina.

Ibu tersenyum, “Kamu  nggak perlu khawatir, di sana pasti banyak teman. Kalau kita baik, orang lain juga pasti baik sama kita.”

“Ah, apakah teman-teman di sana seperti teman-teman di sini. Bagaimana kalau di sana Rina tetap kesepian? Ah, pasti hari-hari pertama di sana Rina membosankan!” Rina mengungkapkan kekhawatirannya yang datang bertubi-tubi.

“Kok bilang seperti itu, Rina harus optimis dong!” Ibu kemudian mendekati meja  belajar Rina. Diambilnya sebuah foto Rina yang masih imut, berpakaian putih merah yang masih baru.

“Coba lihat foto ini, masih ingat dengan hari pertama ketika bapak  mengambil foto ini?” tanya ibu sembari mengelus foto Rina.

Rina mengangguk. “Hari pertama masuk SD.”

“Rina berangkat sekolah dan pulang sekolah dengan riang meskipun Rina belum punya satu temanpun di sekolah ini. Rina bisa percaya diri meskipun Rina harus mengenal teman-teman satu persatu sendirian.” Ibu berhenti sejenak.

“Tapi Rina bisa kan? Apakah di hari pertama Rina punya teman baru?” lanjut ibu.

Ragu-ragu menjawab “Rina bahkan langsung punya tiga teman, Dewi, Wulan, dan Rani.”

“Nah kan?” seru ibu.

“Rina tak perlu khawatir, Rina sudah pernah melewati hal baru tanpa kesulitan, bahkan temanmu menjadi banyak kan?” ibu terus meyakinkan Rina.

Rina memandang  foto dirinya lekat-lekat. Samar-samar bayangan dirinya ketika bapak mengambil foto itu di suatu pagi hadir di benaknya. Potongan-potongan kenangan di kelas 1 SD  masih ia ingat dengan jelas.

Rina kemudian beralih memandang ibu. Ibu memberi anggukan dan  keyakinan lewat binar matanya. Seketika Rina mengangguk bersemangat.

“Rina dulu saja bisa ya Bu, dan Rina malah merasa bangga dulu,masuk sekolah baru dan punya pengalaman baru,”  ucap Rina mulai bersemangat.

“Kamu putri Ibu yang mandiri, Rina pasti bisa. Berjauhan dengan teman-teman lama bukan berarti kamu putus hubungan. Ada telepon, surat elektronik, sms yang bisa Rina gunakan sehingga Rina masih bisa dekat dengan teman-teman lama.”

“Teman Rina malah jadi tambah banyak ya bu”, tambah Rina mantab.

Iklan

8 pemikiran pada “[CerNak] Pindah Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s