Penerimaan

Menjelang lebaran, sebuah keluarga di tepi kota sudah berangan-angan dan menanti kedatangan anak, menantu, dan cucu-cucunya yang tinggal di seberang pulau. Paling tidak, keluarga anaknya yang telah menetap di sebuah kota kecil yang dipenuhi pabrik mudik setahun sekali  pada bulan Syawal.

Selang beberapa waktu seusai lebaran, yang dinanti pun tiba. Mendadak, keluarga yang sehari-harinya hanya diramaikan seorang cucu kini makin riuh rendah pada siang hingga malam. Ruang keluarga tak pernah sepi. Ada saja, canda, tawa, teriakan, jeritan, dan tangisan berselang-seling. Tak hanya itu, ruang keluarga yang mulanya selalu rapi, kini menjelma kapal pecah. Beragam mainan  milik  cucu yang tinggal bersamanya berserakan di tiap jengkal ruangan. Remah-remah makan berserakan di sana-sini, bahkan meninggalkan noda dan bercak-bercak di lantai.

Sang nenek tak bosan membereskan mainan setiap kali cucu-cucunya selesai bermain. Ketika keluarga kecil anaknya  meninggalkan rumah untuk bersilaturahmi atau sekedar jalan-jalan, orang-orang rumah segera memberseskan dan membersihkan ruangan itu.  Hal itu terus berulang sepanjang cucu-cucunya masih menikmati masa mudiknya.

“Sudah berapa kali ruangan ini kubersihkan, kupel, nanti berantakan lagi,” keluh si nenek selalu.
Si nenek selalu megeluhkan kelakuan cucu-cucunya. Ia bahkan sempat mengaku capek dan kewalahan menghadapi keaktifan cucu-cucunya. Pernah pula dari bibirnya terucap kata-kata yang membandingkan antara cucu yang sehari-hari diasuhnya dengan cucu-cucunya yang selalu dirindunya kala jauh. Keluhan-keluhan itu kemudian menjelama curhatan kala kerabatnya datang bertandang. Episode semacam itu akan berakhir pada kepulangan mereka dan akan kembali berualang pada masa mudik. Kerinduan, keluhan-keluhan, dan kadang kejengkelan.

Adakah yang salah dengan ilustrasi di atas?
Barangkali memang pola asuh satu cucunya dengan cucu yang lain memang berbeda. Mungkin cucu yang jauh di mata memang tak pernah diajarkan pada hal-hal yang semacam membereskan mainan, atau dilatih makan dengan rapi, dsb.  Namun, ada satu hal yang bisa saya garis bawahi dari keluarga di atas yaitu sebuah penerimaan. Ada satu  hal yang barangkali luput pada diri si nenek yaitu penerimaan. Ia seperti melupakan satu hal itu ketika keluarga anaknya datang sehingga ia akan selalu mengeluh saat anak-anaknya datang dan ada kelakuan mereka yang kurang berkenan. Seandainya ia sudah siap dengan penerimaan bagaimana pun anak dan cucunya ketika bertandang, ia akan melayaninya tanpa keluhan dan komplen yang justru ditujukan kepada pihak lain.

Dari cerita itu saya ingin belajar tentang penerimaan. Apapun kondisi orang lain, keluarga lain, saya ingin memiliki rasa ‘penerimaan’ itu.
Tulisan ini sebagai selfreminder sekaligus mengobati rasa kangen ngeblog 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s