[Fiksi Kilat] Fragmen Terakhir

Jam  sudah berdentang 12 kali lima belas menit yang lalu. Ini kopi ke-dua yang kubuat. Tinggal bebeberapa halaman lagi draft novel sejarah itu selesai kusunting sebelum sampai pada ending. Seteru antara Soediro dan Herman hampir memasuki babak akhir.  Luar biasa, Budiman menggarapnya dengan serius, padahal tokoh-tokoh itu hidup di jaman kakeknya.

Aku harus menyelesaikaannya malam ini. Deadline. Atasanku cukup mengenalku sehingga waktu 6 hari yang diberikan nyatanya hanya akan tersisa beberapa jam saja.

Kembali ke meja kerjaku,cangkir kopiku hampir meluncur karena keterjutanku. Seorang lelaki tengah menunggu di depan laptop, duduk berputar-putar sembari jari telunjuknya tak henti menaik turunkan scroll. Aku memicing, mencopot kacamataku.  Sengaja kucubit punggung tanganku. Tak salah. Kumis melintang dan tahi lalat besarnya kukenal lekat 6 hari ini.

“Beraninya  penulis itu memasukkan aku ke penjara.  Dia pikir semudah itu? Dia tak sadar  kalau aku masih punya kesempatan satu kali lagi. Kamu! Ya, aku masih punya kesempatan beberapa halaman lagi kan?  Tak perlu aku menyogok hakim untuk mengeluarkannku dari penjara. Bukan begitu Nona?” Suara beratnya disusul tawa tertahan memecah dini hari.

“Kuharap kau tak seperti penulis bodoh itu.” Aku terhenyak ketika ia menyodorkan sebuah amplop tebal.  Tak heran  kalau 6  hari ini ia membuatku ikut meradang,  Herman.

*memenangkan cermin (cerita mini–tantangan menulis FF setiap Sabtu dengan tema tertentu) Bentang Pustaka  April  2015 untuk tema editor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s