Terbit Galau Seusai Membaca Habis Galau Terbitlah Move On

Image5881

Judul: Habis Galau Terbitlah Move On
Penulis: J. Sumardianta
Halaman:326
Tahun    : November 2014 Penerbit:  Bentang Pustaka
ISBN: 9786022910671

Kalau diumpakan sebuah porsi makanan, buku ini tidak hanya lezat namun juga bergizi, lengkap pula.
Sejak mengenal buku serinya yang pertama, Guru Gokil Murid Unyu yang inspiratif, saya tertarik membaca buku berikutnya, bahkan memiliki bukunya. Ketika buku itu sudah ada di tangan, harapan saya menemukan tulisan-tulisan di dunia pendidikan yang akan memberi saya pencerahan sebagai seorang guru sekolah dasar. Nyatanya saya salah.

Buku ini dibagi dalam 10 bagian plus sebuah prolog. Membaca tulisan-tulisan di bagian awal, saya mendapatkan kesan buku ini semacam Caping-nya Goenawan Mohamad. Penulis menghadirkan tokoh-tokoh dan kisah-kisah inspiratif dari buku yang dibacanya. Ia banyak menukil pengalaman tokoh, juga kejadian-kejadian aktual yang dibahas dari sudut pandangnya.

Harapan saya baru terjawab pada dua bagian yang khusus mengupas dunia pendidikan. Penulis mengkritisi kurikulum yang berlaku di Indonesia, termasuk di dalamnya UN. Kritiknya tajam terhadap kurikulum. Dalam tulisannya yang berjudul “Kurikulum Pecundang Sekolah Kandang”,J. Sumardianta menulis “Sehebat apapun kurikulum baru, hasilnya bisa ditebak. Mayoritas guru tetap mengajar dengan langgam konvensional. Para murid tetap boring total. Kurikulum, mau diubah-ubah seperti apapun, ujung-ujungnya tetap UN. Begitulah lingkaran setannya. Kapan ada lingkaran malaikat? Saat ujian sekolah dikembalikan ke sekolah masing-masing. Tidak dimonopoli pemerintah. Ujian sekolah akan membuat sekolah kreatif mengkreasi kurikulum. UN mengurung pendidikan dalam mekanisme “perangkap pecundang sekolah kandang.” (hal. 174)

Kritik soal Ujian Nasional juga terlihat dalam tulisan berjudul “Tanpa Tekanan Tiada Berlian” berikut ini,” UN melanggar prinsip anak harus kasmaran belajar, bukan belajar karena diancam. Tugas negara mencerdaskan anak, bukan menguji kecerdasannya. Pendidikan dasar adalah hak warga negara. Berikan itu. Bukan diuji. Jika UN bagus seperti yang digembor-gemborkan Mengeri Pendididkan dan jajarannya, mengapa harus dipaksakan kepada setiap anak?” (hal. 139)

Tantangan guru sekarang adalah menghadapi apa yang disebut penulis sebagai GEMBEL: Generasi Malas Belajar.

Di bagian lain, penulis mengupas dunia bisnis, dunia yang menarik perhatiannya karena membentuk mental pembelajar. Pebisnis itu mental pembelajar. Pikiran dan tindakan yang selalu memperbarui diri diadaptasinya ke ranah pendidikan (hal.286). Tentu saja, kupasan dunia bisnis ditulisnya karena kegemaran penulis membaca buku-buku bisnis. Sama halnya dengan dunia sepak bola yang digemarinya. Penulis juga mengupas inspirasi dari lapangan hijau dengan club-club maupun bintang yang memberi pecerahan.

Beragamnya topik dalam buku ini membuat buku ini tidak hanya cocok dinikmati oleh pendidik/guru namun semua kalangan bisa mendapatkan pencerahan dari buku ini. Recomended.

Membaca buku ini, terutama pada bagian pendidikan, terbit galau dalam diri saya. Saya menghadapi sendiri GEMBEL setiap harinya. Saya galau, apa yang harus saya lakukan menghadapi sistem pendidikan yang memang belum mencetak generasi kasmaran belajar di sekolah saya? Apa yang harus saya perbuat sebab saya juga menjadi bagian dari lingkaran setan itu? Move on seperti judul buku itu nyatanya tidak mudah. Namun, bagaimana pun juga, buku itu memberi saya perspektif baru, semangat baru, dan pencerahan untuk saya lakukan, paling tidak mulai memperbaiki mulai dari diri sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s